Thursday, October 21, 2010

Mary J. Cronin, Internet dan Pustakawan

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Mary J. Cronin.
Itulah nama perempuan berwajah anggun dan karismastis ini.

Sayangnya, ketika berkuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI (JIP-FSUI) di Kampus Rawamangun era 1980-an, seingat saya, namanya tidak pernah muncul dalam perkuliahan.

Ibu Lily K Somadikarta, Ibu Soenarti Soebadio, Bapak Karmidi Martoadmodjo sampai Bapak Sulistyo Basuki, sepertinya belum pernah menyebut-nyebut nama itu pula.

Tak apalah.
Saya mengenalnya dari majalah Library Journal.

Kalau ada waktu luang, di perpustakaan JIP-FSUI yang berada di lantai 2 Unit 3 Kampus FSUI, saya membuka-buka majalah itu. Biasanya, setumpuk majalah itu atau yang sudah terjilid, saya bawa ke luar ruang.

Kemudian membaca-bacanya di beranda, di atas kursi rotan panjang yang tua, yang terletak di sisi barat ruang perpustakaan jurusan tersebut. Bisa sambil melihat-lihat hijau daun, berbercak putih yang berpadu bunga-bunga kuning, dari pohon-pohon akasia yang merindangi kampus itu.

Saya memang nekat "melanggar aturan" dengan membawa bahan pustaka ke luar perpustakaan. Terima kasih Pak Wakino dan Nasfudin, petugas perpustakaan JIP-FSUI, yang rupanya memaklumi alasan saya. Karena di luar, sambil membaca-baca itu saya juga bisa bernikmat-ria dengan asap plus nikotin yang di tahun 1980 itu masih membekap ketat diri saya.

Bahkan, di masa itu, bergabung dengan sesama mahasiswa yang juga perokok seperti Hartadi Wibowo dan Subagyo Ramelan, kami dikenal sebagai trio penghuni "the smoking corner" di kelas. Penyebar kabut racun. Syukurlah, pada tahun 1989, saya bisa berhenti merokok, setelah menjadi budak nikotin lebih dari 16 tahun.

Lupakanlah nikotin. Mari kembali ke Mary J. Cronin.

Kalau tak salah ingat, ia mengisi kolom tetap di majalah tersebut dengan topik seputar aplikasi teknologi informasi di perpustakaan. Topik tersebut masih terasa asing, dan baru, utamanya dalam atmosfir dunia kepustakawanan di Indonesia saat itu.

Internet dengan intelejensia. Waktu pun bergulir. Empat belas tahun kemudian, suatu keajaiban, saya bisa "ketemu" dengan Mary J. Cronin kembali. Bukan di majalah Library Journal lagi. Sebagai anggota perpustakaan American Cultural Center (ACC), Wisma Metropolitan 2, saya seperti dapat anugerah ketika memergoki isi majalah Fortune, 18 Maret 1996.

Di situ terdapat wawancara komprehensif antara editor IT majalah bisnis bergengsi itu, Rick Tetzeli, dengan Mary J. Cronin. Judul artikelnya, "Getting Your Company's Internet Strategy Right."

Dalam pengantarnya Rick Tetzeli menulis : "Mary Cronin menemukan Internet sebelum Internet menjadi bahan kehebohan pada dekade ini. Sebagai pustakawan universitas di Boston College, Cronin memanfaatkan Internet untuk meriset data pada tahun 1980-an.

Kini dalam empat tahun terakhir ia menulis, memberi kuliah dan memberikan konsultasi bagaimana perusahaan mampu memanfaatkan Internet dan teknologinya sebagai bagian dari strategi perusahaan bersangkutan. Sekarang ia menjabat sebagai professor di Carroll School of Management dari Boston College, Cronin memberikan wawasan, quiet intellegence, untuk kajian yang kini lebih menonjol heboh hura-huranya itu.

Bukunya yang segera terbit, The Internet Strategy Handbok : Lessons from the New Frontier of Business (Harvard Business School Press, 1996), menunjukkan bagaimana kalangan bisnis dapat memanfaatkan Internet jauh lebih signifikan dibanding hanya tampil genit berpamer-ria dengan situs-situs web yang molek semata. Cronin membeber pikiran-pikirannya secara persuasif bahwa perusahaan membutuhkan perencanaan yang cermat agar mereka mampu memanfaatkan Internet untuk kebutuhan di dalam mau pun di luar perusahaan."

Akhirnya, Rick Tetzeli menyimpulkan : buku ini merupakan buku panduan untuk perusahaan-perusahaan Amerika.

Kramat sampai Atlanta. Diam-diam, saat itu, saya merasa bangga. Bahwa seorang pustakawan telah mampu melakukan "penjarahan," dengan mengaplikasikan wawasan dan ilmu pengetahuan miliknya sebegitu jauh jangkauannya. Bahkan mampu menerobos batas-batas teritori ranah tradisionalnya. Ilmu perpustakaan a la ramuan Cronin itu mampu memperkuat otot-otot yang menunjang keberhasilan dunia bisnis, dunia korporasi, bahkan pada pilar-pilar yang paling fundamental di era perubahan dewasa ini.

Suatu kebetulan, ketika keluyuran di lapak majalah bekasnya Pak Yono ("asal Sragen, hijrah ke Jakarta sejak 1957-an") di Kramat Raya, Depan Gedung PMI, saya menemukan lagi majalah Fortune edisi 18 Maret 1996. Tentu, saya beli. Foto Mary J. Cronin di atas juga saya ambil dari majalah bisnis ini.

Keajaiban masih berlanjut. Ketika adik saya, Broto Happy W., yang reporter Tabloid BOLA, meliput Olimpiade Atlanta 1996, saya wanti-wanti berpesan untuk dioleh-olehi buku karya Mary J. Cronin itu. Syukurlah, buku itu ia beli pada tanggal 17 Juli 1996, dan kini berjejer dengan beberapa buku bersampul hitam, buku-buku bertopik Internet, yang juga terbitan dari Harvard Business School Press.

Buku yang isinya tidak mudah dikunyah. Salah satu isi buku itu yang relevan dengan komunitas penulis surat pembaca yang saya dirikan, Epistoholik Indonesia, dan sering saya kutip antara lain tulisan Gregory P. Gerdy, pakar Internet dari Dow Jones Business Information Services.

Ia membuka cakrawala saya saat menjabarkan perbedaan antara media cetak dan media Internet. Menurutnya, di dunia media cetak aktivitas penciptaan informasi, produksi, distribusi dan konsumsi informasi, terjadi terpisah-pisah. Tetapi kini berkat kehadiran Internet, semua proses tersebut terintegrasi dalam satu sistem. Terutama harus didaulatnya informasi dari konsumen sebagai bagian integral isi situs itu sendiri. Perubahan konteks maha vital inilah, menurut saya, yang masih banyak tidak disadari oleh para pengelola media cetak dan situs di Indonesia.

Wawasan dari Pak Gerdy itulah yang kini menjadi salah satu sacred mission saya : berusaha mengabarkan hadirnya perubahan berkat kehadiran Internet. Utamanya sebagai orang yang merasa memperoleh anugerah karena dalam bagian hidup saya yang terindah pernah terciprat untuk memiliki DNA ilmu perpustakaan, walau pun selama ini memilih untuk tidak berkarya dalam kurungan tembok-tembok gedung perpustakaan.

