Showing posts with label mandungan. Show all posts
Showing posts with label mandungan. Show all posts

Wednesday, January 04, 2012

Marshall McLuhan, Murtidjono dan Mandungan

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Cerita lucu dari Marshall McLuhan tidak berlaku di Taman Budaya Surakarta siang itu.

Cerita tersebut bersumber dari buku terkenalnya Understanding Media : The Extensions of Man (1965).

Buku ini saya beli dari Toko Buku Gramedia Gajah Mada Jakarta, 25 Mei 1977. Via pos dari Mandungan. Hasil honor menulis di koran Merdeka, Minggu, Februari 1977.

Nabi media asal Kanada ini pernah cerita tentang suku buta huruf asal Afrika ketika ramai-ramai menonton film.

Karena memahami cerita dalam film dibutuhkan keterampilan literasi yang tinggi, film bagi suku Afrika film menjadi tontonan yang membingungkan mereka. Adegan lucu pun terjadi.

Ketika ada tokoh yang kena tonjok dalam sesuatu adegan, lalu menghilang dari layar, muncul kehebohan. Para penonton asal benua hitam itu akan ramai-ramai berlarian ke belakang layar. Mereka ingin mengetahui nasib aktor tersebut.

“Menyaksikan filmnya Charlie Chaplin, The Tramp, penonton film Afrika menyimpulkan bahwa orang-orang Eropa itu tukang sihir hebat. Karena mereka mampu menghidupkan mahkluk-makhluk yang telah meninggal dunia,” demikian cerita McLuhan.

Film tentang seseorang yang telah meninggal juga ditayangkan di siang teduh, Rabu, 4 Januari 2012, di Taman Budaya Surakarta, Solo. Taman ini kemudian bernama Taman Budaya Jawa Tengah.

Saya ikut menonton adegan yang tersaji. Sayangnya dalam layar yang pucat, karena lumens proyektornya tidak mampu menyaingi sinar matahari pendopo besar tersebut.

Mandi di Sasonomulyo. Seseorang yang meninggal itu bernama lengkap Drs. Martinus Joseph Murtidjono (61). Nama gelarnya dari Kraton Surakarta : Kanjeng Raden Tumenggung Sudjonopuro. Tahun 1975-1980, di Sanggar Mandungan Muka Kraton Surakarta, saya mengenalnya sebagai Eyang Murti.

“Murti baru belakangan gabung di Mandungan,” tutur Sudarto (76), pegawai Pusat Kebudayaan Jawa Tengah (PKJT) Sasonomulyo era 70-an yang kini masih bekerja di ISI Surakarta. Saat itu pria kurus asal Mangkubumen Solo tersebut, yang memiliki kulit kehitaman yang terkenal dengan ciri syal yang selalu melingkari lehernya, menjelang lulus kuliah di Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada.

“Kalau Murti datang dari Yogya,” lanjut Mas Darto, “pasti nginepnya juga di Mandungan. Kalau pagi, bawa ciduk isi sabun, sikat gigi dan odol, untuk menumpang mandi di Sasonomulyo.” Di Mandungan, yang saya ingat, ia sering membawa mesin tulis. Flute. Memainkan gitar, nomornya Villa Lobos. Naiknya Yamaha bebek hijau.

Ia juga memberi saya bacaan menarik. Himpunan guntingan cerita bersambung dari harian Kompas yang dilanggan oleh ayahnya, tokoh Tentara Pelajar (TP) yang terkenal di Solo : Mardeyo Jungkung.

Antara lain cerita thriller, saya lupa judulnya, tentang agen rahasia Perancis yang berusaha membongkar kudeta merangkak yang dilakukan justru oleh presiden Perancis yang ingin menjadi satelit Uni Sovyet di masa perang dingin. Juga cerita berjudul Salamander yang menegangkan.

