Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
“Jangan lupa, Mas Bambang.
Knowledge Management.”
Demikian tutur Tika Bisono (foto) malam itu, ketika menyalami diri saya. Lokasi : Flores Room, Hotel Borobudur, Kamis malam, 26 November 2004. Acara Malam Penganugerahan Pemenang Kontes Mandom Resolution Award 2004.
Psikolog, entertainer sekaligus salah satu juri dari Mandom Resolution Award (MRA) 2004 tersebut telah pula menyumbang lagu “Killing Me Softly With His Song”-nya Roberta Flack, yang menghangatkan acara sebelum diumumkan siapa-siapa para pemenang MRA 2004 malam itu. Diri saya adalah salah satunya.
Knowledge Management (KM) adalah kosakata yang terlontar spontan dari Tika Bisono, di ruang presentasi, ketika penjurian sedang berlangsung.
Ia mengomentari resolusi yang saya ajukan, dimana sebagai penggagas komunitas kaum epistoholik atau para penulis surat pembaca, saya bercita-cita menghimpun pengetahuan warga komunitas Epistoholik Indonesia dalam situs-situs blog di Internet. Tujuannya, agar pengetahuan itu dapat dimanfaatkan secara meluas oleh masyarakat, bahkan mendunia.
“Ini ilmu baru, Mas Bambang. Nanti di luar, kita bisa bicara hal ini lebih banyak”, imbuh Tika saat itu.
Ilmu baru ?
Jadi di MRA 2004 ini saya sukses “menemukan” ilmu baru ? Resolusi saya tersebut sebenarnya merupakan variasi lain dari kiprah perpustakaan. Yaitu menghimpun informasi, mengorganisasikan dan kemudian menyebarkannya. Yang mungkin membedakan, KM memperoleh sarana bantu secara masif teknologi informasi dan aplikasinya cenderung pada lingkup perusahaan.
Ahli itu kita sendiri. Yang pasti, setahu saya, KM memiliki aneka wajah. Thomas A. Stewart, wartawan senior majalah bisnis Fortune, penulis buku Intellectual Capital : The New Wealth of Organization (DoubleDay, 1997) dan salah satu pionir kajian KM, punya cerita menarik yang dimuat di majalah bisnis Fortune, 29/9/1997.
Ia telah menceritakan bagaimana cara raksasa pabrik traktor Deere & Co. mendayagunakan keahlian para karyawannya. Dengan langkah awal, melakukan inventarisasi.
Kalau direktori atau buku daftar alamat sesuatu perusahaan yang biasa hanya berisi data karyawan berdasar peringkatnya dalam struktur organisasi, maka direktori yang sudah terkomputerisasi di Deere ini agak lain. Dengan sebutan “People Who Know”, sistem ini mampu menjawab pertanyaan tentang keahlian tertentu yang dimiliki para karyawan yang dibutuhkan untuk menemukan solusi atau menjalankan sesuatu proyek pekerjaan.
Jadi kalau di jaman awal industrialisasi ada masalah dalam pabrik telah membuat begawan manajemen masa lalu Frederick Winslow Taylor bersabda, “biarlah para ahli yang membereskannya”, maka rumus solusi di jaman sekarang adalah, “para ahli itu sudah tersedia, mereka adalah kita-kita !”
Ada cerita menarik lainnya tentang KM. Ketika tim pengembangan mobil baru pada Ford Motor Company ingin mempelajari mengapa kerja tim pengembang mobil model Taurus meraih sukses di pasaran, mereka mengalami jalan buntu. Tak ada orang yang mampu memberitahu mereka. Tak ada yang ingat dan tak ada pula yang mencatat kerja sukses tim tersebut.
Akibatnya fatal : pengetahuan yang diperoleh Ford Motor Company selama mengerjakan proyek Taurus telah hilang selamanya.
Kejadian ini membuka mata bahwa aset terpenting suatu perusahaan yang paling sukar difahami dan paling sulit dikelola adalah pengetahuan. Belajar bagaimana mengidentifikasi, mengelola dan menumbuhsuburkan pengetahuan merupakan kiprah vital sesuatu perusahaan yang berniat memenangkan kompetisi dalam ekonomi global yang bergerak cepat dewasa ini.
Meremajakan ular. Meneladani kiprah pabrik traktor Deere & Co. itu, hal serupa selayaknya juga bisa diaplikasikan pada beragam perpustakaan di Indonesia. Para pustakawan kita, baik dengan melakukan self-assessment secara mandiri atau melalui bantuan kalangan psikolog, untuk mampu melakukan ekstraksi atas beragam kemampuan diri mereka yang selama ini tersembunyi. Juga terhadap klien-klien perpustakaan mereka.
Sudah saatnya keterampilan tradisional yang lajim dimiliki seorang pustakawan kini harus diperkaya dengan beragam daftar kecenderungan, minat atau hobi mereka, yang dapat disinergikan dengan minat-minat yang terdapat dalam klien mereka. Interaksi ini akan semakin menghangatkan hubungan antara pustakawan dengan klien yang selama ini hanya dijalin dalam hubungan transaksi yang dingin dan fungsional, yang jauh dari sentuhan-sentuhan pribadi dan emosi.
Dalam konteks yang lebih sempit, inilah salah satu alasan mengapa saya usulkan agar perpustakaan (umum) buka di hari Minggu. Kalau hari-hari kerja biasa, teorinya, hanya berlangsung kontak dengan klien secara fungsional, maka di hari Minggu para pustakawan dapat berinteraksi dengan mereka sebagai seorang pribadi yang memiliki sesuatu wawasan sampai keterampilan, di luar keterampilan tradisionalnya, untuk meng-engage klien perpustakaan dalam kegiatan bersama yang bermanfaat bagi semua fihak.
Ibaratnya dalam bahasa ular, setiap hari Minggu itu pustakawan dapat berganti kulit mereka. Mudah-mudahan Anda juga tahu bahwa ular yang berganti kulit adalah ular yang sedang melakukan peremajaan bagi dirinya sendiri.
Masa sih, anjuran agar pustakawan selalu bisa awet muda akan Anda tolak ?
Wonogiri, 17 Februari 2012
Friday, February 17, 2012
Sunday, January 15, 2012
Fire Up, Endorphins dan Epistoholik
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Candu pena. "Keuntungan apa yang sudah diterima dari kegemaran menulis surat-surat pembaca ?"
Itulah salah satu dari sebelas butir pertanyaan yang diajukan oleh A. Bimo Wijoseno, reporter majalah Intisari, yang dikirimkan melalui e-mail, April 2004 yang lalu.
Saya jawab, bahwa seperti halnya hobi lainnya, the reward is in the doing.
Pahala, berkah atau keuntungan itu kita nikmati ketika kita mengerjakannya. Yaitu ketika menulis surat-surat pembaca itu pula.
Menyelesaikan sebuah surat pembaca nikmatnya setara saat kita usai berolah raga. Yaitu ketika otak kecil kita mengeluarkan endorphins atau encephalins (morfin alamiah, pain-relieving substances yang dikeluarkan oleh otak) yang memberikan rasa nikmat, segar, sejahtera dan diimbuhi perasaan berguna bagi orang lain (pembaca).
Tak mudah lupa. Terlebih lagi, aktivitas menulis itu juga punya berkah otomatis lainnya : ilmu atau pengetahuan yang baru kita tuliskan itu segera semakin melekat untuk menjadi milik pribadi kita. Pengetahuan itu lebih dalam membekas pada memori kita, dibanding bila kita hanya membacanya.
Thomas L. Madden dalam bukunya F.I.R.E – U.P. Your Learning : Bangkitkan Semangat Belajar Anda – Petunjuk Belajar Yang Dipercepat Untuk Usia 12 Tahun Keatas (Gramedia, 2002), memberi petunjuk hebat : gunakan segera pengetahuan baru Anda itu agar tidak mudah lupa.
Gunakan pula info yang sama melalui cara yang berbeda-beda.
Sebab semakin variatif pemanfaatannya akan semakin banyak tercipta koneksi dalam otak kita yang semakin memudahkan kita bila diperlukan untuk mengingatnya kembali.
Apalagi bila tulisan kita itu bisa dimuat, dipublikasikan, muncul kenikmatan ekstra lainnya. Semua itu, terentang dari aktivitas membaca, menulis dan menikmati publikasi, ibaratnya berpadu menjadi candu yang teramat mengasyikkan.
Bukankah novelis Perancis, Stendhal (1783-1842), telah berujar bahwa : for those who have tasted the profound activity of writing, reading is no more than a secondary pleasure ?
Wonogiri, 16/1/2012
Email : humorliner (at) yahoo.com
Candu pena. "Keuntungan apa yang sudah diterima dari kegemaran menulis surat-surat pembaca ?"
Itulah salah satu dari sebelas butir pertanyaan yang diajukan oleh A. Bimo Wijoseno, reporter majalah Intisari, yang dikirimkan melalui e-mail, April 2004 yang lalu.
Saya jawab, bahwa seperti halnya hobi lainnya, the reward is in the doing.
Pahala, berkah atau keuntungan itu kita nikmati ketika kita mengerjakannya. Yaitu ketika menulis surat-surat pembaca itu pula.
Menyelesaikan sebuah surat pembaca nikmatnya setara saat kita usai berolah raga. Yaitu ketika otak kecil kita mengeluarkan endorphins atau encephalins (morfin alamiah, pain-relieving substances yang dikeluarkan oleh otak) yang memberikan rasa nikmat, segar, sejahtera dan diimbuhi perasaan berguna bagi orang lain (pembaca).
Tak mudah lupa. Terlebih lagi, aktivitas menulis itu juga punya berkah otomatis lainnya : ilmu atau pengetahuan yang baru kita tuliskan itu segera semakin melekat untuk menjadi milik pribadi kita. Pengetahuan itu lebih dalam membekas pada memori kita, dibanding bila kita hanya membacanya.
Thomas L. Madden dalam bukunya F.I.R.E – U.P. Your Learning : Bangkitkan Semangat Belajar Anda – Petunjuk Belajar Yang Dipercepat Untuk Usia 12 Tahun Keatas (Gramedia, 2002), memberi petunjuk hebat : gunakan segera pengetahuan baru Anda itu agar tidak mudah lupa.
Gunakan pula info yang sama melalui cara yang berbeda-beda.
Sebab semakin variatif pemanfaatannya akan semakin banyak tercipta koneksi dalam otak kita yang semakin memudahkan kita bila diperlukan untuk mengingatnya kembali.
Apalagi bila tulisan kita itu bisa dimuat, dipublikasikan, muncul kenikmatan ekstra lainnya. Semua itu, terentang dari aktivitas membaca, menulis dan menikmati publikasi, ibaratnya berpadu menjadi candu yang teramat mengasyikkan.
Bukankah novelis Perancis, Stendhal (1783-1842), telah berujar bahwa : for those who have tasted the profound activity of writing, reading is no more than a secondary pleasure ?
Wonogiri, 16/1/2012
Wednesday, January 04, 2012
Marshall McLuhan, Murtidjono dan Mandungan
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Cerita lucu dari Marshall McLuhan tidak berlaku di Taman Budaya Surakarta siang itu.
Cerita tersebut bersumber dari buku terkenalnya Understanding Media : The Extensions of Man (1965).
Buku ini saya beli dari Toko Buku Gramedia Gajah Mada Jakarta, 25 Mei 1977. Via pos dari Mandungan. Hasil honor menulis di koran Merdeka, Minggu, Februari 1977.
Nabi media asal Kanada ini pernah cerita tentang suku buta huruf asal Afrika ketika ramai-ramai menonton film.
Karena memahami cerita dalam film dibutuhkan keterampilan literasi yang tinggi, film bagi suku Afrika film menjadi tontonan yang membingungkan mereka. Adegan lucu pun terjadi.
Ketika ada tokoh yang kena tonjok dalam sesuatu adegan, lalu menghilang dari layar, muncul kehebohan. Para penonton asal benua hitam itu akan ramai-ramai berlarian ke belakang layar. Mereka ingin mengetahui nasib aktor tersebut.
“Menyaksikan filmnya Charlie Chaplin, The Tramp, penonton film Afrika menyimpulkan bahwa orang-orang Eropa itu tukang sihir hebat. Karena mereka mampu menghidupkan mahkluk-makhluk yang telah meninggal dunia,” demikian cerita McLuhan.
Film tentang seseorang yang telah meninggal juga ditayangkan di siang teduh, Rabu, 4 Januari 2012, di Taman Budaya Surakarta, Solo. Taman ini kemudian bernama Taman Budaya Jawa Tengah.
Saya ikut menonton adegan yang tersaji. Sayangnya dalam layar yang pucat, karena lumens proyektornya tidak mampu menyaingi sinar matahari pendopo besar tersebut.
Mandi di Sasonomulyo. Seseorang yang meninggal itu bernama lengkap Drs. Martinus Joseph Murtidjono (61). Nama gelarnya dari Kraton Surakarta : Kanjeng Raden Tumenggung Sudjonopuro. Tahun 1975-1980, di Sanggar Mandungan Muka Kraton Surakarta, saya mengenalnya sebagai Eyang Murti.
“Murti baru belakangan gabung di Mandungan,” tutur Sudarto (76), pegawai Pusat Kebudayaan Jawa Tengah (PKJT) Sasonomulyo era 70-an yang kini masih bekerja di ISI Surakarta. Saat itu pria kurus asal Mangkubumen Solo tersebut, yang memiliki kulit kehitaman yang terkenal dengan ciri syal yang selalu melingkari lehernya, menjelang lulus kuliah di Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada.
“Kalau Murti datang dari Yogya,” lanjut Mas Darto, “pasti nginepnya juga di Mandungan. Kalau pagi, bawa ciduk isi sabun, sikat gigi dan odol, untuk menumpang mandi di Sasonomulyo.” Di Mandungan, yang saya ingat, ia sering membawa mesin tulis. Flute. Memainkan gitar, nomornya Villa Lobos. Naiknya Yamaha bebek hijau.
Ia juga memberi saya bacaan menarik. Himpunan guntingan cerita bersambung dari harian Kompas yang dilanggan oleh ayahnya, tokoh Tentara Pelajar (TP) yang terkenal di Solo : Mardeyo Jungkung.
Antara lain cerita thriller, saya lupa judulnya, tentang agen rahasia Perancis yang berusaha membongkar kudeta merangkak yang dilakukan justru oleh presiden Perancis yang ingin menjadi satelit Uni Sovyet di masa perang dingin. Juga cerita berjudul Salamander yang menegangkan.
Minatnya terhadap thriller kiranya yang juga membuat Murtidjono tak jarang berbagi cerita dengan saya. Ia suka sinis atau getol melucukan cerita-cerita perjuangan fisik tokoh-tokoh seangkatan ayahnya saat mereka berperang melawan Belanda. Utamanya untuk cerita-cerita yang menurutnya fiktif, rekaan atau yang bombastis.
Ketika mengintip sebagian buku yang ia bawa ke Mandungan, antara lain saya menemui nama Søren Kierkegaard sampai Teilhard de Chardin. Sebagai mahasiswa Fakutas Keguruan Teknik (FKT) Jurusan Mesin UNS, yang terbius ikut berkesenian di Mandungan, saya tidak ngeh atas nama-nama itu. Bahkan sampai kini.
Tetapi pertarungan intelektual antara kita, yang menarik dan bikin kecanduan sehingga berlangsung hampir tiap malam, adalah saat kami bertanding main scrabble. Benar-benar malam demi malam Mandungan sering sama-sama kita habiskan.
Kompetitornya bukan main-main. Ada Profesor HB Sutopo (almarhum), Conny Suprapto, Marsudi, Broto Dompu (Ekonomi UGM), juga Narsen Afatara yang kandidat doktor dan dosen Seni Rupa UNS. Saat ketemuan di Taman Budaya Surakarta tadi Cak Narsen mengaku sambil tertawa : “Saya dulu bagian yang kalahan.”
Saya kena marah. Sekadar kilas balik, satu-satunya action dia yang rada “nylekit” pada saya adalah saat saya ia pinjami ensiklopedia.Lalu saya baca sambil tiduran. Tentu saja, saat tidur halaman dalam ensiklopedia itu kemudian saya tutupkan ke muka saya.
Saya lalu rada dimarahi olehnya. Karena menurutnya kertas ensiklopedia itu akan terkotori dan rusak oleh keringat jidat saya. Betul juga. Mungkin justru karena teguran itulah, saya dapat hikmah. Pada tahun 1980 kami berpisah. Saya malah melanjutkan kuliah di Jakarta yang mata kuliah intinya tentang teknik dan organisasi bahan pustaka (termasuk buku, juga ensiklopedia), di Jurusan Ilmu Perpustakaan Fak. Sastra Universitas Indonesia.
Bisa ketemu lagi dengan Eyang Murti, tanggal 9 Desember 1982, di Pemakaman Kajen, Wonogiri.Tidak saya duga, dirinya bersama Anang Syahroni, Putut Handoko Pramono dan Wahyu Sukirno, ikut melayat saat ayah saya Kastanto Hendrowiharso (54) meninggal dunia.
Saat saya tinggal di Jakarta, beberapa kali kami bertukar surat dan kartupos. Ketika dirinya diangkat sebagai Kepala TBS dan saat ayahnya meninggal dunia. Murtidjono pernah pula mampir ke kos saya di Rawamangun, sekitar tahun 1982. Saat itu saya menjual buklet tipis berisi artikel Harold Rosenberg, berjudul "Apa itu seni ?." Murti nampak agak kecewa, karena mungkin ia mengharapkan buku yang tebal. Sementara buklet itu hanya belasan halaman saja.
Di tahun 2007, saat membaca-baca koran Solopos yang mewartakan bahwa Pak Topo dan Eyang Murti pensiun, saya telah menulis kenangan di blog saya. Berkat tulisan itu pula saya bisa kontak lagi dengan Murti.
Lewat email, sms dan Facebook, kami pun berhubungan. Juga saat Murti dirawat di Rumah Sakit Brayat Minulyo. Saya baru tahu belakangan ia sakit leukemia. Ini penyakit seniman yang lebih elit, cetus sahabatnya, Efix Mulyadi. Saat itu Murti via sms mengatakan “telah diperbolehkan pulang, jangan kuatir.”
Jalan kebudayaan. Mas Darto, Mas Ardus, Agustinus Sumargo, Basnendar, Budi, Hajar Satoto (diatas kursi roda), Cak Narsen, Prof. Darsono, Anang Syahroni, Gunarni, Harsoyo, Listyawati, Mayor Haristanto, Niken, Prof. Rustopo, Yantono, saya dan ribuan warga komunitas seniman Jawa Tengah dan DIY, siang itu bisa dipersatukan kembali dalam satu situasi yang sama. Sama-sama merasa kehilangan atas wafatnya Murtidjono.
“Saya pribadi harus berterima kasih kepada Mas Murti, karena dirinya telah mempertemukan saya dengan para raksasa seniman hebat yang berkiprah di Solo,” kata Halim HD, networker kebudayaan yang mengenal almarhum sejak 40-an tahun yang lalu.
“Kami sama-sama kuliah di Filsafat UGM, satu tahun tidak pernah ketemu di kampus. Tetapi ketemuannya di jalan kebudayaan. Termasuk ketika di tahun 1978 Mas Murti mengundang saya ke Solo. Ketika itu Mas Murti sedang membidani embrio Taman Budaya Surakarta,” cetus Halim HD dalam orasi yang sangat emosional.
Sejak itu, dalam hitungan masa 26 tahun, lanjutnya, Murtidjono ia sebut telah berhasil membangun fondasi yang kemudian memunculkan Taman Budaya Surakarta sebagai “rumahnya seniman, rumahnya rakyat, sekaligus rumahnya kebudayaan rakyat.”
Kontroversial. Film yang menggambarkan sebagian fragmen kehidupan Murtidjono itu saya lihat dari arah belakang layar. Seperti saat kita menonton wayang.
Tak ada narasi dalam film itu. Karena narasi yang mendominasi saat itu adalah urutan upacara penyerahan jenazah dari fihak keluarga kepada fihak Taman Budaya Jawa Tengah. Disusul upacara keagamaan secara Katholik. Ucapan belasungkawa dari kalangan seniman, termasuk dari seniman Yogyakarta yang diwakili Landung Simatupang. Pembacaan riwayat hidup Murtidjono hingga doa pemberangkatan.
Di film itu nampak Murti sedang berpidato yang didampingi istrinya, Ningsri Sadiarti. Saya baru tahu saat itu, ia adiknya Bambang Sumantri yang teman kuliah saya di FKT-UNS, Jurusan Mesin.
Pasangan Murti-Ningsri di film itu nampak ceria. Banyak senyum. Sepertinya Murti sedang memuji atau berbagi cerita lucu tentang istrinya kepada audien.
Adegan yang memikat kemudian adalah saat Murti mencium pipi istrinya. Adegan pasangan suami-istri yang dikaruniai putra-putri Gernatatiti (menantu Panji Nugroho), Bramwasdanto dan Oki Nandhi Wardhana sangat mengesankan. Membahagiakan.
Tetapi adegan film berikutnya bagi saya kontroversial. Ada deretan bapak dan ibu, sepertinya semuanya pegawai negeri. Mereka semuanya nampak berpakaian resmi, berlaku takjim dan bahkan dengan gesture menunduk-nunduk. Mereka berbaris berurutan untuk bersalaman dengan Eyang Murti yang didampingi istrinya.
Mungkin ini acara halal-bihalal. Atau peringatan ulang tahun dirinya. Tetapi Murtijono saat itu tampil tanpa jas. Juga bukan berbaju batik. Melainkan hanya dengan kaos warna hitam. Bahkan tanpa lengan. Seperti foto dalam profil pribadinya di akun Facebook (foto).
