Tuesday, December 22, 2009

Flashbacks of a Fool

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Penulis lirik. Lagu “Penny Lane” ikut teronggok di pojokan. Lokasi : sisi barat daya (?) toko buku QB, Jalan Sunda, Jakarta.

Di dekatnya terdapat rak buku-buku hukum, berhimpun dengan buku-buku tip memelihara anjing. Bukunya Jay Sankey, Zen and the Art of Stand-Up Comedy (1988), juga berada di sana.

Kluster yang menggelitik : hukum, komedi dan anjing campur aduk jadi satu.

Lagu ciptaan Paul McCartney dari The Beatles tentang sebuah lorong kecil kota Liverpool itu pernah memicu kontroversi.

Sobat saya Ardiyani, yang tinggal di Liverpool, pernah mengirimkan berita dari The Sunday Times (16/7/2007) bahwa nama itu hendak dihapus.

Karena terkait nama James Penny, juragan budak belian masa kolonial. Ah, Inggris, rupanya juga ketularan budaya munafik, karena ingin mengubur masa lalunya yang kelam.

Lagu “Penny Lane” itu terhimpun dalam buku kumpulan lirik-lirik lagu. Sebelum Internet marak, buku kumpulan lirik lagu-lagu merupakan salah satu buku yang menarik untuk ditengok ketika jalan-jalan ke toko buku.

Saya tidak tahu persis apa daya tariknya. Saya toh tidak mampu memainkan alat musik satu pun. Tetapi selalu saja terlintas, juga selalu naik dan turun, niatan ingin menjadi penulis lirik lagu.

Niatan itu sempat naik tensinya ketika menonton film The Rocker (2008) dan menikmati lagu ciptaan anak muda Curtis (Teddy Geiger) yang liriknya mengiris. Mengikuti lagu “Tomorrow Never Comes” yang muncul di film itu, benar-benar bikin iri. Iri kagum, bukan iri dengki.

Pada film tentang kesempatan kedua bagi Robert 'Fish' Fishman (Rainn Wilson), si penabuh drum bugil (yang mendunia karena disiarkan di YouTube) dalam meraih karier, sungguh mengagumkan mendapati anak muda yang mampu menulis lagu yang memiliki daya magis sedemikian kuat mencengkam tersebut.

Lagu-lagu semacam itu, merujuk pengakuan anak muda jenius lainnya yang juga penyanyi dan pencipta lagu terkenal, Taylor Swift, tidak lain merupakan “musical diaries to record her feelings.”


The Butterfly Effect. Lagu menarik lainnya adalah “If There Is Something” dari Roxy Music dalam film Flashbacks of a Fool (2008). Daniel Craig, sang James Bond terbaru itu, menjadi bintang sekaligus produser film ini.

Film drama Inggris ini, disutradarai Baillie Walsh, berkisah tentang bintang film Hollywood yang berefleksi mengenai hidupnya setelah memperoleh kabar kematian sahabat karibnya di masa kecil.

Film ini antara lain menebar hikmah, bahwa kita pada umumnya tidak mau berubah kecuali bila dalam perjalanan hidup itu menabrak sesuatu yang keras, sesuatu yang mau tak mau harus membuat kita berubah. Pesan lainnya mungkin lajim dikenal dalam teori khaos dikenal sebagai efek kupu-kupu.

Adagiumnya yang terkenal, yang juga muncul dalam film The Jurassic Park (1997), bahwa “kepak sayap kupu-kupu di pelabuhan Sydney akan membuahkan badai di daratan China.” Merujuk fenomena itu, di era Internet ini, seorang blogger favorit saya, Jeff Jarvis, menulis bahwa “kecil sekarang adalah besar yang baru.”

Buktinya di Indonesia ada di depan mata kita semua. Gerakan menghimpun koin untuk mendukung Prita membuat lembaga pengadilan dan RS Omni Internasional yang menghukum Prita menjadi tidak ada artinya. Mereka kini berbalik status menjadi paria.

Gerakan sejuta Facebookers mendukung Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah juga telah membuat institusi hukum kita, termasuk wibawa Presiden SBY sendiri, tergerus habis citranya. Mereka kini juga pantas hanya berstatus sebagai paria.


Menabrak masa lalu. Efek kupu-kupu itu juga tergambar, walau tipis, dalam film Flashbacks of Fool. Yaitu saat sang tokoh Joe Scot (Daniel Craig) setelah gagal bunuh diri karena kariernya di Hollywood habis, kembali ke kampung halaman di desa kecil berpantai di Inggris.

Untuk menengok kuburan teman karibnya. Tetapi dirinya harus juga memergoki parade kenangan masa lalu, sekaligus mendapati konsekuensi atas perbuatan yang ia lakukan di masa lalu. Termasuk mendengar kematian Evelyn. “Tertabrak kereta api, dan kepalanya tidak ditemukan. Konon digondol oleh sekawanan anjing,” demikian kabar yang Joe terima.