Ada nasehat dari Mary J. Cronin yang mungkin bermanfaat bagi kita. Ketika ditanya bagaimana agar peselancar Internet bisa tertarik melakukan bookmark, atau secara rutin mengunjungi situs-situs kita di Internet, ia pun menjawab :

"Informasi yang bermanfaat, itulah kuncinya. Anda harus memberi mereka sesuatu yang berharga dalam transaksi ini. Ini bukan perbuatan berderma, altruistik. Melainkan ini merupakan strategi pemasaran yang baik."

Terima kasih, Ibu Mary, untuk jeweran ini. Karena selama ini saya sering mejeng di Internet hanya semata-mata tergoda hasrat tak terkendali untuk berasyik-masyuk bagi diri sendiri.


Wonogiri, 20 Oktober 2010

Tuesday, April 06, 2010

Rules of the Net dan Thomas Mandel : 15 Tahun Setelah Kepergiannya

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



“Mengapa kau selalu berpakaian hitam-hitam setiap waktu ?”

Itulah sepotong dialog dari drama Burung Camar (1896) karya pengarang drama Rusia terkenal, Anton Chekhov (1860–1904). Saat itu tokoh Medvedenko bertanya kepada Masha. Apa jawabnya ?

“Saya sedang meratapi hidup saya. Saya tidak berbahagia.”

Warna hitam rupanya warna untuk duka. Tetapi bagaimana menjelaskan, walau mungkin ini suatu kebetulan, bila sebagian buku yang saya miliki dan bertopik Internet dan dunia digital memiliki sampul berwarna hitam ?

Bahkan pelbagai penerbit yang berbeda ketika menerbitkan buku yang membahas topik hot tersebut, termasuk buku maha terkenalnya Nicholas Negroponte, Being Digital (1995), sampul bukunya juga berwarna hitam. Bukunya Ray Hammond, Digital Business : Surviving and Thriving in an On-Line World (1996), kembali sampulnya didominasi warna hitam.

Coba tengok lagi buku-buku terbitan Harvard Business School Press berikut ini. Buku karya Mary J. Cronin (ed.), The Internet Strategy Handbook : Lessons from the New Frontier of Business (1996). Buku berat ini merupakan oleh-oleh adik saya, Broto Happy W., ketika ia meliput Olimpiade Atlanta 1996.

Kemudian cek sampul bukunya John Hagel III dan Arthur G. Armstrong, Net Gain : Expanding Markets Through Virtual Communities (1997). Kedua sampul buku tersebut juga didominasi oleh warna hitam. Demikian juga bukunya Thomas Mandel dan Gerard Van der Leun, Rules of the Net : Online Operating Instructions for Human Beings (1996).

Apakah memang Internet itu pas dicitrakan dengan warna hitam ? Dan bukankah warna hitam sering pula diidentikkan sebagai warna kematian ? Untuk buku yang disebut terakhir memang terdapat kalimat yang menjelaskan kaitan antara Internet dan kematian. Tetapi dalam konteks pemanfaatan Internet oleh perusahaan.


”Corporate Web sites work best as flagpoles or cemeteries”, demikian tulis Thomas Mandel dan Gerard Van der Leun. Situs web perusahaan, menurutnya paling cocok digunakan sebagai penanda atau sebagai kuburan. Karena menurut mereka banyak CEO dan CFO yang terjebak dalam mitos bahwa situs web merupakan “pasar dan sumber pemasukan yang tidak terbatas.”

Senyatanya, situs web ideal bila digunakan untuk mengenalkan produk-produk dan jasa-jasa baru. Tetapi alih-alih, kebanyakan yang terjadi justru sebaliknya. Yaitu dipakai untuk memajang proyek dan produk yang nasibnya menjelang kematian. Pemborosan. Salah strategi.

Mabuk digital. Buku satu ini saya beli di Times Bookshop, Indonesia Plaza, Thamrin, Jakarta, 20 Februari 1997. Hasil dari honor artikel saya berjudul “Ambisi Microsoft di Tahun 1997” yang termuat di Media Indonesia, 23 Januari 1997.

Buku ini mengandung ratusan tip agar kita mampu memanfaatkan media digital secara maksimal. Kalau hari-hari ini muncul heboh masalah pencurian password, ada dua teman saya mengalami bencana sebagai kurban phising itu, Mandel dan Van der Leun sudah memberikan nasehat : password itu hanya tepat berada di dua tempat, di kepala pemiliknya dan di komputer induk layanan email bersangkutan.

“Jadilah Christopher Columbus, “ adalah pula tip lainnya. Kita dianjurkan untuk menjelajah Internet, terutama pada situs-situs yang terasa asing. Karena harta karun informasi itu sering kita temui secara serendipity di tempat-tempat aneh itu pula.

Terima kasih, Thomas Mandel.

Ia adalah futuris profesional dan konsultan manajemen pada Stanford Research Institute International. Di majalah TIME (Mei/1995) yang berisi laporan khusus membahas fenomena Internet, ia menulis artikel menarik. Judulnya “Confessions of a Cyberholic”, yang merupakan pengakuan dirinya sebagai seseorang yang kecanduan berat komputer dan Internet. Ilustrasinya berupa gambar kartun dirinya yang ditemani seekor (?) komputer yang berwujud kera.

Gara-gara merasa bosan hanya bisa menonton televisi saat proses penyembuhan operasi di punggungnya, Mandel meminjam komputer dan modem dari kantornya, lalu lewat jaringan telepon dirinya terhubung dengan BBS (Bulletin Board Services) lokal. BBS adalah cikal bakal Internet. Itu terjadi di tahun 1985. Kecanduannya terhadap komunikasi on-line, dan kemudian pada Internet mulai bersemi. Lalu meledak-ledak. Thomas Mandel tercatat sebagai salah satu tokoh yang mewarnai perkembangan dunia Internet di Amerika Serikat, dan tentu saja, dunia.

Gerard Van der Leun yang menulis kenangan tentangnya mengatakan bahwa <"mandel"> (dalam buku aslinya ditulis tanpa tanda kutip, untuk menyimbolkan seseorang yang telah almarhum ; sebab bila ditulis tanpa tanda kutip itu maka di Internet nama “mandel” tersebut akan hilang!) tidak menghasilkan peranti lunak, peranti keras atau koneksi Internet. Juga tidak menyediakan fasilitas tunjuk dan klik yang mempermudah penjelajahan mengarungi samudera data di dunia maya.


Apa yang diberikan Thomas Mandel kepada Internet adalah seluruh jiwanya.

Menurut Van der Leun lagi, Thomas Mandel sangat faham, sementara banyak perusahaan dan individu gagal mengerti, bahwa koneksi on-line di Internet itu bukanlah wahana untuk menjual sesuatu atau menggerojoki informasi kepada khalayak yang kelaparan informasi.

Melainkan, menurut Mandel, Internet merupakan sarana bagi semua orang untuk terhubung dengan orang-orang lainnya, secara apa adanya dan jujur, genuine, tanpa filter sebagaimana berlaku pada media-media lama (media berbasis atom = media cetak). Untuk mengukuhkan, betapa pun remehnya, kehadiran komunitas insan-insan sejiwa yang kini secara kebetulan terpisahkan oleh batas-batas geografi, mampu menciptakan lingkungan di mana kandungan atau isi karakter seseorang yang pertama dan yang terutama adalah yang tercermin pada apa-apa yang dilihat oleh mereka.

