Showing posts with label facebook. Show all posts
Showing posts with label facebook. Show all posts

Monday, April 05, 2010

Laron-Laron Luaran Pendidikan Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Al Ries.
Carole Hyatt.

Chris Anderson. Don Tapscott. Jack Trout. Malcolm Gladwell.
Nicholas Negroponte. Richard Nelson Bolles. Seth Godin.

Anda merasa akrab dengan nama-nama mereka itu ? Nampaknya tidak. Di pelbagai media utama Indonesia, nama-nama itu juga jarang atau tidak pernah muncul. Bahkan dalam publikasi di dunia maya kita, rasanya hal serupa juga terjadi.

Untuk nama pertama, yang kiranya bisa bercerita banyak tentangnya mungkin Hermawan Kertajaya. Untuk nama kedua, wartawan senior Kompas, Maria Hartiningsih. Untuk nama-nama selanjutnya, sedikit banyak kiranya pernah diceritakan oleh seorang blogger asal Wonogiri :-).

Untuk Hermawan Kertajaya, yang hari-hari ini sedang merampungkan 100 seri tulisan tentang pemasaran di koran Jawapos, saya tidak mengenalnya. Untuk nama kedua, saya pernah berbincang dengannya di depan sebuah ruang pertemuan di Hotel Borobudur, Jakarta (25/11/2004).

mBak Maria adalah juri saya, disamping Tika Bisono dan Mas Ito alias Sarlito Wirawan Sarwono. Terdapat 20 finalis dalam Mandom Resolution Award 2004, dan separonya akan dikukuhkan sebagai pemenangnya.

mBak Maria, yang sering menulis masalah jender, ketidakadilan sampai impunitas militer di Indonesia, tentu tidak mengenal diri saya saat itu. Saya berinisiatif mengobrol. Mulai dengan bertanya apakah ia mengenal wartawan Kompas asal Wonogiri, Thomas Pudjo. Ternyata malah beliau pernah menginap di rumas Mas Thomas itu, di Wonogiri, kota saya.

Sesuatu yang magis terjadi ketika saya ingatkan akan tulisannya, sekitar 3-5 tahun yang lalu. Hmm, agen rahasia, komedian dan penulis itu harus punya daya ingat yang kuat, bukan ? [“Demikian juga penipu” :-( ]. Tulisan mBak Maria itu mengutip pendapat konsultan karier, Carole Hyatt, dengan bukunya Shifting Gears : How To Master Career Change and Find the Work That’s Right for You (1990).

Obrolan kami rasanya menjadi lebih hidup. Apa sih yang lebih bisa mendekatkan kita dengan orang-orang yang sebelumnya tidak kita kenal, selain humor, dan buku-buku yang sama-sama pernah kita baca ?

Saya akhirnya ikut menang dalam kontes Mandom Resolution Award 2004 itu. Meraih peringkat ketiga. Sepertinya saya menang bukan karena ide resolusi saya yang unggul, yaitu meluncurkan 100 blog untuk para penulis surat pembaca, dan baru terlaksana 30-an.

Tetapi mungkin karena di mata ketiga juri itu saya bukan lagi sebagai orang asing bagi mereka. Saya “kenal” Tika Bisono sejak tahun 1980. Di arena persidangan itu, saya mengaku sebagai fans untuk suara lembutnya sebagai penyanyi. Sementara untuk Mas Ito saya mengaku bahwa istri beliau, mBak Pratiwi, adalah kakak kelas saya di UI.

Persneling kehidupan. Buku tersebut berisi panduan strategi karier ketika dunia sedang berubah. Menurut Hyatt, kita pun harus ikut berubah, dituntut terampil memindah–mindah persneling kehidupan kita. Karena, sembari mengutip pendapat Buddha, “penyebab utama penderitaan manusia adalah keyakinannya tentang kepermanenan.”

Perubahan itu, seperti tergurat di bab pertamanya menyangkut fenomena desa global. Antara lain berkat Internet di masa kini, membuat kita sudah menerjuninya sendiri pula. Profesi-profesi masa depan yang menjanjikan, menurut Hyatt, berada di dan bukan lagi berada pada perusahaan raksasa, tetapi pada perusahaan-perusahaan kecil, yang bergerak di bidang jasa, intrapreneuring (kewiraswastaan di dalam perusahaan), dan bekerja di rumah.

