Wednesday, July 13, 2011

Gadis Cantik, Rahasia Google, Nostalgia Jogja

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Gadis cantik di seberang itu memakai jaket biru. Bertuliskan, “Economics UGM.” Ia berkali-kali menghindari adu pandang.

Ia lebih tersedot perhatiannya kepada telepon genggamnya. Hampir sepanjang perjalanan Solo-Yogya.

Di sebelahku, anak muda laki. Berkali-kali mencek telepon genggam dari tasnya. Sebelahnya lagi, seorang bapak muda. Sejak naik, headset nampak terus menempel di telinganya.

Di seberang jauh, ada yang membaca koran. Sisa penumpang di gerbong kereta api Prameks yang saya tumpangi pagi itu (12/7/2011), tenggelam dalam lamunan masing-masing.

Saya terbenam sendirian dalam pengembaraan yang dipandu John Battelle. Ia adalah editor pendiri majalah gaya hidup digital, Wired, yang di Indonesia pada tahun 2001 dijual seharga 125 ribu rupiah. Sementara majalah lain yang juga saya sukai, Harvard Business Review dijual sampai 250 ribu rupiah.

John Battelle itu telah menulis seluk-beluk sejarah dan pengaruh keberadaan mesin pencari Google. Judul asli bukunya itu, The Search: How Google and Its Rivals Rewrote the Rules of Business and Transformed Our Culture (2005).

SBY, staf dan kroninya yang bertugas dalam politik pencitraannya, seyogyanya membaca buku ini. Siapa tahu, mereka akan menjadi maklum mengapa di bulan Februari 2011 lalu ketika seseorang mengetikkan lema “kebaikan sby” langsung disambut Google dengan pertanyaan balik yang sangat menohok : “Mungkin maksud Anda adalah keburukan SBY?

Pustakawan ("nama Dewey juga muncul di buku ini"), bahkan juga Anda yang ingin tahu posisi diri di tengah perubahan kosmos ilmu pengetahuan dan budaya masa kini, sebaiknya juga membaca. Ini bukan buku tentang teknologi, atau sejarah bisnis perusahaan. Tetapi sebuah ulasan dalm dan menggairahkan tentang antropologi budaya suatu pencarian dan menganalisis mesin pencarian tersebut dalam perannya sebagai database of our intentions, pangkalan data penuh arti, karena di dalamnya terhimpun rasa ingin tahu kemanusiaan, eksplorasi dan gairah-gairah yang terekspresikan.

Google mencatat dan mendokumentasikan secara terinci lalu lalang pikiran umat manusia dalam lebih dari 150.000 pangkalan data. Ia tahu persis, misalnya berapa juta kata “seks” atau “pornografi” yang diketik oleh orang Indonesia atau bangsa lainnya dalam kurun waktu tertentu.

Lalu muncul pikiran usil, kalau misalnya “x” itu kini menjadi minat sesuatu bangsa, bagaimana kalau kita jualan produk-produk yang terkait “x” kepada bangsa bersangkutan ? Kalau dalam sesuatu jajak pendapat seseorang tokoh dikabarkan populer dalam pangkalan data Google, tetapi bagaimana kalau yang dibocorkan ke media justru tokoh lainnya ? Google tahu kedahsyatan dirinya. Maka mereka pun pagi-pagi sudah memasang slogan Don’t be evil. Janganlah menjadi jahat.

The Dirty Thousands. Dalam perjalanan di atas Prameks itu saya baru membaca sampai halaman 41. Buku saya masukkan ke dalam tas punggung, dan gantian saya kembali membaca kartu berisi butir-butir topik terkait dengan misi perjalanan ke Yogya ini. Yaitu ingin ikut audisi Stand-Up Comedy Indonesia yang diadakan oleh KompasTV. Di Liquid Café, Jl. Magelang.

Saya tiba di stasiun Tugu, jam 8 pagi. Kereta api (walau sudah tak menggunakan api) ini ketika di tahun 70-an bernama Kuda Putih, telah memicu saya membuat cerita pendek. Judulnya, “Cintaku Antara Balapan dan Tugu.”

Kalau tidak salah tahunnya, yaitu 1978, dimuat di majalah Gadis. Itu cerpen kedua saya dan yang terakhir di majalah yang salah satu redaksinya, mBak Threes Emir, merupakan kakak kelas di Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI.

Keluar dari Stasiun Tugu, jalan kearah timur, langsung menatap bangunan yang dulu di tahun 1970-an dipakai sebagai markas Kodim 0734. Kantor ayah saya, almarhum Kapten Kastanto Hendrowiharso. Saat itu saya bersekolah di STM Negeri 2 Yogyakarta, di Jetis.

Kalau pas pelajaran dibatalkan, saya mengajak teman yang punya uang. Hanya dengan uang Rp. 50,00 dirinya saya ajak menemui Bapak saya. Di sana ada jatah bagi tentara untuk membeli karcis bioskop tayangan siang hari, matinee. Uang Rp. 50,00 bisa untuk menonton bagi dua orang.

Film saat itu yang jadi perbincangan antara lain kisah percintaan mahasiswa Harvard, yaitu Love Story-nya Ali McGraw dan Ryan O’Neal. Juga filmnya Lee Marvin dkk, The Dirty Dozen, cerita tentang pasukan komando terdiri dari 12 tahanan yang menyusup dan menghancurkan markas tentara Nazi Jerman.

Ketika baru-baru ini otoritas perfilman Indonesia bilang bahwa negeri kita akan menjadi tempat syuting 7 film manca negara, saya bergumam : “Sebaiknya ada film yang menceritakan SBY dan kemelut skandal korupsi di Partai Demokrat. Dan The Dirty Thousands kiranya merupakan judul yang tepat untuk film bersangkutan.”

Menjejaki Malioboro, saya kemudian menunggu bis TransJogja di terminal yang persis di seberang kantor Perpustakaan Daerah Yogyakarta. Ada papan namanya berbunyi, Jogja Library Center (JLC).

Seingat saya, sepanjang tahun 1970-1972, saya hanya sekali mengunjungi ruang bacanya. Terasa gelap, seperti suasana filmnya Harry Potter. Sejak itu tak berkunjung lagi, padahal tempat tinggal saya di Dagen, hanya sekitar 800 m dari perpustakaan ini.

Toh masih ada kenangan manis tersisa. Tahun 1977 ketika saya beraktivitas di Gallery Mandungan Muka Kraton Surakarta, saya pernah meminjam belasan koleksi majalah dinding perpustakaan ini. Saat itu saya dibantu petugasnya yang ramah : Mas Heri Santoso.

Majalah-majalah dinding yang hasil karya SLTA Yogyakarta itu lalu saya pamerkan di Solo. Dua kali. Kemudian kami pajang bersama karya-karya murid SLTA Surakarta. Karya anak-anak Jogja jauh lebih gaya.

Selain papan nama JLC, terdapat spanduk berisi informasi lomba menulis surat untuk ibu yang diadakan oleh perpustakaan tersebut. Terbuka untuk murid SD dan SMP. Topiknya, “Ibuku, Perpustakaanku.”

Sedikit berefleksi, menulis surat adalah salah satu pintu gerbang diri saya untuk menyukai kebiasaan menulis. Dan tentu saja, membaca. Sebagai anak yang pemalu, ketika SD (saya tinggal di Wonogiri, tetapi ayah saya bekerja di Yogya) saya menyatakan keinginan dengan menulis surat.

Juga ketika ingin dibelikan buku. Hari Minggu siang, ketika ayah saya akan kembali ke Yogya, bila menginginkan buku saya akan tulis judul dan nama pengarang di secarik kertas. Diam-diam, kertas itu saya masukkan ke saku baju seragam ayah saya.

Sabtu minggu depan, sekitar jam 3 sore, ketika ayah saya datang dan tidak usah saling ngomong, saya segera menggeledah isi tas kerja beliau. Selain buku-buku pelajaran, buku bacaan favorit adalah kisah Mahesa Djenar dalam karya SH Mintardja, Nogososro-Sabukinten., yang akan saya temukan. Bau tintanya masih terpateri hingga kini. Lalu meringkuk di kamar tidur, membacanya. Menjelang Maghrib, buku itu pun selesai.

Kembali ke perpustakaan Jogja. Di bagian lain spanduknya itu nampak terpajang logo beberapa lembaga negara, televisi dan perusahaan, sebagai sponsor perlombaan. Kalau saja saya bekerja di perpustakaan, saya akan senang hati belajar lagi dari perpustakaan Jogja ini dalam mengadakan aktivitas yang kreatif dan inspiratif tersebut.

Muncul sajalah. Ketika bis TransJogja 3A tiba, Malioboro segera saya tinggalkan. Di jalanan ini, dulu-dulu itu, saya suka nabrak-nabrak untuk menyapa turis asing. Sekadar melatih bahasa Inggris semampunya. Perjalanan bis nampak lamban, mungkin karena saat itu saya lagi tergesa-gesa.

Seharusnya saya belajar untuk mengendalikan perangai suka tergesa-gesa ini. Demikian pula ketika dalam mencoba berenang di lautan dunia komedi, yang ingin saya terjuni, dengan mengikuti audisi komedian tunggal oleh KompasTV ini.

Audisi saya gagal. Tetapi, syukurlah, dampaknya tidak fatal-fatal amat. Karena dari rumah sudah saya siapkan beberapa mata pancing. Beberapa opsi. Ada yang untuk kepentingan sesaat, tetapi lebih banyak lagi mata-mata pancing untuk masa depan. Yang bahkan sinarnya pun baru mengintip di balik cakrawala.

Bagi para pencari kerja, saya ajak Anda menyimak nasehat Paul Arden ini. Ia eksekutif kreatif perusahaan periklanan kelas dunia Saatchi & Saatchi yang menulis buku berisi ajaran agar kita berani melawan arus. Karena emas ada di sana.

Dalam bukunya Whatever You Think, Think The Opposite (2006), ia menulis : “Jika Anda tidak mempunyai gelar atau biaya kuliah, muncul saja. Jika Anda ingin ada dalam pekerjaan di mana mereka tidak menerima Anda, muncul saja.

Pergilah menghadiri kuliah-kuliah, mondar-mandirlah mengerjakan segala sesuatu, buatlah diri Anda berguna. Buatlah orang-orang mengenal Anda. Pada akhirnya mereka akan menerima Anda, karena Anda adalah bagian dari komunitas mereka.

Mereka tidak hanya akan menghormati kegigihan Anda tetapi juga akan menyukai Anda karenanya. Ini mungkin akan makan waktu, katakan setahun, tetapi Anda akan diterima, bukan ditolak.”

Terima kasih, Paul. Ajaran Anda itu memberi saya perasaan dada lega ketika naik bus untuk meninggalkan Yogya. Saya sudah mengikuti nasehat Anda. Saya sudah muncul, dan hal magis itu kini kiranya sedang bekerja.

Tetapi tetap ada hal rada mengecewakan. Keinginan reuni dengan gadis cantik berjaket “Economics UGM” tadi hanya tinggal kenangan semata.

Tak apa-apa. Apalagi saya kini juga sudah tak mampu lagi menulis seperti “Cintaku Antara Balapan dan Tugu,” sebuah cerita pendek picisan yang saya tulis beberapa dekade lalu itu.


Wonogiri, 14/7/2011

Buku “Komedikus Erektus” Mau Mejeng Di KompasTV ?

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Pengarang buku, sebaiknya semi famous.

Maksudnya, agak-agak terkenal, kira-kira begitulah. Karena keterkenalan membawa berkah. Bagi penulis dan juga bagi buku karyanya.

Bagaimana caranya menjadi agak-agak terkenal itu ? Menurut Burke Allen, apabila Anda mampu membuat proposisi yang unik dan menarik sehingga mampu menyentuh emosi, orang-orang akan antri untuk berbicara kepada Anda ketika tampil di televisi, radio, Internet dan di media cetak.