Penyerahan diri secara total terhadap Internet membuat Mandel terperosok pada apa yang ia sebut sendiri sebagai terkena cyberaddiction dan bahkan menyebut dirinya sebagai abuser. Gejala kronisnya : ia gambarkan dirinya selalu terobsesi untuk memiliki komputer dengan segala periferalnya yang serba mutakhir dan canggih.

Sampai-sampai Mandel mengaku, “mengunjungi supermarket komputer lokal lebih sering dibanding mengunjungi toko-toko buku di kotanya”. Syukurlah, kemudian ia mengaku bisa mengerem kecanduannya itu.

“Mengunjungi dan seringkali memposting tulisan di milis Internet mengenai peralatan olah raga sama sekali tidak sama dengan berolah raga itu sendiri. Bermain Tetris (di komputer) bukan sejalan dengan resep atau nasehat dokter saya dalam rangka penyembuhan penyakit carpal-tunnel syndrome yang saya derita. Mendiskusikan pernak-pernik pakaian dalam wanita dalam forum chatting bukan pula pengganti yang sepadan dengan suasana ber-date di hari Jumat malam yang sebenarnya”, aku Mandel.

Benarkah Mandel berhasil mengerem kecanduannya sebagai seorang cyberholic ? Babak akhir artikelnya itu mampu mengundang senyum. Ia ternyata memang tidak mampu mengendalikan kecanduannya tersebut !

Thomas Mandel meninggal dunia, 5 April 1995.
Lima belas tahun lalu. Karena sakit kanker paru-paru.
Dalam usia 49 tahun.

Gerard Van der Leun menulis : “Mandel meninggal dengan tenang. Ia didampingi kekasih yang mencintainya, diiringi nomor Ode to Joy dari Simfoni Nomor 9 Beethoven. Saat itu saya berfikir, inilah momen menjemput kematian yang terindah.”

Selamat beristirahat dengan damai, Pak Mandel.
Hari ini saya akan mengenakan pakaian hitam, untuk mengenangnya.



Wonogiri, 24/3-6/4/2010

Monday, April 05, 2010

Laron-Laron Luaran Pendidikan Kita

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Al Ries.
Carole Hyatt.

Chris Anderson. Don Tapscott. Jack Trout. Malcolm Gladwell.
Nicholas Negroponte. Richard Nelson Bolles. Seth Godin.

Anda merasa akrab dengan nama-nama mereka itu ? Nampaknya tidak. Di pelbagai media utama Indonesia, nama-nama itu juga jarang atau tidak pernah muncul. Bahkan dalam publikasi di dunia maya kita, rasanya hal serupa juga terjadi.

Untuk nama pertama, yang kiranya bisa bercerita banyak tentangnya mungkin Hermawan Kertajaya. Untuk nama kedua, wartawan senior Kompas, Maria Hartiningsih. Untuk nama-nama selanjutnya, sedikit banyak kiranya pernah diceritakan oleh seorang blogger asal Wonogiri :-).

Untuk Hermawan Kertajaya, yang hari-hari ini sedang merampungkan 100 seri tulisan tentang pemasaran di koran Jawapos, saya tidak mengenalnya. Untuk nama kedua, saya pernah berbincang dengannya di depan sebuah ruang pertemuan di Hotel Borobudur, Jakarta (25/11/2004).

mBak Maria adalah juri saya, disamping Tika Bisono dan Mas Ito alias Sarlito Wirawan Sarwono. Terdapat 20 finalis dalam Mandom Resolution Award 2004, dan separonya akan dikukuhkan sebagai pemenangnya.

mBak Maria, yang sering menulis masalah jender, ketidakadilan sampai impunitas militer di Indonesia, tentu tidak mengenal diri saya saat itu. Saya berinisiatif mengobrol. Mulai dengan bertanya apakah ia mengenal wartawan Kompas asal Wonogiri, Thomas Pudjo. Ternyata malah beliau pernah menginap di rumas Mas Thomas itu, di Wonogiri, kota saya.

Sesuatu yang magis terjadi ketika saya ingatkan akan tulisannya, sekitar 3-5 tahun yang lalu. Hmm, agen rahasia, komedian dan penulis itu harus punya daya ingat yang kuat, bukan ? [“Demikian juga penipu” :-( ]. Tulisan mBak Maria itu mengutip pendapat konsultan karier, Carole Hyatt, dengan bukunya Shifting Gears : How To Master Career Change and Find the Work That’s Right for You (1990).

Obrolan kami rasanya menjadi lebih hidup. Apa sih yang lebih bisa mendekatkan kita dengan orang-orang yang sebelumnya tidak kita kenal, selain humor, dan buku-buku yang sama-sama pernah kita baca ?

Saya akhirnya ikut menang dalam kontes Mandom Resolution Award 2004 itu. Meraih peringkat ketiga. Sepertinya saya menang bukan karena ide resolusi saya yang unggul, yaitu meluncurkan 100 blog untuk para penulis surat pembaca, dan baru terlaksana 30-an.

Tetapi mungkin karena di mata ketiga juri itu saya bukan lagi sebagai orang asing bagi mereka. Saya “kenal” Tika Bisono sejak tahun 1980. Di arena persidangan itu, saya mengaku sebagai fans untuk suara lembutnya sebagai penyanyi. Sementara untuk Mas Ito saya mengaku bahwa istri beliau, mBak Pratiwi, adalah kakak kelas saya di UI.

Persneling kehidupan. Buku tersebut berisi panduan strategi karier ketika dunia sedang berubah. Menurut Hyatt, kita pun harus ikut berubah, dituntut terampil memindah–mindah persneling kehidupan kita. Karena, sembari mengutip pendapat Buddha, “penyebab utama penderitaan manusia adalah keyakinannya tentang kepermanenan.”

Perubahan itu, seperti tergurat di bab pertamanya menyangkut fenomena desa global. Antara lain berkat Internet di masa kini, membuat kita sudah menerjuninya sendiri pula. Profesi-profesi masa depan yang menjanjikan, menurut Hyatt, berada di dan bukan lagi berada pada perusahaan raksasa, tetapi pada perusahaan-perusahaan kecil, yang bergerak di bidang jasa, intrapreneuring (kewiraswastaan di dalam perusahaan), dan bekerja di rumah.

Perubahan itu juga menuntut pola pikir baru dalam bidang pendidikan. “Pendidikan,” demikian dikutip dari Donna Shalala dari Universitas Wisconsin, harus “mampu memberi Anda keyakinan bahwa Anda dituntut terus belajar dan belajar” (h.39). Yang menarik, ketika pekerjaan makin terspesialisasikan, ternyata tuntutan bagi seseorang yang memiliki “kapasitas merangkai pelbagai hal-hal menjadi satu dan memahami konteks,” justru semakin sangat dibutuhkan.

Ben Barber, ilmuwan dan teoritikus brilyan dari Departemen Politik Universitas Rutgers menyimpulkan (h.41) : “Agar sukses dalam pasar tenaga kerja, Anda harus memiliki keterampilan analisis dan kapasitas memahami kaitan antara pelbagai hal yang ada.” Filsafat, kesusasteraan, dan bahkan puisi, ia percayai, semakin menempati posisi terhormat di tengah gejolak dunia yang berubah.

Bunuh diri ramai-ramai. Mungkin ini pendapat subyektif, betapa resep Donna Shalala di atas belum atau tidak bergema di benak para luaran pendidikan kita. Banyak orang begitu lulus atau wisuda, langsung pula berhenti dalam belajarnya. Mengamati pengunjung perpustakaan di kota saya, banyak anak-anak muda yang saya amati, hanya membaca-baca koran untuk meneliti iklan-iklan lowongan pekerjaan semata.