“Kontroversial. Itulah kakak saya itu,” demikian awal pidato dari fihak keluarga yang berduka. “Dalam pertemuan keluarga, baik eyang sampai orang tua kami, kalau ada sesuatu yang menurut kakak saya dianggap keliru, ia akan mengritiknya. Tetapi sebenarnya, di balik itu ada keinginan yang baik, untuk menuju sesuatu yang lebih baik.”
Cerita satu ini mengingatkan saya komentar seorang nara sumber dalam acara balap mobil F-1 di televisi ketika mengobrolkan sosok pembalap F-1 dari tim Scuderia-Ferrari, Fernando Alonso.
Komentator itu bilang, “kalau pembalap bagus, sebagian besar orang menyukainya. Tetapi bagi pembalap yang hebat, pasti ada sebagian yang menyukai dan sebagian lain membencinya.” Mungkin itu pula profil sosok seorang sahabat yang bernama Murtidjono.
Adios, amigo. Siang itu, jam 11.13, mobil jenazah PDIP Surakarta yang bagian belakangnya ada fotonya Jokowi-Rudi, berangkat meninggalkan pendopo Taman Budaya Jawa Tengah. Membawa peti jenazah rekan saya yang sesama aktivis di Mandungan, di masa-masa muda dulu.Makam keluarga Njithengan-Kayangan, Karangpandan, Karanganyar, kini menjadi tempat istirahatnya yang abadi.
Film tentang Murtidjono sebagai insan, sebagai seniman, juga tentang hidup kita atau mereka yang pernah bersentuhan dengan dirinya, baik yang suka atau yang benci, semoga akan tetap tertayang di layar kehidupan kita masing-masing.
Demikianlah siang itu akhirnya film tentang sobat saya Murtidjono selesai ditayangkan. Layar pucat itu kembali putih bersih. Ketika sosoknya hilang dari layar, tidak seperti perilaku suku Afrika dalam kisah McLuhan, saya tidak mencari-cari dirinya ke balik layar.
Karena saya sudah ada di sana. Di balik layar. Sambil merangkai kenangan yang berkelebatan di benak tentang dirinya. Saya mengharapkan sobat Murtidjono kini sudah berada di tempat lain, di tempat yang paling enak.
Paling baik dari yang terbaik.
Di sisi Sang Khalik.
Selamat jalan, sahabat.
Sugeng tindak, Eyang Murti.
Wonogiri, 4 Januari 2012
Email : humorliner (at) yahoo.com
Cerita lucu dari Marshall McLuhan tidak berlaku di Taman Budaya Surakarta siang itu.
Cerita tersebut bersumber dari buku terkenalnya Understanding Media : The Extensions of Man (1965).
Buku ini saya beli dari Toko Buku Gramedia Gajah Mada Jakarta, 25 Mei 1977. Via pos dari Mandungan. Hasil honor menulis di koran Merdeka, Minggu, Februari 1977.
Nabi media asal Kanada ini pernah cerita tentang suku buta huruf asal Afrika ketika ramai-ramai menonton film.
Karena memahami cerita dalam film dibutuhkan keterampilan literasi yang tinggi, film bagi suku Afrika film menjadi tontonan yang membingungkan mereka. Adegan lucu pun terjadi.
Ketika ada tokoh yang kena tonjok dalam sesuatu adegan, lalu menghilang dari layar, muncul kehebohan. Para penonton asal benua hitam itu akan ramai-ramai berlarian ke belakang layar. Mereka ingin mengetahui nasib aktor tersebut.
“Menyaksikan filmnya Charlie Chaplin, The Tramp, penonton film Afrika menyimpulkan bahwa orang-orang Eropa itu tukang sihir hebat. Karena mereka mampu menghidupkan mahkluk-makhluk yang telah meninggal dunia,” demikian cerita McLuhan.
Film tentang seseorang yang telah meninggal juga ditayangkan di siang teduh, Rabu, 4 Januari 2012, di Taman Budaya Surakarta, Solo. Taman ini kemudian bernama Taman Budaya Jawa Tengah.
Saya ikut menonton adegan yang tersaji. Sayangnya dalam layar yang pucat, karena lumens proyektornya tidak mampu menyaingi sinar matahari pendopo besar tersebut.
Mandi di Sasonomulyo. Seseorang yang meninggal itu bernama lengkap Drs. Martinus Joseph Murtidjono (61). Nama gelarnya dari Kraton Surakarta : Kanjeng Raden Tumenggung Sudjonopuro. Tahun 1975-1980, di Sanggar Mandungan Muka Kraton Surakarta, saya mengenalnya sebagai Eyang Murti.
“Murti baru belakangan gabung di Mandungan,” tutur Sudarto (76), pegawai Pusat Kebudayaan Jawa Tengah (PKJT) Sasonomulyo era 70-an yang kini masih bekerja di ISI Surakarta. Saat itu pria kurus asal Mangkubumen Solo tersebut, yang memiliki kulit kehitaman yang terkenal dengan ciri syal yang selalu melingkari lehernya, menjelang lulus kuliah di Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada.
“Kalau Murti datang dari Yogya,” lanjut Mas Darto, “pasti nginepnya juga di Mandungan. Kalau pagi, bawa ciduk isi sabun, sikat gigi dan odol, untuk menumpang mandi di Sasonomulyo.” Di Mandungan, yang saya ingat, ia sering membawa mesin tulis. Flute. Memainkan gitar, nomornya Villa Lobos. Naiknya Yamaha bebek hijau.
Ia juga memberi saya bacaan menarik. Himpunan guntingan cerita bersambung dari harian Kompas yang dilanggan oleh ayahnya, tokoh Tentara Pelajar (TP) yang terkenal di Solo : Mardeyo Jungkung.
Antara lain cerita thriller, saya lupa judulnya, tentang agen rahasia Perancis yang berusaha membongkar kudeta merangkak yang dilakukan justru oleh presiden Perancis yang ingin menjadi satelit Uni Sovyet di masa perang dingin. Juga cerita berjudul Salamander yang menegangkan.
Minatnya terhadap thriller kiranya yang juga membuat Murtidjono tak jarang berbagi cerita dengan saya. Ia suka sinis atau getol melucukan cerita-cerita perjuangan fisik tokoh-tokoh seangkatan ayahnya saat mereka berperang melawan Belanda. Utamanya untuk cerita-cerita yang menurutnya fiktif, rekaan atau yang bombastis.
Ketika mengintip sebagian buku yang ia bawa ke Mandungan, antara lain saya menemui nama Søren Kierkegaard sampai Teilhard de Chardin. Sebagai mahasiswa Fakutas Keguruan Teknik (FKT) Jurusan Mesin UNS, yang terbius ikut berkesenian di Mandungan, saya tidak ngeh atas nama-nama itu. Bahkan sampai kini.
Tetapi pertarungan intelektual antara kita, yang menarik dan bikin kecanduan sehingga berlangsung hampir tiap malam, adalah saat kami bertanding main scrabble. Benar-benar malam demi malam Mandungan sering sama-sama kita habiskan.
Kompetitornya bukan main-main. Ada Profesor HB Sutopo (almarhum), Conny Suprapto, Marsudi, Broto Dompu (Ekonomi UGM), juga Narsen Afatara yang kandidat doktor dan dosen Seni Rupa UNS. Saat ketemuan di Taman Budaya Surakarta tadi Cak Narsen mengaku sambil tertawa : “Saya dulu bagian yang kalahan.”
Saya kena marah. Sekadar kilas balik, satu-satunya action dia yang rada “nylekit” pada saya adalah saat saya ia pinjami ensiklopedia.Lalu saya baca sambil tiduran. Tentu saja, saat tidur halaman dalam ensiklopedia itu kemudian saya tutupkan ke muka saya.
Saya lalu rada dimarahi olehnya. Karena menurutnya kertas ensiklopedia itu akan terkotori dan rusak oleh keringat jidat saya. Betul juga. Mungkin justru karena teguran itulah, saya dapat hikmah. Pada tahun 1980 kami berpisah. Saya malah melanjutkan kuliah di Jakarta yang mata kuliah intinya tentang teknik dan organisasi bahan pustaka (termasuk buku, juga ensiklopedia), di Jurusan Ilmu Perpustakaan Fak. Sastra Universitas Indonesia.
Bisa ketemu lagi dengan Eyang Murti, tanggal 9 Desember 1982, di Pemakaman Kajen, Wonogiri.Tidak saya duga, dirinya bersama Anang Syahroni, Putut Handoko Pramono dan Wahyu Sukirno, ikut melayat saat ayah saya Kastanto Hendrowiharso (54) meninggal dunia.
Saat saya tinggal di Jakarta, beberapa kali kami bertukar surat dan kartupos. Ketika dirinya diangkat sebagai Kepala TBS dan saat ayahnya meninggal dunia. Murtidjono pernah pula mampir ke kos saya di Rawamangun, sekitar tahun 1982. Saat itu saya menjual buklet tipis berisi artikel Harold Rosenberg, berjudul "Apa itu seni ?." Murti nampak agak kecewa, karena mungkin ia mengharapkan buku yang tebal. Sementara buklet itu hanya belasan halaman saja.
Di tahun 2007, saat membaca-baca koran Solopos yang mewartakan bahwa Pak Topo dan Eyang Murti pensiun, saya telah menulis kenangan di blog saya. Berkat tulisan itu pula saya bisa kontak lagi dengan Murti.
Lewat email, sms dan Facebook, kami pun berhubungan. Juga saat Murti dirawat di Rumah Sakit Brayat Minulyo. Saya baru tahu belakangan ia sakit leukemia. Ini penyakit seniman yang lebih elit, cetus sahabatnya, Efix Mulyadi. Saat itu Murti via sms mengatakan “telah diperbolehkan pulang, jangan kuatir.”
Jalan kebudayaan. Mas Darto, Mas Ardus, Agustinus Sumargo, Basnendar, Budi, Hajar Satoto (diatas kursi roda), Cak Narsen, Prof. Darsono, Anang Syahroni, Gunarni, Harsoyo, Listyawati, Mayor Haristanto, Niken, Prof. Rustopo, Yantono, saya dan ribuan warga komunitas seniman Jawa Tengah dan DIY, siang itu bisa dipersatukan kembali dalam satu situasi yang sama. Sama-sama merasa kehilangan atas wafatnya Murtidjono.
“Saya pribadi harus berterima kasih kepada Mas Murti, karena dirinya telah mempertemukan saya dengan para raksasa seniman hebat yang berkiprah di Solo,” kata Halim HD, networker kebudayaan yang mengenal almarhum sejak 40-an tahun yang lalu.
“Kami sama-sama kuliah di Filsafat UGM, satu tahun tidak pernah ketemu di kampus. Tetapi ketemuannya di jalan kebudayaan. Termasuk ketika di tahun 1978 Mas Murti mengundang saya ke Solo. Ketika itu Mas Murti sedang membidani embrio Taman Budaya Surakarta,” cetus Halim HD dalam orasi yang sangat emosional.
Sejak itu, dalam hitungan masa 26 tahun, lanjutnya, Murtidjono ia sebut telah berhasil membangun fondasi yang kemudian memunculkan Taman Budaya Surakarta sebagai “rumahnya seniman, rumahnya rakyat, sekaligus rumahnya kebudayaan rakyat.”
Kontroversial. Film yang menggambarkan sebagian fragmen kehidupan Murtidjono itu saya lihat dari arah belakang layar. Seperti saat kita menonton wayang. Tak ada narasi dalam film itu. Karena narasi yang mendominasi saat itu adalah urutan upacara penyerahan jenazah dari fihak keluarga kepada fihak Taman Budaya Jawa Tengah. Disusul upacara keagamaan secara Katholik. Ucapan belasungkawa dari kalangan seniman, termasuk dari seniman Yogyakarta yang diwakili Landung Simatupang. Pembacaan riwayat hidup Murtidjono hingga doa pemberangkatan.
Di film itu nampak Murti sedang berpidato yang didampingi istrinya, Ningsri Sadiarti. Saya baru tahu saat itu, ia adiknya Bambang Sumantri yang teman kuliah saya di FKT-UNS, Jurusan Mesin.
Pasangan Murti-Ningsri di film itu nampak ceria. Banyak senyum. Sepertinya Murti sedang memuji atau berbagi cerita lucu tentang istrinya kepada audien.
Adegan yang memikat kemudian adalah saat Murti mencium pipi istrinya. Adegan pasangan suami-istri yang dikaruniai putra-putri Gernatatiti (menantu Panji Nugroho), Bramwasdanto dan Oki Nandhi Wardhana sangat mengesankan. Membahagiakan.
Tetapi adegan film berikutnya bagi saya kontroversial. Ada deretan bapak dan ibu, sepertinya semuanya pegawai negeri. Mereka semuanya nampak berpakaian resmi, berlaku takjim dan bahkan dengan gesture menunduk-nunduk. Mereka berbaris berurutan untuk bersalaman dengan Eyang Murti yang didampingi istrinya.
Mungkin ini acara halal-bihalal. Atau peringatan ulang tahun dirinya. Tetapi Murtijono saat itu tampil tanpa jas. Juga bukan berbaju batik. Melainkan hanya dengan kaos warna hitam. Bahkan tanpa lengan. Seperti foto dalam profil pribadinya di akun Facebook (foto).
“Kontroversial. Itulah kakak saya itu,” demikian awal pidato dari fihak keluarga yang berduka. “Dalam pertemuan keluarga, baik eyang sampai orang tua kami, kalau ada sesuatu yang menurut kakak saya dianggap keliru, ia akan mengritiknya. Tetapi sebenarnya, di balik itu ada keinginan yang baik, untuk menuju sesuatu yang lebih baik.”
Cerita satu ini mengingatkan saya komentar seorang nara sumber dalam acara balap mobil F-1 di televisi ketika mengobrolkan sosok pembalap F-1 dari tim Scuderia-Ferrari, Fernando Alonso.
Komentator itu bilang, “kalau pembalap bagus, sebagian besar orang menyukainya. Tetapi bagi pembalap yang hebat, pasti ada sebagian yang menyukai dan sebagian lain membencinya.” Mungkin itu pula profil sosok seorang sahabat yang bernama Murtidjono.
Adios, amigo. Siang itu, jam 11.13, mobil jenazah PDIP Surakarta yang bagian belakangnya ada fotonya Jokowi-Rudi, berangkat meninggalkan pendopo Taman Budaya Jawa Tengah. Membawa peti jenazah rekan saya yang sesama aktivis di Mandungan, di masa-masa muda dulu.Makam keluarga Njithengan-Kayangan, Karangpandan, Karanganyar, kini menjadi tempat istirahatnya yang abadi.
Film tentang Murtidjono sebagai insan, sebagai seniman, juga tentang hidup kita atau mereka yang pernah bersentuhan dengan dirinya, baik yang suka atau yang benci, semoga akan tetap tertayang di layar kehidupan kita masing-masing.
Demikianlah siang itu akhirnya film tentang sobat saya Murtidjono selesai ditayangkan. Layar pucat itu kembali putih bersih. Ketika sosoknya hilang dari layar, tidak seperti perilaku suku Afrika dalam kisah McLuhan, saya tidak mencari-cari dirinya ke balik layar.
Karena saya sudah ada di sana. Di balik layar. Sambil merangkai kenangan yang berkelebatan di benak tentang dirinya. Saya mengharapkan sobat Murtidjono kini sudah berada di tempat lain, di tempat yang paling enak.
Paling baik dari yang terbaik.
Di sisi Sang Khalik.
Selamat jalan, sahabat.
Sugeng tindak, Eyang Murti.
Wonogiri, 4 Januari 2012
Sunday, January 01, 2012
Eduardo Galeano dan Budaya Tradisional Impotensi
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Pembacaan Esai Eduardo Galeano
Selasa, 31 Januari 2012 : Jam 19.00-22.00
Balai Soedjatmoko, Jl. Slamet Riyadi 284 Solo.
Telp 0271-741990.
Anda kenal Eduardo Galeano ? Novelis, sastrawan dan wartawan Uruguay. Saya menyebutnya sebagai Pramudya-nya Uruguay.
Berkat kebaikan hati sobat saya Andibachtiar Yusuf, sutradara film dan penggila sepakbola,saya bisa memiliki buku karyanya yang mengesankan.
Berjudul Football in Sun and Shadow (2003).
Aslinya : El Fútbol A Sol Y Sombra (1995).
Buku itu telah menulis panorama sepak bola dunia dengan kaya konteks, berdegup dan indah, di mana penanya juga menggurat tiga kaitan antara Indonesia dan Piala Dunia yang kemudian menjadi ilustrasi artikel saya di koran Solopos (10/6/2010).
Judul aslinya di surat kabar : "Piala Dunia dan Budaya Korupsi Kita"
Silakan klik di blog saya : disini.
Ajakan memberontak. Buah pikiran Eduardo Galeano, di luar sepakbola, yang paling relevan dengan Indonesia, menurut saya, adalah hardikan bagi kita agar berani melakukan pemberontakan.
Terutama membongkar terunjamnya pola pikir sampai ke balung sumsum yang mendoktrin bahwa kita sebagai rakyat selalu berposisi terus sebagai fihak yang tidak mampu, dan juga tidak mampu untuk membuat perubahan.
Ia menyebutnya sebagai budaya tradisional impotensi.
Akibat fatalnya, bangsa kita ini terus saja menjadi gaglakan empuk kaum politisi busuk yang silih berganti menguasai negeri ini, walau dengan baju yang berbeda-beda.
Selamat Tahun Baru 2012.
Jangan lewatkan acara langka tersebut.
Email : humorliner (at) yahoo.com
Pembacaan Esai Eduardo Galeano
Selasa, 31 Januari 2012 : Jam 19.00-22.00
Balai Soedjatmoko, Jl. Slamet Riyadi 284 Solo.
Telp 0271-741990.
Anda kenal Eduardo Galeano ? Novelis, sastrawan dan wartawan Uruguay. Saya menyebutnya sebagai Pramudya-nya Uruguay.
Berkat kebaikan hati sobat saya Andibachtiar Yusuf, sutradara film dan penggila sepakbola,saya bisa memiliki buku karyanya yang mengesankan.
Berjudul Football in Sun and Shadow (2003).
Aslinya : El Fútbol A Sol Y Sombra (1995).
Buku itu telah menulis panorama sepak bola dunia dengan kaya konteks, berdegup dan indah, di mana penanya juga menggurat tiga kaitan antara Indonesia dan Piala Dunia yang kemudian menjadi ilustrasi artikel saya di koran Solopos (10/6/2010).
Judul aslinya di surat kabar : "Piala Dunia dan Budaya Korupsi Kita"
Silakan klik di blog saya : disini.
Ajakan memberontak. Buah pikiran Eduardo Galeano, di luar sepakbola, yang paling relevan dengan Indonesia, menurut saya, adalah hardikan bagi kita agar berani melakukan pemberontakan.
Terutama membongkar terunjamnya pola pikir sampai ke balung sumsum yang mendoktrin bahwa kita sebagai rakyat selalu berposisi terus sebagai fihak yang tidak mampu, dan juga tidak mampu untuk membuat perubahan.
Ia menyebutnya sebagai budaya tradisional impotensi.
Akibat fatalnya, bangsa kita ini terus saja menjadi gaglakan empuk kaum politisi busuk yang silih berganti menguasai negeri ini, walau dengan baju yang berbeda-beda.
Selamat Tahun Baru 2012.
Jangan lewatkan acara langka tersebut.
Friday, December 30, 2011
Beyond a Joke, Komedian Wanita Islam dan Natal
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Shazia Mirza.
Anda pernah mendengar namanya ?
Dalam buku Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Imania, 2010), sosoknya saya ceritakan ketika membahas mengenai warisan penting almarhum Gus Dur bagi dunia komedi Indonesia.
Sekadar Anda tahu, wafatnya Gus Dur dan Dono, sama-sama 30 Desember, saya usulkan sejak tahun lalu sebagai Hari Humor Nasional.
Shazia Mirza adalah pelawak Inggris yang tidak lajim. Ia perempuan, lulusan biokimia Universitas Manchester dan keturunan Pakistan. Menceritakan isi kelasnya, ia bercerita bahwa mahasiswa muslim pria lebih banyak yang lebih pintar menguasai ilmu kimia dibanding dirinya. “Pantas saja, mereka tekun belajar karena ingin mampu membuat bom,” cetusnya.
Shazia Mirza itu kini datang ke Indonesia. Sahabat saya, pencinta komedi beraliran garis keras asal Jakarta yang ditunjukkan dengan kepemilikan ratusan buku-buku koleksinya (“semua buku bertopik humor, komedi sampai kartun yang dijual di Amazon.com sepertinya telah pindah ke lemari dia”), Danny, beberapa hari yang lalu memberitahukan kedatangan Shazia Mirza itu.
Bagi saya, kedatangannya itu seperti keajaiban. Ketika tanggal 20/10 sd 17/11/2011 saat saya memperoleh fasilitas dan kemewahan langka di Hilton Humor di Kramat Jaya Baru, saya sudah mengincar buku yang membahas dirinya.
Sekadar info, Hilton Humor itu adalah rumahnya Danny tadi, yang tidak berpenghuni, selain terisi dua almari yang berisi koleksi buku-buku di atas tadi. Hampir sebulan saya mendapat bea siswa dari Danny untuk mengeram di sana, bersama buku-buku tadi.
Buku incaran saya itu berjudul Beyond a Joke : The Limits of Humour (2009). Buku susunan Sharon Lokyer, dosen sosiologi dan komunikasi Universitas Brunel (Inggris) dan Michael Pickering, professor media dan analisis kebudayaan, Universitas Laoghborough (Inggris), bersampulkan wajah Shazia Mirza.
Tidak berjilbab. Shazia Mirza akan tampil bersama Ward Anderson (AS), Kamis, 8 Desember 2011, atas undangan The American Club Jakarta, Hotel Mandarin, Jakarta. Lebih menarik lagi, acara pemanggungan dua komedian tunggal itu bertajuk Jakarta Comedy Club Christmas Party.