Perubahan itu juga menuntut pola pikir baru dalam bidang pendidikan. “Pendidikan,” demikian dikutip dari Donna Shalala dari Universitas Wisconsin, harus “mampu memberi Anda keyakinan bahwa Anda dituntut terus belajar dan belajar” (h.39). Yang menarik, ketika pekerjaan makin terspesialisasikan, ternyata tuntutan bagi seseorang yang memiliki “kapasitas merangkai pelbagai hal-hal menjadi satu dan memahami konteks,” justru semakin sangat dibutuhkan.

Ben Barber, ilmuwan dan teoritikus brilyan dari Departemen Politik Universitas Rutgers menyimpulkan (h.41) : “Agar sukses dalam pasar tenaga kerja, Anda harus memiliki keterampilan analisis dan kapasitas memahami kaitan antara pelbagai hal yang ada.” Filsafat, kesusasteraan, dan bahkan puisi, ia percayai, semakin menempati posisi terhormat di tengah gejolak dunia yang berubah.

Bunuh diri ramai-ramai. Mungkin ini pendapat subyektif, betapa resep Donna Shalala di atas belum atau tidak bergema di benak para luaran pendidikan kita. Banyak orang begitu lulus atau wisuda, langsung pula berhenti dalam belajarnya. Mengamati pengunjung perpustakaan di kota saya, banyak anak-anak muda yang saya amati, hanya membaca-baca koran untuk meneliti iklan-iklan lowongan pekerjaan semata.

Sementara kabar tentang tes masuk PNS sampai penyelenggaraan job fair, foto-fotonya di media massa selalu menampakkan jubelan anak-anak muda yang bergelar sarjana. Saya menyebut mereka sebagai laron-laron luaran pendidikan kita, yang menyerbu sumber-sumber sinar yang benderang. Semua nampak anut grubyug. Ikut arus semata.

Mereka tidak pernah membekali diri dengan strategi berburu pekerjaan secara memadai. Akibat fatalnya, yang justru tidak mereka sadari, dalam keriuhan demi keriuhan itu sebenarnya mereka sedang melakukan “bunuh diri” beramai-ramai adanya.

Iklan-iklan lowongan sampai job fair itu adalah game-nya perusahaan. Bukan game-nya para pencari kerja. Teknik rekruitmen dengan jalur itu dirancang untuk menguntungkan perusahaan semata. Bahkan tenaga kerja yang berkualitas pun, karena bias dari teknik itu, juga begitu mudah tersingkir dalam persaingan.

“Jumlah surat lamaran yang membeludak diterima oleh perusahaan potensial menjadi penghalang serius Anda,” kata John Langley, ahli strategi perancangan surat lamaran dari Detroit yang dikutip Carole Hyatt (h. 201). Sementara itu, repotnya lagi, “sembilan puluh sembilan persen orang mengalami kesulitan dalam merancang dan menulis surat lamaran mereka !”

Problem serius semacam ini apakah telah diketahui, disadari, oleh para guru atau pun dosen mereka ? Saya tidak tahu. Karena kebanyakan lembaga pendidikan itu nampaknya lebih hirau sebagai pabrik ijazah, dengan meluluskan anak didiknya sebanyak-banyaknya, sementara nasib mereka itu di dunia kenyataan selanjutnya hanya diserahkan kepada Yang Maha Esa.

Wabah markus. Laron-laron luaran pendidikan kita itu, kini juga mencari “pekerjaan” dengan menyerbu dunia maya. Facebook utamanya.

Yang lelaki, mereka nampak cukup berbahagia dengan meniti karier guna meraih pangkat sebagai Consigliere, Underboss, dan Boss dalam Mafia Wars yang terkenal itu. Apakah fenomena ini sekaligus cerminan mengapa borok makelar kasus dan mafia hukum begitu meruyak di Indonesia ?

Sementara yang perempuan terjun ramai-ramai berkarier di dunia pertanian, berbagi pupuk bagi tanaman mereka di FarmVille, seiring kenyataan bahwa presiden kita adalah seorang doktor ilmu pertanian.

Pertanyaannya : adakah sekolah atau perguruan tinggi kita yang dengan sengaja, secara terencana dan terstruktur membekali anak didiknya menggunakan Facebook sebagai sarana bantu yang dahsyat guna memudahkan para lulusan itu meraih pekerjaan idamannya ? Kalau Anda seorang guru atau dosen, saya tunggu kabar, cerita dan opini Anda tentang hal ini. Terima kasih.