Sementara kabar tentang tes masuk PNS sampai penyelenggaraan job fair, foto-fotonya di media massa selalu menampakkan jubelan anak-anak muda yang bergelar sarjana. Saya menyebut mereka sebagai laron-laron luaran pendidikan kita, yang menyerbu sumber-sumber sinar yang benderang. Semua nampak anut grubyug. Ikut arus semata.

Mereka tidak pernah membekali diri dengan strategi berburu pekerjaan secara memadai. Akibat fatalnya, yang justru tidak mereka sadari, dalam keriuhan demi keriuhan itu sebenarnya mereka sedang melakukan “bunuh diri” beramai-ramai adanya.

Iklan-iklan lowongan sampai job fair itu adalah game-nya perusahaan. Bukan game-nya para pencari kerja. Teknik rekruitmen dengan jalur itu dirancang untuk menguntungkan perusahaan semata. Bahkan tenaga kerja yang berkualitas pun, karena bias dari teknik itu, juga begitu mudah tersingkir dalam persaingan.

“Jumlah surat lamaran yang membeludak diterima oleh perusahaan potensial menjadi penghalang serius Anda,” kata John Langley, ahli strategi perancangan surat lamaran dari Detroit yang dikutip Carole Hyatt (h. 201). Sementara itu, repotnya lagi, “sembilan puluh sembilan persen orang mengalami kesulitan dalam merancang dan menulis surat lamaran mereka !”

Problem serius semacam ini apakah telah diketahui, disadari, oleh para guru atau pun dosen mereka ? Saya tidak tahu. Karena kebanyakan lembaga pendidikan itu nampaknya lebih hirau sebagai pabrik ijazah, dengan meluluskan anak didiknya sebanyak-banyaknya, sementara nasib mereka itu di dunia kenyataan selanjutnya hanya diserahkan kepada Yang Maha Esa.

Wabah markus. Laron-laron luaran pendidikan kita itu, kini juga mencari “pekerjaan” dengan menyerbu dunia maya. Facebook utamanya.

Yang lelaki, mereka nampak cukup berbahagia dengan meniti karier guna meraih pangkat sebagai Consigliere, Underboss, dan Boss dalam Mafia Wars yang terkenal itu. Apakah fenomena ini sekaligus cerminan mengapa borok makelar kasus dan mafia hukum begitu meruyak di Indonesia ?

Sementara yang perempuan terjun ramai-ramai berkarier di dunia pertanian, berbagi pupuk bagi tanaman mereka di FarmVille, seiring kenyataan bahwa presiden kita adalah seorang doktor ilmu pertanian.

Pertanyaannya : adakah sekolah atau perguruan tinggi kita yang dengan sengaja, secara terencana dan terstruktur membekali anak didiknya menggunakan Facebook sebagai sarana bantu yang dahsyat guna memudahkan para lulusan itu meraih pekerjaan idamannya ? Kalau Anda seorang guru atau dosen, saya tunggu kabar, cerita dan opini Anda tentang hal ini. Terima kasih.

Tetapi yang pasti, ketahuilah, dewasa ini para perekrut profesional juga menggunakan media sosial, baik blog, Facebook sampai Twitter, sebagai sarana mereka melakukan seleksi calon karyawan. Mereka tidak lagi puas hanya membaca-baca surat lamaran dan daftar riwayat hidup yang Anda kirimkan.

Karena mata mereka kini juga mencari-cari informasi yang lebih rinci dan mungkin tersembunyi tentang diri Anda di dunia maya. Melalui bantuan Google, dengan hanya satu-dua klik saja, mereka justru akan menjadi curiga berat bila nama Anda tidak mereka temukan di dunia maya.

Akan tetapi sebaliknya, bila mereka menemukan diri Anda dalam tags foto kiriman teman Anda nampak sedang telanjang dada, memegang botol bir, beradegan foto-foto gokil di pantai dan pesta, atau hanya bisa memposting pesan-pesan egosentris yang menye-menye semata, boleh jadi doa tulus ayah-ibu agar Anda segera memperoleh pekerjaan mungkin akan sia-sia.

Kuda Ries. Manfaatkan Facebook seturut nasehat Al Ries dan Jack Trout dalam bukunya Horse Sense : The Key to Success Is Finding a Horse to Ride (1991) ini. Guna meraih sukses dalam meniti karier dan pekerjaan, Anda harus menemukan kuda yang tepat untuk Anda tunggangi. Bila kuda kerja keras yang Anda pilih, peluang sukses Anda hanya 1 dari 100. Kuda IQ ? Hanya 1 banding 75. Mengandalkan kuda pendidikan pun cuma 1 dari 60.

Nasehat Ries dan Trout, pilihlah kuda kreativitas yang membuka peluang sukses Anda naik, 1 banding 25. Kuda hobi lebih potensial lagi, 1 banding 20. Sementara kuda publisitas, menurut mereka, telah menjanjikan peluang sukses Anda 1 banding 10.

Ajakan saya untuk Anda : gunakan potensi Facebook yang dahsyat ini sebagai kuda tunggang publisitas Anda. Secara cerdas dan bijaksana. Postinglah informasi-informasi yang mencerminkan siapa Anda, apa keistimewaan dan manfaat eksistensi Anda bagi bebrayan agung di dunia ini.

Sebab terlalu sayang bila Facebook Anda isinya hanya lebih banyak menye-menye, yang mungkin membuat Anda bangga semu terhadap diri sendiri, tetapi sebenarnya membuat Anda jatuh harga dan mengguratkan citra negatif di benak banyak fihak.

Misalnya, di mata calon penggemar, calon bos, bahkan juga calon mitra sukses karier Anda.



Wonogiri, 31/3/2010

Monday, March 08, 2010

Facebook dan Peluang Dua Bisnis Besar

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Sinetron tolol itu saya lihat tak sengaja di warnet Telkomnet. Di Wonogiri. Ketika menunggu antrean, sambil membaca-baca brosur pelbagai jasa Telkom, akhirnya televisi yang hidup di ruangan itu merenggut perhatian.

Adegan dalam sinetron yang tertayang di RCTI, Jumat malam itu, dan saya tidak tahu judulnya, mengingatkan saya akan isi wawancara wartawan harian Kompas Dahono Fitrianto dengan aktor Tio Pakusadewo.

Seperti termuat di Kompas Minggu, 10 Januari 2010 : 23, dalam menjawab pertanyaan apa aktor zaman sekarang ada yang tidak cerdas, Tio mengatakan : “Banyak sekali yang tolol. Ada ekspresi tolol yang diucapkan, dia biarkan saja…. Di sinetron, (adegan konyol) yang sering terlihat, misalnya kita sudah tahu apa yang terjadi, tetapi ditambahi suara monolog yang seperti suara dalam hati itu. Aduh, itu paling sering dibuat dan diulang, dan itu pembodohan yang sangat luar biasa.”

Adegan seperti itulah yang saya tonton malam itu. Aktor kelahiran Jakarta 2 September 1963 yang juga pernah mencoba sebagai hacker itu, tambah menarik jawabannya ketika dicecar pertanyaan terkait persiapan yang harus dimiliki seseorang yang ingin menjadi aktor.

