Tuesday, January 22, 2019

Peluncuran Buku Karyaku: Biografi B.N. Wahju (Album Foto)

Hari bahagia. Perasaan seorang penulis yang kadang terasa menggelisahkan adalah menanti saat buku yang dia tulis diterbitkan. Hal itu juga menjadi bahan obrolan antara Ratih Poeradisastra dan saya, terkait dengan penulisan buku biografi tokoh pertambangan, B.N. Wahju, yang kami kerjakan secara bersama.

Ketika naskah sudah siap, diserahkan kepada penerbit, ternyata kemudian oleh sponsor dialihkan ke penerbit yang lain. Kemudian masuk pelaku baru, yaitu penyunting yang dinilai oleh penerbit  lebih mengetahui seluk-beluk dunia pertambangan, dibanding kami berdua. Keputusan yang bagus.Sangat kami hargai.

Waktu berjalan lagi. Penantian harus dijalani.

Hari kegembiraan itu toh akhirnya tiba.
Peluncuran buku B.N. Wahju : Dari Sorowako Jadi Tokoh Pertambangan Nasional (IMA, 2019), menjadi kenyataan. Pada tanggal 21 Januari 2019, bertepatan 7 tahun wafatnya sang tokoh. Peluncuran dilaksanakan di hotel The Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta.

Terlampir beberapa foto dari acara tersebut.


Lokasi Acara. The Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta
Panelis Diskusi Buku B.N. Wahju

Panelis diskusi  (ki-ka) : Djoko Daryanto, Emil Salim, Ny. Soffie Wahju,
Kuntoro Mangkusubroto,Tony Wenas dan Ratih Poeradisastra (penulis)


Prof. Dr. Emil Salim, yang merupakan sahabat dari B.N. Wahju berbagi cerita
mengenai visi sang tokoh dalam membangun perusahaan pertambangan
dengan memperhatikan lingkungan hidup.
Dia didampingi ibu Soffie Wahju dan Prof.Dr. Kuntoro Mangkusubroto.


 Berselfie bersama Bapak Emil Salim

Berfoto bersama Bapak Tony Wenas, Sekretaris Jenderal Indonesian Mining Association (IMA). Bagi pencinta musik, Tony adalah leader band Solid 80 dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Kampusnya bertetangga dengan kampus saya, yakni Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Buku kedua kita. Meminjam istilah bis, kami berdua, Ratih Poeradisastra dan saya ibarat bis AKAP, antarkota antarprovinsi. Ratih tinggal di Jakarta dan saya tinggal di Wonogiri. Syukurlah, difasilitasi oleh Internet, kami bisa bekerjasama dalam penulisan buku biografi ini. Sebelumnya, kami telah menulis biografi tokoh pertambangan lainnya, Soetaryo Sigit (2016).

Saturday, January 05, 2019

Guy Kawasaki : "Penginjil" Digital dari Lembah Silikon

Oleh : Bambang Haryanto


Guy Takeo Kawasaki, lahir 30 Agustus 1954, adalah spesialis pemasaran, penulis, dan pemodal ventura Silicon Valley.

Dia adalah salah satu karyawan Apple yang awalnya bertanggung jawab untuk memasarkan lini komputer Macintosh pada tahun 1984. Ia mempopulerkan kata evangelist dalam memasarkan Macintosh dan konsep evangelisme pemasaran dan evangelisme teknologi.

Surprise, tiba-tiba saya (kembali) menerima email darinya.

"Buku baru saya akan terbit pada bulan Februari. Beberapa tahun yang lalu Anda memiliki akses awal ke buku The Art of the Start 2.0 untuk meninjaunya.

Saya ingin memberikan penawaran yang sama kepada Anda untuk buku saya berikutnya, Wise Guy - Lessons from a Life.
Berikan saja informasi Anda saat ini di situs ini, dan saya akan menghubungi Anda pada pertengahan Januari dengan akses ke versi digital buku ini. Terima kasih!"

Terima kasih kembali, Guy Kawasaki, atas kepercayaanmu kepadaku.

Thursday, December 27, 2018

Freeport dan Dinamika Mutakhir Dunia Pertambangan Indonesia

Oleh : Bambang Haryanto

Orang memperoleh mimpi agar kencing di kebun. Lalu ketika merasa enak, tempat bekas kencingnya itu dicangkul, lalu keluarlah dari dalam bumi harta karun : minyak, batubara, emas, nikel, tembaga dan barang tambang yang lain. Karena dia tidak bisa mengelola, ia diamkan saja harta karun itu sampai dirinya mampu mengeksploitasinya.

Cerita di atas hanya fiksi. Tetapi seorang Amien Rais ketika berbicara tentang Freeport di awal-awal reformasi dulu, juga berpendapat begitu. Dengan semangat nasionalisme, dia ingin Freeport dinasionalisasi. Lalu tambang itu menurutnya sebaiknya didiamkan saja dulu sampai bangsa Indonesia memiliki kemampuan untuk mengelolanya.

Orang tambang membalas : Harta karun pertambangan itu tidak sama dengan uang di bank. Uang di bank walau didiamkan mampu menghasilkan bunga, tetapi tambang yang dibiarkan tidak akan menghasilkan apa-apa. Tambang harus dikelola dulu agar menghasilkan, dan bila sesuatu bangsa belum mampu, dapat bekerja sama dengan fihak lain.

Pilihan melakukan kerja sama seperti itu tidak hanya eksklusif oleh bangsa Indonesia. Tetapi hampir semua negara berkembang yang memiliki SDA juga melakukan hal yang sama. Mereka bahkan berlomba-lomba agar mampu menarik investasi untuk kemakmuran negara masing-masing.

Mengapa mereka mengundang investor asing ? Karena sesuatu negara yang berambisi mampu secara mandiri mengelola pertambangannya sendiri membutuhkan 5 M, yang meliputi : man, management, money, machine dan material. Kilas balik, di tahun 1967 saat Freeport masuk, Indonesia hanya punya material, tambang. Apakah lalu negara maju atau pebisnis tambang tersebut mau secara cuma-cuma dan berbaik hati memberikan 4 M lainnya kepada Indonesia ?