Evelyn adalah ibu muda binal, tetangganya, suka selingkuh dan gemar daun muda. Ia pula yang menggoda Joe muda dalam petualangan seksnya yang pertama. Kesalahan yang harus ia bayar, yaitu putus cinta dengan Ruth, kekasihnya.

Ketika keduanya dibakar nafsu birahi, anak gadis Evelyn seumuran TK itu diusir dari rumah. Agar bermain-main sendiri di pantai. Ia pun bermain-main, termasuk asyik berayun-ayun di atas sebuah ranjau laut. Ranjau itu kemudian meledak. Kejadian itu pula yang membuat Joe muda kabur dari kampung halamannya.

Saat Joe mudik, ia juga menemui Ruth, gadis tercinta yang ia khianati, yang dulu pula ia tinggalkan. Masa lalu keduanya terukir indah dalam kilas kalik ketika berduet menyanyikan lagu “If There Is Something” dari Roxy Music dalam sebuah pesta.

Dalam kilas balik lainnya, pada percakapan keluarga Joe saat muda, sempat mencuat topik obrolan tentang masa lalu dan masa kini. “Ketika mendapati seseorang tua, yang terbaring lemah di ranjang mendekati kematian, dapatkah kita membayangkan apa saja yang ia jalani ketika pada masa mudanya ?”


Wanita indah. Umpama pertanyaan itu diajukan kepada saya, pada tanggal 20 Desember 2005, di sisi Widhiana Laneza, saya tidak tahu mau bilang apa.

Anez saat itu, tentu saja, bukan wanita tua. Saya tentu agak pangling, rambutnya saat itu menjadi pendek. Saya beruntung pada tahun 1980-an dikaruniai kesempatan untuk melihat saat rambutnya panjang tergerai.

Melengkapi sosok ningratnya yang membuat saya jatuh cinta.

Juga untuk tahu dirinya dalam sepenggal kehidupannya : ketika Anez menjadi mahasiswi Diploma 3 Bahasa Perancis dan sekaligus mahasiswi Jurusan Arkeologi Fakultas Satra Universitas Indonesia.

Mosaik yang bisa saya ingat, antara lain, ketika berkunjung ke rumahnya, ia nampak antusias bercerita tentang anjing-anjingnya. Ada yang bernama Grigri (jimat dalam bahasa Perancis), Pancho atau Cakil, Bobi sampai Minggo.

Pesona hubungan itu pula yang kemudian membuat saya bisa menulis buku (cinta) untuknya, Ledakan Tawa Dari Dunia Satwa (Andi, 1987).

Dalam kesempatan lain, 1 Februari 1987, ia bercerita tentang fenomena ahli bengkok sendok dengan kekuatan paranormal, yaitu Uri Geller. Ahli psychic asal Israel ini lahir tanggal 20 Desember 1946.

Tanggal yang sama pada tahun 2005, adalah tanggal saat Anez meninggal dunia. Ia dimakamkan di Taman Pemakaman Umum, Jeruk Purut, dekat rumah orang tuanya di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan. Lahir di Brussel, Belgia dan meninggal dunia di Denpasar. Tiga hari setelah hari pernikahannya.

Saya diberitahu berita pedih itu oleh kakaknya, Verdi Amaranto, 22 Desember 2005. Setelah ia melakukan googling di Internet. Ia juga memberi beberapa foto, termasuk foto Anez kecil (foto di bawah) dengan boneka anjingnya saat dijepret di Hanoi, 1969.


Kembalikan ke masa mudamu. Pada bagian akhir film Flashbacks of a Fool nampak Joe Scot memutar kembali piringan hitam lagu “If There Is Something.”

Lalu ia menuliskan sebagian liriknya dalam sebuah surat. Untuk Ruth.

“Shake your hair girl with your ponytail,
Takes me right back (when you were young)”

Ruth, gadis tercintanya masa dulu itu dan janda sahabat karibnya yang meninggal itu, nampak meledak dalam tangis.

Tayangan keduanya saat berduet di masa muda menutup film pedih sekaligus indah itu. Lirik “If There Is Something” menggema, dan saya berharap Anez juga mendengarnya :

Goyangkan rambutmu dengan ekor kudamu
Kembalikan diriku (ketika kau muda dulu)

Lemparkan hadiah-hadiah indahmu ke udara
Saksikan ia berjatuhan di bumi (ketika kau muda dulu)

Angkat kakimu dan hentakkan ke bumi
Di tempat biasa kau tapaki (ketika kau muda dulu)

Angkat kakimu dan hentakkan ke bumi
Ketika bukit-bukit semakin meninggi (ketika kita muda dulu)

Angkat kakimu dan hentakkan ke bumi
Ketika pepohonan semakin menjulang tinggi (ketika kau muda dulu)

Angkat kakimu dan hentakkan ke bumi
Ketika rerumputan semakin menghijau (ketika kau muda dulu)

Angkat kakimu dan hentakkan ke bumi
Di tempat biasa kau tapaki (ketika kau muda dulu)



Wonogiri, 20-22 Desember 2009

No comments:

Post a Comment