Minatnya terhadap thriller kiranya yang juga membuat Murtidjono tak jarang berbagi cerita dengan saya. Ia suka sinis atau getol melucukan cerita-cerita perjuangan fisik tokoh-tokoh seangkatan ayahnya saat mereka berperang melawan Belanda. Utamanya untuk cerita-cerita yang menurutnya fiktif, rekaan atau yang bombastis.

Ketika mengintip sebagian buku yang ia bawa ke Mandungan, antara lain saya menemui nama Søren Kierkegaard sampai Teilhard de Chardin. Sebagai mahasiswa Fakutas Keguruan Teknik (FKT) Jurusan Mesin UNS, yang terbius ikut berkesenian di Mandungan, saya tidak ngeh atas nama-nama itu. Bahkan sampai kini.

Tetapi pertarungan intelektual antara kita, yang menarik dan bikin kecanduan sehingga berlangsung hampir tiap malam, adalah saat kami bertanding main scrabble. Benar-benar malam demi malam Mandungan sering sama-sama kita habiskan.

Kompetitornya bukan main-main. Ada Profesor HB Sutopo (almarhum), Conny Suprapto, Marsudi, Broto Dompu (Ekonomi UGM), juga Narsen Afatara yang kandidat doktor dan dosen Seni Rupa UNS. Saat ketemuan di Taman Budaya Surakarta tadi Cak Narsen mengaku sambil tertawa : “Saya dulu bagian yang kalahan.”

Saya kena marah. Sekadar kilas balik, satu-satunya action dia yang rada “nylekit” pada saya adalah saat saya ia pinjami ensiklopedia.Lalu saya baca sambil tiduran. Tentu saja, saat tidur halaman dalam ensiklopedia itu kemudian saya tutupkan ke muka saya.

Saya lalu rada dimarahi olehnya. Karena menurutnya kertas ensiklopedia itu akan terkotori dan rusak oleh keringat jidat saya. Betul juga. Mungkin justru karena teguran itulah, saya dapat hikmah. Pada tahun 1980 kami berpisah. Saya malah melanjutkan kuliah di Jakarta yang mata kuliah intinya tentang teknik dan organisasi bahan pustaka (termasuk buku, juga ensiklopedia), di Jurusan Ilmu Perpustakaan Fak. Sastra Universitas Indonesia.

Bisa ketemu lagi dengan Eyang Murti, tanggal 9 Desember 1982, di Pemakaman Kajen, Wonogiri.Tidak saya duga, dirinya bersama Anang Syahroni, Putut Handoko Pramono dan Wahyu Sukirno, ikut melayat saat ayah saya Kastanto Hendrowiharso (54) meninggal dunia.

Saat saya tinggal di Jakarta, beberapa kali kami bertukar surat dan kartupos. Ketika dirinya diangkat sebagai Kepala TBS dan saat ayahnya meninggal dunia. Murtidjono pernah pula mampir ke kos saya di Rawamangun, sekitar tahun 1982. Saat itu saya menjual buklet tipis berisi artikel Harold Rosenberg, berjudul "Apa itu seni ?." Murti nampak agak kecewa, karena mungkin ia mengharapkan buku yang tebal. Sementara buklet itu hanya belasan halaman saja.

Di tahun 2007, saat membaca-baca koran Solopos yang mewartakan bahwa Pak Topo dan Eyang Murti pensiun, saya telah menulis kenangan di blog saya. Berkat tulisan itu pula saya bisa kontak lagi dengan Murti.

Lewat email, sms dan Facebook, kami pun berhubungan. Juga saat Murti dirawat di Rumah Sakit Brayat Minulyo. Saya baru tahu belakangan ia sakit leukemia. Ini penyakit seniman yang lebih elit, cetus sahabatnya, Efix Mulyadi. Saat itu Murti via sms mengatakan “telah diperbolehkan pulang, jangan kuatir.”