Tetapi yang pasti, ketahuilah, dewasa ini para perekrut profesional juga menggunakan media sosial, baik blog, Facebook sampai Twitter, sebagai sarana mereka melakukan seleksi calon karyawan. Mereka tidak lagi puas hanya membaca-baca surat lamaran dan daftar riwayat hidup yang Anda kirimkan.

Karena mata mereka kini juga mencari-cari informasi yang lebih rinci dan mungkin tersembunyi tentang diri Anda di dunia maya. Melalui bantuan Google, dengan hanya satu-dua klik saja, mereka justru akan menjadi curiga berat bila nama Anda tidak mereka temukan di dunia maya.

Akan tetapi sebaliknya, bila mereka menemukan diri Anda dalam tags foto kiriman teman Anda nampak sedang telanjang dada, memegang botol bir, beradegan foto-foto gokil di pantai dan pesta, atau hanya bisa memposting pesan-pesan egosentris yang menye-menye semata, boleh jadi doa tulus ayah-ibu agar Anda segera memperoleh pekerjaan mungkin akan sia-sia.

Kuda Ries. Manfaatkan Facebook seturut nasehat Al Ries dan Jack Trout dalam bukunya Horse Sense : The Key to Success Is Finding a Horse to Ride (1991) ini. Guna meraih sukses dalam meniti karier dan pekerjaan, Anda harus menemukan kuda yang tepat untuk Anda tunggangi. Bila kuda kerja keras yang Anda pilih, peluang sukses Anda hanya 1 dari 100. Kuda IQ ? Hanya 1 banding 75. Mengandalkan kuda pendidikan pun cuma 1 dari 60.

Nasehat Ries dan Trout, pilihlah kuda kreativitas yang membuka peluang sukses Anda naik, 1 banding 25. Kuda hobi lebih potensial lagi, 1 banding 20. Sementara kuda publisitas, menurut mereka, telah menjanjikan peluang sukses Anda 1 banding 10.

Ajakan saya untuk Anda : gunakan potensi Facebook yang dahsyat ini sebagai kuda tunggang publisitas Anda. Secara cerdas dan bijaksana. Postinglah informasi-informasi yang mencerminkan siapa Anda, apa keistimewaan dan manfaat eksistensi Anda bagi bebrayan agung di dunia ini.

Sebab terlalu sayang bila Facebook Anda isinya hanya lebih banyak menye-menye, yang mungkin membuat Anda bangga semu terhadap diri sendiri, tetapi sebenarnya membuat Anda jatuh harga dan mengguratkan citra negatif di benak banyak fihak.

Misalnya, di mata calon penggemar, calon bos, bahkan juga calon mitra sukses karier Anda.



Wonogiri, 31/3/2010

Monday, March 08, 2010

Facebook dan Peluang Dua Bisnis Besar

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Sinetron tolol itu saya lihat tak sengaja di warnet Telkomnet. Di Wonogiri. Ketika menunggu antrean, sambil membaca-baca brosur pelbagai jasa Telkom, akhirnya televisi yang hidup di ruangan itu merenggut perhatian.

Adegan dalam sinetron yang tertayang di RCTI, Jumat malam itu, dan saya tidak tahu judulnya, mengingatkan saya akan isi wawancara wartawan harian Kompas Dahono Fitrianto dengan aktor Tio Pakusadewo.

Seperti termuat di Kompas Minggu, 10 Januari 2010 : 23, dalam menjawab pertanyaan apa aktor zaman sekarang ada yang tidak cerdas, Tio mengatakan : “Banyak sekali yang tolol. Ada ekspresi tolol yang diucapkan, dia biarkan saja…. Di sinetron, (adegan konyol) yang sering terlihat, misalnya kita sudah tahu apa yang terjadi, tetapi ditambahi suara monolog yang seperti suara dalam hati itu. Aduh, itu paling sering dibuat dan diulang, dan itu pembodohan yang sangat luar biasa.”

Adegan seperti itulah yang saya tonton malam itu. Aktor kelahiran Jakarta 2 September 1963 yang juga pernah mencoba sebagai hacker itu, tambah menarik jawabannya ketika dicecar pertanyaan terkait persiapan yang harus dimiliki seseorang yang ingin menjadi aktor.

