![]() |
| Panelis Diskusi Buku B.N. Wahju Panelis diskusi (ki-ka) : Djoko Daryanto, Emil Salim, Ny. Soffie Wahju, Kuntoro Mangkusubroto,Tony Wenas dan Ratih Poeradisastra (penulis) Prof. Dr. Emil Salim, yang merupakan sahabat dari B.N. Wahju berbagi cerita mengenai visi sang tokoh dalam membangun perusahaan pertambangan dengan memperhatikan lingkungan hidup. Dia didampingi ibu Soffie Wahju dan Prof.Dr. Kuntoro Mangkusubroto. Berselfie bersama Bapak Emil Salim Berfoto bersama Bapak Tony Wenas, Sekretaris Jenderal Indonesian Mining Association (IMA). Bagi pencinta musik, Tony adalah leader band Solid 80 dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Kampusnya bertetangga dengan kampus saya, yakni Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Buku kedua kita. Meminjam istilah bis, kami berdua, Ratih Poeradisastra dan saya ibarat bis AKAP, antarkota antarprovinsi. Ratih tinggal di Jakarta dan saya tinggal di Wonogiri. Syukurlah, difasilitasi oleh Internet, kami bisa bekerjasama dalam penulisan buku biografi ini. Sebelumnya, kami telah menulis biografi tokoh pertambangan lainnya, Soetaryo Sigit (2016). |
Showing posts with label biografi soetaryo sigit. Show all posts
Showing posts with label biografi soetaryo sigit. Show all posts
Tuesday, January 22, 2019
Peluncuran Buku Karyaku: Biografi B.N. Wahju (Album Foto)
Thursday, December 27, 2018
Freeport dan Dinamika Mutakhir Dunia Pertambangan Indonesia
Oleh : Bambang Haryanto
Orang memperoleh mimpi agar kencing di kebun. Lalu ketika merasa enak, tempat bekas kencingnya itu dicangkul, lalu keluarlah dari dalam bumi harta karun : minyak, batubara, emas, nikel, tembaga dan barang tambang yang lain. Karena dia tidak bisa mengelola, ia diamkan saja harta karun itu sampai dirinya mampu mengeksploitasinya.
Cerita di atas hanya fiksi. Tetapi seorang Amien Rais ketika berbicara tentang Freeport di awal-awal reformasi dulu, juga berpendapat begitu. Dengan semangat nasionalisme, dia ingin Freeport dinasionalisasi. Lalu tambang itu menurutnya sebaiknya didiamkan saja dulu sampai bangsa Indonesia memiliki kemampuan untuk mengelolanya.
Orang tambang membalas : Harta karun pertambangan itu tidak sama dengan uang di bank. Uang di bank walau didiamkan mampu menghasilkan bunga, tetapi tambang yang dibiarkan tidak akan menghasilkan apa-apa. Tambang harus dikelola dulu agar menghasilkan, dan bila sesuatu bangsa belum mampu, dapat bekerja sama dengan fihak lain.
Pilihan melakukan kerja sama seperti itu tidak hanya eksklusif oleh bangsa Indonesia. Tetapi hampir semua negara berkembang yang memiliki SDA juga melakukan hal yang sama. Mereka bahkan berlomba-lomba agar mampu menarik investasi untuk kemakmuran negara masing-masing.
Mengapa mereka mengundang investor asing ? Karena sesuatu negara yang berambisi mampu secara mandiri mengelola pertambangannya sendiri membutuhkan 5 M, yang meliputi : man, management, money, machine dan material. Kilas balik, di tahun 1967 saat Freeport masuk, Indonesia hanya punya material, tambang. Apakah lalu negara maju atau pebisnis tambang tersebut mau secara cuma-cuma dan berbaik hati memberikan 4 M lainnya kepada Indonesia ?
Jelas tidak. Mereka pebisnis yang motifnya adalah mencari untung, kalau bisa ya sebanyak-banyaknya. Maka pemerintah saat itu menerbitkan Kontrak Karya (KK) sebagai payung hukum yang berusaha win-win pada kedua belah fihak. Baik bagi investor pertambangan mau pun pemerintah Republik Indonesia. Setiap kali KK itu direvisi dalam beberapa generasi, dengan tujuan agar Indonesia semakin memperoleh lebih banyak manfaat.