Dalam wawancara di buku tersebut (hal.119-120) tersaji dialog menarik :
MP (Michael Pickering) : Apakah Anda masih mengenakan jilbab ketika tampil ?
SM (Shazia Mirza) : Tidak. Ketika tampil pertama kali saya tidak mengenakan jilbab, lalu mengenakan, dan sekarang tidak dan saya berpikir tidak akan mengenakannya lagi.
SL (Sharon Lockyer) : Mengapa ?
MP : Apakah itu kesadaran untuk melepaskan dari masa lalu ?
SM : Sebab saya tidak ingin dilihat sebagai komedian muslim, saya tidak ingin dilihat dari pandangan satu dimensi dan semua hal bisa saya bicarakan dan hal itu pula eksistensi dari hidup saya.
Juga tidaklah sangat luwes ketika orang-orang menjadi berpandangan sempit, ketika mereka melihat Anda berpakaian seperti itu dan mereka lalu berpendapat, “Oh, dia tidak boleh ini, tidak boleh itu, sehingga mereka berpendapat tentang Anda dalam tafsir yang tunggal.
Ketika saya berpikir seperti itu, ini gambaran hanya satu dimensi, dan saya bukanlah pribadi yang hanya satu dimensi.
Humor seksi di Tanah Suci. Itulah sepotong profil Shazia Mirza. Ia lebih lanjut mengaku, “Saya merasa lebih jujur sekarang ini. Ketika saya di awal menginjakkan kaki di dunia komedi adalah menfokuskan bagaimana agar orang-orang menjadi tertawa dan ketika Anda mampu mengerjakannya, Anda akan tertantang untuk melakukan hal lain yang lebih menantang, seperti berbagi cerita-cerita yang lebih menarik.”
Barangkali yang ia sebut menarik itu antara lain tersaji di halaman lain (hal.11) yang menceritakan Shazia Mirza ketika mengunjungi Tanah Suci :
“Tahun lalu, saya pergi ke Mekkah untuk membersihkan dosa-dosa saya, di mana saat itu saya berada di sekeliling Ka’bah. Semua perempuan mengenakan pakaian hitam-hitam, yang menyisakan lubang untuk mata mereka. Kemudian saya merasakan ada yang mencowel pantat saya.
Saya cuekkan saja.
Saya berpikir : ‘Saya sekarang berada di Mekkah, dan apakah yang mencowel saya tadi itu tangan Tuhan.’
Kemudian cowelan itu terjadi kembali. Saya tidak mengeluhkan hal itu lagi. Saya menjadi yakin, bahwa semua doa-doa saya telah terjawab."
Apakah lelucon yang sama akan ia tampilkan lagi, di Jakarta ini ?
Wonogiri, 7/12/2011
Email : humorliner (at) yahoo.com
Shazia Mirza.
Anda pernah mendengar namanya ?
Dalam buku Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Imania, 2010), sosoknya saya ceritakan ketika membahas mengenai warisan penting almarhum Gus Dur bagi dunia komedi Indonesia.
Sekadar Anda tahu, wafatnya Gus Dur dan Dono, sama-sama 30 Desember, saya usulkan sejak tahun lalu sebagai Hari Humor Nasional.
Shazia Mirza adalah pelawak Inggris yang tidak lajim. Ia perempuan, lulusan biokimia Universitas Manchester dan keturunan Pakistan. Menceritakan isi kelasnya, ia bercerita bahwa mahasiswa muslim pria lebih banyak yang lebih pintar menguasai ilmu kimia dibanding dirinya. “Pantas saja, mereka tekun belajar karena ingin mampu membuat bom,” cetusnya.
Shazia Mirza itu kini datang ke Indonesia. Sahabat saya, pencinta komedi beraliran garis keras asal Jakarta yang ditunjukkan dengan kepemilikan ratusan buku-buku koleksinya (“semua buku bertopik humor, komedi sampai kartun yang dijual di Amazon.com sepertinya telah pindah ke lemari dia”), Danny, beberapa hari yang lalu memberitahukan kedatangan Shazia Mirza itu.
Bagi saya, kedatangannya itu seperti keajaiban. Ketika tanggal 20/10 sd 17/11/2011 saat saya memperoleh fasilitas dan kemewahan langka di Hilton Humor di Kramat Jaya Baru, saya sudah mengincar buku yang membahas dirinya.
Sekadar info, Hilton Humor itu adalah rumahnya Danny tadi, yang tidak berpenghuni, selain terisi dua almari yang berisi koleksi buku-buku di atas tadi. Hampir sebulan saya mendapat bea siswa dari Danny untuk mengeram di sana, bersama buku-buku tadi.
Buku incaran saya itu berjudul Beyond a Joke : The Limits of Humour (2009). Buku susunan Sharon Lokyer, dosen sosiologi dan komunikasi Universitas Brunel (Inggris) dan Michael Pickering, professor media dan analisis kebudayaan, Universitas Laoghborough (Inggris), bersampulkan wajah Shazia Mirza.
Tidak berjilbab. Shazia Mirza akan tampil bersama Ward Anderson (AS), Kamis, 8 Desember 2011, atas undangan The American Club Jakarta, Hotel Mandarin, Jakarta. Lebih menarik lagi, acara pemanggungan dua komedian tunggal itu bertajuk Jakarta Comedy Club Christmas Party.
Dalam wawancara di buku tersebut (hal.119-120) tersaji dialog menarik :
MP (Michael Pickering) : Apakah Anda masih mengenakan jilbab ketika tampil ?
SM (Shazia Mirza) : Tidak. Ketika tampil pertama kali saya tidak mengenakan jilbab, lalu mengenakan, dan sekarang tidak dan saya berpikir tidak akan mengenakannya lagi.
SL (Sharon Lockyer) : Mengapa ?
MP : Apakah itu kesadaran untuk melepaskan dari masa lalu ?
SM : Sebab saya tidak ingin dilihat sebagai komedian muslim, saya tidak ingin dilihat dari pandangan satu dimensi dan semua hal bisa saya bicarakan dan hal itu pula eksistensi dari hidup saya.
Juga tidaklah sangat luwes ketika orang-orang menjadi berpandangan sempit, ketika mereka melihat Anda berpakaian seperti itu dan mereka lalu berpendapat, “Oh, dia tidak boleh ini, tidak boleh itu, sehingga mereka berpendapat tentang Anda dalam tafsir yang tunggal.
Ketika saya berpikir seperti itu, ini gambaran hanya satu dimensi, dan saya bukanlah pribadi yang hanya satu dimensi.
Humor seksi di Tanah Suci. Itulah sepotong profil Shazia Mirza. Ia lebih lanjut mengaku, “Saya merasa lebih jujur sekarang ini. Ketika saya di awal menginjakkan kaki di dunia komedi adalah menfokuskan bagaimana agar orang-orang menjadi tertawa dan ketika Anda mampu mengerjakannya, Anda akan tertantang untuk melakukan hal lain yang lebih menantang, seperti berbagi cerita-cerita yang lebih menarik.”
Barangkali yang ia sebut menarik itu antara lain tersaji di halaman lain (hal.11) yang menceritakan Shazia Mirza ketika mengunjungi Tanah Suci :
“Tahun lalu, saya pergi ke Mekkah untuk membersihkan dosa-dosa saya, di mana saat itu saya berada di sekeliling Ka’bah. Semua perempuan mengenakan pakaian hitam-hitam, yang menyisakan lubang untuk mata mereka. Kemudian saya merasakan ada yang mencowel pantat saya.
Saya cuekkan saja.
Saya berpikir : ‘Saya sekarang berada di Mekkah, dan apakah yang mencowel saya tadi itu tangan Tuhan.’
Kemudian cowelan itu terjadi kembali. Saya tidak mengeluhkan hal itu lagi. Saya menjadi yakin, bahwa semua doa-doa saya telah terjawab."
Apakah lelucon yang sama akan ia tampilkan lagi, di Jakarta ini ?
Wonogiri, 7/12/2011
Sunday, December 18, 2011
Komunikasi Lelaki dan Nasehat mBak Tannen
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Berebut unggul.
Mencari kompromi.
Itulah perbedaan pola komunikasi, genderlect, antara pria-pria versus perempuan-perempuan.
Kaum pria ketika berbicara dengan sesama pria, mereka berusaha berebut unggul atas lawan bicara.Sekaligus menghindari sebagai fihak yang berposisi di bawah.Kaum lelaki senantiasa berada dalam atmosfir bersaing dengan sesamanya.
Sementara pola komunikasi antarperempuan adalah berusaha mencari kesepakatan atau kompromi.
Itulah tesis menarik dari buku karya linguis Deborah Tannen, You Just Don't Understand: Women and Men in Conversation (1990).
Pesan dalam buku laris itu, yang saya pinjam dari perpustakaan America Cultural Center (ACC) di Wisma Metropolitan 2 pada tahun 90-an, kembali muncul. Yaitu ketika menaiki kendaraan umum antara Bogor-Parung-Serpong-Bumi Serpong Damai-Pamulang-Ciputat-Depok-Bogor, beberapa hari yang lalu.
Saya tiba di Bogor, di rumah adik saya Broto Happy Wondomisnowo,9 Desember 2011.Karyanya berupa buku Baktiku Untuk Indonesia : 60 Tahun Tiada Henti Mencetak Juara, 9 Juara Dunia + 4 Peraih Medali Olimpiade baru saja diluncurkan.
Siangnya, memenuhi niatan lama. Yaitu keinginan untuk berziarah ke makam dosen saya dan juga mantan Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI, Ibu Lily Koeshartini Somadikarta. Beliau wafat tahun 2009, dimakamkan di TPU Blender, Kebon Pedes, Bogor.
Hari Sabtunya, 10 Desember 2011,ke Jakarta. Untuk sowan ke rumah Bapak Taufik Rachman Soedarbo, di Cilandak.
Saya pertama kali ke rumah ini tahun 1986, saat ingin menemui putrinya yang cantik, artistik dan karismatik, Widhiana Laneza (foto). Anez yang kelahiran Brussels di tahun 1963 itu sudah tak bisa lagi saya temui. Alumnus Arkeologi FSUI itu meninggal dunia di Denpasar, Bali, 20 Desember 2005.
Sekitar 2-3 jam saya mengobrol dengan Bapak Taufik. Berdua. Saya sempat membaca-baca buku yang memuat sejarah hidup dan sepak terjang beliau sebagai diplomat. Juga mengobrol di ruang baca, tempat buku-buku koleksi pribadi Anez masih tertata rapi di rak.
Kepada beliau saya serahkan fotokopi buku Ledakan Tawa Dari Dunia Satwa (1987). Sejak saya sowan tanggal 13 November 2011, beliau sempat menanyakan buku yang sudah out of print ini. Sebagai kilas balik, ilham penulisan buku ini adalah Grigri, Cakil, sampai Pancho. Siapa mereka ? Ini merupakan nama-nama anjing kesayangan dari Widhiana Laneza. Juga saya serahkan buku saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010).
Dari Cilandak, saya pamit, untuk menuju TPU Jeruk Purut. Walau diguyur hujan, saya menyempatkan diri berziarah di makam Ibu Bintari Tjokroamidjojo Taufik, Liana Rasanti (adiknya Anez, meninggal tahun 1965) dan juga makam Widhiana Laneza.Juga menyerahkan foto yang berpose dengan Pak Daman, petugas makam, saat saya berkunjung 15 November 2011.
Reuni Mandungan. Minggu tanggal 11/12/2011, dari Bogor saya menuju Parung naik bis mini. Disambung naik angkot jurusan Bumi Serpong Damai, untuk turun di Buaran Gardu, Serpong.
Acaranya : bertemu dengan rekan-rekan Workshop Seni Lukis Mandungan Muka Kraton Surakarta yang sudah lama tidak bertemu. Workshop itu terjadi tahun 1972.
Reuni itu berlangsung di rumah mentor workshop melukis itu, Mas Abdurrahman. Yang hadir, murid-murid beliau. Antara lain : Efix Mulyadi, Si Benk, Suryo Lelono, Sarwono, Mamok,Chosani, Budoyo Sumarsono, Musyafik, Harsoyo Rajiyowiryono dan Subandiyo.
Juga hadir pegawai PKJT saat itu, tetapi dekat dengan kami, Mas Sudarto. Yang tidak hadir tetapi menitipkan salam adalah mBak Tantin Sasonomulyo dan Nanik Gunarni.
Saya sendiri, aktif di Mandungan tahun 1977-1980. Sebenarnya bukan murid Mas Rahman, tetapi bersahabat kental dengan murid-murid beliau. Saya bisa hijrah ke Jakarta untuk berkuliah di JIP-FSUI berkat bantuan informasi dari Bang Efix Mulyadi, yang saat itu (dan sampai pensiun) sebagai wartawan Kompas. Saat awal, juga satu kos dengan Chosani dan Sarwono, di Jl. Belimbing, Balai Pustaka Timur, Rawamangun, Jakarta Timur.
Peserta reuni di Buaran Gardu itu juga menanam pohon sawo kecik, yang mengandung pesan sarwo becik (serba baik), yang atas prakarsa Harsoyo dapat memperoleh pohon itu dari lingkungan Kraton Surakarta. Kebetulan di depan Sanggar Mandungan juga tumbuh pohon serupa.
Kami juga menuliskan kesan di kanvas kenangan, yang rata-rata berpendapat bahwa fase-fase di sanggar itu memunculkan nilai-nilai penuh makna bagi hidup masing-masing hingga saat ini.
Pamulang-Depok : Nostalgia. Usai dari lokasi reuni, saya pindah "kos" ke rumah teman sesama kuliah di JIP-FSUI. Yaitu Bakhuri Jamaluddin, kini verifikator Jamkesmas Pusat, di Pamulang. Sebelum ke Pamulang, saya harus menemui teman istimewa yang akan pamit untuk kembali ke Inggris (14/12/2011). Ketemuannya di mal Teras Kota, Bumi Serpong Damai.
Sesudah menginap dua malam di Pamulang, saya tur ke Depok. Ke rumah Sarwono, di Jl. Ciliwung, lalu main ke rumah Suryo Lelono di Cimanggis. Kemudian ke Pondok Duta, menemui Mas Sudiyono dan mBak Erna di warung soto mie miliknya. Juga sowan ke rumah mBah Roto putri, di Pondok Duta juga.
Mas Sudi, mBak Erna, mBah Roto, Sarwono dan saya di tahun 80-95 adalah warga satu komplek di Jl. Belimbing, Rawamangun.Komplek itu dijadikan ruko, warganya "bubar" kemana-mana. Setelah belasan tahun terpisah, baru bisa ketemuan lagi di hari kemarin itu.
Tanda kelemahan. Selain diantar Sarwono, saya naik angkutan umum. Sebagai pengalaman pertama menjelajah kawasan itu, saya sudah membuang rasa gengsi atau sungkan yang menghalangi niat untuk bertanya-tanya.
Tentu saja bertanya tentang rute atau pun nomor kendaraan yang akan saya naiki. Ada catatan, yang belum tentu valid,yang kemudian saya peroleh dalam pelbagai momen bertanya kesana-kemari itu.
Bahwa ketika saya bertanya kepada supir angkot atau kondektur bis,mereka kemudian rata-rata sepertinya meminta bayaran ongkos yang lebih tinggi. Pertanyaan saya kepada mereka rupanya merupakan sinyal sebagai tanda "kelemahan" saya dan hal itu mereka manfaatkan dengan menaikkan ongkos. Saya senyum-senyum saja mendapat perlakuan seperti ini.
Berbeda halnya bila saya bertanya kepada seorang perempuan, yang kebetulan sama-sama menaiki angkutan umum yang sama. Pertanyaan saya tentang rute, mungkin saja justru dianggap sebagai sebuah "penghormatan" bagi mereka.
Karena mereka rata-rata nampak antusias dalam memberikan jawaban, petunjuk, bahkan sangat detil. Juga tak jarang ceritanya malah melenceng dan keluar dari konteks semula.
Seperti saat saya kembali dari Bogor menuju Solo, menaiki bus Raya, disamping saya ada seorang ibu. Saya bertanya, "turun mana,ibu ?" ternyata pertanyaan itu memancing cerita ibu tersebut jadi berlanjut. Ibu itu, orang Jawa asal Semarang, berjilbab, sosoknya masih nampak muda.
Kita mudah tidak percaya kalau beliau sudah memiliki cucu.Ia nampak independen, dengan berani bepergian seorang diri. Selama perjalanan juga tidak melakukan percakapan telepon dengan anak, atau kerabatnya.
Ketika rasa kantuk belum tiba, berkali-kali terdengar suara dering ritmis dari HP ditangannya. Saya baru ngeh kemudian, ternyata ibu tadi asyik bermain game. Sebelumnya, beliau asyik bercerita tentang anak-anaknya.
Termasuk yang baru saja diantarnya untuk berangkat ke Kanada menyertai suaminya yang bule.Pasangan ini dikaruniai satu anak, dimana si bule itu duda dengan dua anak dari istri pertamanya yang telah meninggal dunia.
Ibu itu bahkan cerita tentang pesan khusus kepada putrinya. Bahwa dirinya tidak hanya diminta mencintai si bule itu, saja tetapi juga harus mencintai kedua anak dari istrinya yang terdahulu.
Terima kasih,mBak Deborah Tannen.
Kini saya tahu. Bahwa saya kalau tersesat di suatu tempat, atau saat ingin menaiki kendaraan umum di tempat asing, saya sekarang tahu kepada siapa sebaiknya saya harus bertanya.Apalagi, sok GR, saya juga merasa memiliki telinga yang berfungsi masih baik adanya.
Wonogiri,19/12/2011
Email : humorliner (at) yahoo.com
Berebut unggul.
Mencari kompromi.
Itulah perbedaan pola komunikasi, genderlect, antara pria-pria versus perempuan-perempuan.
Kaum pria ketika berbicara dengan sesama pria, mereka berusaha berebut unggul atas lawan bicara.Sekaligus menghindari sebagai fihak yang berposisi di bawah.Kaum lelaki senantiasa berada dalam atmosfir bersaing dengan sesamanya.
Sementara pola komunikasi antarperempuan adalah berusaha mencari kesepakatan atau kompromi.
Itulah tesis menarik dari buku karya linguis Deborah Tannen, You Just Don't Understand: Women and Men in Conversation (1990).
Pesan dalam buku laris itu, yang saya pinjam dari perpustakaan America Cultural Center (ACC) di Wisma Metropolitan 2 pada tahun 90-an, kembali muncul. Yaitu ketika menaiki kendaraan umum antara Bogor-Parung-Serpong-Bumi Serpong Damai-Pamulang-Ciputat-Depok-Bogor, beberapa hari yang lalu.
Saya tiba di Bogor, di rumah adik saya Broto Happy Wondomisnowo,9 Desember 2011.Karyanya berupa buku Baktiku Untuk Indonesia : 60 Tahun Tiada Henti Mencetak Juara, 9 Juara Dunia + 4 Peraih Medali Olimpiade baru saja diluncurkan.
Siangnya, memenuhi niatan lama. Yaitu keinginan untuk berziarah ke makam dosen saya dan juga mantan Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI, Ibu Lily Koeshartini Somadikarta. Beliau wafat tahun 2009, dimakamkan di TPU Blender, Kebon Pedes, Bogor.
Hari Sabtunya, 10 Desember 2011,ke Jakarta. Untuk sowan ke rumah Bapak Taufik Rachman Soedarbo, di Cilandak.
Saya pertama kali ke rumah ini tahun 1986, saat ingin menemui putrinya yang cantik, artistik dan karismatik, Widhiana Laneza (foto). Anez yang kelahiran Brussels di tahun 1963 itu sudah tak bisa lagi saya temui. Alumnus Arkeologi FSUI itu meninggal dunia di Denpasar, Bali, 20 Desember 2005.
Sekitar 2-3 jam saya mengobrol dengan Bapak Taufik. Berdua. Saya sempat membaca-baca buku yang memuat sejarah hidup dan sepak terjang beliau sebagai diplomat. Juga mengobrol di ruang baca, tempat buku-buku koleksi pribadi Anez masih tertata rapi di rak.
Kepada beliau saya serahkan fotokopi buku Ledakan Tawa Dari Dunia Satwa (1987). Sejak saya sowan tanggal 13 November 2011, beliau sempat menanyakan buku yang sudah out of print ini. Sebagai kilas balik, ilham penulisan buku ini adalah Grigri, Cakil, sampai Pancho. Siapa mereka ? Ini merupakan nama-nama anjing kesayangan dari Widhiana Laneza. Juga saya serahkan buku saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010).
Dari Cilandak, saya pamit, untuk menuju TPU Jeruk Purut. Walau diguyur hujan, saya menyempatkan diri berziarah di makam Ibu Bintari Tjokroamidjojo Taufik, Liana Rasanti (adiknya Anez, meninggal tahun 1965) dan juga makam Widhiana Laneza.Juga menyerahkan foto yang berpose dengan Pak Daman, petugas makam, saat saya berkunjung 15 November 2011.
Reuni Mandungan. Minggu tanggal 11/12/2011, dari Bogor saya menuju Parung naik bis mini. Disambung naik angkot jurusan Bumi Serpong Damai, untuk turun di Buaran Gardu, Serpong.
Acaranya : bertemu dengan rekan-rekan Workshop Seni Lukis Mandungan Muka Kraton Surakarta yang sudah lama tidak bertemu. Workshop itu terjadi tahun 1972.
Reuni itu berlangsung di rumah mentor workshop melukis itu, Mas Abdurrahman. Yang hadir, murid-murid beliau. Antara lain : Efix Mulyadi, Si Benk, Suryo Lelono, Sarwono, Mamok,Chosani, Budoyo Sumarsono, Musyafik, Harsoyo Rajiyowiryono dan Subandiyo.