Jawab Tio : “Harus bercermin dulu. Lihat dulu ke diri sendiri, digali dulu, kasih kuesioner kepada diri sendiri. Kira-kira mampu engga saya mencapai keaktoran ? Artinya di harus tahu diri dulu, cukup cerdaskah untuk mengetahui kelebihan dan kekurangannya ? Modal paling utama harus cerdas. Sebab kalau kurang-kurang, ya, jangan mimpi dulu, sebab akan merepotkan yang lain.”

Sebagai pencinta humor dan komedi, pendapat Tio itu menurut saya juga relevan untuk kancah mengundang tawa ini. Tinggal kata-kata “aktor” tersebut tinggal diganti dengan “komedian,” beres sudah. Karena hal parah yang sama rasanya juga berlaku dalam dunia komedi kita.

Sementara nasehatnya bagi calon aktor untuk terlebih dahulu menggali diri sendiri, melakukan self-assessment atau soul-searching itu sebenarnya merupakan hal yang universal bagi setiap insan dalam mengarungi kehidupan. Dengan menyelami dirinya sendiri secara jujur, ia akan mengetahu aspirasi, impian, kelebihan atau pun kekurangannya, sehingga dirinya akan mampu menempatkan diri sebagai pribadi yang unik di tengah milyaran umat manusia di dunia ini.

Buku suci kehidupan. Di kampus-kampus negara maju, Amerika Serikat misalnya, minimal mahasiswa akan memperoleh himbauan untuk melakukan tes evaluasi diri mereka sendiri. Salah satu panduannya adalah buku terkenal What Color Is Your Parachute ? : A Practical Manual for Job-Hunters & Career Changers (Ten Speed Press, Tahunan). Pengarangnya Richard Nelson Bolles.

Kalau ingin lebih efektif lagi, buku diatas harus ditemani panduan yang lebih mendetil dari buku Where Do I Go From Here With My Life ? : A Very Sistematic, Practical and Effective Life /Work Planning Manual for Students, Instructors, Counselors, Career Seekers and Career Changers (1974). Pengarangnya tetap Richard Nelson Bolles beserta mantan agen CIA, almarhum John C. Crystal. Penerbitnya juga Ten Speed Press.

Prosesnya seperti kita menyusun daftar riwayat hidup. Tetapi dengan pendekatan secara lahir dan batin. Mungkin dalam kosmologi Jawa disebut sebagai mempersoalkan sangkan paraning dumadi. Kalau sudah selesai, kita akan memperoleh otobiografi kerja kita masing-masing kira-kira setebal 100 sampai 200 halaman.

Keunikan masing-masing diri kita kemudian telah terpetakan, demikian pula cita-cita beserta impian yang akan kita raih selama kita hidup di dunia ini. Tanpa arah dan tujuan, kita seperti ikut dalam keriuhan lomba lari cross country di hutan, tetapi sama sekali tidak ada rambu atau pun tanda-tanda penunjuk jalan.

Setelah itu semua mantap, kita tinggal mengaktualisasikannya dengan bantuan pelbagai media yang ada. Termasuk pula dengan Facebook, media sosial yang sungguh benar-benar dahsyat manfaatnya itu.

Media berdarah-darah. Sayangnya, selama ini isu terkait Facebook yang lebih sering muncul dan menonjol di media massa adalah hal-hal yang negatif saja. Bisa dimaklumi, karena begitulah mindset media massa. Selain mengugemi pakem 5W+1H, mereka kini getol menambahnya dengan 1 W lagi. Wow. Menu utamanya adalah berita-berita kerusuhan. Bentrokan. Bencana. Kematian. Darah. Ancaman.

Termasuk getol mengambil sudut pandang dengan fokus tentang kejelekan atau ancaman yang berpotensi dimiliki oleh media-media sosial itu, boleh jadi karena media-media sosial tersebut merupakan ancaman kuat bagi media-media lama , media-media mainstream yang sering diledek sebagai media lame stream itu.

Kasihan bener pergulatan media-media mainstream yang lamban itu. Aksi mereka untuk mempertahankan hidup sering nampak tersaji lucu-lucu. Termasuk misalnya melakukan kampanye gencar agar anak-anak sekolah (kembali) membaca dan mencintai koran. Ada yang lewat kompetisi basket, lomba bikin situs, lomba majalah dinding, pelatihan sampai outbound, dan sejenisnya.