Pemerintah kini, dengan merujuk UU Minerba, sedang melakukan negosiasi lagi dengan Freeport. Tujuannya, agar usaha pertambangan itu mampu menghadirkan kemakmuran sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia. Sekarang telah menjadi kenyataan, Indonesia jadi pemegang saham mayoritas.
Bersama Ratih Poeradisastra saya merasa beruntung bisa sedikit tahu seluk-beluk dunia pertambangan Indonesia ketika menulis biografi tokoh sentral sejarah pertambangan Indonesia, alm Bapak Soetaryo Sigit.
Berjudul : Soetaryo Sigit : Membangun Pertambangan Untuk Kemakmuran Indonesia (Kepustakaan Populer Gramedia, 2016)
Orang memperoleh mimpi agar kencing di kebun. Lalu ketika merasa enak, tempat bekas kencingnya itu dicangkul, lalu keluarlah dari dalam bumi harta karun : minyak, batubara, emas, nikel, tembaga dan barang tambang yang lain. Karena dia tidak bisa mengelola, ia diamkan saja harta karun itu sampai dirinya mampu mengeksploitasinya.
Cerita di atas hanya fiksi. Tetapi seorang Amien Rais ketika berbicara tentang Freeport di awal-awal reformasi dulu, juga berpendapat begitu. Dengan semangat nasionalisme, dia ingin Freeport dinasionalisasi. Lalu tambang itu menurutnya sebaiknya didiamkan saja dulu sampai bangsa Indonesia memiliki kemampuan untuk mengelolanya.
Orang tambang membalas : Harta karun pertambangan itu tidak sama dengan uang di bank. Uang di bank walau didiamkan mampu menghasilkan bunga, tetapi tambang yang dibiarkan tidak akan menghasilkan apa-apa. Tambang harus dikelola dulu agar menghasilkan, dan bila sesuatu bangsa belum mampu, dapat bekerja sama dengan fihak lain.
Pilihan melakukan kerja sama seperti itu tidak hanya eksklusif oleh bangsa Indonesia. Tetapi hampir semua negara berkembang yang memiliki SDA juga melakukan hal yang sama. Mereka bahkan berlomba-lomba agar mampu menarik investasi untuk kemakmuran negara masing-masing.
Mengapa mereka mengundang investor asing ? Karena sesuatu negara yang berambisi mampu secara mandiri mengelola pertambangannya sendiri membutuhkan 5 M, yang meliputi : man, management, money, machine dan material. Kilas balik, di tahun 1967 saat Freeport masuk, Indonesia hanya punya material, tambang. Apakah lalu negara maju atau pebisnis tambang tersebut mau secara cuma-cuma dan berbaik hati memberikan 4 M lainnya kepada Indonesia ?
Jelas tidak. Mereka pebisnis yang motifnya adalah mencari untung, kalau bisa ya sebanyak-banyaknya. Maka pemerintah saat itu menerbitkan Kontrak Karya (KK) sebagai payung hukum yang berusaha win-win pada kedua belah fihak. Baik bagi investor pertambangan mau pun pemerintah Republik Indonesia. Setiap kali KK itu direvisi dalam beberapa generasi, dengan tujuan agar Indonesia semakin memperoleh lebih banyak manfaat.
Pemerintah kini, dengan merujuk UU Minerba, sedang melakukan negosiasi lagi dengan Freeport. Tujuannya, agar usaha pertambangan itu mampu menghadirkan kemakmuran sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia. Sekarang telah menjadi kenyataan, Indonesia jadi pemegang saham mayoritas.
![]() |
| Penulis berpose bersama buku biografi tokoh pertambangan Soetaryo Sigit, di depan stand PT Freeport Indonesia dalam event Asia GeoSEA Congress and IAGI Annual Convention, 12 Oktober 2016 di Bandung. |
Berjudul : Soetaryo Sigit : Membangun Pertambangan Untuk Kemakmuran Indonesia (Kepustakaan Populer Gramedia, 2016)
Saturday, October 15, 2016
Connecting the Dots : Biografi Soetaryo Sigit dan Saya
Oleh : Bambang Haryanto
Istilah
connecting the dots tersebut saya kenal dari ujaran pendiri Apple yang legendaris, Steve Jobs. Yakni
ketika dirinya mengilas balik momen-momen penting dalam kehidupan yang telah
dia jalani selama ini.