Juga hadir pegawai PKJT saat itu, tetapi dekat dengan kami, Mas Sudarto. Yang tidak hadir tetapi menitipkan salam adalah mBak Tantin Sasonomulyo dan Nanik Gunarni.
Saya sendiri, aktif di Mandungan tahun 1977-1980. Sebenarnya bukan murid Mas Rahman, tetapi bersahabat kental dengan murid-murid beliau. Saya bisa hijrah ke Jakarta untuk berkuliah di JIP-FSUI berkat bantuan informasi dari Bang Efix Mulyadi, yang saat itu (dan sampai pensiun) sebagai wartawan Kompas. Saat awal, juga satu kos dengan Chosani dan Sarwono, di Jl. Belimbing, Balai Pustaka Timur, Rawamangun, Jakarta Timur.
Peserta reuni di Buaran Gardu itu juga menanam pohon sawo kecik, yang mengandung pesan sarwo becik (serba baik), yang atas prakarsa Harsoyo dapat memperoleh pohon itu dari lingkungan Kraton Surakarta. Kebetulan di depan Sanggar Mandungan juga tumbuh pohon serupa.
Kami juga menuliskan kesan di kanvas kenangan, yang rata-rata berpendapat bahwa fase-fase di sanggar itu memunculkan nilai-nilai penuh makna bagi hidup masing-masing hingga saat ini.
Pamulang-Depok : Nostalgia. Usai dari lokasi reuni, saya pindah "kos" ke rumah teman sesama kuliah di JIP-FSUI. Yaitu Bakhuri Jamaluddin, kini verifikator Jamkesmas Pusat, di Pamulang. Sebelum ke Pamulang, saya harus menemui teman istimewa yang akan pamit untuk kembali ke Inggris (14/12/2011). Ketemuannya di mal Teras Kota, Bumi Serpong Damai.
Sesudah menginap dua malam di Pamulang, saya tur ke Depok. Ke rumah Sarwono, di Jl. Ciliwung, lalu main ke rumah Suryo Lelono di Cimanggis. Kemudian ke Pondok Duta, menemui Mas Sudiyono dan mBak Erna di warung soto mie miliknya. Juga sowan ke rumah mBah Roto putri, di Pondok Duta juga.
Mas Sudi, mBak Erna, mBah Roto, Sarwono dan saya di tahun 80-95 adalah warga satu komplek di Jl. Belimbing, Rawamangun.Komplek itu dijadikan ruko, warganya "bubar" kemana-mana. Setelah belasan tahun terpisah, baru bisa ketemuan lagi di hari kemarin itu.
Tanda kelemahan. Selain diantar Sarwono, saya naik angkutan umum. Sebagai pengalaman pertama menjelajah kawasan itu, saya sudah membuang rasa gengsi atau sungkan yang menghalangi niat untuk bertanya-tanya.
Tentu saja bertanya tentang rute atau pun nomor kendaraan yang akan saya naiki. Ada catatan, yang belum tentu valid,yang kemudian saya peroleh dalam pelbagai momen bertanya kesana-kemari itu.
Bahwa ketika saya bertanya kepada supir angkot atau kondektur bis,mereka kemudian rata-rata sepertinya meminta bayaran ongkos yang lebih tinggi. Pertanyaan saya kepada mereka rupanya merupakan sinyal sebagai tanda "kelemahan" saya dan hal itu mereka manfaatkan dengan menaikkan ongkos. Saya senyum-senyum saja mendapat perlakuan seperti ini.
Berbeda halnya bila saya bertanya kepada seorang perempuan, yang kebetulan sama-sama menaiki angkutan umum yang sama. Pertanyaan saya tentang rute, mungkin saja justru dianggap sebagai sebuah "penghormatan" bagi mereka.
Karena mereka rata-rata nampak antusias dalam memberikan jawaban, petunjuk, bahkan sangat detil. Juga tak jarang ceritanya malah melenceng dan keluar dari konteks semula.
Seperti saat saya kembali dari Bogor menuju Solo, menaiki bus Raya, disamping saya ada seorang ibu. Saya bertanya, "turun mana,ibu ?" ternyata pertanyaan itu memancing cerita ibu tersebut jadi berlanjut. Ibu itu, orang Jawa asal Semarang, berjilbab, sosoknya masih nampak muda.
Kita mudah tidak percaya kalau beliau sudah memiliki cucu.Ia nampak independen, dengan berani bepergian seorang diri. Selama perjalanan juga tidak melakukan percakapan telepon dengan anak, atau kerabatnya.
Ketika rasa kantuk belum tiba, berkali-kali terdengar suara dering ritmis dari HP ditangannya. Saya baru ngeh kemudian, ternyata ibu tadi asyik bermain game. Sebelumnya, beliau asyik bercerita tentang anak-anaknya.
Termasuk yang baru saja diantarnya untuk berangkat ke Kanada menyertai suaminya yang bule.Pasangan ini dikaruniai satu anak, dimana si bule itu duda dengan dua anak dari istri pertamanya yang telah meninggal dunia.
Ibu itu bahkan cerita tentang pesan khusus kepada putrinya. Bahwa dirinya tidak hanya diminta mencintai si bule itu, saja tetapi juga harus mencintai kedua anak dari istrinya yang terdahulu.
Terima kasih,mBak Deborah Tannen.
Kini saya tahu. Bahwa saya kalau tersesat di suatu tempat, atau saat ingin menaiki kendaraan umum di tempat asing, saya sekarang tahu kepada siapa sebaiknya saya harus bertanya.Apalagi, sok GR, saya juga merasa memiliki telinga yang berfungsi masih baik adanya.
Wonogiri,19/12/2011
Sunday, December 04, 2011
Buku "Komedikus Erektus" Dikoleksi Perpustakaan Universitas Ohio Amerika Serikat
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
The SBY Effect.
The Manmohan Singh Effect.
Dan The Komedikus Erektus Effect.
Nama pertama, SBY, adalah singkatan nama untuk presiden kita. Manmohan Singh adalah nama perdana menteri India. Komedikus Erektus, adalah judul buku humor politik saya.
Ketiganya bisa dimirip-miripkan memiliki kesamaan. Yaitu, ketiganya tidak begitu memperoleh apresiasi secara optimal di dalam negeri walau dihargai di manca negara.
Mungkin analogi itu berlebihan.
Tetapi untuk nasib buku Komedikus Erektus, semoga efek di atas itu menjadi kabar yang cukup bagus bagi para pencinta buku humor di Indonesia. Juga komunitas komedi di Indonesia.
Pasalnya, buku humor politik tersebut yang lengkapnya berjudul Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Imania,2010), rupanya kini telah terbang jauh. Bahkan menyeberangi samudera, untuk sampai ke kota Ohio, di Amerika Serikat.
Nampak dalam foto momen saat peluncuran buku itu dalam acara reuni trah saya, Trah Martowirono XXVI di Polokarto, Sukoharjo, bulan September 2011 yang lalu.
Di bawah label subjek "Indonesian wit and humor," "Indonesia -- Social conditions -- Humor" dan "Indonesia -- Politics and government -- Humor", syukurlah buku bersampul warna biru telah ikut bisa mengisi rak Perpustakaan Universitas Ohio, 30 Park Place, Athens, Ohio, Amerika Serikat.
Di antara ratusan atau ribuan buku berbahasa Indonesia yang mereka akuisisi, sungguh suatu kehormatan pula bahwa gambar sampul, data buku dan salinan resensi yang ditulis Badhui A. Suban, Sarjana Sastra Indonesia dari Universitas Padjajaran Bandung, telah ikut ditampilkan di blog perpustakaan tersebut.
Informasi tentang buku tersebut detilnya bisa Anda klik disini. Sementara informasi mengenai lokasi penempatannya di Perpustakaan Vernon R. Alden Library, 30 Park Place, Athens, Ohio, Amerika Serikat, bisa Anda klik disini.
Sebelumnya, juga diketahui bahwa buku yang sama telah pula menjadi koleksi perpustakaan terbesar di dunia, Library of Congress di Amerika Serikat dan Perpustakaan Nasional Australia di Melbourne.
Itulah secuplik cerita tentang upaya menyumbangkan khasanah ilmu pengetahuan dari dari alumnus JIP-FSUI untuk dunia. Siapa menyusul ?
Wonogiri, 5/12/2011
Email : humorliner (at) yahoo.com
The SBY Effect.
The Manmohan Singh Effect.
Dan The Komedikus Erektus Effect.
Nama pertama, SBY, adalah singkatan nama untuk presiden kita. Manmohan Singh adalah nama perdana menteri India. Komedikus Erektus, adalah judul buku humor politik saya.
Ketiganya bisa dimirip-miripkan memiliki kesamaan. Yaitu, ketiganya tidak begitu memperoleh apresiasi secara optimal di dalam negeri walau dihargai di manca negara.
Mungkin analogi itu berlebihan.
Tetapi untuk nasib buku Komedikus Erektus, semoga efek di atas itu menjadi kabar yang cukup bagus bagi para pencinta buku humor di Indonesia. Juga komunitas komedi di Indonesia.
Pasalnya, buku humor politik tersebut yang lengkapnya berjudul Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Imania,2010), rupanya kini telah terbang jauh. Bahkan menyeberangi samudera, untuk sampai ke kota Ohio, di Amerika Serikat.
Nampak dalam foto momen saat peluncuran buku itu dalam acara reuni trah saya, Trah Martowirono XXVI di Polokarto, Sukoharjo, bulan September 2011 yang lalu.
Di bawah label subjek "Indonesian wit and humor," "Indonesia -- Social conditions -- Humor" dan "Indonesia -- Politics and government -- Humor", syukurlah buku bersampul warna biru telah ikut bisa mengisi rak Perpustakaan Universitas Ohio, 30 Park Place, Athens, Ohio, Amerika Serikat.
Di antara ratusan atau ribuan buku berbahasa Indonesia yang mereka akuisisi, sungguh suatu kehormatan pula bahwa gambar sampul, data buku dan salinan resensi yang ditulis Badhui A. Suban, Sarjana Sastra Indonesia dari Universitas Padjajaran Bandung, telah ikut ditampilkan di blog perpustakaan tersebut.
Informasi tentang buku tersebut detilnya bisa Anda klik disini. Sementara informasi mengenai lokasi penempatannya di Perpustakaan Vernon R. Alden Library, 30 Park Place, Athens, Ohio, Amerika Serikat, bisa Anda klik disini.
Sebelumnya, juga diketahui bahwa buku yang sama telah pula menjadi koleksi perpustakaan terbesar di dunia, Library of Congress di Amerika Serikat dan Perpustakaan Nasional Australia di Melbourne.
Itulah secuplik cerita tentang upaya menyumbangkan khasanah ilmu pengetahuan dari dari alumnus JIP-FSUI untuk dunia. Siapa menyusul ?
Wonogiri, 5/12/2011
Friday, October 28, 2011
Komedikus Erektus, Cerita Dari Dua Toko Buku di Jakarta
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Diminati maling. Buku-buku humor tampil “menyedihkan” di pelbagai toko buku. Di Solo, di sebuah toko buku terkenal, di dekat rak buku-buku humor itu terpasang tulisan peringatan bila ada yang tertangkap mencuri buku akan diproses menurut hukum.
Apakah buku-buku humor memang menjadi sasaran “cerdas” bagi para pencinta humor yang tak punya uang ? Boleh jadi. Tetapi dalam kunjungan terakhir, rak-rak buku humor menjadi lebih menjauh dari tempat pengumuman itu.
Jadi buku-buku humor kiranya tak lagi menjadi sasaran pencurian ? Menyedihkan. Mungkin ini cerminan perekonomian yang buruk, di mana pedagang yang sering ngemplang pun tidak lagi memesan barang bersangkutan.
Dalam kesempatan dolan-dolan di dua toko buku di Jakarta, posisi rak untuk buku-buku humor tidaklah eye catching. Bahasa Jawanya, njlepit, alias sulit terakses oleh lalu lalang pengunjung.
Di Toko Buku Gunung Agung, Kwitang (22/10/2011), saya mencoba mencari tahu nasib buku humor politik saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010). Sebelumnya saya membeli majalah Bloomberg Businews Week edisi 20-26 Oktober 2011. Edisi yang menyentuh hati saya, karena semua tulisannya tentang kenangan terhadap Steve Jobs (1955-2011).
Mengetikkan judul buku saya di komputer toko buku warisan Mas` Agung itu, memang muncul lemanya. Tetapi persediaan yang ada : 0. Nol. Apakah ini pertanda betapa stok buku saya itu habis, laris manis ? Atau sebaliknya, sehingga toko buku bersangkutan “tidak sudi” memajangnya lagi ?
Sehari sebelumnya (21/10/2011), di Toko Buku Gramedia, Matraman Raya (“toko buku favorit saya sejak 1980 ketika saya belajar di Kampus UI Rawamangun”), muncul fenomena berbeda. Sebelum utak-utik komputer di toko buku besar itu, saat keliling-keliling saya memergoki bukunya Thomas L. Friedman,Hot, Flat and Crowded : Why We Need Green Revolution (2009). Diiringi lagunya Spice Girls, “2 Become 1” saya memutuskan membeli buku setebal 500 halaman lebih itu.
Kini saatnya menguber posisi buku saya. Ketika mengetikkan lema judul buku saya, tersaji info bahwa di toko buku itu terdapat stok sejumlah 27 eksemplar. Tetapi juga tersaji keterangan aneh dan memicu penasaran. Karena tidak ada data lokasi buku bersangkutan.
Ketika pun menelisik ke rak buku-buku humor, dan harus bertanya kepada petugas dua kali karena njlepit letaknya, saya tidak berhasil memotret bagaimana buku saya itu terpajang pada sebuah toko buku besar ini.
Saya hanya bisa memotret tampilan data di komputernya.
Dan terus terbelit oleh tanda tanya, bagaimana semua itu bisa terjadi.
Kramat Jaya Baru, Jakarta, 29/10/2011
Selamat ulang tahun untuk Anissa Astrid Alifta
Email : humorliner (at) yahoo.com
Diminati maling. Buku-buku humor tampil “menyedihkan” di pelbagai toko buku. Di Solo, di sebuah toko buku terkenal, di dekat rak buku-buku humor itu terpasang tulisan peringatan bila ada yang tertangkap mencuri buku akan diproses menurut hukum.
Apakah buku-buku humor memang menjadi sasaran “cerdas” bagi para pencinta humor yang tak punya uang ? Boleh jadi. Tetapi dalam kunjungan terakhir, rak-rak buku humor menjadi lebih menjauh dari tempat pengumuman itu.
Jadi buku-buku humor kiranya tak lagi menjadi sasaran pencurian ? Menyedihkan. Mungkin ini cerminan perekonomian yang buruk, di mana pedagang yang sering ngemplang pun tidak lagi memesan barang bersangkutan.
Dalam kesempatan dolan-dolan di dua toko buku di Jakarta, posisi rak untuk buku-buku humor tidaklah eye catching. Bahasa Jawanya, njlepit, alias sulit terakses oleh lalu lalang pengunjung.
Di Toko Buku Gunung Agung, Kwitang (22/10/2011), saya mencoba mencari tahu nasib buku humor politik saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010). Sebelumnya saya membeli majalah Bloomberg Businews Week edisi 20-26 Oktober 2011. Edisi yang menyentuh hati saya, karena semua tulisannya tentang kenangan terhadap Steve Jobs (1955-2011).
Mengetikkan judul buku saya di komputer toko buku warisan Mas` Agung itu, memang muncul lemanya. Tetapi persediaan yang ada : 0. Nol. Apakah ini pertanda betapa stok buku saya itu habis, laris manis ? Atau sebaliknya, sehingga toko buku bersangkutan “tidak sudi” memajangnya lagi ?
Sehari sebelumnya (21/10/2011), di Toko Buku Gramedia, Matraman Raya (“toko buku favorit saya sejak 1980 ketika saya belajar di Kampus UI Rawamangun”), muncul fenomena berbeda. Sebelum utak-utik komputer di toko buku besar itu, saat keliling-keliling saya memergoki bukunya Thomas L. Friedman,Hot, Flat and Crowded : Why We Need Green Revolution (2009). Diiringi lagunya Spice Girls, “2 Become 1” saya memutuskan membeli buku setebal 500 halaman lebih itu.
Kini saatnya menguber posisi buku saya. Ketika mengetikkan lema judul buku saya, tersaji info bahwa di toko buku itu terdapat stok sejumlah 27 eksemplar. Tetapi juga tersaji keterangan aneh dan memicu penasaran. Karena tidak ada data lokasi buku bersangkutan.
Ketika pun menelisik ke rak buku-buku humor, dan harus bertanya kepada petugas dua kali karena njlepit letaknya, saya tidak berhasil memotret bagaimana buku saya itu terpajang pada sebuah toko buku besar ini.
Saya hanya bisa memotret tampilan data di komputernya.
Dan terus terbelit oleh tanda tanya, bagaimana semua itu bisa terjadi.
Kramat Jaya Baru, Jakarta, 29/10/2011
Selamat ulang tahun untuk Anissa Astrid Alifta
Thursday, September 15, 2011
Toko Buku Borders Dalam Kenangan
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
“Dudu sanak dudu kadang. Yen mati melu kelangan.”
Bukan kerabat, bukan saudara. Bila meninggal, ikut merasa kehilangan.
Jaringan toko buku Borders di Wheelock Place, pojok perempatan Orchard Road dan Patterson Road, Singapura, telah tutup untuk selamanya pada tanggal 3 September 2011 yang lalu.
Ada sepotong hati ini yang ikut hilang.
Wonogiri, 15/9/2011
Email : humorliner (at) yahoo.com
“Dudu sanak dudu kadang. Yen mati melu kelangan.”
Bukan kerabat, bukan saudara. Bila meninggal, ikut merasa kehilangan.
Jaringan toko buku Borders di Wheelock Place, pojok perempatan Orchard Road dan Patterson Road, Singapura, telah tutup untuk selamanya pada tanggal 3 September 2011 yang lalu.
Ada sepotong hati ini yang ikut hilang.
Wonogiri, 15/9/2011
Wednesday, July 13, 2011
Gadis Cantik, Rahasia Google, Nostalgia Jogja
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Gadis cantik di seberang itu memakai jaket biru. Bertuliskan, “Economics UGM.” Ia berkali-kali menghindari adu pandang.
Ia lebih tersedot perhatiannya kepada telepon genggamnya. Hampir sepanjang perjalanan Solo-Yogya.
Di sebelahku, anak muda laki. Berkali-kali mencek telepon genggam dari tasnya. Sebelahnya lagi, seorang bapak muda. Sejak naik, headset nampak terus menempel di telinganya.
Di seberang jauh, ada yang membaca koran. Sisa penumpang di gerbong kereta api Prameks yang saya tumpangi pagi itu (12/7/2011), tenggelam dalam lamunan masing-masing.
Saya terbenam sendirian dalam pengembaraan yang dipandu John Battelle. Ia adalah editor pendiri majalah gaya hidup digital, Wired, yang di Indonesia pada tahun 2001 dijual seharga 125 ribu rupiah. Sementara majalah lain yang juga saya sukai, Harvard Business Review dijual sampai 250 ribu rupiah.
John Battelle itu telah menulis seluk-beluk sejarah dan pengaruh keberadaan mesin pencari Google. Judul asli bukunya itu, The Search: How Google and Its Rivals Rewrote the Rules of Business and Transformed Our Culture (2005).
SBY, staf dan kroninya yang bertugas dalam politik pencitraannya, seyogyanya membaca buku ini. Siapa tahu, mereka akan menjadi maklum mengapa di bulan Februari 2011 lalu ketika seseorang mengetikkan lema “kebaikan sby” langsung disambut Google dengan pertanyaan balik yang sangat menohok : “Mungkin maksud Anda adalah keburukan SBY?”
Pustakawan ("nama Dewey juga muncul di buku ini"), bahkan juga Anda yang ingin tahu posisi diri di tengah perubahan kosmos ilmu pengetahuan dan budaya masa kini, sebaiknya juga membaca. Ini bukan buku tentang teknologi, atau sejarah bisnis perusahaan. Tetapi sebuah ulasan dalm dan menggairahkan tentang antropologi budaya suatu pencarian dan menganalisis mesin pencarian tersebut dalam perannya sebagai database of our intentions, pangkalan data penuh arti, karena di dalamnya terhimpun rasa ingin tahu kemanusiaan, eksplorasi dan gairah-gairah yang terekspresikan.
Google mencatat dan mendokumentasikan secara terinci lalu lalang pikiran umat manusia dalam lebih dari 150.000 pangkalan data. Ia tahu persis, misalnya berapa juta kata “seks” atau “pornografi” yang diketik oleh orang Indonesia atau bangsa lainnya dalam kurun waktu tertentu.
Lalu muncul pikiran usil, kalau misalnya “x” itu kini menjadi minat sesuatu bangsa, bagaimana kalau kita jualan produk-produk yang terkait “x” kepada bangsa bersangkutan ? Kalau dalam sesuatu jajak pendapat seseorang tokoh dikabarkan populer dalam pangkalan data Google, tetapi bagaimana kalau yang dibocorkan ke media justru tokoh lainnya ? Google tahu kedahsyatan dirinya. Maka mereka pun pagi-pagi sudah memasang slogan Don’t be evil. Janganlah menjadi jahat.
The Dirty Thousands. Dalam perjalanan di atas Prameks itu saya baru membaca sampai halaman 41. Buku saya masukkan ke dalam tas punggung, dan gantian saya kembali membaca kartu berisi butir-butir topik terkait dengan misi perjalanan ke Yogya ini. Yaitu ingin ikut audisi Stand-Up Comedy Indonesia yang diadakan oleh KompasTV. Di Liquid Café, Jl. Magelang.