Seorang maverick Internet dari majalah gaya hidup Internet Wired, Kevin Kelly, pernah saya kutip dalam artikel "Solocon Valley" (Kompas Jawa Tengah, 5/8/2006), pantas kita dengar pendapatnya. Ia telah mengutip kesimpulan Peter Drucker yang dikutip oleh George Gilder, bahwa rumus aktual masa kini berbunyi : jangan menyelesaikan masalah, tetapi carilah peluang.

Apabila Anda menyelesaikan sesuatu masalah, Anda berinvestasi bagi kelemahan Anda. Itulah yang banyak dilakukan secara keblinger oleh pengelola surat-surat kabar di Indonesia, hanya karena media lain melakukannya. Mereka berupaya menimbun lubang, abyss, yang tak berdasar itu.

Seharusnya mereka mencari peluang, dengan mempercayai jaringan, network mereka. Apalagi sisi menarik mengenai ekonomi jaringan (istilah dari Kevin Kelly) di era Internet ini yang jelas bermain seirama dengan kelebihan manusia yang hakiki. Pengulangan, repetisi, sekuel, kopi-mengopi dan otomasi, di era digital kini semua cenderung bebas biaya.Gratis. Sementara segi-segi inovasi, orisinalitas dan imajinatif semakin menjulang nilainya !

Repotnya banget, apakah sistem dan atmosfir pendidikan kita selama ini telah memupuk segi-segi inovasi, orisinalitas dan imajinasi tersebut pada anak didik ? Sebagai mantan mentor melukis anak-anak, setiap kali membaca koran tentang lomba mewarnai, saya merasakan ada ribuan Picasso-Picasso dan Einstein muda yang terbantai di sana.

Pembantaian terhadap rasa percaya diri anak-anak untuk tegak menjadi insan-insan berpikiran mandiri dan kreatif ini rasanya justru jarang masuk radar para guru, psikolog, seniman, dan juga insan-insan perguruan tinggi seni kita.

Pembantaian jenis lain juga diam-diam terjadi bagi kita-kita yang memiliki akun Facebook ini. Kalau para konsultan karier di pelbagai negara maju berujar bahwa media sosial seperti blog, Facebook dan Twitter merupakan sarana ampuh untuk mengedepankan masing-masing subject matter expertise kita, tetapi yang sering banyak terjadi adalah pesan-pesan atau tulisan yang egosentris.

Facebook banjir tulisan status yang semata mendongkrak ego kita, karena memang hanya kita sendiri yang pantas sebagai audiensnya. Tulisan tersebut benar-benar melupakan segi manfaat bagi orang lain yang membacanya.


Sebuah artikel kontroversial yang ditulis Nukman Luthfie berjudul Blog Memang Tren Sesaat, yang mengisahkan konon turun pamornya blog secara kuantitatif akibat tergusur popularitas Facebook dan Twitter, telah memicu beragam komentar.


Misalnya “ogiexslash” (#4) menulis : “Bagi saya mau trennya turun, yang penting nge-BLOG, FB isinya kebanyakan curhat2an saja…lama-lama bosen.”

Sementara “Moch Ata” (#15) bilang : “ Ngeblog, separah-parahnya ngeblog pasti ada satu pesan berisi pengetahuan yang ingin blogger bagi. Coba tengok update Facebook teman-teman kita, saya sampai muak, dan sama sekali tak ada sebuah knowledge yang bisa kita dapat. “

Mungkin sudah ratusan, ribuan dan bahkan milyaran jam telah dihabiskan untuk urusan egosentris itu. Karena memang asyik saat mengelus-elus ego kita sendiri. Mungkin rasanya seperti naik kuda-kuda kayu, atau kursi goyang. Kita bergerak, mungkin juga berkeringat, tetapi nowhere, tidak pernah kemana-mana.

Terakhir, bagi saya, dalam Facebook terbuka dua bisnis besar.

Pertama, mereka yang berbisnis menakut-nakuti orang lain dengan bercerita tentang ancaman dan bahayanya. Kedua, kubu yang memberi tahu tentang manfaat dan cara-cara memanfaatkannya. Saya tidak tahu, tulisan saya ini masuk aliran yang mana. Anda punya pendapat ?


Wonogiri, 6-7 Maret 2010