Jawab Tio : “Harus bercermin dulu. Lihat dulu ke diri sendiri, digali dulu, kasih kuesioner kepada diri sendiri. Kira-kira mampu engga saya mencapai keaktoran ? Artinya di harus tahu diri dulu, cukup cerdaskah untuk mengetahui kelebihan dan kekurangannya ? Modal paling utama harus cerdas. Sebab kalau kurang-kurang, ya, jangan mimpi dulu, sebab akan merepotkan yang lain.”

Sebagai pencinta humor dan komedi, pendapat Tio itu menurut saya juga relevan untuk kancah mengundang tawa ini. Tinggal kata-kata “aktor” tersebut tinggal diganti dengan “komedian,” beres sudah. Karena hal parah yang sama rasanya juga berlaku dalam dunia komedi kita.

Sementara nasehatnya bagi calon aktor untuk terlebih dahulu menggali diri sendiri, melakukan self-assessment atau soul-searching itu sebenarnya merupakan hal yang universal bagi setiap insan dalam mengarungi kehidupan. Dengan menyelami dirinya sendiri secara jujur, ia akan mengetahu aspirasi, impian, kelebihan atau pun kekurangannya, sehingga dirinya akan mampu menempatkan diri sebagai pribadi yang unik di tengah milyaran umat manusia di dunia ini.

Buku suci kehidupan. Di kampus-kampus negara maju, Amerika Serikat misalnya, minimal mahasiswa akan memperoleh himbauan untuk melakukan tes evaluasi diri mereka sendiri. Salah satu panduannya adalah buku terkenal What Color Is Your Parachute ? : A Practical Manual for Job-Hunters & Career Changers (Ten Speed Press, Tahunan). Pengarangnya Richard Nelson Bolles.

Kalau ingin lebih efektif lagi, buku diatas harus ditemani panduan yang lebih mendetil dari buku Where Do I Go From Here With My Life ? : A Very Sistematic, Practical and Effective Life /Work Planning Manual for Students, Instructors, Counselors, Career Seekers and Career Changers (1974). Pengarangnya tetap Richard Nelson Bolles beserta mantan agen CIA, almarhum John C. Crystal. Penerbitnya juga Ten Speed Press.

Prosesnya seperti kita menyusun daftar riwayat hidup. Tetapi dengan pendekatan secara lahir dan batin. Mungkin dalam kosmologi Jawa disebut sebagai mempersoalkan sangkan paraning dumadi. Kalau sudah selesai, kita akan memperoleh otobiografi kerja kita masing-masing kira-kira setebal 100 sampai 200 halaman.

Keunikan masing-masing diri kita kemudian telah terpetakan, demikian pula cita-cita beserta impian yang akan kita raih selama kita hidup di dunia ini. Tanpa arah dan tujuan, kita seperti ikut dalam keriuhan lomba lari cross country di hutan, tetapi sama sekali tidak ada rambu atau pun tanda-tanda penunjuk jalan.

Setelah itu semua mantap, kita tinggal mengaktualisasikannya dengan bantuan pelbagai media yang ada. Termasuk pula dengan Facebook, media sosial yang sungguh benar-benar dahsyat manfaatnya itu.

Media berdarah-darah. Sayangnya, selama ini isu terkait Facebook yang lebih sering muncul dan menonjol di media massa adalah hal-hal yang negatif saja. Bisa dimaklumi, karena begitulah mindset media massa. Selain mengugemi pakem 5W+1H, mereka kini getol menambahnya dengan 1 W lagi. Wow. Menu utamanya adalah berita-berita kerusuhan. Bentrokan. Bencana. Kematian. Darah. Ancaman.

Termasuk getol mengambil sudut pandang dengan fokus tentang kejelekan atau ancaman yang berpotensi dimiliki oleh media-media sosial itu, boleh jadi karena media-media sosial tersebut merupakan ancaman kuat bagi media-media lama , media-media mainstream yang sering diledek sebagai media lame stream itu.

Kasihan bener pergulatan media-media mainstream yang lamban itu. Aksi mereka untuk mempertahankan hidup sering nampak tersaji lucu-lucu. Termasuk misalnya melakukan kampanye gencar agar anak-anak sekolah (kembali) membaca dan mencintai koran. Ada yang lewat kompetisi basket, lomba bikin situs, lomba majalah dinding, pelatihan sampai outbound, dan sejenisnya.

Seorang maverick Internet dari majalah gaya hidup Internet Wired, Kevin Kelly, pernah saya kutip dalam artikel "Solocon Valley" (Kompas Jawa Tengah, 5/8/2006), pantas kita dengar pendapatnya. Ia telah mengutip kesimpulan Peter Drucker yang dikutip oleh George Gilder, bahwa rumus aktual masa kini berbunyi : jangan menyelesaikan masalah, tetapi carilah peluang.

Apabila Anda menyelesaikan sesuatu masalah, Anda berinvestasi bagi kelemahan Anda. Itulah yang banyak dilakukan secara keblinger oleh pengelola surat-surat kabar di Indonesia, hanya karena media lain melakukannya. Mereka berupaya menimbun lubang, abyss, yang tak berdasar itu.

Seharusnya mereka mencari peluang, dengan mempercayai jaringan, network mereka. Apalagi sisi menarik mengenai ekonomi jaringan (istilah dari Kevin Kelly) di era Internet ini yang jelas bermain seirama dengan kelebihan manusia yang hakiki. Pengulangan, repetisi, sekuel, kopi-mengopi dan otomasi, di era digital kini semua cenderung bebas biaya.Gratis. Sementara segi-segi inovasi, orisinalitas dan imajinatif semakin menjulang nilainya !

Repotnya banget, apakah sistem dan atmosfir pendidikan kita selama ini telah memupuk segi-segi inovasi, orisinalitas dan imajinasi tersebut pada anak didik ? Sebagai mantan mentor melukis anak-anak, setiap kali membaca koran tentang lomba mewarnai, saya merasakan ada ribuan Picasso-Picasso dan Einstein muda yang terbantai di sana.

Pembantaian terhadap rasa percaya diri anak-anak untuk tegak menjadi insan-insan berpikiran mandiri dan kreatif ini rasanya justru jarang masuk radar para guru, psikolog, seniman, dan juga insan-insan perguruan tinggi seni kita.

Pembantaian jenis lain juga diam-diam terjadi bagi kita-kita yang memiliki akun Facebook ini. Kalau para konsultan karier di pelbagai negara maju berujar bahwa media sosial seperti blog, Facebook dan Twitter merupakan sarana ampuh untuk mengedepankan masing-masing subject matter expertise kita, tetapi yang sering banyak terjadi adalah pesan-pesan atau tulisan yang egosentris.

Facebook banjir tulisan status yang semata mendongkrak ego kita, karena memang hanya kita sendiri yang pantas sebagai audiensnya. Tulisan tersebut benar-benar melupakan segi manfaat bagi orang lain yang membacanya.


Sebuah artikel kontroversial yang ditulis Nukman Luthfie berjudul Blog Memang Tren Sesaat, yang mengisahkan konon turun pamornya blog secara kuantitatif akibat tergusur popularitas Facebook dan Twitter, telah memicu beragam komentar.


Misalnya “ogiexslash” (#4) menulis : “Bagi saya mau trennya turun, yang penting nge-BLOG, FB isinya kebanyakan curhat2an saja…lama-lama bosen.”