Jelas tidak. Mereka pebisnis yang motifnya adalah mencari untung, kalau bisa ya sebanyak-banyaknya. Maka pemerintah saat itu menerbitkan Kontrak Karya (KK) sebagai payung hukum yang berusaha win-win pada kedua belah fihak. Baik bagi investor pertambangan mau pun pemerintah Republik Indonesia. Setiap kali KK itu direvisi dalam beberapa generasi, dengan tujuan agar Indonesia semakin memperoleh lebih banyak manfaat.

Pemerintah kini, dengan merujuk UU Minerba, sedang melakukan negosiasi lagi dengan Freeport. Tujuannya, agar usaha pertambangan itu mampu menghadirkan kemakmuran sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia. Sekarang telah menjadi kenyataan, Indonesia jadi pemegang saham mayoritas.

Penulis berpose bersama buku biografi tokoh pertambangan Soetaryo Sigit, di depan stand PT Freeport Indonesia dalam event Asia GeoSEA Congress and IAGI Annual Convention, 12 Oktober 2016 di Bandung.
Bersama Ratih Poeradisastra saya merasa beruntung bisa sedikit tahu seluk-beluk dunia pertambangan Indonesia ketika menulis biografi tokoh sentral sejarah pertambangan Indonesia, alm Bapak Soetaryo Sigit.

Berjudul : Soetaryo Sigit : Membangun Pertambangan Untuk Kemakmuran Indonesia (Kepustakaan Populer Gramedia, 2016)

Saturday, October 15, 2016

Connecting the Dots : Biografi Soetaryo Sigit dan Saya


 Oleh : Bambang Haryanto


Istilah connecting the dots tersebut saya kenal dari ujaran pendiri Apple yang legendaris, Steve Jobs. Yakni ketika dirinya mengilas balik momen-momen penting dalam kehidupan yang telah dia jalani selama ini.

Ketika dalam proses penulisan buku biografi almarhum Soetaryo Sigit,ternyata saya juga melakukan hal serupa. Selain memelajari ratusan dokumen tertulis yang dimiliki keluarga, saya juga melakukan pengayaaan dengan menjelajah pelbagai sumber-sumber informasi. Tugas yang asyik. 

Beraksi seperti detektif. 
Menggairahkan. Memacu adrenalin. 

Latar belakang pernah belajar ilmu perpustakaan ternyata memiliki nilai lebih dalam menemukan informasi yang relevan. Sehingga akhirnya jalinan cerita yang tersusun dalam biografi itu lebih menegas dalam menampilkan sosok Soetaryo Sigit secara lebih rinci dan komprehensif. 

"Riset mas Bambang," demikian kata Hengky Hendro, menantu Soetaryo Sigit yang sejak awal bersama Indria Sigit, istrinya, menjadi motor penulisan biografi ayahnya, disebutnya, "membuat keluarga semakin tahu peran dan pemikiran Pak Sigit dalam skala luas, yang selama ini tidak diketahui bahkan oleh keluarga kami." 

Di tengah acara peluncuran buku itu di Hotel Trans Luxury, Bandung, 12/10/2016, saya berbesar hati memperoleh ucapan itu. Apalagi di tengah acara bergengsinya kaum geologiwan Asia Tenggara saat itu : Luncheon Talk GeoSEA Congress and IAGI Annual Convention. Saya tuliskan cerita ini, dengan harapan semoga penghargaan tersebut dapat menjadi pendorong moral bagi sejawat pustakawan.

Untuk berbangga dan lebih percaya diri betapa ilmunya mampu bermanfaat, ketika pun dipraktekkan di luar gedung-gedung perpustakaan. Termasuk merasa berharga ketika kalangan geologiwan antri meminta tanda tangan penulis yang berlatar belakang pendidikan ilmu perpustakaan ini.

Potongan isi buku : 

"Karena reputasinya sebagai teknokrat yang sangat berpengalaman dan jujur, maka suara Pak Sigit tetap didengarkan oleh Menteri Pertambangan." (Prof. M. Sadli, Menteri Pertambangan 1973-1978).

"Tingkat perkembangan dan kemajuan pertambangan di suatu negara bukan terutama ditentukan oleh potensi sumber daya mineralnya, betapa pun kayanya, melainkan lebih banyak bergantung pada kebijakan pemerintah yang berkuasa dalam menciptakan iklim usaha yang diperlukan. " (Soetaryo Sigit). 

"Karena evolusi perumbuhannya yang begitu rumit serta potensi mineralnya yang demikian beragam, maka bumi Indonesia akan tetap menjadi sasaran yang menarik bagi kajian dan eksplorasi geologi. Berbahagialah para geologiwan yang berkesempatan menekuni profesi mereka di tanah air tercinta ini. " (Soetaryo Sigit). 

"Semoga buku ini dapat memberi pemahaman yang lebih jelas mengenai dunia pertambangan Indonesia dan seorang Soetaryo Sigit yang berusaha membangun pertambangan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia." 

Jakarta, Agustus 2015
Ratih Poeradisastra
Bambang Haryanto

Data buku :
Soetaryo Sigit : Membangun Pertambangan Untuk Kemakmuran Indonesia. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia,2016. 706 hal. ISBN :978-602-424-183-4.
 

Sunday, April 28, 2013

Anez 50 Tahun, Perpustakaan Pribadinya dan Kenangan

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Raja Hassan dari Maroko.
Norodom Sihanouk. Hun Sen.
Uskup Belo. Jenderal Cosgrove.
Xanana Gusmao.