Hal yang menarik, lanjut Burke Allen, semua hal itu seringkali tidak terkait dengan buku Anda karena media tertarik mewawancarai Anda, bukan hendak membahas buku Anda. Tetapi semua media itu akan mengijinkan Anda untuk memamerkan buku Anda, sehingga buku Anda tersebut berkesempatan tampil dalami liputan yang menguntungkan.

Hari Selasa (12/7/2011) saya mengalami persis hal di atas. Saat itu saya mengikuti audisi Stand-Up Comedy Indonesia yang diselenggarakan oleh KompasTV. Lokasi audisi di Liquid Café, Jl. Magelang, Yogyakarta. Dalam foto saya bersama Imot a.k.a. Sigit Hariyo Seno, anak muda Yogya yang sengaja mau jatuh-bangun merintis karier sebagai komedian tunggal, dan akhirnya sering mengisi pagelaran di Kafe Jendelo, Yogya. Ia lolos audisi di Yogya itu.

Dari rumah Wonogiri saya berangkat jam 5 pagi. Di dalam tas saya berisi buku biografi Warkop, Main-Main Menjadi Bukan Main (2010) dan enam buku saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010).

Buku pertama itu akan saya mintakan tanda tangan kepada penulisnya, pelawak Indro Warkop, yang menjadi juri audisi. Sedang buku saya, rencananya akan saya berikan kepada Indro Warkop, Butet Kertarajasa (juri kedua), artis Astrid Tiar, dan host acara itu, Panji Pragiwaksono dan Raditya Dika.

Hal tak terduga kemudian terjadi. Sebelum audisi berlangsung, saya diwawancarai mBak Dossy dari Kompas TV. Ia bertanya mengenai minat saya mengenai dunia komedi dan apa saja yang telah saya kerjakan selama ini. Singkat cerita, saya juga menunjukkan buku saya ini.

Sejurus kemudian ia melakukan koordinasi dengan sutradara lapangan dan kameraman. Selanjutnya meminta saya keluar ruangan untuk syuting pembuatan videoklip yang menggambarkan profil diri saya.

Begitulah kejadiannya, berkat bawa-bawa buku, saya hari itu rupanya telah menjadi semi terkenal. Sebagian peserta audisi lainnya, yang baru pertama kali bertemu, malah ada yang bertanya tentang buku saya berikutnya.

Di bawah todongan kameranya Mas Oman, disutradai mas Arif, saya diminta akting menyeberang jalan, lalu berhenti menatap papan nama kafe, disusul menceritakan niat ikut audisi, dan juga membuat sampul buku saya nampak di-close-up habis-habisan.

Audisi saya hari itu memang tidak berhasil. Tetapi rencana-rencana saya terkait buku, berhasil saya laksanakan.

Saya bisa meminta tanda tangan, sekaligus berkenalan secara akrab, dengan Indro Warkop dan Butet Kertarejasa, yang walau baru saja “membantai” saya sehingga tidak lolos audisi. Kepada mereka, saya berikan pula buku saya, dan gentian Indro Warkop yang meminta tanda tangan saya.

Keluar dari panggung audisi, kejutan lain menunggu. Saat itu saya langsung diajak mengobrol dengan mBak Argalaras, associate producer dari KompasTV. Kami saling bertukar kartu nama. Dalam keremangan kafe (walau siang hari), saya sebut namanya indah. Ia juga cantik sekali.

Kita kemudian bertukar visi mengenai apa yang bisa kami kerjakan kelak untuk menunjang keberhasilan audisi komedian tunggal ini. Kepada dirinya, juga saya berikan buku saya. Konon, klip itu akan ditayangkan pada bulan September 2011 mendatang.

Pengalaman yang unik.

Berkat buku, ketika sebuah pintu tertutup, ternyata masih ada jendela-jendela peluang lain yang kemudian terbuka. Apakah Anda pernah mengalami hal yang sama dengan buku-buku Anda ? Saya menantikan cerita Anda.


Wonogiri, 13/7/2011

Monday, June 27, 2011

The Book and The Beautiful Girl

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com

Photobucket

Gelisah.
Ciri-ciri orang yang menanti.
Memainkan telepon genggam.
Kirim-baca sms. Bertelepon-ria.
Membunuh waktu.

Siang itu saya dianugerahi panorama berbeda. Kamera Nikon saya yang invalid itu bahkan tidak berani berdusta.

Beautiful girl, I'll search on for you/'Til all of your loveliness in my arms come true/You've made me love again, after a long, long while/In love again…

[Jose Mari Chan, “Beautiful Girl”].


Wonogiri, 28/6/2011

The Age of Muslim Wars di Indonesia ?

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Picasso.
Andy Warhol.
Wassily Kandinsky.
Juga Jackson “action painting” Pollock.

Jangan bayangkan museum atau galeri yang memiliki koleksi lukisan karya para maestro di atas itu berada di New York, London, Paris atau Bilbao. Karya-karya master piece para maestro itu justru disimpan di ruang bawah tanah sebuah galeri di Teheran, Iran.

Aneh juga. Negara para mullah yang berseteru secara sengit dengan Israel, juga dengan negara-negara Barat itu, justru tetap melestarikan karya-karya lukisan orang-orang Barat itu.

Saya juga ikut-ikutan menceritakan hal unik terkait negeri Iran. Dalam buku saya Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010) yang sekuelnya bisa terbit bulan Oktober 2011, saya kutipkan cerita tentang lawakan komedian perempuan, Tissa Hami, yang berasal dari Iran tetapi kini menetap di Amerika Serikat.

Tissa Hami itu bergelar Master Kajian Internasional. Ia kini bekerja di John F. Kennedy School of Government, Universitas Harvard. Ketika tanggal 29 September 2009 saat SBY berpidato di sini, tentu ia ikut menjadi seksi repot. Tambahan info, anak sulung SBY, Kapten Agus Harimurti, juga berkuliah di sini.

Saya tidak tahu apa Tissa Hami saat itu juga tergelitik membuat lawakan tentang SBY yang berpidato di Harvard itu. Tetapi SBY-nya sendiri sering dikabarkan bangga dengan isi pidatonya saat itu. Bahkan oleh seorang pelatih pidato terkenal, Richard Greene, pidato SBY itu disisipkan dalam bukunya sebagai salah satu pidato abad ke-21 yang mengguncang dunia. [Di kepala saya muncul bunyi 'klik' : “Saya memperoleh ilham baru lagi untuk menulis humor tentangnya, di buku saya kemudian :-)”].

Kembali ke Tissa Hami. Latar belakang asalnya yang dari Iran dan referensi buruk hubungan di tahun 1970-an antara negeri kelahirannya dengan negerinya kini, justru sering menjadi materi lawakannya. Katanya : “Kalau tidak ada penonton yang tertawa mendengar lawakan saya, Anda semua akan saya jadikan sandera !”

Itulah humor orang Iran. Kalau saja lukisan-lukisan karya para “bule” itu berada di Afghanistan, sambil merujuk nasib patung-patung Buddha raksasa yang dihancurkan kaum Taliban, pasti karya seni bernilai jutaan dollar itu boleh jadi sudah lama menjadi abu.

Nasib patung Buddha raksasa itu pernah menjadi rujukan komedian intelek Steve Martin ketika memandu acara Oscar tahun 2001. Ia sambil merujuk patung-patung raksasa Oscar di sekitar panggung, lalu menyeletuk : “Kalau di Afghanistan, semua Oscar-Oscar itu pasti sudah dihancurkan oleh Taliban !”

Iran yang unik. Cerita itu saya ikuti ketika menonton tayangan kisah perjalanan menarik dari Diego Bunuel. Orang Perancis yang ramah ini keliling dunia untuk mengunjungi dan menceritakan hal-hal menarik yang ia temui. Acaranya itu bertajuk “Don’t Tell My Mother,” di kanal National Geographic Channel.

Sebelum bercerita tentang koleksi lukisan, Diego menemui komunitas orang Yahudi di Iran. Bayangkan, hubungan Iran dengan Israel ibarat anjing lawan kucing, tetapi komunitas Yahudi itu aman dan damai menjalankan ibadah.

Bahkan komunitas Yahudinya terbesar kedua setelah negeri Israel. Mereka hidup aman dan damai. Sinagognya tak pernah diusik orang Iran, karena menurut tokoh Yahudi di Iran itu, “warga negara Iran tahu membedakan mana urusan agama dan mana urusan politik.”

Cerita Diego Bunuel itu mengingatkan saya akan isi artikel yang ditulis Francis Fukuyama di majalah Newsweek, edisi dobel, Desember 2001-Februari 2002. Topik utamanya adalah Era Perang Kaum Muslim. The Age of Muslim Wars. Tentang era centang-perenang ketika kaum muslim berperang melawan muslim, dan juga peperangan muslim melawan Barat.

Majalah edisi ini bernilai sentimental sekaligus monumental. Juga buku The Comedy Bible-nya Judy Carter (foto). Karena keduanya saya beli untuk meredakan gejolak hati setelah memperoleh surat vonis PHK dari sebuah perusahaan Internet di Jakarta.

Dalam artikelnya di Newsweek yang berjudul “Today’s New Fascist, Their Target : The Modern World,” Fukuyama justru menyimpulkan bila “ada negara yang mampu memimpin dunia Islam untuk keluar dari jaman sulit dewasa ini, maka negara tersebut adalah Iran.”

Menurutnya, generasi Iran kini yang rentang usianya di bawah 30 tahun rata-rata tidak lagi menaruh simpati terhadap faham-faham fundamentalis “Dan bila Iran mampu menghadirkan sosok Islam yang lebih modern dan toleran, negeri tersebut akan menjadi model yang kuat bagi seluruh sisa negeri-negeri muslim di dunia,” pungkas Francis Fukuyama.

Bagaimana dengan Indonesia ? Republik Indonesia bukan negara agama. Tetapi tiap kali, antara lain mendengar pidato pembelaan Abu Bakar Baasyir di persidangan, juga heboh cerita tentang Panji Gumilang dan KW 9 (jadi isi laporan utama majalah Tempo terbaru) muncul teka-teki : apakah “The Age of Muslim Wars” justru telah “berpindah” ke Indonesia kini ?

Bagaimana pendapat Anda ?
Ayo jawab.

Tak usah menunggu orang Perancis ganteng itu, Diego Bunuel, melaporkannya dalam seri “Don’t Tell My Mother : Indonesia” di tayangannya mendatang.

Wonogiri, 19 Juni 2011

Anak Anda, Korban Perang Saudagar Penjual Kematian ?

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Elvis Presley, Anda kenal ? Raja rock’n roll asal Memphis dan punya lagu hit “Blue Suede Shoes” itu pernah saya jadikan sebagai bahan olok-olok. Yaitu dengan mempersonifikasikan gaya dan seragam pasukan “sepatu beludru biru”-nya Partai Demokrat dalam show kampanye SBY di Pilpres 2009 yang lalu.

SBY dan putranya berpakaian dan bernyanyi a la Elvis. Rambut berjambul, kerah tegak a la kaos Erik Cantona atau baju Drakula, disusul adegan hot goyang pinggul. Penari latarnya semua bersepatu biru buatan pabriknya Hartati Murdaya (pendukung fanatik SBY), dan koreografi tarinya ditata oleh Angelina Sondakh.

Bagi Anda yang sudah membaca buku Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010), semoga masih mengingat cerita di halaman 105-111 itu.

Pilpres 2009 tersebut ternyata memang bermasalah. Asap kehebohannya yang masih mengepulkan jelaga sampai kini (isi sms “Nazaruddin” tentang pemalsuan 18 juta suara sampai kasus Andi Nurpati) mudah mengingatkan seorang diktator Afrika yang pernah bilang, “Anda boleh memenangkan pencoblosannya, tetapi kami akan menang dalam penghitungannya.” Itulah pula yang terjadi di KPU saat Pilpres 2009 yang lalu ?