Sementara “Moch Ata” (#15) bilang : “ Ngeblog, separah-parahnya ngeblog pasti ada satu pesan berisi pengetahuan yang ingin blogger bagi. Coba tengok update Facebook teman-teman kita, saya sampai muak, dan sama sekali tak ada sebuah knowledge yang bisa kita dapat. “

Mungkin sudah ratusan, ribuan dan bahkan milyaran jam telah dihabiskan untuk urusan egosentris itu. Karena memang asyik saat mengelus-elus ego kita sendiri. Mungkin rasanya seperti naik kuda-kuda kayu, atau kursi goyang. Kita bergerak, mungkin juga berkeringat, tetapi nowhere, tidak pernah kemana-mana.

Terakhir, bagi saya, dalam Facebook terbuka dua bisnis besar.

Pertama, mereka yang berbisnis menakut-nakuti orang lain dengan bercerita tentang ancaman dan bahayanya. Kedua, kubu yang memberi tahu tentang manfaat dan cara-cara memanfaatkannya. Saya tidak tahu, tulisan saya ini masuk aliran yang mana. Anda punya pendapat ?


Wonogiri, 6-7 Maret 2010

Naisbitt, Tenis dan Trah Martowirono

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


“Bagaimana Anda membaca surat kabar ?”

Futuris tersohor John Naisbitt dalam bukunya Mind Set ! (2007) mengajukan pertanyaan itu. Ia pun lalu menjawabnya sendiri.“Saya membaca surat kabar mulai dari belakang ke depan, didahului dengan halaman olahraga.”

Alasannya, karena ia memang suka olahraga. Tetapi ada tambahan yang tidak kalah penting, dirinya memiliki prasangka bahwa laporan olahraga merupakan berita yang paling dapat diandalkan. Semakin ke halaman depan, tingkat kendalan berita semakin menurun. Sebagai contoh, berita bahwa tim Boston Red Sox mengalahkan New York Yankees 7-3, kita hampir 100 persen yakin bahwa memang demikianlah kenyataannya.

Kalau berita-berita hiruk-pikuk politik, di halaman depan, bagaimana ? Ia menyimpulkan, “memang sudah menjadi naluri manusia untuk memelintir berita ke arah kesimpulan yang diinginkan.”

Olahraga dan trah kita. Analisis John Naisbitt di atas mungkin relevan dengan kiprah dan kecintaan terhadap nilai-nilai olahraga bagi warga Trah Martowirono. Karena tidak sedikit yang menyukai olahraga.

Bunga Citra Persada dari Yogya, suka main basket. Baroto nDandung asli Selogiri dulu suka mengejar-ngejar bulu angsa. Dari Yogya, siapa yang suka sepakbola : Intan atau Mutiara ? Yoga dari Ngadirojo dan Yashika dari Kajen kini menekuni olahraga taekwondo. Basnendar pendiri klub Bola Basket Kajen Club.

Mayor Haristanto yang baru saja ikut Cingay Parade 2010 di Singapura dengan foto spektakuler, ikut mendirikan kelompok suporter di Solo, Makasar dan Pekanbaru. Broto Happy Wondomisnowo, suka sepakbola, bulu tangkis, dan kini menjadi redaktur sepakbola nasional di Tabloid BOLA. Bambang Haryanto yang buku komedinya akan segera terbit oleh Penerbit Etera Imania Jakarta itu tercatat di MURI :-) sebagai pencetus Hari Suporter Nasional 12 Juli (2000).

Deretan fakta di atas kini diperkaya dengan data terbaru : Nuning atau Bhakti Hendroyulianingsih, nenek dari Nabila, dan putranya Yudha Arditya Banar Nugraha, kini masuk dalam jajaran pengurus cabang olahraga yang mereka terjuni untuk Kabupaten Wonogiri.Olahraga tenis lapangan.

Sekedar kilas balik : Yudha pernah menekuni olahraga bulutangkis. Lalu pindah ke tenis. Dalam Kejuaraan Tingkat Nasional Tahun 2000 di Nusa Dua, Bali, ia meraih prestasi juara tunggal putra dan juga ganda putra untuk kelompok umur 16 tahun.

Olahraga tenis, juga mampu mengikat lebih erat tali silaturahmi trah Martowirono. Walau secara tak sengaja. Nuning pernah bercerita dalam acara Reuni Trah 2009 di Yogyakarta, bahwa timnya pernah bertanding melawan timnya Ibu Suharti Priyono dari Gayam, Sukoharjo. Konon yang menang secara love game :-( dapat bonus mandi lulur dan layanan spa di Salon ASTI, Sukoharjo seumur hidup.


Pada lain kesempatan, di hall tenis Wonogiri ia bertemu Ibu Retno Winarni dan Pak Agus dari Solo. Kali ini tidak bertanding, karena yang menang konon akan dapat hadiah kotak ATM bank ternama tempat Pak Agus bekerja. Karena dengan syarat : ambil dan membongkar sendiri.



Mendongkrak prestasi Wonogiri. Berdasarkan Surat Keputusan Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PELTI) Jawa Tengah No. 010/PD.Pelti/III/10 yang ditandatangani oleh Ketua Umum Pengprov Pelti Jawa Tengah, Kukrit Suryo Wicaksono, Nuning menjabat sebagai Bendahara 2. Sementara Yudha, berkiprah di Seksi Perwasitan dan Pertandingan. Mungkin secara tak resmi ia merangkap sebagai bodyguard untuk mengawal dan mengamankan brankas atau dompet sang bendahara 2 Pengurus PELTI Kabupaten Wonogiri itu.

Pengukuhan pengurus PELTI Kabupaten Wonogiri itu dilangsungkan di GOR Tenis Wahana Purna Bhakti di Wonogiri, 3 Maret 2010, oleh Ketua I PELTI Jawa Tengah, H. Soenoto SK (bertopi).Beliau yang didampingi Bapak Amien Sutantyo (Kudus), menyebut acara itu sebagai “momen sakral, untuk memulai dharma bhakti dalam bingkai memprestasikan olahraga, khususnya olahraga tenis di Kabupaten Wonogiri.”

Gayung bersambut. Ketua PELTI Wonogiri yang baru, Drs. Tarmanto, MM (foto: berkaos putih), memiliki obsesi tinggi. Kalau selama ini kuat anggapan olahraga tenis sebagai rekreasi, kini akan diubah paradigmanya sebagai olahraga prestasi. Khususnya bagi atlet-atlet muda potensial yang banyak bersemi di Kota Gaplek ini.

KONI pun mendukung tekad itu. Ketuanya, Eddy Purwanto (dalam foto, berbaju batik), bahkan menabur keyakinan bahwa pengurus baru untuk masa 2010-2015 itu mampu berbuat banyak bagi kemajuan prestasi tenis di Wonogiri. “Walau maklum,” katanya, “ anggaran KONi tahun ini jauh lebih menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya.”

Acara pagi itu yang dihadiri pejabat teras terkait dengan pembinaan olahraga, Bambang Haryadi (teman SD-nya Mayor Haristanto), semakin tambah gayeng karena yang hadir merupakan sebagian dari para calon kompetitor yang berpeluang maju dalam Pilbup 2010.

Ada Ma’ruf Irianto, mantan ketua PELTI yang lalu (berpeci hitam), yang ingin menjago sebagai calon bupati. Ada Sekda Kabupaten Wonogiri, Suprapto, bakal calon wakil bupati. Juga Ketua KONI, Eddy Purwanto, kandidat bakal calon wakil bupati pula. Ada gagasan, ketiganya diadu dalam ekshibisi pertandingan tenis seusai acara itu. Tetapi nampaknya, acara clash of titans tak jadi terlaksana saat itu.