Foto-foto hitam putih tokoh-tokoh dunia itu terpajang rapi di dinding. Masing-masing foto dilengkapi caption, meliputi data nama tokoh dan tanggal peristiwa. Tentu saja, para tokoh dunia itu berpose bersama sang empunya rumah,Bapak Taufik R. Soedarbo.


Desember 2011, saya bisa memotreti foto-foto itu. Juga sambil meneruskan mengobrol dengan Pak Taufik yang sedang mengikuti siaran CNN dari televisi yang ada di ruang perpustakaan pribadi beliau itu.


Ketika di tahun 1986-1987, ruang satu ini belum pernah saya masuki. Hanya di ruang sebelahnya, tempat saya menonton acara “Aneh Tapi Nyata”-nya TVRI bersama putrinya, Widhiana Laneza. Juga berdiskusi kecil apakah acara itu perlu ada terjemahannya atau tidak.
 
YOGYA 1987. Anez (dua dari kiri) bersama teman se-angkatan Arkeologi UI 1982 dalam tur ke Yogyakarta, Agustus 1987.


CAP PRIBADI. Kegemaran Anez terhadap buku sampai ia membuat cap pribadi untuk buku-bukunya.

WARISAN. Sebagian koleksi perpustakaan pribadi Anez di Cilandak, Jakarta.


BERBAGI CANDA. Buku saya Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010) sedang dibaca-baca oleh Bapak Taufik R Soedarbo, Desember 2011.

DORONGAN. Dengan tulisan tangan yang rapi, Pak Taufik menggoreskan pesan dan harapan untuk saya, juga untuk masa depan bangsa Indonesia.

Tidak percaya. Ruang keluarga merupakan tempat paling berkesan. Saya pertama kali main ke rumah yang asri dan rindang di Cilandak ini tahun 1986 dan langsung “diterjunkan” oleh Anez untuk hadir di tengah ayah dan ibunya, Ibu Bintari, di meja makan. Makan malam yang diwarnai rasa gugup, gembira, juga rasa tak percaya. Anez  saat itu mengenalkan saya sebagai “ini orang Jawa asli” kepada bapak dan ibunya.

Di ruang ini pula, November 2011, saya bisa bertemu kembali dengan Pak Taufik. Pertemuan pertama sejak tahun 1987. 

Diantar Mas Verdi dan istrinya, mBak Devi. Kami bertiga, ditambah putranya Axel, sebelumnya janjian untuk bertemu di Taman Pemakaman Umum Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Untuk berziarah ke makam Ibu Bintari (wafat 2 Desember 2007), Widhiana Laneza (20 Desember 2005) dan juga adiknya Liana Rasanti (23 Desember 1965).

Menengok ke belakang, berita meninggalnya Anez saya terima kabarnya melalui email yang tidak terduga-duga. Dikirimkan oleh Mas Verdi Amaranto. Tanggal 22 Desember 2005. Padahal di tahun 1986 saya belum mengenalnya, karena saat itu ia belajar di Paris.

Di bulan Desember yang pedih itu Mas Verdi, dengan bantuan Google saat melacak nama adiknya, tersandung pada salah isi satu blog saya. Di blog itu saya menyebut Anez sebagai  wanita indah. Kontak saya dengan masa lalu terjadilah. Kontak yang pedih.

Buku humor satwa.Untuk mengenang Anez, saya kemudian membuat beberapa blog. Termasuk blog yang isinya berbagi cerita ringan betapa hobi Anez yang unik, yang menyayangi 3-4 anjingnya, telah mengilhami saya saat itu untuk menulis buku lelucon saya yang pertama.

Dalam kunjungan Desember 2011, fotokopi buku humor satwa itu saya berikan kepada Bapak Taufik. Karena beliau sebelumnya telah berusahamencarinya di toko-toko buku dan tidak menemukannya. Memang sudah out of print.

Ketika bertemu kembali untuk pertama kali, November 2011,suasana obrolan adalah suasana hati orang-orang yang kehilangan. Di tahun 1986, kami mengobrol berempat. Kini Ibu Bintari dan Anez tidak lagi hadir di antara kita. Tetapi mereka tetap hidup dalam kenangan. Kenangan itu pula yang membuat saya merasa berharga, yaitu ketika Pak Taufik menunjukkan sebuah bundel manuskrip berukuran A4 yang dijilid.

Pada halaman depan ditempel foto Anez.
Isi manuskrip itu adalah lembaran-lembaran print out artikel-artikel diblog  http://song4anez.blogspot.com  yang saya tulis tentang dirinya.

Anez lahir 28 April 1963 di Brusells, Belgia. “Dulu waktu diBrussels, kami tinggal di rue d’Arlon, pojok rue d’arlon-rue billiard,” jelas Mas Verdi, Maret 2013. Anez yang Sarjana Sastra dari jurusan Arkeologi UI dan hobi membaca itu meninggal dunia di Denpasar, Bali, 20 Desember2005.

Anez memiliki nomor induk mahasiswa 0782030297 dan menulis skripsi berjudul  Faktor Penyebab Keausan Gigi Pada Komunitas Pantai(1988). Tautan : http://lontar.ui.ac.id/opac/themes/green/dataIdentifier.jsp?id=20156412. Ia berkarier di bidang perhotelan di Bali.

"Saya suka perhotelan karena bersentuhan dengan dunia pariwisata. Saya bisa sekalian mempromosikan Indonesia," ungkap Widhiana Laneza di majalah SWA 05/XIV/ 6 Maret 1998 (Hal.74).  

"Mengenal beragam budaya merupakan sesuatu yang menarik buat saya. Salah satu hal yang membuat saya terjun ke dunia perhotelan adalah karena saya bisa berkontak dengan orang dari berbagai bangsa dan budaya," papar Direktur Penjualan Sheraton, Senggigi, Lombok, yang sarjana arkeologi lulusan Universitas Indonesia(1988) ini.

"Anez adalah seorang persona yang istimewa. Kami sangat kehilangan Anez dan sikap hidupnya yang begitu positif dan ceria. Anez akan selalu berada di dalam hati seluruh keluarga besar Hotel Tugu Bali."