Semua tokoh merokok. Kembali ke Elvis Presley. Anda pernah menonton film 3000 Miles to Graceland ? Film ini berkisah tentang sekawanan perampok kasino yang berdandan a la penyanyi legendaris yang meninggal di WC karena overdosis obat bius, ya Elvis Presley itu pula. Stasiun teve RCTI pernah menayangkan sedikitnya dua kali (7/5/2003 dan 28/4/2004) film tersebut.

Adegan sangat mencolok dalam film itu adalah banyaknya tokoh yang tak henti-hentinya merokok. Ada tokoh Murphy, sementara tokoh lainnya, Michael, juga merokok dan malah tampak permisif mengajari anak di bawah umur untuk merokok. Belum lagi detektifnya juga tak kalah dalam hal seringnya merokok.

Karena terusik, sebagai seorang epistoholik, saya telah menulis surat pembaca di koran (almarhum) Kompas Yogyakarta. Isinya gugatan : Apakah tukang pilih film di RCTI tidak terusik oleh adegan-adegan merokok yang sangat mencolok itu ?

Atau memang film ini sengaja dipilih (!) atas pesanan terselubung industriawan rokok yang maha kaya-kaya itu untuk mengiklankan kebiasaan merokok ? Sinetron Dara Manisku, juga di RCTI, mencolok adegannya yang mengumbar pelakunya seperti saling berlomba-lomba dalam merokok !

Glamorisasi. Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam upaya kampanye global anti-rokok telah mengimbau kalangan produser film di Hollywood dan Bollywood dan kalangan industri mode untuk menghentikan tayangan yang mengglamorisasikan aksi merokok.

Caranya dengan menghindari adegan film yang menayangkan aksi merokok yang nampak penuh gaya dan meminta industri fashion untuk tidak menggunakan rokok sebagai asesorinya.

Survei tentang Bollywood, ternyata 320 dari 400 film India menayangkan adegan merokok sebagai sesuatu hal yang cool untuk dilakukan. Rokok bisa mencitrakan kejantanan atau feminitas, canggih atau kasar, sexy atau sporty, semuanya karena kecerdikan strategi pemasaran.

Dua dari konteks yang mendukung citra tersebut adalah industri film dan mode. Disebutnya, kalangan film dan fashion memang tidak dapat dituding sebagai penyebab kanker, tetapi seharusnya mereka tidak mempromosikan produk-produk yang menyebabkan kanker.

Surga industri rokok. Anjuran WHO itu di Indonesia, nampak sebagai angin lalu. Artikel menohok dari Kak Seto di Kompas (28/7/2007) telah memotret agresifitas industri rokok dalam berkampanye mengajak anak-anak muda kita untuk merokok.

Dikota kecil saya saja, Wonogiri, setiap kali melakukan jalan kaki pagi saya selalu menemukan papan-papan iklan baru dan umbul-umbul yang mempromosikan produk rokok. Belum lagi tempelan poster iklan-iklan rokok yang menyerobot dan mengotori pemandangan, tertempel di tembok shelter dan lokasi publik lainnya.

Itulah cerminan betapa kota kita dan anak-anak muda kita menjadi korban ajang perang para teroris nikotin berskala global. Wartawan William Ecenbarger dalam artikel berjudul “America’s New Merchants of Death” (Saudagar-Saudagar Kematian Baru Amerika) di majalah Reader’s Digest (4/1993 : 17-24) menyebutkan, raksasa industri rokok Amerika sebagai saudagar-saudagar kematian baru nampak semakin agresif memindahkan pasarnya ke manca negera.

Karena sebagai negara maju dengan penduduknya berpendidikan, berkesadaran tinggi menjaga kesehatan, membuat konsumsi rokok di AS semakin menurun. Apalagi perangkat hukumnya ketat dan tegas. Sasaran perpindahannya justru negara miskin dan negara berkembang. Indonesia dengan penduduk 237 juta, jelas merupakan pasar sangat menggiurkan. Sadisnya lagi, anak-anak dan kaum muda yang menjadi sasaran utama bidikan mereka.

Parahnya lagi, birokrat kita kronis mengidap cognitive dissonance (CD), kesadaran yang tak nyambung. Pernah presiden Megawati ke Aceh mengunjungi tentara kita yang saat itu terlibat pertempuran melawan gerakan separatis GAM. Ia berpesan kepada para prajurit agar menjaga kesehatan. Tetapi pada saat yang sama seperti dilaporkan koran Solopos (20/8/2004 : 2), Megawati menyerahkan bantuan berkotak-kotak rokok.

Demikianlah, demi uang, para birokrat kita seolah melupakan dampak bahaya yang ditimbulkan rokok dan kebiasaan merokok yang mereka kampanyekan itu. Mereka mengeruk uang pajak dari kalangan industri rokok dan membiarkan rakyatnya menanggung resikonya sendiri akibat dampak kampanye produk yang membahayakan kesehatan di masa mendatang tersebut.

Apalagi serbuan rokok-rokok impor itu segera disambut hangat, dengan bangkitnya pabrik-pabrik rokok baru di dalam negeri. Lihatlah, produk-produk atau merek-merek rokok baru buatan dalam negeri segera menjamur. Termasuk misalnya, pabrik rokok milik putri raja Yogyakarta.

Jalanan kita, acara-cara musik di kampus dan lapangan sepak bola, acara-acara budaya seperti yang dikreasi oleh Butet Kertarajasa, Agus Noor, Djaduk Ferianto di TIM, gerakan cinta lingkungan, lomba karya tulis antarwartawan, sampai bagi-bagi beasiswa mahasiswa, cengkeraman pabrikan rokok bermain di dalamnya dan semakin menggurita dimana-mana.

Menurut laporan The Jakarta Post (11/1/2010), Indonesia termasuk sedikit negara yang belum menandatangani dan meratifikasi Kerangka Konvensi Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control /FCTC) yang disponsori Badan Kesehatan Dunia/WHO. Konvensi ini maha penting karena sepertiga dari 237 juta penduduk Indonesia adalah perokok.

Membongkar kebohongan. Jelas sekali, puluhan juta kaum perokok Indonesia merupakan tambang emas bagi industri rokok. Rejeki maha besar ini tentu akan mereka pertahankan mati-matian. Lobi-lobi tingkat tinggi sangat berperan di sini.

Sebagai gambaran, kalau Anda pernah membaca salah satu buku tetraloginya wartawan Kompas, Wisnu Nugroho, yang bercerita tentang SBY, Anda akan menemui cerita menarik. Yaitu ketika sebagai wartawan yang sehari-harinya meliput kegiatan SBY di Istana, memergoki mobil mewah di halaman Istana. Mobil itu mereknya Rolls-Royce, dengan nomor polisi : 234.

Kemudian kalau Anda membaca buku yang pernah bikin geger, yaitu Membongkar Gurita Cikeas : Di Balik Skandal Bank Century (2010)-nya George Junus Aditjondro, juga tersaji cerita menarik di halaman 21-26. Antara lain tentang kiprah industrialis rokok raksasa Indonesia : “Sampoerna sejak beberapa tahun lalu mendanai penerbitan salah satu koran nasional (Jurnas/Jurnal Nasional yang menjadi corong politik Partai SBY” (Haque, 2009).

Kita sebagai warga negara, nampaknya harus skeptis dan bahkan mengendorkan harapan kepada pemerintah tentang kampanye bahaya rokok tersebut. Tetapi jangan menyerah. Di era media sosial yang memberi setiap warga kekuatan untuk bersuara, sudah saatnya kita manfaatkan secara maksimal. Tulisan ini juga berada pada arus yang sama.

“Merokok itu tidak cool, keren. Yang nampak cool adalah perokoknya”, simpul Malcolm Gladwell dalam bukunya The Tipping Point (2002) yang mengkampanyekan strategi radikal dalam kampanye anti-merokok yang selaras dengan langkah WHO di atas.

Apalagi, menurutnya, “merokok itu terkait erat dengan masalah emosi….Semua hal yang dapat membuat seseorang rentan terhadap efek menular merokok, misalnya rasa harga diri rendah, suasana tidak sehat atau tidak bahagia di rumah, sama dengan semua hal yang dapat membuat seseorang mengalami depresi.”

Jadi tembakau itu merupakan obat murah bagi mereka dalam berikhtiar mengobati depresi mereka sendiri. Jadi, perokok adalah orang-orang yang tidak “berbahagia.” Dan kalau masalah depresi ini bisa diatasi, begitu Gladwell menyimpulkan, maka kecenderungan mereka untuk merokok berpeluang untuk diturunkan.

Dalam versi yang mungkin lebih canggih, coba perhatikan bunyi peringatan yang terdapat pada setiap bungkus rokok atau iklan-iklan rokok. Kata-kata peringatan itu, menurut Chip Heath dan Dan Heath, kuranglah bertaji. Sebagaimana ia tulis dalam buku larisnya yang wajib dibaca para komunikator kreatif, berjudul Made To Stick : Strategi Agar Gagasan Kita Melekat di Benak Orang Lain (2007, 432 halaman. Bila berminat terhadap buku ini, seperti rekan saya Bakhuri Jamaluddin di Pamulang, Tangerang dan Widiaji di Yogyakarta, silakan segera kontak saya), menurutnya, peringatan itu kurang emosional.

Oleh kedua penulis itu (Chip Heath adalah profesor di Sekolah Bisnis Universitas Stanford dan Dan Heath adalah konsultan di Duke Corporate Education) telah mereka tandaskan :

“Sulit untuk membuat para remaja berhenti merokok dengan menanamkan rasa takut terhadap konsekuensinya, tetapi lebih mudah untuk membuat mereka berhenti merokok dengan memanfaatkan kebencian mereka terhadap kebohongan yang sengaja dilakukan oleh perusahaan rokok raksasa.” (Hal. 24).

Tulisan ini merupakan ajakan bagi Anda untuk melangkah bersama. Untuk ikut serta membongkar beragam kebohongan-kebohongan itu. Dengan tujuan, siapa tahu ikut menyelamatkan generasi muda kita sebagai korban cipoa , tipu muslihat julig kaum industrialis rokok, yang tak lain merupakan saudagar-saudagar kematian yang kini semakin merajalela.

Memang tak mudah. Mungkin di sini repot kita akan bertambah. Pasalnya, kalau presiden SBY saja telah dituding secara berjamaah oleh para pemuka agama sebagai berbohong, apakah pabrik rokok, politisi, aparat penegak hukum, para birokrat, institusi kesehatan, cendikiawan, wartawan sampai pebisnis, tidak boleh ikut-ikutan berbohong ?

Mungkin itu pula kesialan kita selama ini.

Kita tertakdir hidup di negara yang segalanya semakin jelas, sebagai bohong-bohongan belaka.


Wonogiri, 27 Juni 2011

Monday, April 25, 2011

Buku Untuk Melawan Ideologi Para Pembuat Bom Buku

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


"Terinspirasi Literatur."
"”Dia belajar dari buku.”

Begitu penjelasan Kepala Bagian Penerangan Umum Kepolisian Negara RI (Polri) Komisaris Besar Boy Rafli tentang tersangka P yang diduga menjadi otak jaringan pelaku teror bom buku dan perencana peledakan bom di dekat Gereja Christ Cathedral, Serpong, Tangerang Selatan.

Sebagai warga yang cinta damai, kita jangan kalah dari mereka itu, sobat.

Jadikan buku sebagai sarana untuk memperkuat ketahanan diri.

Untuk tetap waras, sehingga mampu menjadi senjata bangsa Indonesia untuk melawan mereka !

Memang butuh energi dan dedikasi yang tidak ringan.