Jalan kebudayaan. Mas Darto, Mas Ardus, Agustinus Sumargo, Basnendar, Budi, Hajar Satoto (diatas kursi roda), Cak Narsen, Prof. Darsono, Anang Syahroni, Gunarni, Harsoyo, Listyawati, Mayor Haristanto, Niken, Prof. Rustopo, Yantono, saya dan ribuan warga komunitas seniman Jawa Tengah dan DIY, siang itu bisa dipersatukan kembali dalam satu situasi yang sama. Sama-sama merasa kehilangan atas wafatnya Murtidjono.

“Saya pribadi harus berterima kasih kepada Mas Murti, karena dirinya telah mempertemukan saya dengan para raksasa seniman hebat yang berkiprah di Solo,” kata Halim HD, networker kebudayaan yang mengenal almarhum sejak 40-an tahun yang lalu.

“Kami sama-sama kuliah di Filsafat UGM, satu tahun tidak pernah ketemu di kampus. Tetapi ketemuannya di jalan kebudayaan. Termasuk ketika di tahun 1978 Mas Murti mengundang saya ke Solo. Ketika itu Mas Murti sedang membidani embrio Taman Budaya Surakarta,” cetus Halim HD dalam orasi yang sangat emosional.

Sejak itu, dalam hitungan masa 26 tahun, lanjutnya, Murtidjono ia sebut telah berhasil membangun fondasi yang kemudian memunculkan Taman Budaya Surakarta sebagai “rumahnya seniman, rumahnya rakyat, sekaligus rumahnya kebudayaan rakyat.”

Kontroversial. Film yang menggambarkan sebagian fragmen kehidupan Murtidjono itu saya lihat dari arah belakang layar. Seperti saat kita menonton wayang.

Tak ada narasi dalam film itu. Karena narasi yang mendominasi saat itu adalah urutan upacara penyerahan jenazah dari fihak keluarga kepada fihak Taman Budaya Jawa Tengah. Disusul upacara keagamaan secara Katholik. Ucapan belasungkawa dari kalangan seniman, termasuk dari seniman Yogyakarta yang diwakili Landung Simatupang. Pembacaan riwayat hidup Murtidjono hingga doa pemberangkatan.

Di film itu nampak Murti sedang berpidato yang didampingi istrinya, Ningsri Sadiarti. Saya baru tahu saat itu, ia adiknya Bambang Sumantri yang teman kuliah saya di FKT-UNS, Jurusan Mesin.

Pasangan Murti-Ningsri di film itu nampak ceria. Banyak senyum. Sepertinya Murti sedang memuji atau berbagi cerita lucu tentang istrinya kepada audien.

Adegan yang memikat kemudian adalah saat Murti mencium pipi istrinya. Adegan pasangan suami-istri yang dikaruniai putra-putri Gernatatiti (menantu Panji Nugroho), Bramwasdanto dan Oki Nandhi Wardhana sangat mengesankan. Membahagiakan.

Tetapi adegan film berikutnya bagi saya kontroversial. Ada deretan bapak dan ibu, sepertinya semuanya pegawai negeri. Mereka semuanya nampak berpakaian resmi, berlaku takjim dan bahkan dengan gesture menunduk-nunduk. Mereka berbaris berurutan untuk bersalaman dengan Eyang Murti yang didampingi istrinya.

Mungkin ini acara halal-bihalal. Atau peringatan ulang tahun dirinya. Tetapi Murtijono saat itu tampil tanpa jas. Juga bukan berbaju batik. Melainkan hanya dengan kaos warna hitam. Bahkan tanpa lengan. Seperti foto dalam profil pribadinya di akun Facebook (foto).

“Kontroversial. Itulah kakak saya itu,” demikian awal pidato dari fihak keluarga yang berduka. “Dalam pertemuan keluarga, baik eyang sampai orang tua kami, kalau ada sesuatu yang menurut kakak saya dianggap keliru, ia akan mengritiknya. Tetapi sebenarnya, di balik itu ada keinginan yang baik, untuk menuju sesuatu yang lebih baik.”

Cerita satu ini mengingatkan saya komentar seorang nara sumber dalam acara balap mobil F-1 di televisi ketika mengobrolkan sosok pembalap F-1 dari tim Scuderia-Ferrari, Fernando Alonso.