Demikian isi email dari Dewi Anggreni, teman sekerjanya, ketika mengirimkan foto Anez bersama teman sekerjanya kepada saya, tanggal 25 Januari 2006.  

Anez 50 Tahun. Warisan buku-buku koleksi Widhiana Laneza masih tersimpan di ruang perpustakaan keluarga. Saya sempat membolak-balik beberapa buku di antara koleksinya itu, untuk mencari dan mengais sesuatu cerita yang tersisa. Mungkin coretan bolpoin, bekas kopi, dan juga tanda tangannya.


Kalau saja waktu bisa diputar balik, saya ingin mendengarkan apa pendapat dia tentang isi buku-bukunya itu. Dan kemudian, mungkin aku akan membuat jengkel Anez, karena pada saat itu pula aku akan memintanya untuk menuliskannya. Untukmembagikannya. Di blog, misalnya.

Sudahlah. Anez  memiliki cara dan jalan hidup sendiri yang istimewa untuk bisa berguna, untuk bisa membahagiakan orang lain, dan juga untuk bisa terus dikenang. Saya senang bisa ikut menuliskan warisan dirinya.

Tanggal 28 April 2013.
Anez tepat berusia 50 tahun.

“Selamat ulang tahun, Anez.
Semoga kau kini senantiasa sejahtera di sisiNya.”

Wonogiri, 28-29 April 2013

Saturday, April 06, 2013

Pangeran Kecil, Krisandari dan Buku

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



"Universitas Indonesia (UI) meresmikan
10 pohon raksasa African Baobab
di depan Perpustakaan Pusat Baru UI, Depok, Jawa Barat, Jumat 6 Mei 2011."

Potongan berita itu membuat saya langsung ingat buku Pangeran Kecil. Karya Antoine de Saint-Exupéry.

Anda tahu kaitannya ?


Apakah buku indah itu pernah melintas dan bersarang dalam kenangan atau justru menyatu hingga kini dalam hidup Anda ?

Miduk jelita. Saya membelinya tahun 1979. Atau 1980. Saat itu saya mengelola sanggar melukis anak-anak di depan kraton Surakarta. 


Juga membuat perpustakaan mini, sehingga anak-anak bisa membaca-baca buku sebelum kegiatan belajar melukis dimulai. Atau sesudahnya, saat mereka menunggu jemputan.

Saya membeli dua, terbitan Pustaka Jaya. Satu untuk diri sendiri dan satunya saya hadiahkan kepada Krisandari Yuningrum. Ini murid kesayangan, antara lain karena saya naksir berat Miduk, mbakyunya yang jelita.

Kedunguan orang dewasa. Krisandari, saat itu klas 5 atau 6 SD Mangkubumen 15, Solo. Saat itu ia merasa engga mudeng, tidak faham, dengan isi buku itu. Saya maklum, buku ini memang bersetting tentang anak-anak tetapi sebenarnya ditujukan untuk (menertawai kebodohan para) orang dewasa. Walau intinya adalah mengajarkan optimisme.

Krisandari, juga murid saya lainnya Anita, masih kirim-kiriman sms dengan saya, hingga kini. Entah karena pengaruh ajaran buku itu, atau karena saat-saat belajar melukis saat mereka masih anak-anak merupakan pengalaman yang menyenangkan, mereka belum melupakan guru :-) dan temannya berbagi cerita.

Hari ini, buku Pangeran Kecil genap usia 70 tahun.
Berapa juta orang dan hati di dunia ini telah tercerahkan olehnya ?
Anda, ini usul serius saya, harus pula membacanya.

Kutipan : "Karena hal terindah di dunia tidak terlihat oleh mata."


Wonogiri, 7 April 2013

Monday, April 01, 2013

The Blind Giant : Being Human in a Digital World

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


 

Serotonin : kimia bahagia dan motivasi yang terjaga.
Shiatsu : Finger Pressure Self-Massage.
Reflexology Decoder.Yoga for everybody : 36 Exercises.

Chinese Medicinal Herbal. 
The Worst-Case Scenario Journal.
 

The Blind Giant : Being Human in a Digital World (2012).
 

Playboy Magazine. Edisi lawas. 
Memuat foto nude Ratna Assan,gadis Jawa yang putri Devi Dja (seniwati Indonesia yang berkiprah di AS), yang bermain sebagai gadis suku terasing yang menolong Steve McQueen sebagai pelarian penjara dalam film Papillon (1973).
 

Vietnam's Unseen War : Pictures from the Other Side.
War Photographer : A Film by Christian Frei.
Peter Vesth : Pa Klippegrund.
BAMSE : 15 Starke Pa Stribe.

Semua buku, decoder (buku unik,yang dikemas seperti cakram rolet), cd, bahkan juga kaos itu (daftar di atas hanya sebagian) telah dikirimkan kepada saya oleh Lasma Siregar. Mengaku sebagai pemetik buah berry, tapi sering berfikirnya sebagai filsuf, mempertanyakan banyak hal.


Juga kritikus sosial, humoris dan pengembara gagasan. Hampir setiap hari ia mengisi milis dan saya salah satu pembacanya.

Tinggalnya di Melbourne.
Saya mengenal sejak 2005.
Lewat email.

Terima kasih, Bung Lasma Siregar.

PS : "Dalam dunia digital, segalanya tidak sederhana lagi.
Dunia ini begitu licin dan sulit dipegang.
Semuanya di luar kendali."

The Blind Giant, hal.59.

Tautan di Facebook

Wonogiri, 2 April 2013

Wednesday, January 16, 2013

APE : Bangkitkan Gorilla Pada Diri Anda !

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Guy Kawasaki.
Bila Anda belum mengenalnya, carilah dulu via Google.
Saya menemukan info tentang dirinya di Wikipedia.


Bintangnya sama dengan saya : Virgo. Ia lahir tanggal 30 dan saya 24 Agustus.