Karena seperti ujar Sutton Elbert Griggs, "Seringkali dibutuhkan keberanian lebih untuk membaca buku daripada keberanian yang dibutuhkan untuk maju dalam peperangan !"

Wonogiri, 26/4/2011

Sunday, April 03, 2011

Buku "Komedikus Erektus" di Library of Congress

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Anda kenal Perpustakaan Konggres, perpustakaan terbesar di dunia ?

Misi keberadaannya adalah untuk memenuhi tugas konstitusional untuk mendorong kemajuan pengetahuan dan kreativitas bagi kemaslahatan bangsa Amerika.

Misi yang hebat dan mulia.

Ketika saya berselancar di situsnya,dan pada katalog onlinenya iseng-iseng saya ketikkan nama saya, Amerika pun membalas. Ternyata buku humor politik saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010), telah menjadi koleksi mereka. Menggembirakan.

Ringkasan yang mereka buat untuk buku tersebut adalah : Aspek humor tentang kondisi sosial dan politik di Indonesia
Klasifikasinya : LC Classification: MLCSE 2010/02873 (H)
Alamat data bibliografisnya di : http://lccn.loc.gov/2010441503
No kontrol : LC Control No.: 2010441503
Lokasi : Asian Reading Room (Jefferson, LJ150).

Di Perpustakaan Nasional Australia, rincian subjeknya lebih kaya :

Political satire, Indonesian,
Indonesian wit and humor,
Indonesia-Politics and government-Humor.

Nomor induk : Bib ID 5017471.
Lokasi : YY 2011-105 Main Reading Room (Overseas Monograph Collection).
URL : http://catalogue.nla.gov.au/Record/5017471.

Tergerak oleh penemuan ini, saya melakukan hal yang sama di situs Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Hasilnya silakan Anda klik disini. Kejutan ?

Dari Salemba, saya lanjutkan ke Depok, ke Perpustakaan Universitas Indonesia. Alma mater saya.

Ternyata ditemukan 45 bahan pustaka yang relevan dengan kata kunci "haryanto,"tetapi tak satu pun yang cocok dengan nama saya.

Silakan mengambil hikmah dan kesimpulan sendiri atas realitas ini.

Kalau Anda pernah menulis buku, silakan kunjungi situs Library of Congress dan The National Library of Australia itu.Siapa tahu katalog onlinenya memberikan kejutan kecil kepada Anda.

Menikmati impuls yang manusiawi ketika karya kita dihargai.
Dilestarikan.Diapresiasi.
Silakan mencobanya !


Wonogiri,4/4/2011

Sunday, March 13, 2011

Paul Arden,Churchill dan Pesan Untuk SBY

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


(1)

"Winston Churchill pernah mengatakan
bahwa ketika Anda berada di puncak,
Anda hanya perlu
memikirkan kebijakan.

Ketika Anda berada di nomor dua,
Anda harus memikirkan apa yang
dipikirkan bos Anda, dan apa yang dipikirkan musuh Anda,
sebelum Anda memikirkan kebijakan.

Dirikan perusahaan Anda sendiri,
sehingga Anda dapat mengendalikan
nasib Anda sendiri.

Ini membuat Anda menjadi yang nomor satu
sejak awal."


(2)

"Pak Beye,
membuat keputusan yang aman itu membosankan,
gampang diprediksi,
dan tidak akan membawa Anda ke mana pun.


Keputusan yang tidak aman
menyebabkan Anda berpikir dan merespons
dengan cara yang belum pernah
Anda pikirkan sebelumnya.

Dan pikiran itu akan memicu pikiran lain
yang akan membantu Anda mencapai
apa yang Anda inginkan.

Mulailah ambil keputusan yang keliru
dan hal ini akan membawa Anda ke tempat
yang hanya bisa diimpikan orang lain."


Sumber :
Paul Arden, Whatever You Think Think The Opposite (2006).
No klasifikasi : 155.2/Pau/w di Perpustakaan Umum Wonogiri.

Wonogiri, 13/3/2011

Friday, December 10, 2010

5600 Jokes For All Occasions

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


"Narcoleptic."
Julukan majalah The Economist untuk Gus Dur.

Itu terkait kebiasaan Gus Dur yang nampak tertidur dalam suatu acara, tetapi begitu terbangun dirinya mampu menjawab secara tajam segala hal-ihwal yang ditanyakan para wartawan.

Paparan di atas tercakup dalam tulisan obituari majalah tersebut, yang ditulis setahun lalu itu. Tulisan itu membuat saya sadar betapa sangat sedikit yang telah saya ketahui tentang Gus Dur.

Kesadaran tersebut meruyak ketika saya memperoleh SMS (9/12/2010) dari Yogyakarta. Dari pengirim yang tidak saya kenal.

Nama pengirimnya : Sudaryanto. Mahasiswa S-2 Universitas Negeri Yogyakarta. Rupanya ia menemukan blog saya ini. "Kebetulan saya sedang menulis tesis tentang wacana humor Gus Dur. Kapan-kapan saya silaturahmi dengan panjenengan," tulisnya.

Saya terenyak.

Rasanya tidak banyak yang saya ketahui dari humor-humor Gus Dur. Saya hanya langsung teringat peristiwa yang terjadi pada tahun 1986. Tidak bosan saya selalu mengulang cerita ini, ketika memergokinya di toko buku Gramedia Blok M, tepatnya tanggal 25 Oktober 1986. Saat itu Gus Dur memberi saya sebuah riddle, teka-teki, cangkriman yang menjurus.

Di halaman dalam buku karya Mildred Meiers dan Jack Knapp, 5600 Jokes For All Occasions : Over 550 Subjects to Help You Entertain, Insult, and Amuse Any Audience (1980, foto di bawah), buku yang saya beli saat itu, saya tuliskan cangkriman Gus Dur tersebut :

"Rambut wanita MANA yang paling lebat, paling hitam dan paling keriting ?" Itu tanya Gus Dur kepada saya.

Saya langsung tergelak. Sekaligus wajah saya pasti nampak bodoh, karena saat itu saya memang tidak tahu apa jawaban yang pasti. Syukurlah Gus Dur segera menimpali :

"Rambut wanita Papua Nugini."

Saya kembali tergelak. Kini lebih keras. Beberapa pasang mata langsung nampak mencereng ke arah saya. Saya tak peduli. Sebelum berpisah, saat itu Gus Dur masih juga memberikan teka-teki dan misteri kepada saya. Melalui ujaran : "Hanya kita-kita saja yang masih waras."

Teka-teki ini baru saya ketahui maknanya belasan tahun kemudian. Jawaban dari teka-teki itu, kini menjadi bagian dari isi buku saya yang baru terbit, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Etera Imania, 2010).

Sibuk memoles citra. Isi artikel obituari majalah bisnis Inggris ternama itu juga menampilkan cerita tentang kewarasan beliau sebagai insan. Waras yang ia maksudkan adalah keberanian dan ketulusan untuk menunjukkan, dan bahkan melucukan kekurangan dirinya sendiri.

Benar-benar sebuah kualitas keluhuran yang langka ditemui di antara pemimpin-pemimpin kita masa kini. Karena mereka selalu nampak sibuk mempraktekkan strategi kehumasan untuk memoles diri, agar selalu tampil kinclong dan sempurna di muka rakyatnya.

Kewarasan Gus Dur itu tegas mencuat dan menginspirasi ketika dirinya dipaksa lengser dari kursi kepresidenan di tahun 2001. Saat ditanya wartawan apakah hal itu akan disesalinya, dengan enteng Gus Dur menjawab : "Sama sekali tidak. Saya lebih menyesal ketika saya kehilangan 27 rekaman Simfoni Kesembilan dari Beethoven."

Bahkan begitu lengser Gus Dur segera memberi kabar kepada para wartawan : "Mulai esok, saya akan menceritakan lelucon-lelucon lagi."

Presiden RI ke-4 yang oleh Bill Clinton dijuluki sebagai presiden paling lucu di dunia itu meninggal dunia dalam usia 69 tahun.
Tanggal 30 Desember 2009.

Delapan tahun sebelumnya, 30 Desember 2001, pelawak Dono Warkop, juga meninggalkan kita untuk selama-lamanya.

Adakah kesamaan tanggal meninggal ini hanya sebagai suatu kebetulan belaka ?

Bagi saya, hal itu ternyata mampu menerbitkan gagasan. Bahwa untuk mengenang keduanya, dan demi menunjang kemajuan dunia humor Indonesia sebagai pilar penjaga kewarasan nurani bangsa, bersama ini dengan rendah hati mengusulkan agar tanggal 30 Desember diproklamasikan oleh para pencinta humor Indonesia sebagai hari bersejarah.

Hari Humor Nasional.
Atau Hari Humor Indonesia.

Dengan harapan, di momen tersebut makna luhur humor bagi kemanusiaan dapat kita kemukakan, kita rayakan, juga kita reguki. Sambil merujuk beberapa ucapan bernas berikut ini tentang humor, maka kita semoga semakin yakin betapa humor pantas sekali sebagai harta jiwa yang senantiasa kita perjuangkan sebagai bekal bangsa Indonesia dalam mengarungi peradaban.

"Humor is mankind's greatest blessing."
Humor merupakan rahmat terbesar bagi kemanusiaan.
- Mark Twain

"If I had no sense of humor, I would long ago have committed suicide." Apabila saya tidak memiliki sense of humor maka saya telah melakukan bunuh diri pada waktu yang telah lalu.
- Mohandas Gandhi

"Humor is something that thrives between man's aspirations and his limitations. There is more logic in humor than in anything else. Because, you see, humor is truth. "
Humor merupakan sesuatu yang tumbuh subur di antara aspirasi manusia dan keterbatasannya. Terdapat lebih banyak logika pada humor dibanding hal-hal lainnya. Karena seperti Anda tahu, humor adalah kebenaran.
- Victor Borge

"When humor goes, there goes civilization."
Ketika humor lenyap, lenyap juga peradaban.
- Erma Bombeck

"You can turn painful situations around through laughter. If you can find humor in anything, even poverty, you can survive it."
Anda mampu mengubah keadaan yang penuh penderitaan dengan humor. Apabila Anda mampu menghumori segala hal, bahkan kemiskinan, Anda akan mampu bertahan.
- Bill Cosby


Terlebih lagi momen yang mendekati tutup tahun itu merupakan waktu yang tepat bagi warga bangsa ini untuk berefleksi. Untuk menyadari kekurangan-kekurangan diri sendiri.

Dan kemudian bersepakat menancapkan tekad untuk berbuat yang lebih baik di tahun depan yang siap dijelang.


Wonogiri, 10 Desember 2010

Thursday, November 25, 2010

Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau

Judul buku : Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau
Penulis : Bambang Haryanto
Format: 13 x 20,5 cm
ISBN: 978-602-96413-7-0
Jumlah halaman: xxxii +205
Harga: Rp 39.000,-
Soft cover
Terbit: 24 November 2010

Sinopsis : Membaca Komedikus Erektus, Anda akan merasa ada sesuatu yang menyelinap bersijingkat bukan saja ke otak Anda.

Tetapi juga ke rasa.
Hati. Pori-pori.
Bahkan ke pembuluh darah.

Sesuatu itu seperti mendesak-desak, mencubit-cubit, kadang bahkan menggaruk-garuk perasaan intelektual Anda.

Ia begitu rewel, mengajuk-ajuk, mengulik-ulik. Anda akan tergiring untuk duduk termenung-menung, terbengong-bengong dan seringkali bahkan tidak mampu melakukan apa-apa karena pengaruh “sihir”-nya.

Humornya sungguh mencengangkan, karena gagasan dan wawasannya sanggup menembus batas ruang, waktu dan hegemoni disiplin ilmu.

-Darminto M. Soedarmo, mantan pemimpin redaksi majalah HumOr.