Komentator itu bilang, “kalau pembalap bagus, sebagian besar orang menyukainya. Tetapi bagi pembalap yang hebat, pasti ada sebagian yang menyukai dan sebagian lain membencinya.” Mungkin itu pula profil sosok seorang sahabat yang bernama Murtidjono.

Adios, amigo. Siang itu, jam 11.13, mobil jenazah PDIP Surakarta yang bagian belakangnya ada fotonya Jokowi-Rudi, berangkat meninggalkan pendopo Taman Budaya Jawa Tengah. Membawa peti jenazah rekan saya yang sesama aktivis di Mandungan, di masa-masa muda dulu.Makam keluarga Njithengan-Kayangan, Karangpandan, Karanganyar, kini menjadi tempat istirahatnya yang abadi.

Film tentang Murtidjono sebagai insan, sebagai seniman, juga tentang hidup kita atau mereka yang pernah bersentuhan dengan dirinya, baik yang suka atau yang benci, semoga akan tetap tertayang di layar kehidupan kita masing-masing.

Demikianlah siang itu akhirnya film tentang sobat saya Murtidjono selesai ditayangkan. Layar pucat itu kembali putih bersih. Ketika sosoknya hilang dari layar, tidak seperti perilaku suku Afrika dalam kisah McLuhan, saya tidak mencari-cari dirinya ke balik layar.

Karena saya sudah ada di sana. Di balik layar. Sambil merangkai kenangan yang berkelebatan di benak tentang dirinya. Saya mengharapkan sobat Murtidjono kini sudah berada di tempat lain, di tempat yang paling enak.

Paling baik dari yang terbaik.
Di sisi Sang Khalik.

Selamat jalan, sahabat.
Sugeng tindak, Eyang Murti.


Wonogiri, 4 Januari 2012

Sunday, December 18, 2011

Komunikasi Lelaki dan Nasehat mBak Tannen

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Berebut unggul.
Mencari kompromi.
Itulah perbedaan pola komunikasi, genderlect, antara pria-pria versus perempuan-perempuan.

Kaum pria ketika berbicara dengan sesama pria, mereka berusaha berebut unggul atas lawan bicara.Sekaligus menghindari sebagai fihak yang berposisi di bawah.Kaum lelaki senantiasa berada dalam atmosfir bersaing dengan sesamanya.

Sementara pola komunikasi antarperempuan adalah berusaha mencari kesepakatan atau kompromi.

Itulah tesis menarik dari buku karya linguis Deborah Tannen, You Just Don't Understand: Women and Men in Conversation (1990).

Pesan dalam buku laris itu, yang saya pinjam dari perpustakaan America Cultural Center (ACC) di Wisma Metropolitan 2 pada tahun 90-an, kembali muncul. Yaitu ketika menaiki kendaraan umum antara Bogor-Parung-Serpong-Bumi Serpong Damai-Pamulang-Ciputat-Depok-Bogor, beberapa hari yang lalu.

Saya tiba di Bogor, di rumah adik saya Broto Happy Wondomisnowo,9 Desember 2011.Karyanya berupa buku Baktiku Untuk Indonesia : 60 Tahun Tiada Henti Mencetak Juara, 9 Juara Dunia + 4 Peraih Medali Olimpiade baru saja diluncurkan.

Siangnya, memenuhi niatan lama. Yaitu keinginan untuk berziarah ke makam dosen saya dan juga mantan Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI, Ibu Lily Koeshartini Somadikarta. Beliau wafat tahun 2009, dimakamkan di TPU Blender, Kebon Pedes, Bogor.

Hari Sabtunya, 10 Desember 2011,ke Jakarta. Untuk sowan ke rumah Bapak Taufik Rachman Soedarbo, di Cilandak.