Ketika Guy Kawasaki berhalo-halo di akun Facebooknya, "adakah blogger yang berminat menulis tinjauan buku APE saya ?," saya pun mendaftar. Modal nekad saja.

Saya mengaku sebagai wong Wonogiri dan membanggakan diri punya blog berisi ngobrol-ngobrol tentang buku yang melintas dalam hidup saya. Guy Kawasaki ternyata berbaik hati menanggapi. Kini saya punya PR, membaca-baca bukunya dengan topik yang selama ini ingin saya dalami : sebagai pengarang, sekaligus penerbit dan entrepreneur

Disingkat sebagai APE. Reputasi seorang Guy Kawasaki, merupakan jaminan kualitas akan isi buku tersebut. Dengan langkah tepat, seperti dibincangkan dalam buku ini, Anda sebagai penulis mampu menjadi gorila dalam dunia penerbitan buku di era digital ini. Tetapi untuk melangkah menuju sukses, banyak hambatannya. Nikmati anekdot yang memikat plus lucu dari Guy Kawasaki ini : 

"Ketika saya meminta pendapat lima orang yang saya nilai sebagai pakar penerbitan buku secara mandiri,yang muncul justru delapan pendapat dan dua diantaranya saling bertentangan" (hal.viii).

Sebelumnya ia bilang, "menerbitkan buku secara mandiri seperti kita berenang dan terkepung buaya." (hal.vii). Tapi percayalah, bila Anda punya keberanian seperti aksi heroik Joko Tingkir, buaya-buaya itu mudah Anda kendalikan dan bahkan akan membantu sukses Anda !


Fenomena yang juga menarik dari diri dan bukunya adalah hadirnya gagasan-gagasan baru ketika bukunya itu menjadi wacana para pembacanya di dunia digital. Pembaca itu bersemangat memberikan komentar dan berbagi dengan pembaca lainnya.

Sekadar contoh kutipan dari buku itu yang dipilih oleh pembaca :

“Menulislah setiap hari. Kebiasaan menulis tiap hari mampu mengendalikan perasan ragu dan mencegah mogok menulis. Mungkin hanya menulis satu-dua alinea, merevisi garis besar, atau memperhalus “muntah-muntah” Anda.

Tetapi bila Anda menunggu untuk mulai menulis ketika kondisi keuangan Anda terjamin, ketika anak-anak cukup pangan, cukup sandang dan nilai-nilai rapornya membanggakan, dan pemanasan global telah berhenti, Anda tak akan pernah menulis sama sekali. Baik ketika kecebur di api neraka atau saat air banjir merendam diri Anda sebatas leher, tetaplah menulis, bila pun itu hanya lima menit sehari. “

Pepatah China mengatakan : “Orang yang menunggu masuknya bebek panggang ke dalam mulutnya harus mau menunggu lama, sangat lama sekali.”


PS : Sepertinya kok tidak banyak pustakawan yang bersemangat bercerita tentang buku, apalagi tentang menulis buku. Buktikan dugaan saya itu salah. Silakan menuliskan komentar Anda.

Wonogiri, 17/1/2013

Friday, August 31, 2012

Calvin dan Hobbes : Dari Illinois Ke Wonogiri

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



“Kadangkala saya berfikir bahwa tanda-tanda paling jelas tentang keberadaan makhluk cerdas di jagat raya ini adalah karena tidak ada dari mereka yang mencoba mengontak kita.” 

 “Setelah membaca-baca status di Facebook dan twit di Twitter makhluk cerdas luar angkasa membatalkan niatnya menyerang bumi.” 

Ucapan pertama itu dari kartunis Bill Watterson melalui karya komik stripnya Calvin dan Hobbes, dan ucapan kedua dari komedian Andy Borowitz yang kini mengisi kolom tetapnya di majalah The New Yorker

Bagi saya, keduanya lucu sekali. 

Dua cerita itu muncul ketika hari ini saya mendapat kiriman buku unik. Yaitu buku kumpulan komik strip karya Bill Watterson itu, Something Under The Bed Is Drooling (1988) dan flexible magnet dari majalah The New Yorker dengan kartun bergambar dua ekor anjing lagi mengobrol, dengan teks : “On the Internet, nobody knows you’re a dog.” 

Pengirimnya mBak Tinuk Yampolsky, penulis novel Candik Ala 1965 (2011). Jauh-jauh mudik dari Illinois, AS, ke Solo dan saya kebagian paket oleh-oleh hadiah yang berkesan ini. 

“Matur nuwun, mBak Tinuk.” 

Juga matur nuwun untuk mBak Listyawati Sulistyo yang jadi petugas ekspedisi :-) hingga si bocah Calvin dan macan Hobbes itu bisa ngeluyur bertualang sampai Wonogiri.

Wednesday, July 04, 2012

Buku-Buku Yang Membentuk Amerika

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Di Perpustakaan LIA Jakarta Timur.
Atau Perpustakaan Pusat Kebudayaan Amerika Serikat di Wisma Metropolitan 2 Jakarta.

Di tahun 1990-an saya menemukan buku karya Randy Shilts, And the Band Played On (1987), di antara rak-rak buku salah satu dari kedua perpustakaan tersebut.

Saya belum pernah meminjamnya. Tetapi saya ingat judulnya, sampai saya ketemu lagi dengan buku tersebut ketika dibahas oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya The Tipping Point : How Little Things Can Make a Big Difference (2000).

Bukunya Gladwell ini ketika membahas tiga kaidah epidemi, ia menyebut salah satu contoh dari cerita bukunya Randy Shilts itu. Tentang seorang pramugara sebuah maskapai penerbangan Prancis-Kanada, bernama Gaetan Dugas, yang mengaku telah berkencan dengan 2500 orang di seluruh Amerika Utara. Ia disebutkan terkait dengan setidaknya 40 kasus AIDS di California dan New York.