Susunan Pengurus PELTI Wonogiri yang baru : Penasihat : Ir. H. Suprapto, MM, Sri Wiyoso, SH, MM, Drs. Budi Sena, MM. Ketua : Drs. Tarmanto, MM.. Sekretaris : Drs Mulyanto, I Gusti Bagus Garantika, SH. Bendahara : Drs. Yatno Pratomo, Bhakti Hendro Yulianingsih.

Seksi Pembinaan Prestasi : Yoyong Anang P, SPd, Yuli Purnomo, SPd, Hendro Setyawan, AMd. Seksi Organisasi : Maryanto, SSos, MM, Dwi Hendro, SE. Seksi Pendanaan : Dwi Bowo Hartono, ST, MT, Agung Budi Utomo, ST, Katni Priyadi Hartoyo. Seksi Sarpras : drs. Heru Dadi, Supriyadi. Seksi Humas : Drs. Joko Heru S, MPd, Sutarmin, SH. Seksi Perwasitan & Pertandingan : Drs Gunawan Dwi C, MM, Dedi Adi Nugroho, SPd, Yudha Arditya B, SE.

Segenap warga Trah Martowirono mengucapkan selamat bekerja untuk Nuning dan Yudha. Sehingga kelak bila kita mendengar atau melihat prestasi atlet-atlet tenis dari Kabupaten Wonogiri mencorong dalam kancah kejuaraan unggulan, kita akan ikut bangga.

Juga merasa bahagia, karena doa-doa kita agar warga trah kita berbuat bagi bagi kemaslahatan bersama telah dikabulkan olehNya.


Wonogiri, 3/3/2010

Wednesday, January 27, 2010

Australia Terbuka 2010, The Biology of Belief dan Anda

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Swiss.
Negeri yang bersih.

Kritikus dan novelis Perancis André Gide (1869–1951) melukiskan betapa di sana “Anda tak akan berani membuang puntung rokok ke danaunya dan sama sekali tak ada corat-coret grafiti di WC umumnya.”

Tetapi Swiss juga tak luput menjadi bulan-bulanan. Dalam film The Third Man (1949) seorang Orson Welles (1915–1985) telah menambahkan ejekan itu dalam skenario karya penulis Inggris, Graham Greene (1904–1991) :

“Di Itali, ketika rejim Borgia berkuasa selama tiga puluh tahun berlangsung teroe, perang, pembunuhan dan banjir darah, tetapi juga menghasilkan Michelangelo, Leonardo da Vinci dan the Renaissans.

Di Swiss, mereka tenteram membina persaudaraan, demokrasinya berjalan sepanjang lima ratus tahun secara damai, tetapi apa yang bisa mereka hasilkan ? Jam ku-kuk !”

Dan kini, juga menghasilkan seorang Roger Federer.

Very Swiss !

Demikian tandas Vijay Amritaj, komentator tenis yang terkenal di televisi Star Sports. Ia berkomentar ketika penyandang 15 gelar Grand Slam itu dalam proses menekuk Lleyton Hewitt, “kangguru” terakhir yang mampu bertarung di Melbourne Park.

Vijay benar. Roger Federer adalah presisi. Seperti jam Swiss dibuat. Di lapangan setiap bola yang ia tembakkan dengan raket Wilson KFactor KSix-One Tour 90 (kini ganti dengan raket Wilson BLX SixOneTour-90. Info ini dikirimkan sobat Pedhet Wijaya langsung dari Melbourne. Thanks, buddy !) itu ibarat perjalanan detik-detik jarum jam yang berputar.

Dengan konsistensi.
Dengan ketepatan.

“Di masa-masa awal karir saya, problem utama saya adalah konsistensi.” Demikian tutur petenis kelahiran Basel 8 Agustus 1981 itu. Akibat dari sifat umum sebagai anak muda, yang temperamental. Tetapi kini, lanjut Federer : “Saya belajar untuk bisa lebih sabar.”

Terkait kesabaran itu wartawan Paul Weaver dari koran The Guardian merujuk bahwa ketahanan mental Roger Federer merupakan hasil dari latihan, produk rekayasa. Sementara Nadal lebih alamiah. Tetapi kita menjadi saksi bagaimana jam Swiss itu berdetak secara menakjubkan. Santun tetapi kejam dalam menelan satu demi satu, semua musuh-musuhnya.

Perjalanan karier tenis Roger Federer mungkin sudah tertakdir sebagai perjuangan untuk meraih kesempurnaan. The Roger Federer Story : Quest for Perfection. Itulah judul buku yang ditulis Rene Stauffer, konon salah satu jurnalis ternama tenis dunia, yang terbit pada tahun 2007.

Kesempurnaan itu pula yang barangkali membuatnya pantas didaulat sebagai atlet papan atas dunia yang terpilih sebagai salah satu dari 100 Orang Berpengaruh Di Dunia oleh Majalah TIME edisi 14 Mei 2007 (“ini hadiah Niz dari London.”). Fisiknya yang bugar membuatnya tidak pernah mengundurkan diri ketika terjun dalam pertandingan utama. Tidak seperti nasib malang seteru “abadinya”, juga petenis hebat asal Mallorca, Spanyol : Rafael Nadal.

Pride and ego. “Saya sangat menyesal,” demikian kata penghiburan dari Andy Murray saat menyalami Nadal yang memutuskan untuk mengundurkan diri. Dalam pertandingan merebut kursi semi final Australia Terbuka 2010 itu, posisi angka Nadal telah tertinggal, 3-6, 6-7 (2-7) dan 0-3. Ketika cedera lututnya yang kronis sudah tak tertahankan lagi, ia pun melemparkan handuk.

Dunia tenis kuatir berat. Seorang Kevin Mitchell, juga wartawan dari surat kabar The Guardian menulis, cedera tersebut menimbulkan pertanyaan besar tentang karir gilang-gemilang Rafael Nadal di masa-masa mendatang.

Cedera lutut yang sama membuat Nadal absen mempertahankan gelarnya di Wimbledon tahun lalu. Di final, petenis Amerika Serikat yang paling sering ketemu, Andy Roddick, gagal mengadang Roger Federer dalam meraih trofi Grand Slam ke-15. Akibatnya Federer melebihi prestasi si tukang servis geledek dari AS, Pete Sampras.

“Lutut,” kata Louise L. Hay dalam bukunya Heal Your Body : The Mental Cause For Physical Illness and The Metaphysical Way to Overcome Them (1985), “mewakili harga diri dan ego.”

Sementara itu, masalah terkait lutut, menurutnya, dipicu oleh “kebandelan ego dan rasa harga diri itu. Tidak mampu bersikap lentur. Dicekam rasa takut. Tidak fleksibel. Pantang menyerah.”

Dari paparan Louise L. Hay (“kajian yang masuk disiplin ilmu baru, the biology of believe ini, yang kepingin saya buatkan blog tersendiri tetapi belum kesampaian itu “) kita bisa menebak memang begitulah psyche seorang Rafael Nadal selama ini.

Ia seorang matador petarung, brave fighter, yang enerjinya tak pernah habis terkuras. Cedera kronis lututnya itu menjadi logis akibat dari rasa gerah dan geram karena terlalu lama menjadi bayang-bayang dari Federer. Selalu saja dirinya menjadi nomor dua. Sempat ia duduk di peringkat satu dunia. Tetapi Federer dengan konsisten, kemudian mampu menggusurnya lagi.