Saya pertama kali ke rumah ini tahun 1986, saat ingin menemui putrinya yang cantik, artistik dan karismatik, Widhiana Laneza (foto). Anez yang kelahiran Brussels di tahun 1963 itu sudah tak bisa lagi saya temui. Alumnus Arkeologi FSUI itu meninggal dunia di Denpasar, Bali, 20 Desember 2005.

Sekitar 2-3 jam saya mengobrol dengan Bapak Taufik. Berdua. Saya sempat membaca-baca buku yang memuat sejarah hidup dan sepak terjang beliau sebagai diplomat. Juga mengobrol di ruang baca, tempat buku-buku koleksi pribadi Anez masih tertata rapi di rak.

Kepada beliau saya serahkan fotokopi buku Ledakan Tawa Dari Dunia Satwa (1987). Sejak saya sowan tanggal 13 November 2011, beliau sempat menanyakan buku yang sudah out of print ini. Sebagai kilas balik, ilham penulisan buku ini adalah Grigri, Cakil, sampai Pancho. Siapa mereka ? Ini merupakan nama-nama anjing kesayangan dari Widhiana Laneza. Juga saya serahkan buku saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010).

Dari Cilandak, saya pamit, untuk menuju TPU Jeruk Purut. Walau diguyur hujan, saya menyempatkan diri berziarah di makam Ibu Bintari Tjokroamidjojo Taufik, Liana Rasanti (adiknya Anez, meninggal tahun 1965) dan juga makam Widhiana Laneza.Juga menyerahkan foto yang berpose dengan Pak Daman, petugas makam, saat saya berkunjung 15 November 2011.

Reuni Mandungan. Minggu tanggal 11/12/2011, dari Bogor saya menuju Parung naik bis mini. Disambung naik angkot jurusan Bumi Serpong Damai, untuk turun di Buaran Gardu, Serpong.

Acaranya : bertemu dengan rekan-rekan Workshop Seni Lukis Mandungan Muka Kraton Surakarta yang sudah lama tidak bertemu. Workshop itu terjadi tahun 1972.

Reuni itu berlangsung di rumah mentor workshop melukis itu, Mas Abdurrahman. Yang hadir, murid-murid beliau. Antara lain : Efix Mulyadi, Si Benk, Suryo Lelono, Sarwono, Mamok,Chosani, Budoyo Sumarsono, Musyafik, Harsoyo Rajiyowiryono dan Subandiyo.

Juga hadir pegawai PKJT saat itu, tetapi dekat dengan kami, Mas Sudarto. Yang tidak hadir tetapi menitipkan salam adalah mBak Tantin Sasonomulyo dan Nanik Gunarni.

Saya sendiri, aktif di Mandungan tahun 1977-1980. Sebenarnya bukan murid Mas Rahman, tetapi bersahabat kental dengan murid-murid beliau. Saya bisa hijrah ke Jakarta untuk berkuliah di JIP-FSUI berkat bantuan informasi dari Bang Efix Mulyadi, yang saat itu (dan sampai pensiun) sebagai wartawan Kompas. Saat awal, juga satu kos dengan Chosani dan Sarwono, di Jl. Belimbing, Balai Pustaka Timur, Rawamangun, Jakarta Timur.

Peserta reuni di Buaran Gardu itu juga menanam pohon sawo kecik, yang mengandung pesan sarwo becik (serba baik), yang atas prakarsa Harsoyo dapat memperoleh pohon itu dari lingkungan Kraton Surakarta. Kebetulan di depan Sanggar Mandungan juga tumbuh pohon serupa.

Kami juga menuliskan kesan di kanvas kenangan, yang rata-rata berpendapat bahwa fase-fase di sanggar itu memunculkan nilai-nilai penuh makna bagi hidup masing-masing hingga saat ini.

Pamulang-Depok : Nostalgia. Usai dari lokasi reuni, saya pindah "kos" ke rumah teman sesama kuliah di JIP-FSUI. Yaitu Bakhuri Jamaluddin, kini verifikator Jamkesmas Pusat, di Pamulang. Sebelum ke Pamulang, saya harus menemui teman istimewa yang akan pamit untuk kembali ke Inggris (14/12/2011). Ketemuannya di mal Teras Kota, Bumi Serpong Damai.