Tulis Gladwell, “Epidemi ini juga digerakan oleh upaya atau ulah segelintir orang saja. Dalam kasus ini, bukan selera seksual yang membuat orang-orang ini berbeda. Kelebihan mereka adalah dalam hal cara bergaul, semangat hidup, dan ketrampilan dalam memengaruhi orang lain.”

Bukunya Randy Shilts itu saya pergoki lagi, hari ini. Melalui twitnya pakar jurnalisme warga, Dan Gillmor (saya menjadi pengikut dirinya di : @dangillmor) , saya dirujuk untuk mengetahui betapa buku itu oleh Library of Congress didaulat sebagai satu dari 50 buku yang membentuk Amerika Serikat.

Silakan Anda cek disini.

Apakah ada buku yang pernah Anda baca juga ikut masuk dalam daftar tersebut ? Apa kira-kira isi daftar buku yang bermisi serupa untuk bangsa kita Indonesia ?

Wonogiri, 5/7/2012

Tuesday, May 29, 2012

Diktator Modern, Buku Dobson dan Nasib Indonesia

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



@bambangharyanto 
Thanks for your note. 
The book is on today's modern regimes... 
Suharto was their teacher. 
^WJD 
@DictatorBook 
May 29, 12:11 AM 

Anda kenal William J. Dobson ?
Saya tidak mengenal dia.

Gara-gara membaca resensi di situs Bloomberg Business Week (17/5/2012) tentang bukunya yang akan terbit awal Juni 2012 ini, saya bisa “kenalan” dengannya lewat Twitter. Ia editor politik dan luar negeri dari situs Slate yang ternama.

Buku Pak WJD itu berjudul The Dictator’s Learning Curve: Inside the Global Battle for Democracy (Doubleday, 2012). 352 halaman. Isi intinya mengupas taktik-taktik licik para diktator era moderen dalam merebut dan mempertahankan kekuasaannya. Dalam resensi itu termuat pendapat para diktator modern memahami bahwa lebih baik mereka tampil sebagai pemenang dalam pemilihan umum daripada secara terang-terangan melakukan pencurian terhadapnya.

Petikan resensi yang ditulis Joshua Kurlantzick, ahli kajian Asia Tenggara dari Council on Foreign Relations, antara lain :

“…tatkala gerakan protes demokrasi saling belajar satu sama lain, rejim otoriter juga melakukan adaptasi dan membangun jenis kediktatoran yang unik pada Abad 21 ini. Rejim-rejim otokrat seperti Vladimir Putin, Hugo Chavez dan Hu Jintao mengkooptasi bentuk-bentuk demokrasi, seperti pemilu, organisasi NGO, Internet dan media sosial yang nampak bebas, tetapi mereka manfaatkan itu semua dalam proses menegakkan otoritasnya.

Wajah demokrasi ia pampangkan ke muka dunia, bahkan juga kepada rakyatnya sendiri, sembari terus mendominasi kekuasaan tanpa tindak-tindak kekerasan gaya lama model Muammar Qadaffi atau Joseph Stalin.”

Bangsa Indonesia, mari kita bercermin. Kemenangan kelompok radikal terkait kasus konser Lady Gaga apa punya kaitan dengan tesisnya William Dobson itu ?

Juga dalam konteks Pemilu dan Pilpres 2009 di Indonesia, apakah Anda masih ingat kehebohan terkait kekisruhan data daftar pemilih, sampai merebaknya kasus Anas Urbaningrum dan Andi Nurpati yang dikaitkan dengan tuduhan manipulasi 18 juta suara di Pemilu dalam ocehan Nazaruddin saat dalam pelariannya di Kolombia ?

***  

Sang guru. Ketika membaca-baca resensi itu, saya agak heran : mengapa Soeharto tidak ia sebut-sebut ? Untuk mencari tahu, segera saya mendaftarkan diri menjadi pengikut Pak Dobson dalam akun Twitternya. Sungguh aneh, ia malah gantian menjadi pengikut saya :-).

Kemudian saya tanyakan via Twitter mengapa Soeharto nampak tidak ia sebut-sebut dalam bukunya yang bersampul merah dan bergambar tangan hitam memegang tiga pucuk bunga putih.

Jawaban Pak Dobson seperti tersaji di awal tulisan ini :  

Suharto was their teacher.
Suharto adalah guru mereka.

Bukankah dia enam kali terus-menerus memenangkan pemilu ?
Bukankah ia termasuk gurunya presiden kita yang kini berkuasa ?

Para pejuang demokrasi, rupanya Anda bakal tidak punya kesempatan untuk sejenak beristirahat – hingga saat ini. Dan nanti.


Wonogiri, 29 Mei 2012

Saturday, April 28, 2012

Anez, Perpustakaan Pribadi dan Kenangannya


Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com

D.A.R.Y.L.
Sebuah film fiksi ilmiah tentang robot yang ingin menjadi manusia.

Atau White Nights, film berlatar belakang kelompok balet Rusia, dibintangi Mikhail Nikolaevitch Baryshnikov (sekaligus kisah nyata dirinya) yang ingin membelot ke AS.

Sementara itu penari tap dance kulit hitam AS yang muak terhadap ketidakadilan sistem kapitalis AS justru ingin membelot ke Rusia.

Kita pernah berbagi cerita tentang hal itu,Anez. Juga tentang Uri Geller, si pembengkok sendok. Tentang carbon dating, karena kau kuliah di Arkeologi UI.

Atau sama-sama mendengar cerita Bapak Taufik tentang masakan khas Senegal di meja makan rumah Cilandak. Berempat bersama Ibu Bintari. Sambil menowel sambal dari cobek batu.

Saat itu saya sudah mempromosikan cabuk, makanan khas Wonogiri. Tetapi bahasa terlalu terbatas untuk menggambarkannya secara utuh, baik wujud atau pun rasanya.

Itu tahun 1986.