Saya tiba di stasiun Tugu, jam 8 pagi. Kereta api (walau sudah tak menggunakan api) ini ketika di tahun 70-an bernama Kuda Putih, telah memicu saya membuat cerita pendek. Judulnya, “Cintaku Antara Balapan dan Tugu.”
Kalau tidak salah tahunnya, yaitu 1978, dimuat di majalah Gadis. Itu cerpen kedua saya dan yang terakhir di majalah yang salah satu redaksinya, mBak Threes Emir, merupakan kakak kelas di Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI.
Keluar dari Stasiun Tugu, jalan kearah timur, langsung menatap bangunan yang dulu di tahun 1970-an dipakai sebagai markas Kodim 0734. Kantor ayah saya, almarhum Kapten Kastanto Hendrowiharso. Saat itu saya bersekolah di STM Negeri 2 Yogyakarta, di Jetis.
Kalau pas pelajaran dibatalkan, saya mengajak teman yang punya uang. Hanya dengan uang Rp. 50,00 dirinya saya ajak menemui Bapak saya. Di sana ada jatah bagi tentara untuk membeli karcis bioskop tayangan siang hari, matinee. Uang Rp. 50,00 bisa untuk menonton bagi dua orang.
Film saat itu yang jadi perbincangan antara lain kisah percintaan mahasiswa Harvard, yaitu Love Story-nya Ali McGraw dan Ryan O’Neal. Juga filmnya Lee Marvin dkk, The Dirty Dozen, cerita tentang pasukan komando terdiri dari 12 tahanan yang menyusup dan menghancurkan markas tentara Nazi Jerman.
Ketika baru-baru ini otoritas perfilman Indonesia bilang bahwa negeri kita akan menjadi tempat syuting 7 film manca negara, saya bergumam : “Sebaiknya ada film yang menceritakan SBY dan kemelut skandal korupsi di Partai Demokrat. Dan The Dirty Thousands kiranya merupakan judul yang tepat untuk film bersangkutan.”
Menjejaki Malioboro, saya kemudian menunggu bis TransJogja di terminal yang persis di seberang kantor Perpustakaan Daerah Yogyakarta. Ada papan namanya berbunyi, Jogja Library Center (JLC).
Seingat saya, sepanjang tahun 1970-1972, saya hanya sekali mengunjungi ruang bacanya. Terasa gelap, seperti suasana filmnya Harry Potter. Sejak itu tak berkunjung lagi, padahal tempat tinggal saya di Dagen, hanya sekitar 800 m dari perpustakaan ini.
Toh masih ada kenangan manis tersisa. Tahun 1977 ketika saya beraktivitas di Gallery Mandungan Muka Kraton Surakarta, saya pernah meminjam belasan koleksi majalah dinding perpustakaan ini. Saat itu saya dibantu petugasnya yang ramah : Mas Heri Santoso.
Majalah-majalah dinding yang hasil karya SLTA Yogyakarta itu lalu saya pamerkan di Solo. Dua kali. Kemudian kami pajang bersama karya-karya murid SLTA Surakarta. Karya anak-anak Jogja jauh lebih gaya.
Selain papan nama JLC, terdapat spanduk berisi informasi lomba menulis surat untuk ibu yang diadakan oleh perpustakaan tersebut. Terbuka untuk murid SD dan SMP. Topiknya, “Ibuku, Perpustakaanku.”
Sedikit berefleksi, menulis surat adalah salah satu pintu gerbang diri saya untuk menyukai kebiasaan menulis. Dan tentu saja, membaca. Sebagai anak yang pemalu, ketika SD (saya tinggal di Wonogiri, tetapi ayah saya bekerja di Yogya) saya menyatakan keinginan dengan menulis surat.
Juga ketika ingin dibelikan buku. Hari Minggu siang, ketika ayah saya akan kembali ke Yogya, bila menginginkan buku saya akan tulis judul dan nama pengarang di secarik kertas. Diam-diam, kertas itu saya masukkan ke saku baju seragam ayah saya.
Sabtu minggu depan, sekitar jam 3 sore, ketika ayah saya datang dan tidak usah saling ngomong, saya segera menggeledah isi tas kerja beliau. Selain buku-buku pelajaran, buku bacaan favorit adalah kisah Mahesa Djenar dalam karya SH Mintardja, Nogososro-Sabukinten., yang akan saya temukan. Bau tintanya masih terpateri hingga kini. Lalu meringkuk di kamar tidur, membacanya. Menjelang Maghrib, buku itu pun selesai.
Kembali ke perpustakaan Jogja. Di bagian lain spanduknya itu nampak terpajang logo beberapa lembaga negara, televisi dan perusahaan, sebagai sponsor perlombaan. Kalau saja saya bekerja di perpustakaan, saya akan senang hati belajar lagi dari perpustakaan Jogja ini dalam mengadakan aktivitas yang kreatif dan inspiratif tersebut.
Muncul sajalah. Ketika bis TransJogja 3A tiba, Malioboro segera saya tinggalkan. Di jalanan ini, dulu-dulu itu, saya suka nabrak-nabrak untuk menyapa turis asing. Sekadar melatih bahasa Inggris semampunya. Perjalanan bis nampak lamban, mungkin karena saat itu saya lagi tergesa-gesa.
Seharusnya saya belajar untuk mengendalikan perangai suka tergesa-gesa ini. Demikian pula ketika dalam mencoba berenang di lautan dunia komedi, yang ingin saya terjuni, dengan mengikuti audisi komedian tunggal oleh KompasTV ini.
Audisi saya gagal. Tetapi, syukurlah, dampaknya tidak fatal-fatal amat. Karena dari rumah sudah saya siapkan beberapa mata pancing. Beberapa opsi. Ada yang untuk kepentingan sesaat, tetapi lebih banyak lagi mata-mata pancing untuk masa depan. Yang bahkan sinarnya pun baru mengintip di balik cakrawala.
Bagi para pencari kerja, saya ajak Anda menyimak nasehat Paul Arden ini. Ia eksekutif kreatif perusahaan periklanan kelas dunia Saatchi & Saatchi yang menulis buku berisi ajaran agar kita berani melawan arus. Karena emas ada di sana.
Dalam bukunya Whatever You Think, Think The Opposite (2006), ia menulis : “Jika Anda tidak mempunyai gelar atau biaya kuliah, muncul saja. Jika Anda ingin ada dalam pekerjaan di mana mereka tidak menerima Anda, muncul saja.
Pergilah menghadiri kuliah-kuliah, mondar-mandirlah mengerjakan segala sesuatu, buatlah diri Anda berguna. Buatlah orang-orang mengenal Anda. Pada akhirnya mereka akan menerima Anda, karena Anda adalah bagian dari komunitas mereka.
Mereka tidak hanya akan menghormati kegigihan Anda tetapi juga akan menyukai Anda karenanya. Ini mungkin akan makan waktu, katakan setahun, tetapi Anda akan diterima, bukan ditolak.”
Terima kasih, Paul. Ajaran Anda itu memberi saya perasaan dada lega ketika naik bus untuk meninggalkan Yogya. Saya sudah mengikuti nasehat Anda. Saya sudah muncul, dan hal magis itu kini kiranya sedang bekerja.
Tetapi tetap ada hal rada mengecewakan. Keinginan reuni dengan gadis cantik berjaket “Economics UGM” tadi hanya tinggal kenangan semata.
Tak apa-apa. Apalagi saya kini juga sudah tak mampu lagi menulis seperti “Cintaku Antara Balapan dan Tugu,” sebuah cerita pendek picisan yang saya tulis beberapa dekade lalu itu.
Wonogiri, 14/7/2011
Email : humorliner (at) yahoo.com
Gadis cantik di seberang itu memakai jaket biru. Bertuliskan, “Economics UGM.” Ia berkali-kali menghindari adu pandang.
Ia lebih tersedot perhatiannya kepada telepon genggamnya. Hampir sepanjang perjalanan Solo-Yogya.
Di sebelahku, anak muda laki. Berkali-kali mencek telepon genggam dari tasnya. Sebelahnya lagi, seorang bapak muda. Sejak naik, headset nampak terus menempel di telinganya.
Di seberang jauh, ada yang membaca koran. Sisa penumpang di gerbong kereta api Prameks yang saya tumpangi pagi itu (12/7/2011), tenggelam dalam lamunan masing-masing.
Saya terbenam sendirian dalam pengembaraan yang dipandu John Battelle. Ia adalah editor pendiri majalah gaya hidup digital, Wired, yang di Indonesia pada tahun 2001 dijual seharga 125 ribu rupiah. Sementara majalah lain yang juga saya sukai, Harvard Business Review dijual sampai 250 ribu rupiah.
John Battelle itu telah menulis seluk-beluk sejarah dan pengaruh keberadaan mesin pencari Google. Judul asli bukunya itu, The Search: How Google and Its Rivals Rewrote the Rules of Business and Transformed Our Culture (2005).
SBY, staf dan kroninya yang bertugas dalam politik pencitraannya, seyogyanya membaca buku ini. Siapa tahu, mereka akan menjadi maklum mengapa di bulan Februari 2011 lalu ketika seseorang mengetikkan lema “kebaikan sby” langsung disambut Google dengan pertanyaan balik yang sangat menohok : “Mungkin maksud Anda adalah keburukan SBY?”
Pustakawan ("nama Dewey juga muncul di buku ini"), bahkan juga Anda yang ingin tahu posisi diri di tengah perubahan kosmos ilmu pengetahuan dan budaya masa kini, sebaiknya juga membaca. Ini bukan buku tentang teknologi, atau sejarah bisnis perusahaan. Tetapi sebuah ulasan dalm dan menggairahkan tentang antropologi budaya suatu pencarian dan menganalisis mesin pencarian tersebut dalam perannya sebagai database of our intentions, pangkalan data penuh arti, karena di dalamnya terhimpun rasa ingin tahu kemanusiaan, eksplorasi dan gairah-gairah yang terekspresikan.
Google mencatat dan mendokumentasikan secara terinci lalu lalang pikiran umat manusia dalam lebih dari 150.000 pangkalan data. Ia tahu persis, misalnya berapa juta kata “seks” atau “pornografi” yang diketik oleh orang Indonesia atau bangsa lainnya dalam kurun waktu tertentu.
Lalu muncul pikiran usil, kalau misalnya “x” itu kini menjadi minat sesuatu bangsa, bagaimana kalau kita jualan produk-produk yang terkait “x” kepada bangsa bersangkutan ? Kalau dalam sesuatu jajak pendapat seseorang tokoh dikabarkan populer dalam pangkalan data Google, tetapi bagaimana kalau yang dibocorkan ke media justru tokoh lainnya ? Google tahu kedahsyatan dirinya. Maka mereka pun pagi-pagi sudah memasang slogan Don’t be evil. Janganlah menjadi jahat.
The Dirty Thousands. Dalam perjalanan di atas Prameks itu saya baru membaca sampai halaman 41. Buku saya masukkan ke dalam tas punggung, dan gantian saya kembali membaca kartu berisi butir-butir topik terkait dengan misi perjalanan ke Yogya ini. Yaitu ingin ikut audisi Stand-Up Comedy Indonesia yang diadakan oleh KompasTV. Di Liquid Café, Jl. Magelang.
Saya tiba di stasiun Tugu, jam 8 pagi. Kereta api (walau sudah tak menggunakan api) ini ketika di tahun 70-an bernama Kuda Putih, telah memicu saya membuat cerita pendek. Judulnya, “Cintaku Antara Balapan dan Tugu.”
Kalau tidak salah tahunnya, yaitu 1978, dimuat di majalah Gadis. Itu cerpen kedua saya dan yang terakhir di majalah yang salah satu redaksinya, mBak Threes Emir, merupakan kakak kelas di Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI.
Keluar dari Stasiun Tugu, jalan kearah timur, langsung menatap bangunan yang dulu di tahun 1970-an dipakai sebagai markas Kodim 0734. Kantor ayah saya, almarhum Kapten Kastanto Hendrowiharso. Saat itu saya bersekolah di STM Negeri 2 Yogyakarta, di Jetis.
Kalau pas pelajaran dibatalkan, saya mengajak teman yang punya uang. Hanya dengan uang Rp. 50,00 dirinya saya ajak menemui Bapak saya. Di sana ada jatah bagi tentara untuk membeli karcis bioskop tayangan siang hari, matinee. Uang Rp. 50,00 bisa untuk menonton bagi dua orang.
Film saat itu yang jadi perbincangan antara lain kisah percintaan mahasiswa Harvard, yaitu Love Story-nya Ali McGraw dan Ryan O’Neal. Juga filmnya Lee Marvin dkk, The Dirty Dozen, cerita tentang pasukan komando terdiri dari 12 tahanan yang menyusup dan menghancurkan markas tentara Nazi Jerman.
Ketika baru-baru ini otoritas perfilman Indonesia bilang bahwa negeri kita akan menjadi tempat syuting 7 film manca negara, saya bergumam : “Sebaiknya ada film yang menceritakan SBY dan kemelut skandal korupsi di Partai Demokrat. Dan The Dirty Thousands kiranya merupakan judul yang tepat untuk film bersangkutan.”
Menjejaki Malioboro, saya kemudian menunggu bis TransJogja di terminal yang persis di seberang kantor Perpustakaan Daerah Yogyakarta. Ada papan namanya berbunyi, Jogja Library Center (JLC).
Seingat saya, sepanjang tahun 1970-1972, saya hanya sekali mengunjungi ruang bacanya. Terasa gelap, seperti suasana filmnya Harry Potter. Sejak itu tak berkunjung lagi, padahal tempat tinggal saya di Dagen, hanya sekitar 800 m dari perpustakaan ini.
Toh masih ada kenangan manis tersisa. Tahun 1977 ketika saya beraktivitas di Gallery Mandungan Muka Kraton Surakarta, saya pernah meminjam belasan koleksi majalah dinding perpustakaan ini. Saat itu saya dibantu petugasnya yang ramah : Mas Heri Santoso.
Majalah-majalah dinding yang hasil karya SLTA Yogyakarta itu lalu saya pamerkan di Solo. Dua kali. Kemudian kami pajang bersama karya-karya murid SLTA Surakarta. Karya anak-anak Jogja jauh lebih gaya.
Selain papan nama JLC, terdapat spanduk berisi informasi lomba menulis surat untuk ibu yang diadakan oleh perpustakaan tersebut. Terbuka untuk murid SD dan SMP. Topiknya, “Ibuku, Perpustakaanku.”
Sedikit berefleksi, menulis surat adalah salah satu pintu gerbang diri saya untuk menyukai kebiasaan menulis. Dan tentu saja, membaca. Sebagai anak yang pemalu, ketika SD (saya tinggal di Wonogiri, tetapi ayah saya bekerja di Yogya) saya menyatakan keinginan dengan menulis surat.
Juga ketika ingin dibelikan buku. Hari Minggu siang, ketika ayah saya akan kembali ke Yogya, bila menginginkan buku saya akan tulis judul dan nama pengarang di secarik kertas. Diam-diam, kertas itu saya masukkan ke saku baju seragam ayah saya.
Sabtu minggu depan, sekitar jam 3 sore, ketika ayah saya datang dan tidak usah saling ngomong, saya segera menggeledah isi tas kerja beliau. Selain buku-buku pelajaran, buku bacaan favorit adalah kisah Mahesa Djenar dalam karya SH Mintardja, Nogososro-Sabukinten., yang akan saya temukan. Bau tintanya masih terpateri hingga kini. Lalu meringkuk di kamar tidur, membacanya. Menjelang Maghrib, buku itu pun selesai.
Kembali ke perpustakaan Jogja. Di bagian lain spanduknya itu nampak terpajang logo beberapa lembaga negara, televisi dan perusahaan, sebagai sponsor perlombaan. Kalau saja saya bekerja di perpustakaan, saya akan senang hati belajar lagi dari perpustakaan Jogja ini dalam mengadakan aktivitas yang kreatif dan inspiratif tersebut.
Muncul sajalah. Ketika bis TransJogja 3A tiba, Malioboro segera saya tinggalkan. Di jalanan ini, dulu-dulu itu, saya suka nabrak-nabrak untuk menyapa turis asing. Sekadar melatih bahasa Inggris semampunya. Perjalanan bis nampak lamban, mungkin karena saat itu saya lagi tergesa-gesa.
Seharusnya saya belajar untuk mengendalikan perangai suka tergesa-gesa ini. Demikian pula ketika dalam mencoba berenang di lautan dunia komedi, yang ingin saya terjuni, dengan mengikuti audisi komedian tunggal oleh KompasTV ini.
Audisi saya gagal. Tetapi, syukurlah, dampaknya tidak fatal-fatal amat. Karena dari rumah sudah saya siapkan beberapa mata pancing. Beberapa opsi. Ada yang untuk kepentingan sesaat, tetapi lebih banyak lagi mata-mata pancing untuk masa depan. Yang bahkan sinarnya pun baru mengintip di balik cakrawala.
Bagi para pencari kerja, saya ajak Anda menyimak nasehat Paul Arden ini. Ia eksekutif kreatif perusahaan periklanan kelas dunia Saatchi & Saatchi yang menulis buku berisi ajaran agar kita berani melawan arus. Karena emas ada di sana.
Dalam bukunya Whatever You Think, Think The Opposite (2006), ia menulis : “Jika Anda tidak mempunyai gelar atau biaya kuliah, muncul saja. Jika Anda ingin ada dalam pekerjaan di mana mereka tidak menerima Anda, muncul saja.
Pergilah menghadiri kuliah-kuliah, mondar-mandirlah mengerjakan segala sesuatu, buatlah diri Anda berguna. Buatlah orang-orang mengenal Anda. Pada akhirnya mereka akan menerima Anda, karena Anda adalah bagian dari komunitas mereka.
Mereka tidak hanya akan menghormati kegigihan Anda tetapi juga akan menyukai Anda karenanya. Ini mungkin akan makan waktu, katakan setahun, tetapi Anda akan diterima, bukan ditolak.”
Terima kasih, Paul. Ajaran Anda itu memberi saya perasaan dada lega ketika naik bus untuk meninggalkan Yogya. Saya sudah mengikuti nasehat Anda. Saya sudah muncul, dan hal magis itu kini kiranya sedang bekerja.
Tetapi tetap ada hal rada mengecewakan. Keinginan reuni dengan gadis cantik berjaket “Economics UGM” tadi hanya tinggal kenangan semata.
Tak apa-apa. Apalagi saya kini juga sudah tak mampu lagi menulis seperti “Cintaku Antara Balapan dan Tugu,” sebuah cerita pendek picisan yang saya tulis beberapa dekade lalu itu.
Wonogiri, 14/7/2011
Buku “Komedikus Erektus” Mau Mejeng Di KompasTV ?
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Pengarang buku, sebaiknya semi famous.
Maksudnya, agak-agak terkenal, kira-kira begitulah. Karena keterkenalan membawa berkah. Bagi penulis dan juga bagi buku karyanya.
Bagaimana caranya menjadi agak-agak terkenal itu ? Menurut Burke Allen, apabila Anda mampu membuat proposisi yang unik dan menarik sehingga mampu menyentuh emosi, orang-orang akan antri untuk berbicara kepada Anda ketika tampil di televisi, radio, Internet dan di media cetak.
Hal yang menarik, lanjut Burke Allen, semua hal itu seringkali tidak terkait dengan buku Anda karena media tertarik mewawancarai Anda, bukan hendak membahas buku Anda. Tetapi semua media itu akan mengijinkan Anda untuk memamerkan buku Anda, sehingga buku Anda tersebut berkesempatan tampil dalami liputan yang menguntungkan.
Hari Selasa (12/7/2011) saya mengalami persis hal di atas. Saat itu saya mengikuti audisi Stand-Up Comedy Indonesia yang diselenggarakan oleh KompasTV. Lokasi audisi di Liquid Café, Jl. Magelang, Yogyakarta. Dalam foto saya bersama Imot a.k.a. Sigit Hariyo Seno, anak muda Yogya yang sengaja mau jatuh-bangun merintis karier sebagai komedian tunggal, dan akhirnya sering mengisi pagelaran di Kafe Jendelo, Yogya. Ia lolos audisi di Yogya itu.
Dari rumah Wonogiri saya berangkat jam 5 pagi. Di dalam tas saya berisi buku biografi Warkop, Main-Main Menjadi Bukan Main (2010) dan enam buku saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010).
Buku pertama itu akan saya mintakan tanda tangan kepada penulisnya, pelawak Indro Warkop, yang menjadi juri audisi. Sedang buku saya, rencananya akan saya berikan kepada Indro Warkop, Butet Kertarajasa (juri kedua), artis Astrid Tiar, dan host acara itu, Panji Pragiwaksono dan Raditya Dika.
Hal tak terduga kemudian terjadi. Sebelum audisi berlangsung, saya diwawancarai mBak Dossy dari Kompas TV. Ia bertanya mengenai minat saya mengenai dunia komedi dan apa saja yang telah saya kerjakan selama ini. Singkat cerita, saya juga menunjukkan buku saya ini.
Sejurus kemudian ia melakukan koordinasi dengan sutradara lapangan dan kameraman. Selanjutnya meminta saya keluar ruangan untuk syuting pembuatan videoklip yang menggambarkan profil diri saya.
Begitulah kejadiannya, berkat bawa-bawa buku, saya hari itu rupanya telah menjadi semi terkenal. Sebagian peserta audisi lainnya, yang baru pertama kali bertemu, malah ada yang bertanya tentang buku saya berikutnya.
Di bawah todongan kameranya Mas Oman, disutradai mas Arif, saya diminta akting menyeberang jalan, lalu berhenti menatap papan nama kafe, disusul menceritakan niat ikut audisi, dan juga membuat sampul buku saya nampak di-close-up habis-habisan.