• Video Porno, Guantanamo dan Barack Obama.
• Heboh Bank Century: Canda dan Ironi.
• In Memoriam Gus Dur (1940-2009) : "Hanya Kita Saja Yang Masih Waras."
• Bir Obama, Polisi Korup dan Ketegasan SBY Kita.
• Ancaman Flu Babi, Golput dan Album SBY 2014.
• Facebook, Lumpur Lapindo dan Politikus Kita.
• Kejujuran dan Komedian Baru di Senayan.

Endorsement:

“Saya yakin judul buku ini tidak kalah heboh ketimbang buku berjudul ‘Gurita Sebuah Lokasi Itu’. Penulis lihai bermain secara bukan main-main dengan logika. “

-Jaya Suprana, Pendiri, Ketua dan Anggota Perhimpunan Pecinta Humor

“Dalam dunia ‘humor kuliner’, Bambang Haryanto jago analisis serta jago masaknya! Indonesia perlu puluhan orang seperti Bambang Haryanto, baru kemudian ada kemajuan di negeri ini. Di sanalah nantinya dunia humor kita akan lebih kaya, pluralis, dan makin cerdas!”

-Effendi Gazali, Ph.D. MPS ID, mantan juara lawak Sumatera Barat, alumnus Cornell University USA & Radboud University, the Netherlands

“Jika Anda ingin tertawa hari ini, juga memperoleh petunjuk meraih sukses? Bacalah buku ini.Titik !”

-Jerry Gogapasha, komedian dan ventriloquist, jerrygogapasha.com

Thursday, October 21, 2010

Mary J. Cronin, Internet dan Pustakawan

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Mary J. Cronin.
Itulah nama perempuan berwajah anggun dan karismastis ini.

Sayangnya, ketika berkuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI (JIP-FSUI) di Kampus Rawamangun era 1980-an, seingat saya, namanya tidak pernah muncul dalam perkuliahan.

Ibu Lily K Somadikarta, Ibu Soenarti Soebadio, Bapak Karmidi Martoadmodjo sampai Bapak Sulistyo Basuki, sepertinya belum pernah menyebut-nyebut nama itu pula.

Tak apalah.
Saya mengenalnya dari majalah Library Journal.

Kalau ada waktu luang, di perpustakaan JIP-FSUI yang berada di lantai 2 Unit 3 Kampus FSUI, saya membuka-buka majalah itu. Biasanya, setumpuk majalah itu atau yang sudah terjilid, saya bawa ke luar ruang.

Kemudian membaca-bacanya di beranda, di atas kursi rotan panjang yang tua, yang terletak di sisi barat ruang perpustakaan jurusan tersebut. Bisa sambil melihat-lihat hijau daun, berbercak putih yang berpadu bunga-bunga kuning, dari pohon-pohon akasia yang merindangi kampus itu.

Saya memang nekat "melanggar aturan" dengan membawa bahan pustaka ke luar perpustakaan. Terima kasih Pak Wakino dan Nasfudin, petugas perpustakaan JIP-FSUI, yang rupanya memaklumi alasan saya. Karena di luar, sambil membaca-baca itu saya juga bisa bernikmat-ria dengan asap plus nikotin yang di tahun 1980 itu masih membekap ketat diri saya.

Bahkan, di masa itu, bergabung dengan sesama mahasiswa yang juga perokok seperti Hartadi Wibowo dan Subagyo Ramelan, kami dikenal sebagai trio penghuni "the smoking corner" di kelas. Penyebar kabut racun. Syukurlah, pada tahun 1989, saya bisa berhenti merokok, setelah menjadi budak nikotin lebih dari 16 tahun.

Lupakanlah nikotin. Mari kembali ke Mary J. Cronin.

Kalau tak salah ingat, ia mengisi kolom tetap di majalah tersebut dengan topik seputar aplikasi teknologi informasi di perpustakaan. Topik tersebut masih terasa asing, dan baru, utamanya dalam atmosfir dunia kepustakawanan di Indonesia saat itu.

Internet dengan intelejensia. Waktu pun bergulir. Empat belas tahun kemudian, suatu keajaiban, saya bisa "ketemu" dengan Mary J. Cronin kembali. Bukan di majalah Library Journal lagi. Sebagai anggota perpustakaan American Cultural Center (ACC), Wisma Metropolitan 2, saya seperti dapat anugerah ketika memergoki isi majalah Fortune, 18 Maret 1996.

Di situ terdapat wawancara komprehensif antara editor IT majalah bisnis bergengsi itu, Rick Tetzeli, dengan Mary J. Cronin. Judul artikelnya, "Getting Your Company's Internet Strategy Right."

Dalam pengantarnya Rick Tetzeli menulis : "Mary Cronin menemukan Internet sebelum Internet menjadi bahan kehebohan pada dekade ini. Sebagai pustakawan universitas di Boston College, Cronin memanfaatkan Internet untuk meriset data pada tahun 1980-an.

Kini dalam empat tahun terakhir ia menulis, memberi kuliah dan memberikan konsultasi bagaimana perusahaan mampu memanfaatkan Internet dan teknologinya sebagai bagian dari strategi perusahaan bersangkutan. Sekarang ia menjabat sebagai professor di Carroll School of Management dari Boston College, Cronin memberikan wawasan, quiet intellegence, untuk kajian yang kini lebih menonjol heboh hura-huranya itu.

Bukunya yang segera terbit, The Internet Strategy Handbok : Lessons from the New Frontier of Business (Harvard Business School Press, 1996), menunjukkan bagaimana kalangan bisnis dapat memanfaatkan Internet jauh lebih signifikan dibanding hanya tampil genit berpamer-ria dengan situs-situs web yang molek semata. Cronin membeber pikiran-pikirannya secara persuasif bahwa perusahaan membutuhkan perencanaan yang cermat agar mereka mampu memanfaatkan Internet untuk kebutuhan di dalam mau pun di luar perusahaan."

Akhirnya, Rick Tetzeli menyimpulkan : buku ini merupakan buku panduan untuk perusahaan-perusahaan Amerika.

Kramat sampai Atlanta. Diam-diam, saat itu, saya merasa bangga. Bahwa seorang pustakawan telah mampu melakukan "penjarahan," dengan mengaplikasikan wawasan dan ilmu pengetahuan miliknya sebegitu jauh jangkauannya. Bahkan mampu menerobos batas-batas teritori ranah tradisionalnya. Ilmu perpustakaan a la ramuan Cronin itu mampu memperkuat otot-otot yang menunjang keberhasilan dunia bisnis, dunia korporasi, bahkan pada pilar-pilar yang paling fundamental di era perubahan dewasa ini.

Suatu kebetulan, ketika keluyuran di lapak majalah bekasnya Pak Yono ("asal Sragen, hijrah ke Jakarta sejak 1957-an") di Kramat Raya, Depan Gedung PMI, saya menemukan lagi majalah Fortune edisi 18 Maret 1996. Tentu, saya beli. Foto Mary J. Cronin di atas juga saya ambil dari majalah bisnis ini.

Keajaiban masih berlanjut. Ketika adik saya, Broto Happy W., yang reporter Tabloid BOLA, meliput Olimpiade Atlanta 1996, saya wanti-wanti berpesan untuk dioleh-olehi buku karya Mary J. Cronin itu. Syukurlah, buku itu ia beli pada tanggal 17 Juli 1996, dan kini berjejer dengan beberapa buku bersampul hitam, buku-buku bertopik Internet, yang juga terbitan dari Harvard Business School Press.

Buku yang isinya tidak mudah dikunyah. Salah satu isi buku itu yang relevan dengan komunitas penulis surat pembaca yang saya dirikan, Epistoholik Indonesia, dan sering saya kutip antara lain tulisan Gregory P. Gerdy, pakar Internet dari Dow Jones Business Information Services.

Ia membuka cakrawala saya saat menjabarkan perbedaan antara media cetak dan media Internet. Menurutnya, di dunia media cetak aktivitas penciptaan informasi, produksi, distribusi dan konsumsi informasi, terjadi terpisah-pisah. Tetapi kini berkat kehadiran Internet, semua proses tersebut terintegrasi dalam satu sistem. Terutama harus didaulatnya informasi dari konsumen sebagai bagian integral isi situs itu sendiri. Perubahan konteks maha vital inilah, menurut saya, yang masih banyak tidak disadari oleh para pengelola media cetak dan situs di Indonesia.

Wawasan dari Pak Gerdy itulah yang kini menjadi salah satu sacred mission saya : berusaha mengabarkan hadirnya perubahan berkat kehadiran Internet. Utamanya sebagai orang yang merasa memperoleh anugerah karena dalam bagian hidup saya yang terindah pernah terciprat untuk memiliki DNA ilmu perpustakaan, walau pun selama ini memilih untuk tidak berkarya dalam kurungan tembok-tembok gedung perpustakaan.

Ada nasehat dari Mary J. Cronin yang mungkin bermanfaat bagi kita. Ketika ditanya bagaimana agar peselancar Internet bisa tertarik melakukan bookmark, atau secara rutin mengunjungi situs-situs kita di Internet, ia pun menjawab :

"Informasi yang bermanfaat, itulah kuncinya. Anda harus memberi mereka sesuatu yang berharga dalam transaksi ini. Ini bukan perbuatan berderma, altruistik. Melainkan ini merupakan strategi pemasaran yang baik."

Terima kasih, Ibu Mary, untuk jeweran ini. Karena selama ini saya sering mejeng di Internet hanya semata-mata tergoda hasrat tak terkendali untuk berasyik-masyuk bagi diri sendiri.


Wonogiri, 20 Oktober 2010

Tuesday, April 06, 2010

Rules of the Net dan Thomas Mandel : 15 Tahun Setelah Kepergiannya

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



“Mengapa kau selalu berpakaian hitam-hitam setiap waktu ?”

Itulah sepotong dialog dari drama Burung Camar (1896) karya pengarang drama Rusia terkenal, Anton Chekhov (1860–1904). Saat itu tokoh Medvedenko bertanya kepada Masha. Apa jawabnya ?

“Saya sedang meratapi hidup saya. Saya tidak berbahagia.”

Warna hitam rupanya warna untuk duka. Tetapi bagaimana menjelaskan, walau mungkin ini suatu kebetulan, bila sebagian buku yang saya miliki dan bertopik Internet dan dunia digital memiliki sampul berwarna hitam ?

Bahkan pelbagai penerbit yang berbeda ketika menerbitkan buku yang membahas topik hot tersebut, termasuk buku maha terkenalnya Nicholas Negroponte, Being Digital (1995), sampul bukunya juga berwarna hitam. Bukunya Ray Hammond, Digital Business : Surviving and Thriving in an On-Line World (1996), kembali sampulnya didominasi warna hitam.

Coba tengok lagi buku-buku terbitan Harvard Business School Press berikut ini. Buku karya Mary J. Cronin (ed.), The Internet Strategy Handbook : Lessons from the New Frontier of Business (1996). Buku berat ini merupakan oleh-oleh adik saya, Broto Happy W., ketika ia meliput Olimpiade Atlanta 1996.

Kemudian cek sampul bukunya John Hagel III dan Arthur G. Armstrong, Net Gain : Expanding Markets Through Virtual Communities (1997). Kedua sampul buku tersebut juga didominasi oleh warna hitam. Demikian juga bukunya Thomas Mandel dan Gerard Van der Leun, Rules of the Net : Online Operating Instructions for Human Beings (1996).

Apakah memang Internet itu pas dicitrakan dengan warna hitam ? Dan bukankah warna hitam sering pula diidentikkan sebagai warna kematian ? Untuk buku yang disebut terakhir memang terdapat kalimat yang menjelaskan kaitan antara Internet dan kematian. Tetapi dalam konteks pemanfaatan Internet oleh perusahaan.


