Sunday, February 24, 2019

Wisdom Seorang Wise Guy Digital Dari Hawaii


Oleh : Bambang Haryanto

Percayalah kepada gurumu. Sekaligus jangan mudah percaya kepada gurumu juga.

Hal yang bertolak belakang ini terjadi pada seorang Guy Kawasaki. Dia adalah nama besar di Lembah Silikon. Pernah dua kali bekerja di Apple Computer bersama pendirinya yang legendaris, Steve Jobs. 

Dan kini terkenal sebagai pembicara di bidang kewiraswastaan digital, penginjil digital untuk perusahaan desain asal Australia terkemuka, Canva, dan penulis limas belas buku.

“Nasehat Akau telah mengubah perjalanan hidupku,” demikian kisah awal yang dia ceritakan dalam bukunya terbaru,  Wise Guy : Lessons from a Life (Portofolio/Penguin, 2019). Trudy Akau adalah gurunya di kelas enam sekolah dasar negeri Kalihi, Hawaii.  

Saat itu Trudy Akau mengatakan kepada orang tua Guy bahwa putranya itu memiliki terlalu banyak potensi bila tetap berada dalam sistem sekolah umum. Dia bersikeras agar Guy  belajar kee sekolah swasta, sekaligus persiapan masuk perguruan tinggi — khususnya, Punahou dan ‘Iolani.

Semula dia menduga perjalanan riwayat pendidikannya sesudah lulus sekolah dasar akan masuk sekolah menengah Kalakaua, berlanjut ke sekolah menengah atas Farrington, kemudian berkuliah di Universitas Hawaii. Selepas lulus dirinya akan menerjuni karier di bidang eceran, wisata atau pekerjaan di bidang pertanian.

“Jika dia  (Trudy Akau) tidak meyakinkan orang tua saya agar mau mengirim saya ke ‘Iolani, saya tidak akan pergi ke Universitas Stanford. Jika saya tidak pergi ke Stanford, saya tidak akan bertemu dengan pria itu yang membuat saya tertarik pada komputer dan memberi saya pekerjaan di Apple.”

Pengalamannya terkait dengan guru yang lain terjadi justru ketika dia membolak-balik dokumen lama rapor sekolahnya untuk kepentingan penulisan buku terakhirnya ini. Pada rapor kelas sembilan di  ‘Iolani terbaca bahwa “kemampuan menulisnya mentok untuk dapat nilai C, hanya bagus saat menulis esai tentang Iliad dan tidak cukup untuk memperoleh penghargaan.” Mengilas balik penilaian gurunya itu dia menulis : “Saya bergembira menemukan penilaian ini sesudah mampu menulis 15 buku atau saya sama sekali tidak menjadi penulis buku.”

Koneksi teman kuliah

Berkat campur tangan gurunya dan nasib yang penuh keberuntungan dia kemudian dapat meneruskan kuliahnya ke tempat baru,  yang berjarak ribuan mil dari kota asalnya. Yakni di perguruan tinggi papan atas Amerika Serikat, Universitas Stanford.

Merujuk kisah hidupnya saat berkuliah, dia memberikan pesan untuk generasi muda: berkuliahlah. Ubah lingkungan hidup Anda. Terjunlah dalam suasana baru dan asing sekali pun. “Pergi ke kampus baru yang harus melintasi Samudra Pasifik — 2.336 mil jauhnya— adalah pengalaman yang diperluas, mengasyikkan, dan menyenangkan, yang mengajari saya banyak hal pelajaran penting,” tegasnya.

Di kampus inilah dia memiliki teman akrab, karena sama-sama memiliki hobi otomotif. Guy Kawasaki memiliki kesukaan terhadap mobil sejak remaja, hal yang di masa depan membuat dia didaulat sebagai brand ambassador untuk pabrikan mobil Mercedes Benz di Amerika Serikat.

Teman akrabnya itu bernama Mike Boich, yang kemudian menjadi evangelist atau “penginjil” perangkat lunak dari Divisi Macintosh Apple. Kenangnya, “Sepuluh tahun kemudian, Boich yang mempekerjakan saya di Apple, dan itulah karier teknologi saya melejit ke tataran yang lebih tinggi.”

Karier menulisnya

Karya-karya Guy Kawasaki antara lain The Art of the Start, The Art of the Start 2.0, The Art of Social Media, APE: Author, Publisher, Entrepreneur, Enchantment, What the Plus!, The Macintosh Way, Reality Check, How to Drive Your Competition Crazy, Rules for Revolutionaries, Selling the Dream, Hindsights, The Computer Curmudgeon, dan Database 101.

Untuk generasi muda yang tergerak mengikuti jejak sukses karier menulisnya dia merekomendasikan untuk membaca buku If You Want to Write karya  Brenda Ueland, guru besar kepenulisan dari University of Minnesota. “Saya sudah merekomendasikan buku itu selama tiga puluh tahun. Ribuan orang membacanya karena rekomendasi saya, dan tidak ada yang memberi saya  umpan balik yang negatif. Intinya adalah bahwa jika Anda ingin menulis, jangan dengarkan kritik dan penentang — terutama kritik dan penentangan dari diri internal Anda,” nasehatnya.

Sambungnya lagi : “Menulislah! Anda tidak perlu pelatihan, izin, atau persetujuan. Menulislah! Buku If You Want to Write telah memberdayakan saya untuk berpikir secara bebas, kreatif, dan berani. Meskipun saya bukan "penulis" dalam pikiran siapa pun, termasuk saya sendiri, semangat itu saya aktifkan ketika saya menulis buku pertama saya, The Macintosh Way. Buku tersebut membantu saya menjadi seorang penulis dengan menghilangkan batasan yang saya tempatkan pada diri saya sendiri !”

Menurutnya, dampak buku tersebut  jauh melampaui untuk karier menulisnya. Karena juga  memengaruhi pendekatan diri seorang Guy Kawasaki terhadap kehidupan. Judulnya  memang If You Want to Write  (Jika Anda Ingin Menulis), tetapi menurutnya Anda dapat menggantikan setiap upaya kreatif dan sebagian besar profesi untuk kata "menulis" tersebut.

Misalnya, jika Anda ingin mengembangkan perangkat lunak, jika Anda ingin memulai sebuah perusahaan, jika Anda ingin membuat film, jika Anda ingin melukis, jika Anda ingin bermain musik. Jika Anda ingin melakukan hampir apa pun. Simpul dia, “Saya adalah bukti nyata bahwa buku ini dapat mengubah kehidupan seseorang.”

Terima kasih, Guy Kawasaki, saya telah bisa terpapar untuk bisa membaca buku karyamu Wise Guy yang hebat ini. Terima kasih.

Wonogiri, Indonesia, 190224

Buku ini dapat dibeli di Amazon.

No comments:

Post a Comment