Sesudah menginap dua malam di Pamulang, saya tur ke Depok. Ke rumah Sarwono, di Jl. Ciliwung, lalu main ke rumah Suryo Lelono di Cimanggis. Kemudian ke Pondok Duta, menemui Mas Sudiyono dan mBak Erna di warung soto mie miliknya. Juga sowan ke rumah mBah Roto putri, di Pondok Duta juga.

Mas Sudi, mBak Erna, mBah Roto, Sarwono dan saya di tahun 80-95 adalah warga satu komplek di Jl. Belimbing, Rawamangun.Komplek itu dijadikan ruko, warganya "bubar" kemana-mana. Setelah belasan tahun terpisah, baru bisa ketemuan lagi di hari kemarin itu.

Tanda kelemahan. Selain diantar Sarwono, saya naik angkutan umum. Sebagai pengalaman pertama menjelajah kawasan itu, saya sudah membuang rasa gengsi atau sungkan yang menghalangi niat untuk bertanya-tanya.

Tentu saja bertanya tentang rute atau pun nomor kendaraan yang akan saya naiki. Ada catatan, yang belum tentu valid,yang kemudian saya peroleh dalam pelbagai momen bertanya kesana-kemari itu.

Bahwa ketika saya bertanya kepada supir angkot atau kondektur bis,mereka kemudian rata-rata sepertinya meminta bayaran ongkos yang lebih tinggi. Pertanyaan saya kepada mereka rupanya merupakan sinyal sebagai tanda "kelemahan" saya dan hal itu mereka manfaatkan dengan menaikkan ongkos. Saya senyum-senyum saja mendapat perlakuan seperti ini.

Berbeda halnya bila saya bertanya kepada seorang perempuan, yang kebetulan sama-sama menaiki angkutan umum yang sama. Pertanyaan saya tentang rute, mungkin saja justru dianggap sebagai sebuah "penghormatan" bagi mereka.

Karena mereka rata-rata nampak antusias dalam memberikan jawaban, petunjuk, bahkan sangat detil. Juga tak jarang ceritanya malah melenceng dan keluar dari konteks semula.

Seperti saat saya kembali dari Bogor menuju Solo, menaiki bus Raya, disamping saya ada seorang ibu. Saya bertanya, "turun mana,ibu ?" ternyata pertanyaan itu memancing cerita ibu tersebut jadi berlanjut. Ibu itu, orang Jawa asal Semarang, berjilbab, sosoknya masih nampak muda.

Kita mudah tidak percaya kalau beliau sudah memiliki cucu.Ia nampak independen, dengan berani bepergian seorang diri. Selama perjalanan juga tidak melakukan percakapan telepon dengan anak, atau kerabatnya.

Ketika rasa kantuk belum tiba, berkali-kali terdengar suara dering ritmis dari HP ditangannya. Saya baru ngeh kemudian, ternyata ibu tadi asyik bermain game. Sebelumnya, beliau asyik bercerita tentang anak-anaknya.

Termasuk yang baru saja diantarnya untuk berangkat ke Kanada menyertai suaminya yang bule.Pasangan ini dikaruniai satu anak, dimana si bule itu duda dengan dua anak dari istri pertamanya yang telah meninggal dunia.

Ibu itu bahkan cerita tentang pesan khusus kepada putrinya. Bahwa dirinya tidak hanya diminta mencintai si bule itu, saja tetapi juga harus mencintai kedua anak dari istrinya yang terdahulu.

Terima kasih,mBak Deborah Tannen.

Kini saya tahu. Bahwa saya kalau tersesat di suatu tempat, atau saat ingin menaiki kendaraan umum di tempat asing, saya sekarang tahu kepada siapa sebaiknya saya harus bertanya.Apalagi, sok GR, saya juga merasa memiliki telinga yang berfungsi masih baik adanya.


Wonogiri,19/12/2011