Audisi saya hari itu memang tidak berhasil. Tetapi rencana-rencana saya terkait buku, berhasil saya laksanakan.
Saya bisa meminta tanda tangan, sekaligus berkenalan secara akrab, dengan Indro Warkop dan Butet Kertarejasa, yang walau baru saja “membantai” saya sehingga tidak lolos audisi. Kepada mereka, saya berikan pula buku saya, dan gentian Indro Warkop yang meminta tanda tangan saya.
Keluar dari panggung audisi, kejutan lain menunggu. Saat itu saya langsung diajak mengobrol dengan mBak Argalaras, associate producer dari KompasTV. Kami saling bertukar kartu nama. Dalam keremangan kafe (walau siang hari), saya sebut namanya indah. Ia juga cantik sekali.
Kita kemudian bertukar visi mengenai apa yang bisa kami kerjakan kelak untuk menunjang keberhasilan audisi komedian tunggal ini. Kepada dirinya, juga saya berikan buku saya. Konon, klip itu akan ditayangkan pada bulan September 2011 mendatang.
Pengalaman yang unik.
Berkat buku, ketika sebuah pintu tertutup, ternyata masih ada jendela-jendela peluang lain yang kemudian terbuka. Apakah Anda pernah mengalami hal yang sama dengan buku-buku Anda ? Saya menantikan cerita Anda.
Wonogiri, 13/7/2011
Email : humorliner (at) yahoo.com
Pengarang buku, sebaiknya semi famous.
Maksudnya, agak-agak terkenal, kira-kira begitulah. Karena keterkenalan membawa berkah. Bagi penulis dan juga bagi buku karyanya.
Bagaimana caranya menjadi agak-agak terkenal itu ? Menurut Burke Allen, apabila Anda mampu membuat proposisi yang unik dan menarik sehingga mampu menyentuh emosi, orang-orang akan antri untuk berbicara kepada Anda ketika tampil di televisi, radio, Internet dan di media cetak.
Hal yang menarik, lanjut Burke Allen, semua hal itu seringkali tidak terkait dengan buku Anda karena media tertarik mewawancarai Anda, bukan hendak membahas buku Anda. Tetapi semua media itu akan mengijinkan Anda untuk memamerkan buku Anda, sehingga buku Anda tersebut berkesempatan tampil dalami liputan yang menguntungkan.
Hari Selasa (12/7/2011) saya mengalami persis hal di atas. Saat itu saya mengikuti audisi Stand-Up Comedy Indonesia yang diselenggarakan oleh KompasTV. Lokasi audisi di Liquid Café, Jl. Magelang, Yogyakarta. Dalam foto saya bersama Imot a.k.a. Sigit Hariyo Seno, anak muda Yogya yang sengaja mau jatuh-bangun merintis karier sebagai komedian tunggal, dan akhirnya sering mengisi pagelaran di Kafe Jendelo, Yogya. Ia lolos audisi di Yogya itu.
Dari rumah Wonogiri saya berangkat jam 5 pagi. Di dalam tas saya berisi buku biografi Warkop, Main-Main Menjadi Bukan Main (2010) dan enam buku saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010).
Buku pertama itu akan saya mintakan tanda tangan kepada penulisnya, pelawak Indro Warkop, yang menjadi juri audisi. Sedang buku saya, rencananya akan saya berikan kepada Indro Warkop, Butet Kertarajasa (juri kedua), artis Astrid Tiar, dan host acara itu, Panji Pragiwaksono dan Raditya Dika.
Hal tak terduga kemudian terjadi. Sebelum audisi berlangsung, saya diwawancarai mBak Dossy dari Kompas TV. Ia bertanya mengenai minat saya mengenai dunia komedi dan apa saja yang telah saya kerjakan selama ini. Singkat cerita, saya juga menunjukkan buku saya ini.
Sejurus kemudian ia melakukan koordinasi dengan sutradara lapangan dan kameraman. Selanjutnya meminta saya keluar ruangan untuk syuting pembuatan videoklip yang menggambarkan profil diri saya.
Begitulah kejadiannya, berkat bawa-bawa buku, saya hari itu rupanya telah menjadi semi terkenal. Sebagian peserta audisi lainnya, yang baru pertama kali bertemu, malah ada yang bertanya tentang buku saya berikutnya.
Di bawah todongan kameranya Mas Oman, disutradai mas Arif, saya diminta akting menyeberang jalan, lalu berhenti menatap papan nama kafe, disusul menceritakan niat ikut audisi, dan juga membuat sampul buku saya nampak di-close-up habis-habisan.
Audisi saya hari itu memang tidak berhasil. Tetapi rencana-rencana saya terkait buku, berhasil saya laksanakan.
Saya bisa meminta tanda tangan, sekaligus berkenalan secara akrab, dengan Indro Warkop dan Butet Kertarejasa, yang walau baru saja “membantai” saya sehingga tidak lolos audisi. Kepada mereka, saya berikan pula buku saya, dan gentian Indro Warkop yang meminta tanda tangan saya.
Keluar dari panggung audisi, kejutan lain menunggu. Saat itu saya langsung diajak mengobrol dengan mBak Argalaras, associate producer dari KompasTV. Kami saling bertukar kartu nama. Dalam keremangan kafe (walau siang hari), saya sebut namanya indah. Ia juga cantik sekali.
Kita kemudian bertukar visi mengenai apa yang bisa kami kerjakan kelak untuk menunjang keberhasilan audisi komedian tunggal ini. Kepada dirinya, juga saya berikan buku saya. Konon, klip itu akan ditayangkan pada bulan September 2011 mendatang.
Pengalaman yang unik.
Berkat buku, ketika sebuah pintu tertutup, ternyata masih ada jendela-jendela peluang lain yang kemudian terbuka. Apakah Anda pernah mengalami hal yang sama dengan buku-buku Anda ? Saya menantikan cerita Anda.
Wonogiri, 13/7/2011
Monday, June 27, 2011
The Book and The Beautiful Girl
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com

Gelisah.
Ciri-ciri orang yang menanti.
Memainkan telepon genggam.
Kirim-baca sms. Bertelepon-ria.
Membunuh waktu.
Siang itu saya dianugerahi panorama berbeda. Kamera Nikon saya yang invalid itu bahkan tidak berani berdusta.
“Beautiful girl, I'll search on for you/'Til all of your loveliness in my arms come true/You've made me love again, after a long, long while/In love again…”
[Jose Mari Chan, “Beautiful Girl”].
Wonogiri, 28/6/2011
Email : humorliner (at) yahoo.com

Gelisah.
Ciri-ciri orang yang menanti.
Memainkan telepon genggam.
Kirim-baca sms. Bertelepon-ria.
Membunuh waktu.
Siang itu saya dianugerahi panorama berbeda. Kamera Nikon saya yang invalid itu bahkan tidak berani berdusta.
“Beautiful girl, I'll search on for you/'Til all of your loveliness in my arms come true/You've made me love again, after a long, long while/In love again…”
[Jose Mari Chan, “Beautiful Girl”].
Wonogiri, 28/6/2011
The Age of Muslim Wars di Indonesia ?
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Picasso.
Andy Warhol.
Wassily Kandinsky.
Juga Jackson “action painting” Pollock.
Jangan bayangkan museum atau galeri yang memiliki koleksi lukisan karya para maestro di atas itu berada di New York, London, Paris atau Bilbao. Karya-karya master piece para maestro itu justru disimpan di ruang bawah tanah sebuah galeri di Teheran, Iran.
Aneh juga. Negara para mullah yang berseteru secara sengit dengan Israel, juga dengan negara-negara Barat itu, justru tetap melestarikan karya-karya lukisan orang-orang Barat itu.
Saya juga ikut-ikutan menceritakan hal unik terkait negeri Iran. Dalam buku saya Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010) yang sekuelnya bisa terbit bulan Oktober 2011, saya kutipkan cerita tentang lawakan komedian perempuan, Tissa Hami, yang berasal dari Iran tetapi kini menetap di Amerika Serikat.
Tissa Hami itu bergelar Master Kajian Internasional. Ia kini bekerja di John F. Kennedy School of Government, Universitas Harvard. Ketika tanggal 29 September 2009 saat SBY berpidato di sini, tentu ia ikut menjadi seksi repot. Tambahan info, anak sulung SBY, Kapten Agus Harimurti, juga berkuliah di sini.
Saya tidak tahu apa Tissa Hami saat itu juga tergelitik membuat lawakan tentang SBY yang berpidato di Harvard itu. Tetapi SBY-nya sendiri sering dikabarkan bangga dengan isi pidatonya saat itu. Bahkan oleh seorang pelatih pidato terkenal, Richard Greene, pidato SBY itu disisipkan dalam bukunya sebagai salah satu pidato abad ke-21 yang mengguncang dunia. [Di kepala saya muncul bunyi 'klik' : “Saya memperoleh ilham baru lagi untuk menulis humor tentangnya, di buku saya kemudian :-)”].
Kembali ke Tissa Hami. Latar belakang asalnya yang dari Iran dan referensi buruk hubungan di tahun 1970-an antara negeri kelahirannya dengan negerinya kini, justru sering menjadi materi lawakannya. Katanya : “Kalau tidak ada penonton yang tertawa mendengar lawakan saya, Anda semua akan saya jadikan sandera !”
Itulah humor orang Iran. Kalau saja lukisan-lukisan karya para “bule” itu berada di Afghanistan, sambil merujuk nasib patung-patung Buddha raksasa yang dihancurkan kaum Taliban, pasti karya seni bernilai jutaan dollar itu boleh jadi sudah lama menjadi abu.
Nasib patung Buddha raksasa itu pernah menjadi rujukan komedian intelek Steve Martin ketika memandu acara Oscar tahun 2001. Ia sambil merujuk patung-patung raksasa Oscar di sekitar panggung, lalu menyeletuk : “Kalau di Afghanistan, semua Oscar-Oscar itu pasti sudah dihancurkan oleh Taliban !”
Iran yang unik. Cerita itu saya ikuti ketika menonton tayangan kisah perjalanan menarik dari Diego Bunuel. Orang Perancis yang ramah ini keliling dunia untuk mengunjungi dan menceritakan hal-hal menarik yang ia temui. Acaranya itu bertajuk “Don’t Tell My Mother,” di kanal National Geographic Channel.
Sebelum bercerita tentang koleksi lukisan, Diego menemui komunitas orang Yahudi di Iran. Bayangkan, hubungan Iran dengan Israel ibarat anjing lawan kucing, tetapi komunitas Yahudi itu aman dan damai menjalankan ibadah.
Bahkan komunitas Yahudinya terbesar kedua setelah negeri Israel. Mereka hidup aman dan damai. Sinagognya tak pernah diusik orang Iran, karena menurut tokoh Yahudi di Iran itu, “warga negara Iran tahu membedakan mana urusan agama dan mana urusan politik.”
Cerita Diego Bunuel itu mengingatkan saya akan isi artikel yang ditulis Francis Fukuyama di majalah Newsweek, edisi dobel, Desember 2001-Februari 2002. Topik utamanya adalah Era Perang Kaum Muslim. The Age of Muslim Wars. Tentang era centang-perenang ketika kaum muslim berperang melawan muslim, dan juga peperangan muslim melawan Barat.
Majalah edisi ini bernilai sentimental sekaligus monumental. Juga buku The Comedy Bible-nya Judy Carter (foto). Karena keduanya saya beli untuk meredakan gejolak hati setelah memperoleh surat vonis PHK dari sebuah perusahaan Internet di Jakarta.
Dalam artikelnya di Newsweek yang berjudul “Today’s New Fascist, Their Target : The Modern World,” Fukuyama justru menyimpulkan bila “ada negara yang mampu memimpin dunia Islam untuk keluar dari jaman sulit dewasa ini, maka negara tersebut adalah Iran.”
Menurutnya, generasi Iran kini yang rentang usianya di bawah 30 tahun rata-rata tidak lagi menaruh simpati terhadap faham-faham fundamentalis “Dan bila Iran mampu menghadirkan sosok Islam yang lebih modern dan toleran, negeri tersebut akan menjadi model yang kuat bagi seluruh sisa negeri-negeri muslim di dunia,” pungkas Francis Fukuyama.
Bagaimana dengan Indonesia ? Republik Indonesia bukan negara agama. Tetapi tiap kali, antara lain mendengar pidato pembelaan Abu Bakar Baasyir di persidangan, juga heboh cerita tentang Panji Gumilang dan KW 9 (jadi isi laporan utama majalah Tempo terbaru) muncul teka-teki : apakah “The Age of Muslim Wars” justru telah “berpindah” ke Indonesia kini ?
Bagaimana pendapat Anda ?
Ayo jawab.
Tak usah menunggu orang Perancis ganteng itu, Diego Bunuel, melaporkannya dalam seri “Don’t Tell My Mother : Indonesia” di tayangannya mendatang.
Wonogiri, 19 Juni 2011
Email : humorliner (at) yahoo.com
Picasso.
Andy Warhol.
Wassily Kandinsky.
Juga Jackson “action painting” Pollock.
Jangan bayangkan museum atau galeri yang memiliki koleksi lukisan karya para maestro di atas itu berada di New York, London, Paris atau Bilbao. Karya-karya master piece para maestro itu justru disimpan di ruang bawah tanah sebuah galeri di Teheran, Iran.
Aneh juga. Negara para mullah yang berseteru secara sengit dengan Israel, juga dengan negara-negara Barat itu, justru tetap melestarikan karya-karya lukisan orang-orang Barat itu.
Saya juga ikut-ikutan menceritakan hal unik terkait negeri Iran. Dalam buku saya Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010) yang sekuelnya bisa terbit bulan Oktober 2011, saya kutipkan cerita tentang lawakan komedian perempuan, Tissa Hami, yang berasal dari Iran tetapi kini menetap di Amerika Serikat.
Tissa Hami itu bergelar Master Kajian Internasional. Ia kini bekerja di John F. Kennedy School of Government, Universitas Harvard. Ketika tanggal 29 September 2009 saat SBY berpidato di sini, tentu ia ikut menjadi seksi repot. Tambahan info, anak sulung SBY, Kapten Agus Harimurti, juga berkuliah di sini.
Saya tidak tahu apa Tissa Hami saat itu juga tergelitik membuat lawakan tentang SBY yang berpidato di Harvard itu. Tetapi SBY-nya sendiri sering dikabarkan bangga dengan isi pidatonya saat itu. Bahkan oleh seorang pelatih pidato terkenal, Richard Greene, pidato SBY itu disisipkan dalam bukunya sebagai salah satu pidato abad ke-21 yang mengguncang dunia. [Di kepala saya muncul bunyi 'klik' : “Saya memperoleh ilham baru lagi untuk menulis humor tentangnya, di buku saya kemudian :-)”].
Kembali ke Tissa Hami. Latar belakang asalnya yang dari Iran dan referensi buruk hubungan di tahun 1970-an antara negeri kelahirannya dengan negerinya kini, justru sering menjadi materi lawakannya. Katanya : “Kalau tidak ada penonton yang tertawa mendengar lawakan saya, Anda semua akan saya jadikan sandera !”
Itulah humor orang Iran. Kalau saja lukisan-lukisan karya para “bule” itu berada di Afghanistan, sambil merujuk nasib patung-patung Buddha raksasa yang dihancurkan kaum Taliban, pasti karya seni bernilai jutaan dollar itu boleh jadi sudah lama menjadi abu.
Nasib patung Buddha raksasa itu pernah menjadi rujukan komedian intelek Steve Martin ketika memandu acara Oscar tahun 2001. Ia sambil merujuk patung-patung raksasa Oscar di sekitar panggung, lalu menyeletuk : “Kalau di Afghanistan, semua Oscar-Oscar itu pasti sudah dihancurkan oleh Taliban !”
Iran yang unik. Cerita itu saya ikuti ketika menonton tayangan kisah perjalanan menarik dari Diego Bunuel. Orang Perancis yang ramah ini keliling dunia untuk mengunjungi dan menceritakan hal-hal menarik yang ia temui. Acaranya itu bertajuk “Don’t Tell My Mother,” di kanal National Geographic Channel.
Sebelum bercerita tentang koleksi lukisan, Diego menemui komunitas orang Yahudi di Iran. Bayangkan, hubungan Iran dengan Israel ibarat anjing lawan kucing, tetapi komunitas Yahudi itu aman dan damai menjalankan ibadah.
Bahkan komunitas Yahudinya terbesar kedua setelah negeri Israel. Mereka hidup aman dan damai. Sinagognya tak pernah diusik orang Iran, karena menurut tokoh Yahudi di Iran itu, “warga negara Iran tahu membedakan mana urusan agama dan mana urusan politik.”
Cerita Diego Bunuel itu mengingatkan saya akan isi artikel yang ditulis Francis Fukuyama di majalah Newsweek, edisi dobel, Desember 2001-Februari 2002. Topik utamanya adalah Era Perang Kaum Muslim. The Age of Muslim Wars. Tentang era centang-perenang ketika kaum muslim berperang melawan muslim, dan juga peperangan muslim melawan Barat.
Majalah edisi ini bernilai sentimental sekaligus monumental. Juga buku The Comedy Bible-nya Judy Carter (foto). Karena keduanya saya beli untuk meredakan gejolak hati setelah memperoleh surat vonis PHK dari sebuah perusahaan Internet di Jakarta.
Dalam artikelnya di Newsweek yang berjudul “Today’s New Fascist, Their Target : The Modern World,” Fukuyama justru menyimpulkan bila “ada negara yang mampu memimpin dunia Islam untuk keluar dari jaman sulit dewasa ini, maka negara tersebut adalah Iran.”
Menurutnya, generasi Iran kini yang rentang usianya di bawah 30 tahun rata-rata tidak lagi menaruh simpati terhadap faham-faham fundamentalis “Dan bila Iran mampu menghadirkan sosok Islam yang lebih modern dan toleran, negeri tersebut akan menjadi model yang kuat bagi seluruh sisa negeri-negeri muslim di dunia,” pungkas Francis Fukuyama.
Bagaimana dengan Indonesia ? Republik Indonesia bukan negara agama. Tetapi tiap kali, antara lain mendengar pidato pembelaan Abu Bakar Baasyir di persidangan, juga heboh cerita tentang Panji Gumilang dan KW 9 (jadi isi laporan utama majalah Tempo terbaru) muncul teka-teki : apakah “The Age of Muslim Wars” justru telah “berpindah” ke Indonesia kini ?
Bagaimana pendapat Anda ?
Ayo jawab.
Tak usah menunggu orang Perancis ganteng itu, Diego Bunuel, melaporkannya dalam seri “Don’t Tell My Mother : Indonesia” di tayangannya mendatang.
Wonogiri, 19 Juni 2011
Anak Anda, Korban Perang Saudagar Penjual Kematian ?
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Elvis Presley, Anda kenal ? Raja rock’n roll asal Memphis dan punya lagu hit “Blue Suede Shoes” itu pernah saya jadikan sebagai bahan olok-olok. Yaitu dengan mempersonifikasikan gaya dan seragam pasukan “sepatu beludru biru”-nya Partai Demokrat dalam show kampanye SBY di Pilpres 2009 yang lalu.
SBY dan putranya berpakaian dan bernyanyi a la Elvis. Rambut berjambul, kerah tegak a la kaos Erik Cantona atau baju Drakula, disusul adegan hot goyang pinggul. Penari latarnya semua bersepatu biru buatan pabriknya Hartati Murdaya (pendukung fanatik SBY), dan koreografi tarinya ditata oleh Angelina Sondakh.
Bagi Anda yang sudah membaca buku Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010), semoga masih mengingat cerita di halaman 105-111 itu.
Pilpres 2009 tersebut ternyata memang bermasalah. Asap kehebohannya yang masih mengepulkan jelaga sampai kini (isi sms “Nazaruddin” tentang pemalsuan 18 juta suara sampai kasus Andi Nurpati) mudah mengingatkan seorang diktator Afrika yang pernah bilang, “Anda boleh memenangkan pencoblosannya, tetapi kami akan menang dalam penghitungannya.” Itulah pula yang terjadi di KPU saat Pilpres 2009 yang lalu ?
Semua tokoh merokok. Kembali ke Elvis Presley. Anda pernah menonton film 3000 Miles to Graceland ? Film ini berkisah tentang sekawanan perampok kasino yang berdandan a la penyanyi legendaris yang meninggal di WC karena overdosis obat bius, ya Elvis Presley itu pula. Stasiun teve RCTI pernah menayangkan sedikitnya dua kali (7/5/2003 dan 28/4/2004) film tersebut.
Adegan sangat mencolok dalam film itu adalah banyaknya tokoh yang tak henti-hentinya merokok. Ada tokoh Murphy, sementara tokoh lainnya, Michael, juga merokok dan malah tampak permisif mengajari anak di bawah umur untuk merokok. Belum lagi detektifnya juga tak kalah dalam hal seringnya merokok.
Karena terusik, sebagai seorang epistoholik, saya telah menulis surat pembaca di koran (almarhum) Kompas Yogyakarta. Isinya gugatan : Apakah tukang pilih film di RCTI tidak terusik oleh adegan-adegan merokok yang sangat mencolok itu ?
Atau memang film ini sengaja dipilih (!) atas pesanan terselubung industriawan rokok yang maha kaya-kaya itu untuk mengiklankan kebiasaan merokok ? Sinetron Dara Manisku, juga di RCTI, mencolok adegannya yang mengumbar pelakunya seperti saling berlomba-lomba dalam merokok !
Glamorisasi. Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam upaya kampanye global anti-rokok telah mengimbau kalangan produser film di Hollywood dan Bollywood dan kalangan industri mode untuk menghentikan tayangan yang mengglamorisasikan aksi merokok.