”Corporate Web sites work best as flagpoles or cemeteries”, demikian tulis Thomas Mandel dan Gerard Van der Leun. Situs web perusahaan, menurutnya paling cocok digunakan sebagai penanda atau sebagai kuburan. Karena menurut mereka banyak CEO dan CFO yang terjebak dalam mitos bahwa situs web merupakan “pasar dan sumber pemasukan yang tidak terbatas.”

Senyatanya, situs web ideal bila digunakan untuk mengenalkan produk-produk dan jasa-jasa baru. Tetapi alih-alih, kebanyakan yang terjadi justru sebaliknya. Yaitu dipakai untuk memajang proyek dan produk yang nasibnya menjelang kematian. Pemborosan. Salah strategi.

Mabuk digital. Buku satu ini saya beli di Times Bookshop, Indonesia Plaza, Thamrin, Jakarta, 20 Februari 1997. Hasil dari honor artikel saya berjudul “Ambisi Microsoft di Tahun 1997” yang termuat di Media Indonesia, 23 Januari 1997.

Buku ini mengandung ratusan tip agar kita mampu memanfaatkan media digital secara maksimal. Kalau hari-hari ini muncul heboh masalah pencurian password, ada dua teman saya mengalami bencana sebagai kurban phising itu, Mandel dan Van der Leun sudah memberikan nasehat : password itu hanya tepat berada di dua tempat, di kepala pemiliknya dan di komputer induk layanan email bersangkutan.

“Jadilah Christopher Columbus, “ adalah pula tip lainnya. Kita dianjurkan untuk menjelajah Internet, terutama pada situs-situs yang terasa asing. Karena harta karun informasi itu sering kita temui secara serendipity di tempat-tempat aneh itu pula.

Terima kasih, Thomas Mandel.

Ia adalah futuris profesional dan konsultan manajemen pada Stanford Research Institute International. Di majalah TIME (Mei/1995) yang berisi laporan khusus membahas fenomena Internet, ia menulis artikel menarik. Judulnya “Confessions of a Cyberholic”, yang merupakan pengakuan dirinya sebagai seseorang yang kecanduan berat komputer dan Internet. Ilustrasinya berupa gambar kartun dirinya yang ditemani seekor (?) komputer yang berwujud kera.

Gara-gara merasa bosan hanya bisa menonton televisi saat proses penyembuhan operasi di punggungnya, Mandel meminjam komputer dan modem dari kantornya, lalu lewat jaringan telepon dirinya terhubung dengan BBS (Bulletin Board Services) lokal. BBS adalah cikal bakal Internet. Itu terjadi di tahun 1985. Kecanduannya terhadap komunikasi on-line, dan kemudian pada Internet mulai bersemi. Lalu meledak-ledak. Thomas Mandel tercatat sebagai salah satu tokoh yang mewarnai perkembangan dunia Internet di Amerika Serikat, dan tentu saja, dunia.

Gerard Van der Leun yang menulis kenangan tentangnya mengatakan bahwa <"mandel"> (dalam buku aslinya ditulis tanpa tanda kutip, untuk menyimbolkan seseorang yang telah almarhum ; sebab bila ditulis tanpa tanda kutip itu maka di Internet nama “mandel” tersebut akan hilang!) tidak menghasilkan peranti lunak, peranti keras atau koneksi Internet. Juga tidak menyediakan fasilitas tunjuk dan klik yang mempermudah penjelajahan mengarungi samudera data di dunia maya.


Apa yang diberikan Thomas Mandel kepada Internet adalah seluruh jiwanya.

Menurut Van der Leun lagi, Thomas Mandel sangat faham, sementara banyak perusahaan dan individu gagal mengerti, bahwa koneksi on-line di Internet itu bukanlah wahana untuk menjual sesuatu atau menggerojoki informasi kepada khalayak yang kelaparan informasi.

Melainkan, menurut Mandel, Internet merupakan sarana bagi semua orang untuk terhubung dengan orang-orang lainnya, secara apa adanya dan jujur, genuine, tanpa filter sebagaimana berlaku pada media-media lama (media berbasis atom = media cetak). Untuk mengukuhkan, betapa pun remehnya, kehadiran komunitas insan-insan sejiwa yang kini secara kebetulan terpisahkan oleh batas-batas geografi, mampu menciptakan lingkungan di mana kandungan atau isi karakter seseorang yang pertama dan yang terutama adalah yang tercermin pada apa-apa yang dilihat oleh mereka.

Penyerahan diri secara total terhadap Internet membuat Mandel terperosok pada apa yang ia sebut sendiri sebagai terkena cyberaddiction dan bahkan menyebut dirinya sebagai abuser. Gejala kronisnya : ia gambarkan dirinya selalu terobsesi untuk memiliki komputer dengan segala periferalnya yang serba mutakhir dan canggih.

Sampai-sampai Mandel mengaku, “mengunjungi supermarket komputer lokal lebih sering dibanding mengunjungi toko-toko buku di kotanya”. Syukurlah, kemudian ia mengaku bisa mengerem kecanduannya itu.

“Mengunjungi dan seringkali memposting tulisan di milis Internet mengenai peralatan olah raga sama sekali tidak sama dengan berolah raga itu sendiri. Bermain Tetris (di komputer) bukan sejalan dengan resep atau nasehat dokter saya dalam rangka penyembuhan penyakit carpal-tunnel syndrome yang saya derita. Mendiskusikan pernak-pernik pakaian dalam wanita dalam forum chatting bukan pula pengganti yang sepadan dengan suasana ber-date di hari Jumat malam yang sebenarnya”, aku Mandel.

Benarkah Mandel berhasil mengerem kecanduannya sebagai seorang cyberholic ? Babak akhir artikelnya itu mampu mengundang senyum. Ia ternyata memang tidak mampu mengendalikan kecanduannya tersebut !

Thomas Mandel meninggal dunia, 5 April 1995.
Lima belas tahun lalu. Karena sakit kanker paru-paru.
Dalam usia 49 tahun.

Gerard Van der Leun menulis : “Mandel meninggal dengan tenang. Ia didampingi kekasih yang mencintainya, diiringi nomor Ode to Joy dari Simfoni Nomor 9 Beethoven. Saat itu saya berfikir, inilah momen menjemput kematian yang terindah.”

Selamat beristirahat dengan damai, Pak Mandel.
Hari ini saya akan mengenakan pakaian hitam, untuk mengenangnya.



Wonogiri, 24/3-6/4/2010

Monday, April 05, 2010

Laron-Laron Luaran Pendidikan Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Al Ries.
Carole Hyatt.

Chris Anderson. Don Tapscott. Jack Trout. Malcolm Gladwell.
Nicholas Negroponte. Richard Nelson Bolles. Seth Godin.

Anda merasa akrab dengan nama-nama mereka itu ? Nampaknya tidak. Di pelbagai media utama Indonesia, nama-nama itu juga jarang atau tidak pernah muncul. Bahkan dalam publikasi di dunia maya kita, rasanya hal serupa juga terjadi.

Untuk nama pertama, yang kiranya bisa bercerita banyak tentangnya mungkin Hermawan Kertajaya. Untuk nama kedua, wartawan senior Kompas, Maria Hartiningsih. Untuk nama-nama selanjutnya, sedikit banyak kiranya pernah diceritakan oleh seorang blogger asal Wonogiri :-).

Untuk Hermawan Kertajaya, yang hari-hari ini sedang merampungkan 100 seri tulisan tentang pemasaran di koran Jawapos, saya tidak mengenalnya. Untuk nama kedua, saya pernah berbincang dengannya di depan sebuah ruang pertemuan di Hotel Borobudur, Jakarta (25/11/2004).

mBak Maria adalah juri saya, disamping Tika Bisono dan Mas Ito alias Sarlito Wirawan Sarwono. Terdapat 20 finalis dalam Mandom Resolution Award 2004, dan separonya akan dikukuhkan sebagai pemenangnya.

mBak Maria, yang sering menulis masalah jender, ketidakadilan sampai impunitas militer di Indonesia, tentu tidak mengenal diri saya saat itu. Saya berinisiatif mengobrol. Mulai dengan bertanya apakah ia mengenal wartawan Kompas asal Wonogiri, Thomas Pudjo. Ternyata malah beliau pernah menginap di rumas Mas Thomas itu, di Wonogiri, kota saya.

Sesuatu yang magis terjadi ketika saya ingatkan akan tulisannya, sekitar 3-5 tahun yang lalu. Hmm, agen rahasia, komedian dan penulis itu harus punya daya ingat yang kuat, bukan ? [“Demikian juga penipu” :-( ]. Tulisan mBak Maria itu mengutip pendapat konsultan karier, Carole Hyatt, dengan bukunya Shifting Gears : How To Master Career Change and Find the Work That’s Right for You (1990).

Obrolan kami rasanya menjadi lebih hidup. Apa sih yang lebih bisa mendekatkan kita dengan orang-orang yang sebelumnya tidak kita kenal, selain humor, dan buku-buku yang sama-sama pernah kita baca ?

Saya akhirnya ikut menang dalam kontes Mandom Resolution Award 2004 itu. Meraih peringkat ketiga. Sepertinya saya menang bukan karena ide resolusi saya yang unggul, yaitu meluncurkan 100 blog untuk para penulis surat pembaca, dan baru terlaksana 30-an.

Tetapi mungkin karena di mata ketiga juri itu saya bukan lagi sebagai orang asing bagi mereka. Saya “kenal” Tika Bisono sejak tahun 1980. Di arena persidangan itu, saya mengaku sebagai fans untuk suara lembutnya sebagai penyanyi. Sementara untuk Mas Ito saya mengaku bahwa istri beliau, mBak Pratiwi, adalah kakak kelas saya di UI.

Persneling kehidupan. Buku tersebut berisi panduan strategi karier ketika dunia sedang berubah. Menurut Hyatt, kita pun harus ikut berubah, dituntut terampil memindah–mindah persneling kehidupan kita. Karena, sembari mengutip pendapat Buddha, “penyebab utama penderitaan manusia adalah keyakinannya tentang kepermanenan.”

Perubahan itu, seperti tergurat di bab pertamanya menyangkut fenomena desa global. Antara lain berkat Internet di masa kini, membuat kita sudah menerjuninya sendiri pula. Profesi-profesi masa depan yang menjanjikan, menurut Hyatt, berada di dan bukan lagi berada pada perusahaan raksasa, tetapi pada perusahaan-perusahaan kecil, yang bergerak di bidang jasa, intrapreneuring (kewiraswastaan di dalam perusahaan), dan bekerja di rumah.

Perubahan itu juga menuntut pola pikir baru dalam bidang pendidikan. “Pendidikan,” demikian dikutip dari Donna Shalala dari Universitas Wisconsin, harus “mampu memberi Anda keyakinan bahwa Anda dituntut terus belajar dan belajar” (h.39). Yang menarik, ketika pekerjaan makin terspesialisasikan, ternyata tuntutan bagi seseorang yang memiliki “kapasitas merangkai pelbagai hal-hal menjadi satu dan memahami konteks,” justru semakin sangat dibutuhkan.

Ben Barber, ilmuwan dan teoritikus brilyan dari Departemen Politik Universitas Rutgers menyimpulkan (h.41) : “Agar sukses dalam pasar tenaga kerja, Anda harus memiliki keterampilan analisis dan kapasitas memahami kaitan antara pelbagai hal yang ada.” Filsafat, kesusasteraan, dan bahkan puisi, ia percayai, semakin menempati posisi terhormat di tengah gejolak dunia yang berubah.

Bunuh diri ramai-ramai. Mungkin ini pendapat subyektif, betapa resep Donna Shalala di atas belum atau tidak bergema di benak para luaran pendidikan kita. Banyak orang begitu lulus atau wisuda, langsung pula berhenti dalam belajarnya. Mengamati pengunjung perpustakaan di kota saya, banyak anak-anak muda yang saya amati, hanya membaca-baca koran untuk meneliti iklan-iklan lowongan pekerjaan semata.