Tahun 2011, di rumah yang sama, saya bisa menemui Bapak lagi. Berjam-jam berbagi obrolan. Juga sempat melihat-lihat koleksi buku-buku perpustakaan pribadimu dengan subjek yang luas.

Dari teknik pilate, rumus Mars dan Venus-nya John Gray, karya Ken Blanchard sampai The Essential Koran-nya Thomas Cleary. Hanya saja kini, tak ada lagi ibu, juga tak ada dirimu.

Widhiana Laneza Taufik.
Brussels, 28 April 1963.
Bali, 20 Desember 2005.

Di ulang tahunmu hari ini, 28 April, terlantun doa :
semoga kau kini sejahtera disisiNya.


Wonogiri, 28/4/2012

Monday, April 02, 2012

Kindle, iPad versus Buku Masa Depan

Perangkat atau gadget untuk membaca buku
seperti Kindle-nya Amazon atau iPad-nya Apple,
ternyata bukan sarana yang sempurna.

Pembaca mudah capek ketika harus memelototi layar,
bikin pedih di mata,membutuhkan kacamata khusus,
dan kerumitan lainnya.

Kartunis Grant Snider di surat kabar terkenal
The New York Times (30/3/2012)
telah menerawang hadirnya buku masa depan.

Selamat mencicipi buku masa depan !

Wonogiri, 3/4/2012

Saturday, March 17, 2012

Kala 1965 : Kala Batara Kala Mencaplok Indonesia

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Membaca novel Candik Ala 1965-nya Tinuk Yampolsky membuat saya ekstra sibuk :-).

Karena merasa pernah tinggal di satu kampung yang sama, di Baluwarti Solo, dan juga kenal penulisnya, saat baca selalu timbul godaan untuk menerka-nerka.

Misalnya, rumah "Eyang Behi" yang mana ya ? Jangan-jangan ini halaman rumah Eyang Laks yang aku tinggali di Tamtaman yang berhalaman luas.

Lalu rumah yang kemudian ditinggali keluarga Arab, apa yang di Mloyosuman itu ya ? Lalu ada sosok "Si Gagap" yang juga sering kluyuran di Sanggar, yang hingga kini lenyap tak berbekas menjelang 1998, plus rada bingung ada tokoh "Bu Darmi" dan "Bu Darmini."

Buku indah untuk kembali ke tahun 1970-an.
Tetapi juga kental horor yang sulit dihapus setelah digores rejim kejam dengan peluru, bayonet,amuk massa, kegilaan, yang membuat aliran Bengawan Solo bercampur darah, di tahun 1965-an. Juga Indonesia yang ditelan Batara Kala.

Mungkin hingga kini juga.

Buku ini saya terima dari penulisnya sendiri, yang ia kirimkan dari Illinois,AS, 26 Januari 2012. Tinuk Yampolsky menulis pesan : "Buat Mas Hery, teman lama dari era Kamandungan. Salam hangat, Tinuk, Jan 14,2012."

Silakan intip resensinya di:

Candik Ala 1965: Trauma Sepanjang Riwayat

Kisah Candik Ala 1965 Dari Tinuk Yampolsky

Wonogiri, 18/3/2012

Friday, February 17, 2012

Tika Bisono, KM dan Intellectual Capital

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



“Jangan lupa, Mas Bambang.
Knowledge Management.”

Demikian tutur Tika Bisono (foto) malam itu, ketika menyalami diri saya. Lokasi : Flores Room, Hotel Borobudur, Kamis malam, 26 November 2004. Acara Malam Penganugerahan Pemenang Kontes Mandom Resolution Award 2004.

Psikolog, entertainer sekaligus salah satu juri dari Mandom Resolution Award (MRA) 2004 tersebut telah pula menyumbang lagu “Killing Me Softly With His Song”-nya Roberta Flack, yang menghangatkan acara sebelum diumumkan siapa-siapa para pemenang MRA 2004 malam itu. Diri saya adalah salah satunya.

Knowledge Management (KM) adalah kosakata yang terlontar spontan dari Tika Bisono, di ruang presentasi, ketika penjurian sedang berlangsung.

Ia mengomentari resolusi yang saya ajukan, dimana sebagai penggagas komunitas kaum epistoholik atau para penulis surat pembaca, saya bercita-cita menghimpun pengetahuan warga komunitas Epistoholik Indonesia dalam situs-situs blog di Internet. Tujuannya, agar pengetahuan itu dapat dimanfaatkan secara meluas oleh masyarakat, bahkan mendunia.

“Ini ilmu baru, Mas Bambang. Nanti di luar, kita bisa bicara hal ini lebih banyak”, imbuh Tika saat itu.

Ilmu baru ?

Jadi di MRA 2004 ini saya sukses “menemukan” ilmu baru ? Resolusi saya tersebut sebenarnya merupakan variasi lain dari kiprah perpustakaan. Yaitu menghimpun informasi, mengorganisasikan dan kemudian menyebarkannya. Yang mungkin membedakan, KM memperoleh sarana bantu secara masif teknologi informasi dan aplikasinya cenderung pada lingkup perusahaan.

Ahli itu kita sendiri. Yang pasti, setahu saya, KM memiliki aneka wajah. Thomas A. Stewart, wartawan senior majalah bisnis Fortune, penulis buku Intellectual Capital : The New Wealth of Organization (DoubleDay, 1997) dan salah satu pionir kajian KM, punya cerita menarik yang dimuat di majalah bisnis Fortune, 29/9/1997.

Ia telah menceritakan bagaimana cara raksasa pabrik traktor Deere & Co. mendayagunakan keahlian para karyawannya. Dengan langkah awal, melakukan inventarisasi.

Kalau direktori atau buku daftar alamat sesuatu perusahaan yang biasa hanya berisi data karyawan berdasar peringkatnya dalam struktur organisasi, maka direktori yang sudah terkomputerisasi di Deere ini agak lain. Dengan sebutan “People Who Know”, sistem ini mampu menjawab pertanyaan tentang keahlian tertentu yang dimiliki para karyawan yang dibutuhkan untuk menemukan solusi atau menjalankan sesuatu proyek pekerjaan.