Caranya dengan menghindari adegan film yang menayangkan aksi merokok yang nampak penuh gaya dan meminta industri fashion untuk tidak menggunakan rokok sebagai asesorinya.
Survei tentang Bollywood, ternyata 320 dari 400 film India menayangkan adegan merokok sebagai sesuatu hal yang cool untuk dilakukan. Rokok bisa mencitrakan kejantanan atau feminitas, canggih atau kasar, sexy atau sporty, semuanya karena kecerdikan strategi pemasaran.
Dua dari konteks yang mendukung citra tersebut adalah industri film dan mode. Disebutnya, kalangan film dan fashion memang tidak dapat dituding sebagai penyebab kanker, tetapi seharusnya mereka tidak mempromosikan produk-produk yang menyebabkan kanker.
Surga industri rokok. Anjuran WHO itu di Indonesia, nampak sebagai angin lalu. Artikel menohok dari Kak Seto di Kompas (28/7/2007) telah memotret agresifitas industri rokok dalam berkampanye mengajak anak-anak muda kita untuk merokok.
Dikota kecil saya saja, Wonogiri, setiap kali melakukan jalan kaki pagi saya selalu menemukan papan-papan iklan baru dan umbul-umbul yang mempromosikan produk rokok. Belum lagi tempelan poster iklan-iklan rokok yang menyerobot dan mengotori pemandangan, tertempel di tembok shelter dan lokasi publik lainnya.
Itulah cerminan betapa kota kita dan anak-anak muda kita menjadi korban ajang perang para teroris nikotin berskala global. Wartawan William Ecenbarger dalam artikel berjudul “America’s New Merchants of Death” (Saudagar-Saudagar Kematian Baru Amerika) di majalah Reader’s Digest (4/1993 : 17-24) menyebutkan, raksasa industri rokok Amerika sebagai saudagar-saudagar kematian baru nampak semakin agresif memindahkan pasarnya ke manca negera.
Karena sebagai negara maju dengan penduduknya berpendidikan, berkesadaran tinggi menjaga kesehatan, membuat konsumsi rokok di AS semakin menurun. Apalagi perangkat hukumnya ketat dan tegas. Sasaran perpindahannya justru negara miskin dan negara berkembang. Indonesia dengan penduduk 237 juta, jelas merupakan pasar sangat menggiurkan. Sadisnya lagi, anak-anak dan kaum muda yang menjadi sasaran utama bidikan mereka.
Parahnya lagi, birokrat kita kronis mengidap cognitive dissonance (CD), kesadaran yang tak nyambung. Pernah presiden Megawati ke Aceh mengunjungi tentara kita yang saat itu terlibat pertempuran melawan gerakan separatis GAM. Ia berpesan kepada para prajurit agar menjaga kesehatan. Tetapi pada saat yang sama seperti dilaporkan koran Solopos (20/8/2004 : 2), Megawati menyerahkan bantuan berkotak-kotak rokok.
Demikianlah, demi uang, para birokrat kita seolah melupakan dampak bahaya yang ditimbulkan rokok dan kebiasaan merokok yang mereka kampanyekan itu. Mereka mengeruk uang pajak dari kalangan industri rokok dan membiarkan rakyatnya menanggung resikonya sendiri akibat dampak kampanye produk yang membahayakan kesehatan di masa mendatang tersebut.
Apalagi serbuan rokok-rokok impor itu segera disambut hangat, dengan bangkitnya pabrik-pabrik rokok baru di dalam negeri. Lihatlah, produk-produk atau merek-merek rokok baru buatan dalam negeri segera menjamur. Termasuk misalnya, pabrik rokok milik putri raja Yogyakarta.
Jalanan kita, acara-cara musik di kampus dan lapangan sepak bola, acara-acara budaya seperti yang dikreasi oleh Butet Kertarajasa, Agus Noor, Djaduk Ferianto di TIM, gerakan cinta lingkungan, lomba karya tulis antarwartawan, sampai bagi-bagi beasiswa mahasiswa, cengkeraman pabrikan rokok bermain di dalamnya dan semakin menggurita dimana-mana.
Menurut laporan The Jakarta Post (11/1/2010), Indonesia termasuk sedikit negara yang belum menandatangani dan meratifikasi Kerangka Konvensi Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control /FCTC) yang disponsori Badan Kesehatan Dunia/WHO. Konvensi ini maha penting karena sepertiga dari 237 juta penduduk Indonesia adalah perokok.
Membongkar kebohongan. Jelas sekali, puluhan juta kaum perokok Indonesia merupakan tambang emas bagi industri rokok. Rejeki maha besar ini tentu akan mereka pertahankan mati-matian. Lobi-lobi tingkat tinggi sangat berperan di sini.
Sebagai gambaran, kalau Anda pernah membaca salah satu buku tetraloginya wartawan Kompas, Wisnu Nugroho, yang bercerita tentang SBY, Anda akan menemui cerita menarik. Yaitu ketika sebagai wartawan yang sehari-harinya meliput kegiatan SBY di Istana, memergoki mobil mewah di halaman Istana. Mobil itu mereknya Rolls-Royce, dengan nomor polisi : 234.
Kemudian kalau Anda membaca buku yang pernah bikin geger, yaitu Membongkar Gurita Cikeas : Di Balik Skandal Bank Century (2010)-nya George Junus Aditjondro, juga tersaji cerita menarik di halaman 21-26. Antara lain tentang kiprah industrialis rokok raksasa Indonesia : “Sampoerna sejak beberapa tahun lalu mendanai penerbitan salah satu koran nasional (Jurnas/Jurnal Nasional yang menjadi corong politik Partai SBY” (Haque, 2009).
Kita sebagai warga negara, nampaknya harus skeptis dan bahkan mengendorkan harapan kepada pemerintah tentang kampanye bahaya rokok tersebut. Tetapi jangan menyerah. Di era media sosial yang memberi setiap warga kekuatan untuk bersuara, sudah saatnya kita manfaatkan secara maksimal. Tulisan ini juga berada pada arus yang sama.
“Merokok itu tidak cool, keren. Yang nampak cool adalah perokoknya”, simpul Malcolm Gladwell dalam bukunya The Tipping Point (2002) yang mengkampanyekan strategi radikal dalam kampanye anti-merokok yang selaras dengan langkah WHO di atas.
Apalagi, menurutnya, “merokok itu terkait erat dengan masalah emosi….Semua hal yang dapat membuat seseorang rentan terhadap efek menular merokok, misalnya rasa harga diri rendah, suasana tidak sehat atau tidak bahagia di rumah, sama dengan semua hal yang dapat membuat seseorang mengalami depresi.”
Jadi tembakau itu merupakan obat murah bagi mereka dalam berikhtiar mengobati depresi mereka sendiri. Jadi, perokok adalah orang-orang yang tidak “berbahagia.” Dan kalau masalah depresi ini bisa diatasi, begitu Gladwell menyimpulkan, maka kecenderungan mereka untuk merokok berpeluang untuk diturunkan.
Dalam versi yang mungkin lebih canggih, coba perhatikan bunyi peringatan yang terdapat pada setiap bungkus rokok atau iklan-iklan rokok. Kata-kata peringatan itu, menurut Chip Heath dan Dan Heath, kuranglah bertaji. Sebagaimana ia tulis dalam buku larisnya yang wajib dibaca para komunikator kreatif, berjudul Made To Stick : Strategi Agar Gagasan Kita Melekat di Benak Orang Lain (2007, 432 halaman. Bila berminat terhadap buku ini, seperti rekan saya Bakhuri Jamaluddin di Pamulang, Tangerang dan Widiaji di Yogyakarta, silakan segera kontak saya), menurutnya, peringatan itu kurang emosional.
Oleh kedua penulis itu (Chip Heath adalah profesor di Sekolah Bisnis Universitas Stanford dan Dan Heath adalah konsultan di Duke Corporate Education) telah mereka tandaskan :
“Sulit untuk membuat para remaja berhenti merokok dengan menanamkan rasa takut terhadap konsekuensinya, tetapi lebih mudah untuk membuat mereka berhenti merokok dengan memanfaatkan kebencian mereka terhadap kebohongan yang sengaja dilakukan oleh perusahaan rokok raksasa.” (Hal. 24).
Tulisan ini merupakan ajakan bagi Anda untuk melangkah bersama. Untuk ikut serta membongkar beragam kebohongan-kebohongan itu. Dengan tujuan, siapa tahu ikut menyelamatkan generasi muda kita sebagai korban cipoa , tipu muslihat julig kaum industrialis rokok, yang tak lain merupakan saudagar-saudagar kematian yang kini semakin merajalela.
Memang tak mudah. Mungkin di sini repot kita akan bertambah. Pasalnya, kalau presiden SBY saja telah dituding secara berjamaah oleh para pemuka agama sebagai berbohong, apakah pabrik rokok, politisi, aparat penegak hukum, para birokrat, institusi kesehatan, cendikiawan, wartawan sampai pebisnis, tidak boleh ikut-ikutan berbohong ?
Mungkin itu pula kesialan kita selama ini.
Kita tertakdir hidup di negara yang segalanya semakin jelas, sebagai bohong-bohongan belaka.
Wonogiri, 27 Juni 2011
Email : humorliner (at) yahoo.com
Elvis Presley, Anda kenal ? Raja rock’n roll asal Memphis dan punya lagu hit “Blue Suede Shoes” itu pernah saya jadikan sebagai bahan olok-olok. Yaitu dengan mempersonifikasikan gaya dan seragam pasukan “sepatu beludru biru”-nya Partai Demokrat dalam show kampanye SBY di Pilpres 2009 yang lalu.
SBY dan putranya berpakaian dan bernyanyi a la Elvis. Rambut berjambul, kerah tegak a la kaos Erik Cantona atau baju Drakula, disusul adegan hot goyang pinggul. Penari latarnya semua bersepatu biru buatan pabriknya Hartati Murdaya (pendukung fanatik SBY), dan koreografi tarinya ditata oleh Angelina Sondakh.
Bagi Anda yang sudah membaca buku Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010), semoga masih mengingat cerita di halaman 105-111 itu.
Pilpres 2009 tersebut ternyata memang bermasalah. Asap kehebohannya yang masih mengepulkan jelaga sampai kini (isi sms “Nazaruddin” tentang pemalsuan 18 juta suara sampai kasus Andi Nurpati) mudah mengingatkan seorang diktator Afrika yang pernah bilang, “Anda boleh memenangkan pencoblosannya, tetapi kami akan menang dalam penghitungannya.” Itulah pula yang terjadi di KPU saat Pilpres 2009 yang lalu ?
Semua tokoh merokok. Kembali ke Elvis Presley. Anda pernah menonton film 3000 Miles to Graceland ? Film ini berkisah tentang sekawanan perampok kasino yang berdandan a la penyanyi legendaris yang meninggal di WC karena overdosis obat bius, ya Elvis Presley itu pula. Stasiun teve RCTI pernah menayangkan sedikitnya dua kali (7/5/2003 dan 28/4/2004) film tersebut.
Adegan sangat mencolok dalam film itu adalah banyaknya tokoh yang tak henti-hentinya merokok. Ada tokoh Murphy, sementara tokoh lainnya, Michael, juga merokok dan malah tampak permisif mengajari anak di bawah umur untuk merokok. Belum lagi detektifnya juga tak kalah dalam hal seringnya merokok.
Karena terusik, sebagai seorang epistoholik, saya telah menulis surat pembaca di koran (almarhum) Kompas Yogyakarta. Isinya gugatan : Apakah tukang pilih film di RCTI tidak terusik oleh adegan-adegan merokok yang sangat mencolok itu ?
Atau memang film ini sengaja dipilih (!) atas pesanan terselubung industriawan rokok yang maha kaya-kaya itu untuk mengiklankan kebiasaan merokok ? Sinetron Dara Manisku, juga di RCTI, mencolok adegannya yang mengumbar pelakunya seperti saling berlomba-lomba dalam merokok !
Glamorisasi. Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam upaya kampanye global anti-rokok telah mengimbau kalangan produser film di Hollywood dan Bollywood dan kalangan industri mode untuk menghentikan tayangan yang mengglamorisasikan aksi merokok.
Caranya dengan menghindari adegan film yang menayangkan aksi merokok yang nampak penuh gaya dan meminta industri fashion untuk tidak menggunakan rokok sebagai asesorinya.
Survei tentang Bollywood, ternyata 320 dari 400 film India menayangkan adegan merokok sebagai sesuatu hal yang cool untuk dilakukan. Rokok bisa mencitrakan kejantanan atau feminitas, canggih atau kasar, sexy atau sporty, semuanya karena kecerdikan strategi pemasaran.
Dua dari konteks yang mendukung citra tersebut adalah industri film dan mode. Disebutnya, kalangan film dan fashion memang tidak dapat dituding sebagai penyebab kanker, tetapi seharusnya mereka tidak mempromosikan produk-produk yang menyebabkan kanker.
Surga industri rokok. Anjuran WHO itu di Indonesia, nampak sebagai angin lalu. Artikel menohok dari Kak Seto di Kompas (28/7/2007) telah memotret agresifitas industri rokok dalam berkampanye mengajak anak-anak muda kita untuk merokok.
Dikota kecil saya saja, Wonogiri, setiap kali melakukan jalan kaki pagi saya selalu menemukan papan-papan iklan baru dan umbul-umbul yang mempromosikan produk rokok. Belum lagi tempelan poster iklan-iklan rokok yang menyerobot dan mengotori pemandangan, tertempel di tembok shelter dan lokasi publik lainnya.
Itulah cerminan betapa kota kita dan anak-anak muda kita menjadi korban ajang perang para teroris nikotin berskala global. Wartawan William Ecenbarger dalam artikel berjudul “America’s New Merchants of Death” (Saudagar-Saudagar Kematian Baru Amerika) di majalah Reader’s Digest (4/1993 : 17-24) menyebutkan, raksasa industri rokok Amerika sebagai saudagar-saudagar kematian baru nampak semakin agresif memindahkan pasarnya ke manca negera.
Karena sebagai negara maju dengan penduduknya berpendidikan, berkesadaran tinggi menjaga kesehatan, membuat konsumsi rokok di AS semakin menurun. Apalagi perangkat hukumnya ketat dan tegas. Sasaran perpindahannya justru negara miskin dan negara berkembang. Indonesia dengan penduduk 237 juta, jelas merupakan pasar sangat menggiurkan. Sadisnya lagi, anak-anak dan kaum muda yang menjadi sasaran utama bidikan mereka.
Parahnya lagi, birokrat kita kronis mengidap cognitive dissonance (CD), kesadaran yang tak nyambung. Pernah presiden Megawati ke Aceh mengunjungi tentara kita yang saat itu terlibat pertempuran melawan gerakan separatis GAM. Ia berpesan kepada para prajurit agar menjaga kesehatan. Tetapi pada saat yang sama seperti dilaporkan koran Solopos (20/8/2004 : 2), Megawati menyerahkan bantuan berkotak-kotak rokok.
Demikianlah, demi uang, para birokrat kita seolah melupakan dampak bahaya yang ditimbulkan rokok dan kebiasaan merokok yang mereka kampanyekan itu. Mereka mengeruk uang pajak dari kalangan industri rokok dan membiarkan rakyatnya menanggung resikonya sendiri akibat dampak kampanye produk yang membahayakan kesehatan di masa mendatang tersebut.
Apalagi serbuan rokok-rokok impor itu segera disambut hangat, dengan bangkitnya pabrik-pabrik rokok baru di dalam negeri. Lihatlah, produk-produk atau merek-merek rokok baru buatan dalam negeri segera menjamur. Termasuk misalnya, pabrik rokok milik putri raja Yogyakarta.
Jalanan kita, acara-cara musik di kampus dan lapangan sepak bola, acara-acara budaya seperti yang dikreasi oleh Butet Kertarajasa, Agus Noor, Djaduk Ferianto di TIM, gerakan cinta lingkungan, lomba karya tulis antarwartawan, sampai bagi-bagi beasiswa mahasiswa, cengkeraman pabrikan rokok bermain di dalamnya dan semakin menggurita dimana-mana.
Menurut laporan The Jakarta Post (11/1/2010), Indonesia termasuk sedikit negara yang belum menandatangani dan meratifikasi Kerangka Konvensi Pengendalian Tembakau (Framework Convention on Tobacco Control /FCTC) yang disponsori Badan Kesehatan Dunia/WHO. Konvensi ini maha penting karena sepertiga dari 237 juta penduduk Indonesia adalah perokok.
Membongkar kebohongan. Jelas sekali, puluhan juta kaum perokok Indonesia merupakan tambang emas bagi industri rokok. Rejeki maha besar ini tentu akan mereka pertahankan mati-matian. Lobi-lobi tingkat tinggi sangat berperan di sini.
Sebagai gambaran, kalau Anda pernah membaca salah satu buku tetraloginya wartawan Kompas, Wisnu Nugroho, yang bercerita tentang SBY, Anda akan menemui cerita menarik. Yaitu ketika sebagai wartawan yang sehari-harinya meliput kegiatan SBY di Istana, memergoki mobil mewah di halaman Istana. Mobil itu mereknya Rolls-Royce, dengan nomor polisi : 234.
Kemudian kalau Anda membaca buku yang pernah bikin geger, yaitu Membongkar Gurita Cikeas : Di Balik Skandal Bank Century (2010)-nya George Junus Aditjondro, juga tersaji cerita menarik di halaman 21-26. Antara lain tentang kiprah industrialis rokok raksasa Indonesia : “Sampoerna sejak beberapa tahun lalu mendanai penerbitan salah satu koran nasional (Jurnas/Jurnal Nasional yang menjadi corong politik Partai SBY” (Haque, 2009).
Kita sebagai warga negara, nampaknya harus skeptis dan bahkan mengendorkan harapan kepada pemerintah tentang kampanye bahaya rokok tersebut. Tetapi jangan menyerah. Di era media sosial yang memberi setiap warga kekuatan untuk bersuara, sudah saatnya kita manfaatkan secara maksimal. Tulisan ini juga berada pada arus yang sama.
“Merokok itu tidak cool, keren. Yang nampak cool adalah perokoknya”, simpul Malcolm Gladwell dalam bukunya The Tipping Point (2002) yang mengkampanyekan strategi radikal dalam kampanye anti-merokok yang selaras dengan langkah WHO di atas.
Apalagi, menurutnya, “merokok itu terkait erat dengan masalah emosi….Semua hal yang dapat membuat seseorang rentan terhadap efek menular merokok, misalnya rasa harga diri rendah, suasana tidak sehat atau tidak bahagia di rumah, sama dengan semua hal yang dapat membuat seseorang mengalami depresi.”
Jadi tembakau itu merupakan obat murah bagi mereka dalam berikhtiar mengobati depresi mereka sendiri. Jadi, perokok adalah orang-orang yang tidak “berbahagia.” Dan kalau masalah depresi ini bisa diatasi, begitu Gladwell menyimpulkan, maka kecenderungan mereka untuk merokok berpeluang untuk diturunkan.
Dalam versi yang mungkin lebih canggih, coba perhatikan bunyi peringatan yang terdapat pada setiap bungkus rokok atau iklan-iklan rokok. Kata-kata peringatan itu, menurut Chip Heath dan Dan Heath, kuranglah bertaji. Sebagaimana ia tulis dalam buku larisnya yang wajib dibaca para komunikator kreatif, berjudul Made To Stick : Strategi Agar Gagasan Kita Melekat di Benak Orang Lain (2007, 432 halaman. Bila berminat terhadap buku ini, seperti rekan saya Bakhuri Jamaluddin di Pamulang, Tangerang dan Widiaji di Yogyakarta, silakan segera kontak saya), menurutnya, peringatan itu kurang emosional.
Oleh kedua penulis itu (Chip Heath adalah profesor di Sekolah Bisnis Universitas Stanford dan Dan Heath adalah konsultan di Duke Corporate Education) telah mereka tandaskan :
“Sulit untuk membuat para remaja berhenti merokok dengan menanamkan rasa takut terhadap konsekuensinya, tetapi lebih mudah untuk membuat mereka berhenti merokok dengan memanfaatkan kebencian mereka terhadap kebohongan yang sengaja dilakukan oleh perusahaan rokok raksasa.” (Hal. 24).
Tulisan ini merupakan ajakan bagi Anda untuk melangkah bersama. Untuk ikut serta membongkar beragam kebohongan-kebohongan itu. Dengan tujuan, siapa tahu ikut menyelamatkan generasi muda kita sebagai korban cipoa , tipu muslihat julig kaum industrialis rokok, yang tak lain merupakan saudagar-saudagar kematian yang kini semakin merajalela.
Memang tak mudah. Mungkin di sini repot kita akan bertambah. Pasalnya, kalau presiden SBY saja telah dituding secara berjamaah oleh para pemuka agama sebagai berbohong, apakah pabrik rokok, politisi, aparat penegak hukum, para birokrat, institusi kesehatan, cendikiawan, wartawan sampai pebisnis, tidak boleh ikut-ikutan berbohong ?
Mungkin itu pula kesialan kita selama ini.
Kita tertakdir hidup di negara yang segalanya semakin jelas, sebagai bohong-bohongan belaka.
Wonogiri, 27 Juni 2011
Labels:
bambang haryanto,
chip heath,
dan heath,
kampanye anti rokok,
made to stick,
sby
Monday, April 25, 2011
Buku Untuk Melawan Ideologi Para Pembuat Bom Buku
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
"Terinspirasi Literatur."
"”Dia belajar dari buku.”
Begitu penjelasan Kepala Bagian Penerangan Umum Kepolisian Negara RI (Polri) Komisaris Besar Boy Rafli tentang tersangka P yang diduga menjadi otak jaringan pelaku teror bom buku dan perencana peledakan bom di dekat Gereja Christ Cathedral, Serpong, Tangerang Selatan.
Sebagai warga yang cinta damai, kita jangan kalah dari mereka itu, sobat.