Ketika dalam
proses penulisan buku biografi almarhum Soetaryo Sigit,ternyata saya juga
melakukan hal serupa. Selain memelajari ratusan dokumen tertulis yang dimiliki
keluarga, saya juga melakukan pengayaaan dengan menjelajah pelbagai
sumber-sumber informasi. Tugas yang asyik.
Beraksi seperti detektif.
Menggairahkan. Memacu adrenalin.
Beraksi seperti detektif.
Menggairahkan. Memacu adrenalin.
Latar
belakang pernah belajar ilmu perpustakaan ternyata memiliki nilai lebih dalam
menemukan informasi yang relevan. Sehingga akhirnya jalinan cerita yang
tersusun dalam biografi itu lebih menegas dalam menampilkan sosok Soetaryo
Sigit secara lebih rinci dan komprehensif.
"Riset
mas Bambang," demikian kata Hengky Hendro, menantu Soetaryo Sigit yang sejak awal
bersama Indria Sigit, istrinya, menjadi motor penulisan biografi ayahnya,
disebutnya, "membuat keluarga semakin tahu peran dan pemikiran Pak Sigit
dalam skala luas, yang selama ini tidak diketahui bahkan oleh keluarga
kami."
Di tengah
acara peluncuran buku itu di Hotel Trans Luxury, Bandung, 12/10/2016, saya
berbesar hati memperoleh ucapan itu. Apalagi di tengah acara bergengsinya kaum
geologiwan Asia Tenggara saat itu : Luncheon Talk GeoSEA Congress and IAGI
Annual Convention. Saya tuliskan cerita ini, dengan harapan semoga penghargaan
tersebut dapat menjadi pendorong moral bagi sejawat pustakawan.
Untuk
berbangga dan lebih percaya diri betapa ilmunya mampu bermanfaat, ketika pun
dipraktekkan di luar gedung-gedung perpustakaan. Termasuk merasa berharga
ketika kalangan geologiwan antri meminta tanda tangan penulis yang berlatar
belakang pendidikan ilmu perpustakaan ini.
Potongan isi
buku :
"Karena
reputasinya sebagai teknokrat yang sangat berpengalaman dan jujur, maka suara
Pak Sigit tetap didengarkan oleh Menteri Pertambangan." (Prof. M. Sadli,
Menteri Pertambangan 1973-1978).
"Tingkat
perkembangan dan kemajuan pertambangan di suatu negara bukan terutama
ditentukan oleh potensi sumber daya mineralnya, betapa pun kayanya, melainkan
lebih banyak bergantung pada kebijakan pemerintah yang berkuasa dalam
menciptakan iklim usaha yang diperlukan. " (Soetaryo Sigit).
"Karena
evolusi perumbuhannya yang begitu rumit serta potensi mineralnya yang demikian
beragam, maka bumi Indonesia akan tetap menjadi sasaran yang menarik bagi
kajian dan eksplorasi geologi. Berbahagialah para geologiwan yang berkesempatan
menekuni profesi mereka di tanah air tercinta ini. " (Soetaryo Sigit).
"Semoga
buku ini dapat memberi pemahaman yang lebih jelas mengenai dunia pertambangan
Indonesia dan seorang Soetaryo Sigit yang berusaha membangun pertambangan untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia."
Jakarta,
Agustus 2015
Ratih Poeradisastra
Bambang Haryanto
Ratih Poeradisastra
Bambang Haryanto
Data buku :
Soetaryo Sigit : Membangun Pertambangan Untuk Kemakmuran Indonesia. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia,2016. 706 hal. ISBN :978-602-424-183-4.
Soetaryo Sigit : Membangun Pertambangan Untuk Kemakmuran Indonesia. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia,2016. 706 hal. ISBN :978-602-424-183-4.
Subscribe to:
Comments (Atom)