Sementara kabar tentang tes masuk PNS sampai penyelenggaraan job fair, foto-fotonya di media massa selalu menampakkan jubelan anak-anak muda yang bergelar sarjana. Saya menyebut mereka sebagai laron-laron luaran pendidikan kita, yang menyerbu sumber-sumber sinar yang benderang. Semua nampak anut grubyug. Ikut arus semata.

Mereka tidak pernah membekali diri dengan strategi berburu pekerjaan secara memadai. Akibat fatalnya, yang justru tidak mereka sadari, dalam keriuhan demi keriuhan itu sebenarnya mereka sedang melakukan “bunuh diri” beramai-ramai adanya.

Iklan-iklan lowongan sampai job fair itu adalah game-nya perusahaan. Bukan game-nya para pencari kerja. Teknik rekruitmen dengan jalur itu dirancang untuk menguntungkan perusahaan semata. Bahkan tenaga kerja yang berkualitas pun, karena bias dari teknik itu, juga begitu mudah tersingkir dalam persaingan.

“Jumlah surat lamaran yang membeludak diterima oleh perusahaan potensial menjadi penghalang serius Anda,” kata John Langley, ahli strategi perancangan surat lamaran dari Detroit yang dikutip Carole Hyatt (h. 201). Sementara itu, repotnya lagi, “sembilan puluh sembilan persen orang mengalami kesulitan dalam merancang dan menulis surat lamaran mereka !”

Problem serius semacam ini apakah telah diketahui, disadari, oleh para guru atau pun dosen mereka ? Saya tidak tahu. Karena kebanyakan lembaga pendidikan itu nampaknya lebih hirau sebagai pabrik ijazah, dengan meluluskan anak didiknya sebanyak-banyaknya, sementara nasib mereka itu di dunia kenyataan selanjutnya hanya diserahkan kepada Yang Maha Esa.

Wabah markus. Laron-laron luaran pendidikan kita itu, kini juga mencari “pekerjaan” dengan menyerbu dunia maya. Facebook utamanya.

Yang lelaki, mereka nampak cukup berbahagia dengan meniti karier guna meraih pangkat sebagai Consigliere, Underboss, dan Boss dalam Mafia Wars yang terkenal itu. Apakah fenomena ini sekaligus cerminan mengapa borok makelar kasus dan mafia hukum begitu meruyak di Indonesia ?

Sementara yang perempuan terjun ramai-ramai berkarier di dunia pertanian, berbagi pupuk bagi tanaman mereka di FarmVille, seiring kenyataan bahwa presiden kita adalah seorang doktor ilmu pertanian.

Pertanyaannya : adakah sekolah atau perguruan tinggi kita yang dengan sengaja, secara terencana dan terstruktur membekali anak didiknya menggunakan Facebook sebagai sarana bantu yang dahsyat guna memudahkan para lulusan itu meraih pekerjaan idamannya ? Kalau Anda seorang guru atau dosen, saya tunggu kabar, cerita dan opini Anda tentang hal ini. Terima kasih.

Tetapi yang pasti, ketahuilah, dewasa ini para perekrut profesional juga menggunakan media sosial, baik blog, Facebook sampai Twitter, sebagai sarana mereka melakukan seleksi calon karyawan. Mereka tidak lagi puas hanya membaca-baca surat lamaran dan daftar riwayat hidup yang Anda kirimkan.

Karena mata mereka kini juga mencari-cari informasi yang lebih rinci dan mungkin tersembunyi tentang diri Anda di dunia maya. Melalui bantuan Google, dengan hanya satu-dua klik saja, mereka justru akan menjadi curiga berat bila nama Anda tidak mereka temukan di dunia maya.

Akan tetapi sebaliknya, bila mereka menemukan diri Anda dalam tags foto kiriman teman Anda nampak sedang telanjang dada, memegang botol bir, beradegan foto-foto gokil di pantai dan pesta, atau hanya bisa memposting pesan-pesan egosentris yang menye-menye semata, boleh jadi doa tulus ayah-ibu agar Anda segera memperoleh pekerjaan mungkin akan sia-sia.

Kuda Ries. Manfaatkan Facebook seturut nasehat Al Ries dan Jack Trout dalam bukunya Horse Sense : The Key to Success Is Finding a Horse to Ride (1991) ini. Guna meraih sukses dalam meniti karier dan pekerjaan, Anda harus menemukan kuda yang tepat untuk Anda tunggangi. Bila kuda kerja keras yang Anda pilih, peluang sukses Anda hanya 1 dari 100. Kuda IQ ? Hanya 1 banding 75. Mengandalkan kuda pendidikan pun cuma 1 dari 60.

Nasehat Ries dan Trout, pilihlah kuda kreativitas yang membuka peluang sukses Anda naik, 1 banding 25. Kuda hobi lebih potensial lagi, 1 banding 20. Sementara kuda publisitas, menurut mereka, telah menjanjikan peluang sukses Anda 1 banding 10.

Ajakan saya untuk Anda : gunakan potensi Facebook yang dahsyat ini sebagai kuda tunggang publisitas Anda. Secara cerdas dan bijaksana. Postinglah informasi-informasi yang mencerminkan siapa Anda, apa keistimewaan dan manfaat eksistensi Anda bagi bebrayan agung di dunia ini.

Sebab terlalu sayang bila Facebook Anda isinya hanya lebih banyak menye-menye, yang mungkin membuat Anda bangga semu terhadap diri sendiri, tetapi sebenarnya membuat Anda jatuh harga dan mengguratkan citra negatif di benak banyak fihak.

Misalnya, di mata calon penggemar, calon bos, bahkan juga calon mitra sukses karier Anda.



Wonogiri, 31/3/2010

Monday, March 08, 2010

Facebook dan Peluang Dua Bisnis Besar

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Sinetron tolol itu saya lihat tak sengaja di warnet Telkomnet. Di Wonogiri. Ketika menunggu antrean, sambil membaca-baca brosur pelbagai jasa Telkom, akhirnya televisi yang hidup di ruangan itu merenggut perhatian.

Adegan dalam sinetron yang tertayang di RCTI, Jumat malam itu, dan saya tidak tahu judulnya, mengingatkan saya akan isi wawancara wartawan harian Kompas Dahono Fitrianto dengan aktor Tio Pakusadewo.

Seperti termuat di Kompas Minggu, 10 Januari 2010 : 23, dalam menjawab pertanyaan apa aktor zaman sekarang ada yang tidak cerdas, Tio mengatakan : “Banyak sekali yang tolol. Ada ekspresi tolol yang diucapkan, dia biarkan saja…. Di sinetron, (adegan konyol) yang sering terlihat, misalnya kita sudah tahu apa yang terjadi, tetapi ditambahi suara monolog yang seperti suara dalam hati itu. Aduh, itu paling sering dibuat dan diulang, dan itu pembodohan yang sangat luar biasa.”

Adegan seperti itulah yang saya tonton malam itu. Aktor kelahiran Jakarta 2 September 1963 yang juga pernah mencoba sebagai hacker itu, tambah menarik jawabannya ketika dicecar pertanyaan terkait persiapan yang harus dimiliki seseorang yang ingin menjadi aktor.

Jawab Tio : “Harus bercermin dulu. Lihat dulu ke diri sendiri, digali dulu, kasih kuesioner kepada diri sendiri. Kira-kira mampu engga saya mencapai keaktoran ? Artinya di harus tahu diri dulu, cukup cerdaskah untuk mengetahui kelebihan dan kekurangannya ? Modal paling utama harus cerdas. Sebab kalau kurang-kurang, ya, jangan mimpi dulu, sebab akan merepotkan yang lain.”

Sebagai pencinta humor dan komedi, pendapat Tio itu menurut saya juga relevan untuk kancah mengundang tawa ini. Tinggal kata-kata “aktor” tersebut tinggal diganti dengan “komedian,” beres sudah. Karena hal parah yang sama rasanya juga berlaku dalam dunia komedi kita.

Sementara nasehatnya bagi calon aktor untuk terlebih dahulu menggali diri sendiri, melakukan self-assessment atau soul-searching itu sebenarnya merupakan hal yang universal bagi setiap insan dalam mengarungi kehidupan. Dengan menyelami dirinya sendiri secara jujur, ia akan mengetahu aspirasi, impian, kelebihan atau pun kekurangannya, sehingga dirinya akan mampu menempatkan diri sebagai pribadi yang unik di tengah milyaran umat manusia di dunia ini.

Buku suci kehidupan. Di kampus-kampus negara maju, Amerika Serikat misalnya, minimal mahasiswa akan memperoleh himbauan untuk melakukan tes evaluasi diri mereka sendiri. Salah satu panduannya adalah buku terkenal What Color Is Your Parachute ? : A Practical Manual for Job-Hunters & Career Changers (Ten Speed Press, Tahunan). Pengarangnya Richard Nelson Bolles.

Kalau ingin lebih efektif lagi, buku diatas harus ditemani panduan yang lebih mendetil dari buku Where Do I Go From Here With My Life ? : A Very Sistematic, Practical and Effective Life /Work Planning Manual for Students, Instructors, Counselors, Career Seekers and Career Changers (1974). Pengarangnya tetap Richard Nelson Bolles beserta mantan agen CIA, almarhum John C. Crystal. Penerbitnya juga Ten Speed Press.

Prosesnya seperti kita menyusun daftar riwayat hidup. Tetapi dengan pendekatan secara lahir dan batin. Mungkin dalam kosmologi Jawa disebut sebagai mempersoalkan sangkan paraning dumadi. Kalau sudah selesai, kita akan memperoleh otobiografi kerja kita masing-masing kira-kira setebal 100 sampai 200 halaman.

Keunikan masing-masing diri kita kemudian telah terpetakan, demikian pula cita-cita beserta impian yang akan kita raih selama kita hidup di dunia ini. Tanpa arah dan tujuan, kita seperti ikut dalam keriuhan lomba lari cross country di hutan, tetapi sama sekali tidak ada rambu atau pun tanda-tanda penunjuk jalan.

Setelah itu semua mantap, kita tinggal mengaktualisasikannya dengan bantuan pelbagai media yang ada. Termasuk pula dengan Facebook, media sosial yang sungguh benar-benar dahsyat manfaatnya itu.

Media berdarah-darah. Sayangnya, selama ini isu terkait Facebook yang lebih sering muncul dan menonjol di media massa adalah hal-hal yang negatif saja. Bisa dimaklumi, karena begitulah mindset media massa. Selain mengugemi pakem 5W+1H, mereka kini getol menambahnya dengan 1 W lagi. Wow. Menu utamanya adalah berita-berita kerusuhan. Bentrokan. Bencana. Kematian. Darah. Ancaman.

Termasuk getol mengambil sudut pandang dengan fokus tentang kejelekan atau ancaman yang berpotensi dimiliki oleh media-media sosial itu, boleh jadi karena media-media sosial tersebut merupakan ancaman kuat bagi media-media lama , media-media mainstream yang sering diledek sebagai media lame stream itu.

Kasihan bener pergulatan media-media mainstream yang lamban itu. Aksi mereka untuk mempertahankan hidup sering nampak tersaji lucu-lucu. Termasuk misalnya melakukan kampanye gencar agar anak-anak sekolah (kembali) membaca dan mencintai koran. Ada yang lewat kompetisi basket, lomba bikin situs, lomba majalah dinding, pelatihan sampai outbound, dan sejenisnya.

Seorang maverick Internet dari majalah gaya hidup Internet Wired, Kevin Kelly, pernah saya kutip dalam artikel "Solocon Valley" (Kompas Jawa Tengah, 5/8/2006), pantas kita dengar pendapatnya. Ia telah mengutip kesimpulan Peter Drucker yang dikutip oleh George Gilder, bahwa rumus aktual masa kini berbunyi : jangan menyelesaikan masalah, tetapi carilah peluang.