Jadikan buku sebagai sarana untuk memperkuat ketahanan diri.
Untuk tetap waras, sehingga mampu menjadi senjata bangsa Indonesia untuk melawan mereka !
Memang butuh energi dan dedikasi yang tidak ringan.
Karena seperti ujar Sutton Elbert Griggs, "Seringkali dibutuhkan keberanian lebih untuk membaca buku daripada keberanian yang dibutuhkan untuk maju dalam peperangan !"
Wonogiri, 26/4/2011
Email : humorliner (at) yahoo.com
"Terinspirasi Literatur."
"”Dia belajar dari buku.”
Begitu penjelasan Kepala Bagian Penerangan Umum Kepolisian Negara RI (Polri) Komisaris Besar Boy Rafli tentang tersangka P yang diduga menjadi otak jaringan pelaku teror bom buku dan perencana peledakan bom di dekat Gereja Christ Cathedral, Serpong, Tangerang Selatan.
Sebagai warga yang cinta damai, kita jangan kalah dari mereka itu, sobat.
Jadikan buku sebagai sarana untuk memperkuat ketahanan diri.
Untuk tetap waras, sehingga mampu menjadi senjata bangsa Indonesia untuk melawan mereka !
Memang butuh energi dan dedikasi yang tidak ringan.
Karena seperti ujar Sutton Elbert Griggs, "Seringkali dibutuhkan keberanian lebih untuk membaca buku daripada keberanian yang dibutuhkan untuk maju dalam peperangan !"
Wonogiri, 26/4/2011
Sunday, April 03, 2011
Buku "Komedikus Erektus" di Library of Congress
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
Anda kenal Perpustakaan Konggres, perpustakaan terbesar di dunia ?
Misi keberadaannya adalah untuk memenuhi tugas konstitusional untuk mendorong kemajuan pengetahuan dan kreativitas bagi kemaslahatan bangsa Amerika.
Misi yang hebat dan mulia.
Ketika saya berselancar di situsnya,dan pada katalog onlinenya iseng-iseng saya ketikkan nama saya, Amerika pun membalas. Ternyata buku humor politik saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010), telah menjadi koleksi mereka. Menggembirakan.
Ringkasan yang mereka buat untuk buku tersebut adalah : Aspek humor tentang kondisi sosial dan politik di Indonesia
Klasifikasinya : LC Classification: MLCSE 2010/02873 (H)
Alamat data bibliografisnya di : http://lccn.loc.gov/2010441503
No kontrol : LC Control No.: 2010441503
Lokasi : Asian Reading Room (Jefferson, LJ150).
Di Perpustakaan Nasional Australia, rincian subjeknya lebih kaya :
Political satire, Indonesian,
Indonesian wit and humor,
Indonesia-Politics and government-Humor.
Nomor induk : Bib ID 5017471.
Lokasi : YY 2011-105 Main Reading Room (Overseas Monograph Collection).
URL : http://catalogue.nla.gov.au/Record/5017471.
Tergerak oleh penemuan ini, saya melakukan hal yang sama di situs Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Hasilnya silakan Anda klik disini. Kejutan ?
Dari Salemba, saya lanjutkan ke Depok, ke Perpustakaan Universitas Indonesia. Alma mater saya.
Ternyata ditemukan 45 bahan pustaka yang relevan dengan kata kunci "haryanto,"tetapi tak satu pun yang cocok dengan nama saya.
Silakan mengambil hikmah dan kesimpulan sendiri atas realitas ini.
Kalau Anda pernah menulis buku, silakan kunjungi situs Library of Congress dan The National Library of Australia itu.Siapa tahu katalog onlinenya memberikan kejutan kecil kepada Anda.
Menikmati impuls yang manusiawi ketika karya kita dihargai.
Dilestarikan.Diapresiasi.
Silakan mencobanya !
Wonogiri,4/4/2011
Email : humorliner (at) yahoo.com
Anda kenal Perpustakaan Konggres, perpustakaan terbesar di dunia ?
Misi keberadaannya adalah untuk memenuhi tugas konstitusional untuk mendorong kemajuan pengetahuan dan kreativitas bagi kemaslahatan bangsa Amerika.
Misi yang hebat dan mulia.
Ketika saya berselancar di situsnya,dan pada katalog onlinenya iseng-iseng saya ketikkan nama saya, Amerika pun membalas. Ternyata buku humor politik saya, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (2010), telah menjadi koleksi mereka. Menggembirakan.
Ringkasan yang mereka buat untuk buku tersebut adalah : Aspek humor tentang kondisi sosial dan politik di Indonesia
Klasifikasinya : LC Classification: MLCSE 2010/02873 (H)
Alamat data bibliografisnya di : http://lccn.loc.gov/2010441503
No kontrol : LC Control No.: 2010441503
Lokasi : Asian Reading Room (Jefferson, LJ150).
Di Perpustakaan Nasional Australia, rincian subjeknya lebih kaya :
Political satire, Indonesian,
Indonesian wit and humor,
Indonesia-Politics and government-Humor.
Nomor induk : Bib ID 5017471.
Lokasi : YY 2011-105 Main Reading Room (Overseas Monograph Collection).
URL : http://catalogue.nla.gov.au/Record/5017471.
Tergerak oleh penemuan ini, saya melakukan hal yang sama di situs Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Hasilnya silakan Anda klik disini. Kejutan ?
Dari Salemba, saya lanjutkan ke Depok, ke Perpustakaan Universitas Indonesia. Alma mater saya.
Ternyata ditemukan 45 bahan pustaka yang relevan dengan kata kunci "haryanto,"tetapi tak satu pun yang cocok dengan nama saya.
Silakan mengambil hikmah dan kesimpulan sendiri atas realitas ini.
Kalau Anda pernah menulis buku, silakan kunjungi situs Library of Congress dan The National Library of Australia itu.Siapa tahu katalog onlinenya memberikan kejutan kecil kepada Anda.
Menikmati impuls yang manusiawi ketika karya kita dihargai.
Dilestarikan.Diapresiasi.
Silakan mencobanya !
Wonogiri,4/4/2011
Sunday, March 13, 2011
Paul Arden,Churchill dan Pesan Untuk SBY
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
(1)
"Winston Churchill pernah mengatakan
bahwa ketika Anda berada di puncak,
Anda hanya perlu
memikirkan kebijakan.
Ketika Anda berada di nomor dua,
Anda harus memikirkan apa yang
dipikirkan bos Anda, dan apa yang dipikirkan musuh Anda,
sebelum Anda memikirkan kebijakan.
Dirikan perusahaan Anda sendiri,
sehingga Anda dapat mengendalikan
nasib Anda sendiri.
Ini membuat Anda menjadi yang nomor satu
sejak awal."
(2)
"Pak Beye,
membuat keputusan yang aman itu membosankan,
gampang diprediksi,
dan tidak akan membawa Anda ke mana pun.
Keputusan yang tidak aman
menyebabkan Anda berpikir dan merespons
dengan cara yang belum pernah
Anda pikirkan sebelumnya.
Dan pikiran itu akan memicu pikiran lain
yang akan membantu Anda mencapai
apa yang Anda inginkan.
Mulailah ambil keputusan yang keliru
dan hal ini akan membawa Anda ke tempat
yang hanya bisa diimpikan orang lain."
Sumber :
Paul Arden, Whatever You Think Think The Opposite (2006).
No klasifikasi : 155.2/Pau/w di Perpustakaan Umum Wonogiri.
Wonogiri, 13/3/2011
Email : humorliner (at) yahoo.com
(1)
"Winston Churchill pernah mengatakan
bahwa ketika Anda berada di puncak,
Anda hanya perlu
memikirkan kebijakan.
Ketika Anda berada di nomor dua,
Anda harus memikirkan apa yang
dipikirkan bos Anda, dan apa yang dipikirkan musuh Anda,
sebelum Anda memikirkan kebijakan.
Dirikan perusahaan Anda sendiri,
sehingga Anda dapat mengendalikan
nasib Anda sendiri.
Ini membuat Anda menjadi yang nomor satu
sejak awal."
(2)
"Pak Beye,
membuat keputusan yang aman itu membosankan,
gampang diprediksi,
dan tidak akan membawa Anda ke mana pun.
Keputusan yang tidak aman
menyebabkan Anda berpikir dan merespons
dengan cara yang belum pernah
Anda pikirkan sebelumnya.
Dan pikiran itu akan memicu pikiran lain
yang akan membantu Anda mencapai
apa yang Anda inginkan.
Mulailah ambil keputusan yang keliru
dan hal ini akan membawa Anda ke tempat
yang hanya bisa diimpikan orang lain."
Sumber :
Paul Arden, Whatever You Think Think The Opposite (2006).
No klasifikasi : 155.2/Pau/w di Perpustakaan Umum Wonogiri.
Wonogiri, 13/3/2011
Friday, December 10, 2010
5600 Jokes For All Occasions
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com
"Narcoleptic."
Julukan majalah The Economist untuk Gus Dur.
Itu terkait kebiasaan Gus Dur yang nampak tertidur dalam suatu acara, tetapi begitu terbangun dirinya mampu menjawab secara tajam segala hal-ihwal yang ditanyakan para wartawan.
Paparan di atas tercakup dalam tulisan obituari majalah tersebut, yang ditulis setahun lalu itu. Tulisan itu membuat saya sadar betapa sangat sedikit yang telah saya ketahui tentang Gus Dur.
Kesadaran tersebut meruyak ketika saya memperoleh SMS (9/12/2010) dari Yogyakarta. Dari pengirim yang tidak saya kenal.
Nama pengirimnya : Sudaryanto. Mahasiswa S-2 Universitas Negeri Yogyakarta. Rupanya ia menemukan blog saya ini. "Kebetulan saya sedang menulis tesis tentang wacana humor Gus Dur. Kapan-kapan saya silaturahmi dengan panjenengan," tulisnya.
Saya terenyak.
Rasanya tidak banyak yang saya ketahui dari humor-humor Gus Dur. Saya hanya langsung teringat peristiwa yang terjadi pada tahun 1986. Tidak bosan saya selalu mengulang cerita ini, ketika memergokinya di toko buku Gramedia Blok M, tepatnya tanggal 25 Oktober 1986. Saat itu Gus Dur memberi saya sebuah riddle, teka-teki, cangkriman yang menjurus.
Di halaman dalam buku karya Mildred Meiers dan Jack Knapp, 5600 Jokes For All Occasions : Over 550 Subjects to Help You Entertain, Insult, and Amuse Any Audience (1980, foto di bawah), buku yang saya beli saat itu, saya tuliskan cangkriman Gus Dur tersebut :
"Rambut wanita MANA yang paling lebat, paling hitam dan paling keriting ?" Itu tanya Gus Dur kepada saya.
Saya langsung tergelak. Sekaligus wajah saya pasti nampak bodoh, karena saat itu saya memang tidak tahu apa jawaban yang pasti. Syukurlah Gus Dur segera menimpali :
"Rambut wanita Papua Nugini."
Saya kembali tergelak. Kini lebih keras. Beberapa pasang mata langsung nampak mencereng ke arah saya. Saya tak peduli. Sebelum berpisah, saat itu Gus Dur masih juga memberikan teka-teki dan misteri kepada saya. Melalui ujaran : "Hanya kita-kita saja yang masih waras."
Teka-teki ini baru saya ketahui maknanya belasan tahun kemudian. Jawaban dari teka-teki itu, kini menjadi bagian dari isi buku saya yang baru terbit, Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Etera Imania, 2010).
Sibuk memoles citra. Isi artikel obituari majalah bisnis Inggris ternama itu juga menampilkan cerita tentang kewarasan beliau sebagai insan. Waras yang ia maksudkan adalah keberanian dan ketulusan untuk menunjukkan, dan bahkan melucukan kekurangan dirinya sendiri.
Benar-benar sebuah kualitas keluhuran yang langka ditemui di antara pemimpin-pemimpin kita masa kini. Karena mereka selalu nampak sibuk mempraktekkan strategi kehumasan untuk memoles diri, agar selalu tampil kinclong dan sempurna di muka rakyatnya.
Kewarasan Gus Dur itu tegas mencuat dan menginspirasi ketika dirinya dipaksa lengser dari kursi kepresidenan di tahun 2001. Saat ditanya wartawan apakah hal itu akan disesalinya, dengan enteng Gus Dur menjawab : "Sama sekali tidak. Saya lebih menyesal ketika saya kehilangan 27 rekaman Simfoni Kesembilan dari Beethoven."
Bahkan begitu lengser Gus Dur segera memberi kabar kepada para wartawan : "Mulai esok, saya akan menceritakan lelucon-lelucon lagi."
Presiden RI ke-4 yang oleh Bill Clinton dijuluki sebagai presiden paling lucu di dunia itu meninggal dunia dalam usia 69 tahun.
Tanggal 30 Desember 2009.
Delapan tahun sebelumnya, 30 Desember 2001, pelawak Dono Warkop, juga meninggalkan kita untuk selama-lamanya.
Adakah kesamaan tanggal meninggal ini hanya sebagai suatu kebetulan belaka ?
Bagi saya, hal itu ternyata mampu menerbitkan gagasan. Bahwa untuk mengenang keduanya, dan demi menunjang kemajuan dunia humor Indonesia sebagai pilar penjaga kewarasan nurani bangsa, bersama ini dengan rendah hati mengusulkan agar tanggal 30 Desember diproklamasikan oleh para pencinta humor Indonesia sebagai hari bersejarah.
Hari Humor Nasional.
Atau Hari Humor Indonesia.
Dengan harapan, di momen tersebut makna luhur humor bagi kemanusiaan dapat kita kemukakan, kita rayakan, juga kita reguki. Sambil merujuk beberapa ucapan bernas berikut ini tentang humor, maka kita semoga semakin yakin betapa humor pantas sekali sebagai harta jiwa yang senantiasa kita perjuangkan sebagai bekal bangsa Indonesia dalam mengarungi peradaban.
"Humor is mankind's greatest blessing."
Humor merupakan rahmat terbesar bagi kemanusiaan.
- Mark Twain
"If I had no sense of humor, I would long ago have committed suicide." Apabila saya tidak memiliki sense of humor maka saya telah melakukan bunuh diri pada waktu yang telah lalu.
- Mohandas Gandhi
"Humor is something that thrives between man's aspirations and his limitations. There is more logic in humor than in anything else. Because, you see, humor is truth. "
Humor merupakan sesuatu yang tumbuh subur di antara aspirasi manusia dan keterbatasannya. Terdapat lebih banyak logika pada humor dibanding hal-hal lainnya. Karena seperti Anda tahu, humor adalah kebenaran.
- Victor Borge
"When humor goes, there goes civilization."
Ketika humor lenyap, lenyap juga peradaban.
- Erma Bombeck
"You can turn painful situations around through laughter. If you can find humor in anything, even poverty, you can survive it."
Anda mampu mengubah keadaan yang penuh penderitaan dengan humor. Apabila Anda mampu menghumori segala hal, bahkan kemiskinan, Anda akan mampu bertahan.
- Bill Cosby
Terlebih lagi momen yang mendekati tutup tahun itu merupakan waktu yang tepat bagi warga bangsa ini untuk berefleksi. Untuk menyadari kekurangan-kekurangan diri sendiri.
Dan kemudian bersepakat menancapkan tekad untuk berbuat yang lebih baik di tahun depan yang siap dijelang.
Wonogiri, 10 Desember 2010
Email : humorliner (at) yahoo.com
Julukan majalah The Economist untuk Gus Dur.
Itu terkait kebiasaan Gus Dur yang nampak tertidur dalam suatu acara, tetapi begitu terbangun dirinya mampu menjawab secara tajam segala hal-ihwal yang ditanyakan para wartawan.
Paparan di atas tercakup dalam tulisan obituari majalah tersebut, yang ditulis setahun lalu itu. Tulisan itu membuat saya sadar betapa sangat sedikit yang telah saya ketahui tentang Gus Dur.
Kesadaran tersebut meruyak ketika saya memperoleh SMS (9/12/2010) dari Yogyakarta. Dari pengirim yang tidak saya kenal.
Nama pengirimnya : Sudaryanto. Mahasiswa S-2 Universitas Negeri Yogyakarta. Rupanya ia menemukan blog saya ini. "Kebetulan saya sedang menulis tesis tentang wacana humor Gus Dur. Kapan-kapan saya silaturahmi dengan panjenengan," tulisnya.
Saya terenyak.
Rasanya tidak banyak yang saya ketahui dari humor-humor Gus Dur. Saya hanya langsung teringat peristiwa yang terjadi pada tahun 1986. Tidak bosan saya selalu mengulang cerita ini, ketika memergokinya di toko buku Gramedia Blok M, tepatnya tanggal 25 Oktober 1986. Saat itu Gus Dur memberi saya sebuah riddle, teka-teki, cangkriman yang menjurus.
Di halaman dalam buku karya Mildred Meiers dan Jack Knapp, 5600 Jokes For All Occasions : Over 550 Subjects to Help You Entertain, Insult, and Amuse Any Audience (1980, foto di bawah), buku yang saya beli saat itu, saya tuliskan cangkriman Gus Dur tersebut :
"Rambut wanita MANA yang paling lebat, paling hitam dan paling keriting ?" Itu tanya Gus Dur kepada saya.
Saya langsung tergelak. Sekaligus wajah saya pasti nampak bodoh, karena saat itu saya memang tidak tahu apa jawaban yang pasti. Syukurlah Gus Dur segera menimpali :
"Rambut wanita Papua Nugini."
Saya kembali tergelak. Kini lebih keras. Beberapa pasang mata langsung nampak mencereng ke arah saya. Saya tak peduli. Sebelum berpisah, saat itu Gus Dur masih juga memberikan teka-teki dan misteri kepada saya. Melalui ujaran : "Hanya kita-kita saja yang masih waras."
Sibuk memoles citra. Isi artikel obituari majalah bisnis Inggris ternama itu juga menampilkan cerita tentang kewarasan beliau sebagai insan. Waras yang ia maksudkan adalah keberanian dan ketulusan untuk menunjukkan, dan bahkan melucukan kekurangan dirinya sendiri.
Benar-benar sebuah kualitas keluhuran yang langka ditemui di antara pemimpin-pemimpin kita masa kini. Karena mereka selalu nampak sibuk mempraktekkan strategi kehumasan untuk memoles diri, agar selalu tampil kinclong dan sempurna di muka rakyatnya.
Kewarasan Gus Dur itu tegas mencuat dan menginspirasi ketika dirinya dipaksa lengser dari kursi kepresidenan di tahun 2001. Saat ditanya wartawan apakah hal itu akan disesalinya, dengan enteng Gus Dur menjawab : "Sama sekali tidak. Saya lebih menyesal ketika saya kehilangan 27 rekaman Simfoni Kesembilan dari Beethoven."
Bahkan begitu lengser Gus Dur segera memberi kabar kepada para wartawan : "Mulai esok, saya akan menceritakan lelucon-lelucon lagi."
Presiden RI ke-4 yang oleh Bill Clinton dijuluki sebagai presiden paling lucu di dunia itu meninggal dunia dalam usia 69 tahun.
Tanggal 30 Desember 2009.
Delapan tahun sebelumnya, 30 Desember 2001, pelawak Dono Warkop, juga meninggalkan kita untuk selama-lamanya.
Adakah kesamaan tanggal meninggal ini hanya sebagai suatu kebetulan belaka ?
Bagi saya, hal itu ternyata mampu menerbitkan gagasan. Bahwa untuk mengenang keduanya, dan demi menunjang kemajuan dunia humor Indonesia sebagai pilar penjaga kewarasan nurani bangsa, bersama ini dengan rendah hati mengusulkan agar tanggal 30 Desember diproklamasikan oleh para pencinta humor Indonesia sebagai hari bersejarah.
Hari Humor Nasional.
Atau Hari Humor Indonesia.
Dengan harapan, di momen tersebut makna luhur humor bagi kemanusiaan dapat kita kemukakan, kita rayakan, juga kita reguki. Sambil merujuk beberapa ucapan bernas berikut ini tentang humor, maka kita semoga semakin yakin betapa humor pantas sekali sebagai harta jiwa yang senantiasa kita perjuangkan sebagai bekal bangsa Indonesia dalam mengarungi peradaban.
"Humor is mankind's greatest blessing."
Humor merupakan rahmat terbesar bagi kemanusiaan.
- Mark Twain
"If I had no sense of humor, I would long ago have committed suicide." Apabila saya tidak memiliki sense of humor maka saya telah melakukan bunuh diri pada waktu yang telah lalu.
- Mohandas Gandhi
"Humor is something that thrives between man's aspirations and his limitations. There is more logic in humor than in anything else. Because, you see, humor is truth. "
Humor merupakan sesuatu yang tumbuh subur di antara aspirasi manusia dan keterbatasannya. Terdapat lebih banyak logika pada humor dibanding hal-hal lainnya. Karena seperti Anda tahu, humor adalah kebenaran.
- Victor Borge
"When humor goes, there goes civilization."
Ketika humor lenyap, lenyap juga peradaban.
- Erma Bombeck
"You can turn painful situations around through laughter. If you can find humor in anything, even poverty, you can survive it."
Anda mampu mengubah keadaan yang penuh penderitaan dengan humor. Apabila Anda mampu menghumori segala hal, bahkan kemiskinan, Anda akan mampu bertahan.
- Bill Cosby
Terlebih lagi momen yang mendekati tutup tahun itu merupakan waktu yang tepat bagi warga bangsa ini untuk berefleksi. Untuk menyadari kekurangan-kekurangan diri sendiri.
Dan kemudian bersepakat menancapkan tekad untuk berbuat yang lebih baik di tahun depan yang siap dijelang.
Wonogiri, 10 Desember 2010
Subscribe to:
Comments (Atom)