Jadi kalau di jaman awal industrialisasi ada masalah dalam pabrik telah membuat begawan manajemen masa lalu Frederick Winslow Taylor bersabda, “biarlah para ahli yang membereskannya”, maka rumus solusi di jaman sekarang adalah, “para ahli itu sudah tersedia, mereka adalah kita-kita !”

Ada cerita menarik lainnya tentang KM. Ketika tim pengembangan mobil baru pada Ford Motor Company ingin mempelajari mengapa kerja tim pengembang mobil model Taurus meraih sukses di pasaran, mereka mengalami jalan buntu. Tak ada orang yang mampu memberitahu mereka. Tak ada yang ingat dan tak ada pula yang mencatat kerja sukses tim tersebut.

Akibatnya fatal : pengetahuan yang diperoleh Ford Motor Company selama mengerjakan proyek Taurus telah hilang selamanya.

Kejadian ini membuka mata bahwa aset terpenting suatu perusahaan yang paling sukar difahami dan paling sulit dikelola adalah pengetahuan. Belajar bagaimana mengidentifikasi, mengelola dan menumbuhsuburkan pengetahuan merupakan kiprah vital sesuatu perusahaan yang berniat memenangkan kompetisi dalam ekonomi global yang bergerak cepat dewasa ini.

Meremajakan ular. Meneladani kiprah pabrik traktor Deere & Co. itu, hal serupa selayaknya juga bisa diaplikasikan pada beragam perpustakaan di Indonesia. Para pustakawan kita, baik dengan melakukan self-assessment secara mandiri atau melalui bantuan kalangan psikolog, untuk mampu melakukan ekstraksi atas beragam kemampuan diri mereka yang selama ini tersembunyi. Juga terhadap klien-klien perpustakaan mereka.

Sudah saatnya keterampilan tradisional yang lajim dimiliki seorang pustakawan kini harus diperkaya dengan beragam daftar kecenderungan, minat atau hobi mereka, yang dapat disinergikan dengan minat-minat yang terdapat dalam klien mereka. Interaksi ini akan semakin menghangatkan hubungan antara pustakawan dengan klien yang selama ini hanya dijalin dalam hubungan transaksi yang dingin dan fungsional, yang jauh dari sentuhan-sentuhan pribadi dan emosi.

Dalam konteks yang lebih sempit, inilah salah satu alasan mengapa saya usulkan agar perpustakaan (umum) buka di hari Minggu. Kalau hari-hari kerja biasa, teorinya, hanya berlangsung kontak dengan klien secara fungsional, maka di hari Minggu para pustakawan dapat berinteraksi dengan mereka sebagai seorang pribadi yang memiliki sesuatu wawasan sampai keterampilan, di luar keterampilan tradisionalnya, untuk meng-engage klien perpustakaan dalam kegiatan bersama yang bermanfaat bagi semua fihak.

Ibaratnya dalam bahasa ular, setiap hari Minggu itu pustakawan dapat berganti kulit mereka. Mudah-mudahan Anda juga tahu bahwa ular yang berganti kulit adalah ular yang sedang melakukan peremajaan bagi dirinya sendiri.

Masa sih, anjuran agar pustakawan selalu bisa awet muda akan Anda tolak ?


Wonogiri, 17 Februari 2012

Sunday, January 15, 2012

Fire Up, Endorphins dan Epistoholik

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Candu pena. "Keuntungan apa yang sudah diterima dari kegemaran menulis surat-surat pembaca ?"

Itulah salah satu dari sebelas butir pertanyaan yang diajukan oleh A. Bimo Wijoseno, reporter majalah Intisari, yang dikirimkan melalui e-mail, April 2004 yang lalu.

Saya jawab, bahwa seperti halnya hobi lainnya, the reward is in the doing.

Pahala, berkah atau keuntungan itu kita nikmati ketika kita mengerjakannya. Yaitu ketika menulis surat-surat pembaca itu pula.

Menyelesaikan sebuah surat pembaca nikmatnya setara saat kita usai berolah raga. Yaitu ketika otak kecil kita mengeluarkan endorphins atau encephalins (morfin alamiah, pain-relieving substances yang dikeluarkan oleh otak) yang memberikan rasa nikmat, segar, sejahtera dan diimbuhi perasaan berguna bagi orang lain (pembaca).

Tak mudah lupa. Terlebih lagi, aktivitas menulis itu juga punya berkah otomatis lainnya : ilmu atau pengetahuan yang baru kita tuliskan itu segera semakin melekat untuk menjadi milik pribadi kita. Pengetahuan itu lebih dalam membekas pada memori kita, dibanding bila kita hanya membacanya.

Thomas L. Madden dalam bukunya F.I.R.E – U.P. Your Learning : Bangkitkan Semangat Belajar Anda – Petunjuk Belajar Yang Dipercepat Untuk Usia 12 Tahun Keatas (Gramedia, 2002), memberi petunjuk hebat : gunakan segera pengetahuan baru Anda itu agar tidak mudah lupa.

Gunakan pula info yang sama melalui cara yang berbeda-beda.

Sebab semakin variatif pemanfaatannya akan semakin banyak tercipta koneksi dalam otak kita yang semakin memudahkan kita bila diperlukan untuk mengingatnya kembali.

Apalagi bila tulisan kita itu bisa dimuat, dipublikasikan, muncul kenikmatan ekstra lainnya. Semua itu, terentang dari aktivitas membaca, menulis dan menikmati publikasi, ibaratnya berpadu menjadi candu yang teramat mengasyikkan.

Bukankah novelis Perancis, Stendhal (1783-1842), telah berujar bahwa : for those who have tasted the profound activity of writing, reading is no more than a secondary pleasure ?


Wonogiri, 16/1/2012