Apabila Anda menyelesaikan sesuatu masalah, Anda berinvestasi bagi kelemahan Anda. Itulah yang banyak dilakukan secara keblinger oleh pengelola surat-surat kabar di Indonesia, hanya karena media lain melakukannya. Mereka berupaya menimbun lubang, abyss, yang tak berdasar itu.

Seharusnya mereka mencari peluang, dengan mempercayai jaringan, network mereka. Apalagi sisi menarik mengenai ekonomi jaringan (istilah dari Kevin Kelly) di era Internet ini yang jelas bermain seirama dengan kelebihan manusia yang hakiki. Pengulangan, repetisi, sekuel, kopi-mengopi dan otomasi, di era digital kini semua cenderung bebas biaya.Gratis. Sementara segi-segi inovasi, orisinalitas dan imajinatif semakin menjulang nilainya !

Repotnya banget, apakah sistem dan atmosfir pendidikan kita selama ini telah memupuk segi-segi inovasi, orisinalitas dan imajinasi tersebut pada anak didik ? Sebagai mantan mentor melukis anak-anak, setiap kali membaca koran tentang lomba mewarnai, saya merasakan ada ribuan Picasso-Picasso dan Einstein muda yang terbantai di sana.

Pembantaian terhadap rasa percaya diri anak-anak untuk tegak menjadi insan-insan berpikiran mandiri dan kreatif ini rasanya justru jarang masuk radar para guru, psikolog, seniman, dan juga insan-insan perguruan tinggi seni kita.

Pembantaian jenis lain juga diam-diam terjadi bagi kita-kita yang memiliki akun Facebook ini. Kalau para konsultan karier di pelbagai negara maju berujar bahwa media sosial seperti blog, Facebook dan Twitter merupakan sarana ampuh untuk mengedepankan masing-masing subject matter expertise kita, tetapi yang sering banyak terjadi adalah pesan-pesan atau tulisan yang egosentris.

Facebook banjir tulisan status yang semata mendongkrak ego kita, karena memang hanya kita sendiri yang pantas sebagai audiensnya. Tulisan tersebut benar-benar melupakan segi manfaat bagi orang lain yang membacanya.


Sebuah artikel kontroversial yang ditulis Nukman Luthfie berjudul Blog Memang Tren Sesaat, yang mengisahkan konon turun pamornya blog secara kuantitatif akibat tergusur popularitas Facebook dan Twitter, telah memicu beragam komentar.


Misalnya “ogiexslash” (#4) menulis : “Bagi saya mau trennya turun, yang penting nge-BLOG, FB isinya kebanyakan curhat2an saja…lama-lama bosen.”

Sementara “Moch Ata” (#15) bilang : “ Ngeblog, separah-parahnya ngeblog pasti ada satu pesan berisi pengetahuan yang ingin blogger bagi. Coba tengok update Facebook teman-teman kita, saya sampai muak, dan sama sekali tak ada sebuah knowledge yang bisa kita dapat. “

Mungkin sudah ratusan, ribuan dan bahkan milyaran jam telah dihabiskan untuk urusan egosentris itu. Karena memang asyik saat mengelus-elus ego kita sendiri. Mungkin rasanya seperti naik kuda-kuda kayu, atau kursi goyang. Kita bergerak, mungkin juga berkeringat, tetapi nowhere, tidak pernah kemana-mana.

Terakhir, bagi saya, dalam Facebook terbuka dua bisnis besar.

Pertama, mereka yang berbisnis menakut-nakuti orang lain dengan bercerita tentang ancaman dan bahayanya. Kedua, kubu yang memberi tahu tentang manfaat dan cara-cara memanfaatkannya. Saya tidak tahu, tulisan saya ini masuk aliran yang mana. Anda punya pendapat ?


Wonogiri, 6-7 Maret 2010

Naisbitt, Tenis dan Trah Martowirono

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


“Bagaimana Anda membaca surat kabar ?”

Futuris tersohor John Naisbitt dalam bukunya Mind Set ! (2007) mengajukan pertanyaan itu. Ia pun lalu menjawabnya sendiri.“Saya membaca surat kabar mulai dari belakang ke depan, didahului dengan halaman olahraga.”

Alasannya, karena ia memang suka olahraga. Tetapi ada tambahan yang tidak kalah penting, dirinya memiliki prasangka bahwa laporan olahraga merupakan berita yang paling dapat diandalkan. Semakin ke halaman depan, tingkat kendalan berita semakin menurun. Sebagai contoh, berita bahwa tim Boston Red Sox mengalahkan New York Yankees 7-3, kita hampir 100 persen yakin bahwa memang demikianlah kenyataannya.

Kalau berita-berita hiruk-pikuk politik, di halaman depan, bagaimana ? Ia menyimpulkan, “memang sudah menjadi naluri manusia untuk memelintir berita ke arah kesimpulan yang diinginkan.”

Olahraga dan trah kita. Analisis John Naisbitt di atas mungkin relevan dengan kiprah dan kecintaan terhadap nilai-nilai olahraga bagi warga Trah Martowirono. Karena tidak sedikit yang menyukai olahraga.

Bunga Citra Persada dari Yogya, suka main basket. Baroto nDandung asli Selogiri dulu suka mengejar-ngejar bulu angsa. Dari Yogya, siapa yang suka sepakbola : Intan atau Mutiara ? Yoga dari Ngadirojo dan Yashika dari Kajen kini menekuni olahraga taekwondo. Basnendar pendiri klub Bola Basket Kajen Club.

Mayor Haristanto yang baru saja ikut Cingay Parade 2010 di Singapura dengan foto spektakuler, ikut mendirikan kelompok suporter di Solo, Makasar dan Pekanbaru. Broto Happy Wondomisnowo, suka sepakbola, bulu tangkis, dan kini menjadi redaktur sepakbola nasional di Tabloid BOLA. Bambang Haryanto yang buku komedinya akan segera terbit oleh Penerbit Etera Imania Jakarta itu tercatat di MURI :-) sebagai pencetus Hari Suporter Nasional 12 Juli (2000).

Deretan fakta di atas kini diperkaya dengan data terbaru : Nuning atau Bhakti Hendroyulianingsih, nenek dari Nabila, dan putranya Yudha Arditya Banar Nugraha, kini masuk dalam jajaran pengurus cabang olahraga yang mereka terjuni untuk Kabupaten Wonogiri.Olahraga tenis lapangan.

Sekedar kilas balik : Yudha pernah menekuni olahraga bulutangkis. Lalu pindah ke tenis. Dalam Kejuaraan Tingkat Nasional Tahun 2000 di Nusa Dua, Bali, ia meraih prestasi juara tunggal putra dan juga ganda putra untuk kelompok umur 16 tahun.

Olahraga tenis, juga mampu mengikat lebih erat tali silaturahmi trah Martowirono. Walau secara tak sengaja. Nuning pernah bercerita dalam acara Reuni Trah 2009 di Yogyakarta, bahwa timnya pernah bertanding melawan timnya Ibu Suharti Priyono dari Gayam, Sukoharjo. Konon yang menang secara love game :-( dapat bonus mandi lulur dan layanan spa di Salon ASTI, Sukoharjo seumur hidup.


Pada lain kesempatan, di hall tenis Wonogiri ia bertemu Ibu Retno Winarni dan Pak Agus dari Solo. Kali ini tidak bertanding, karena yang menang konon akan dapat hadiah kotak ATM bank ternama tempat Pak Agus bekerja. Karena dengan syarat : ambil dan membongkar sendiri.



Mendongkrak prestasi Wonogiri. Berdasarkan Surat Keputusan Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PELTI) Jawa Tengah No. 010/PD.Pelti/III/10 yang ditandatangani oleh Ketua Umum Pengprov Pelti Jawa Tengah, Kukrit Suryo Wicaksono, Nuning menjabat sebagai Bendahara 2. Sementara Yudha, berkiprah di Seksi Perwasitan dan Pertandingan. Mungkin secara tak resmi ia merangkap sebagai bodyguard untuk mengawal dan mengamankan brankas atau dompet sang bendahara 2 Pengurus PELTI Kabupaten Wonogiri itu.

Pengukuhan pengurus PELTI Kabupaten Wonogiri itu dilangsungkan di GOR Tenis Wahana Purna Bhakti di Wonogiri, 3 Maret 2010, oleh Ketua I PELTI Jawa Tengah, H. Soenoto SK (bertopi).Beliau yang didampingi Bapak Amien Sutantyo (Kudus), menyebut acara itu sebagai “momen sakral, untuk memulai dharma bhakti dalam bingkai memprestasikan olahraga, khususnya olahraga tenis di Kabupaten Wonogiri.”

Gayung bersambut. Ketua PELTI Wonogiri yang baru, Drs. Tarmanto, MM (foto: berkaos putih), memiliki obsesi tinggi. Kalau selama ini kuat anggapan olahraga tenis sebagai rekreasi, kini akan diubah paradigmanya sebagai olahraga prestasi. Khususnya bagi atlet-atlet muda potensial yang banyak bersemi di Kota Gaplek ini.

KONI pun mendukung tekad itu. Ketuanya, Eddy Purwanto (dalam foto, berbaju batik), bahkan menabur keyakinan bahwa pengurus baru untuk masa 2010-2015 itu mampu berbuat banyak bagi kemajuan prestasi tenis di Wonogiri. “Walau maklum,” katanya, “ anggaran KONi tahun ini jauh lebih menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya.”

Acara pagi itu yang dihadiri pejabat teras terkait dengan pembinaan olahraga, Bambang Haryadi (teman SD-nya Mayor Haristanto), semakin tambah gayeng karena yang hadir merupakan sebagian dari para calon kompetitor yang berpeluang maju dalam Pilbup 2010.

Ada Ma’ruf Irianto, mantan ketua PELTI yang lalu (berpeci hitam), yang ingin menjago sebagai calon bupati. Ada Sekda Kabupaten Wonogiri, Suprapto, bakal calon wakil bupati. Juga Ketua KONI, Eddy Purwanto, kandidat bakal calon wakil bupati pula. Ada gagasan, ketiganya diadu dalam ekshibisi pertandingan tenis seusai acara itu. Tetapi nampaknya, acara clash of titans tak jadi terlaksana saat itu.


Susunan Pengurus PELTI Wonogiri yang baru : Penasihat : Ir. H. Suprapto, MM, Sri Wiyoso, SH, MM, Drs. Budi Sena, MM. Ketua : Drs. Tarmanto, MM.. Sekretaris : Drs Mulyanto, I Gusti Bagus Garantika, SH. Bendahara : Drs. Yatno Pratomo, Bhakti Hendro Yulianingsih.

Seksi Pembinaan Prestasi : Yoyong Anang P, SPd, Yuli Purnomo, SPd, Hendro Setyawan, AMd. Seksi Organisasi : Maryanto, SSos, MM, Dwi Hendro, SE. Seksi Pendanaan : Dwi Bowo Hartono, ST, MT, Agung Budi Utomo, ST, Katni Priyadi Hartoyo. Seksi Sarpras : drs. Heru Dadi, Supriyadi. Seksi Humas : Drs. Joko Heru S, MPd, Sutarmin, SH. Seksi Perwasitan & Pertandingan : Drs Gunawan Dwi C, MM, Dedi Adi Nugroho, SPd, Yudha Arditya B, SE.

Segenap warga Trah Martowirono mengucapkan selamat bekerja untuk Nuning dan Yudha. Sehingga kelak bila kita mendengar atau melihat prestasi atlet-atlet tenis dari Kabupaten Wonogiri mencorong dalam kancah kejuaraan unggulan, kita akan ikut bangga.

Juga merasa bahagia, karena doa-doa kita agar warga trah kita berbuat bagi bagi kemaslahatan bersama telah dikabulkan olehNya.


Wonogiri, 3/3/2010