Lihatlah data pertarungan keduanya yang benar-benar sengit.

Keduanya sama-sama memenangkan Grand Slam pada tiga lapangan yang berbeda secara berurutan. Rafael Nadal menjadi raja di Perancis Terbuka 2008, Wimbledon 2008 dan Australia Terbuka 2009. Sementara Roger Federer tampil megah di Amerika Serikat Terbuka 2008, Perancis Terbuka 2009 dan Wimbledon 2009.

Meminjam kasus pemasaran klasik dari bukunya Al Ries dan Jack Trout, Positioning : The Battle For Your Mind (1986), perjuangan Nadal itu kiranya dapat diwakili oleh upaya perusahaan persewaan mobil di Amerika, Avis. Perusahaan itu juga merasa posisinya terpatok melulu di kursi nomor dua. Sementara posisi nomor satu ditenggeri oleh Hertz.

Kampanye iklan perjuangan Avis itu kemudian tercatat sebagai contoh klasik dalam sejarah pemasaran : bagaimana Avis menempatkan diri dalam posisi kuat untuk bertarung melawan sang jawara. Lihatlah tagline iklannya :

“Avis hanya nomor dua dalam bisnis persewaan mobil, tetapi mengapa Anda harus bersama kami ? Karena kami berusaha keras lebih baik dalam melayani.”

Dalam kasus Nadal, semboyan we try harder-nya Avis itu kiranya membuat lututnya berderak dan berteriak. Ia gagal menuju semi final. Nadal pun terpental.


Kini siapa kampiun di Rod Laver Arena 2010 ini ?

Apakah Andy Murray yang akan memenangkan juara Australia Terbuka ? Jangan lupa, ia punya senjata sekaliber peluncur roket untuk servis pertamanya. Ia telah mengalahkan Federer empat kali, Nadal dua kali, dan peringkat keempat Novak Djokovic sebanyak tiga kali.

Bila anak muda usia 22 tahun itu juara, ia merupakan orang Inggris pertama tampil dengan mahkota Grand Slam sejak Fred Perry menjuarai kandangnya sendiri, Wimbledon, di tahun 1936.

Itu waktu yang sudah lama sekali. Sama dengan mimpi tim sepakbola Indonesia untuk bisa masuk final Piala Dunia. Apalagi ketika terjun di Paris 1938, negara kita masih sebagai negara jajahan Belanda !

Siapakah jago Anda di hari Minggu mendatang ?
Siapa jago teman saya Pedhet Wijaya yang kini sedang pula ada di Melbourne ?


Wonogiri, 27 Januari 2010.

P.S. : Ditulis dengan menguping nomornya Mozart, Simfoni No. 40, di hari ulang tahunnya yang ke 254.

Kebetulan tanggal tersebut 5 tahun lalu di Pesta MURI Semarang (2005) saya mendeklarasikan komunitas penulis surat pembaca se-Indonesia, Epistoholik Indonesia (EI). Juga menyatakan tanggal 27 Januari sebagai Hari Epistoholik Nasional, dan saat itu saya meraih Rekor MURI yang kedua.

Pesta hebat akan dirayakan, Insya Allah, di surat kabar Koran Tempo, edisi Jumat, 29 Januari 2010. Oleh Mas M. Ravik, wartawannya, kiprah EI akan dibeberkan di sana. Semoga dapat menjadi inspirasi, bahwa dengan menulis itu membuat kita mampu berkontribusi bagi sesama.

Sunday, January 24, 2010

A Whack On The Side Of The Head

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



“Pertandingan tenis bintang lima !”

Demikian ungkapan plastis komentator tenis Star Sports, Vijay Amritaj, sore kemarin (24/1). Ia mengomentari babak akhir pertandingan menegangkan antarsesama petenis Belgia, Justine Henin melawan yuniornya Yanina Wickmeyer.

Saya pun ikut tegang saat Henin ketinggalan angka.

Tetapi menurut Vijay, bekal “pengetahuan dan pengalaman” dari pemegang 7 gelar juara Grand Slam dan atlet kebanggaan negeri kecil yang merdeka tahun 1830 (di Indonesia saat itu meletus Perang Diponegoro) yang membuatnya lolos dari lubang jarum.

Vijay juga mengatakan bahwa pertandingan itu telah mencuatkan sinyal bahaya bagi petenis putri dunia lainnya.

Bunyi sinyal itu demikian tegas : di masa mendatang, waspadailah Yanina Wickmeyer !

Juga, Fernando Gonzalez. Itu bisik saya.

Tentu saja untuk kalangan petenis pria. Pendapat saya ini merupakan wujud sebagai makmum atas prediksi Vijay ketika petenis Chile itu, unggulan 11, menjelang bertarung melawan petenis unggulan 7 asal AS, Andy Roddick.

Malam itu hampir saja mengirim SMS ke sobat saya, seorang tennis buff asal Solo, Pedhet Wijaya. Tokoh inovatif yang malang melintang di bisnis radio Bandung dan Solo ini, juga pernah mengentak dunia dengan menyelenggarakan festival keroncong internasional di Solo, Desember 2008, saat ini sedang menonton langsung hajat tenis akbar di Melbourne tersebut. Saya ingin tahu, Pedhet Wijaya ini menjagoi siapa : Roddick atau Gonzalez ?


Kurva presisi. Bagi saya, petenis kelahiran Santiago 27 tahun lalu itu, anggun bermain seperti ular. Kalau Roddick tampil meledak-ledak dengan gedoran servis as, bertubi-tubi, Gonzalez menggelesar kanan-kiri, dengan pengembalian bola yang sepertinya tidak bertenaga.

Tetapi ketika Roddick berada pada posisi bolong, ular Chile itu segera mematuk dengan bisanya. Meneroboskan bola secara halus pada ruang yang sempit. Mengiris ruang sehingga bola jatuh down the line dengan presisi tinggi. Atau secara cerdik melambungkan bola sebagai garis dengan kurva terukur sehingga jatuh di balik punggung petenis asal negeri Paman Sam itu.

Dazzling and glorious shoot !
Demikian seru Vijay Amritaj memuji.
Berkali-kali.

Tetapi tarian ular asal negeri yang pernah diperintah kubu Marxis Demokrat dengan presidennya Salvador Allende, tidak berlanjut paripurna. Sekadar info, nama Allende dipakai sebagai nama salah satu anak pejuang HAM kita, almarhum Munir yang kasusnya pembunuhannya digantung pemerintahan SBY sampai saat ini. Salvador Allende pada tahun 1973 dijatuhkan oleh junta militer yang represif pimpinan jenderal Augusto Pinochet.


Kembali ke Fernando Gonzalez. Diterpa beruntun kesalahan sendiri di saat kritis, terlibat berbantahan dengan wasit, menendang botol minum, sampai membanting raketnya hingga penyok, menandakan ia dibelit rasa frustrasi berat. Pertandingan, dengan meminjam judul lagunya John Lennon sebagai mind game itu, menjadi semakin berat bagi Fernando.

Karena dirinya pertama-tama harus bertarung melawan diri sendiri dulu. Konsentrasinya buyar. Akhirnya ia harus mengakui kemenangan Andy Roddick, 3-2.

Selamat tinggal, Fernando !
Semoga lain kali kita ketemu lagi, sehingga saya bisa menyanyikan lagunya ABBA yang terkenal ini untukmu :

Can you hear the drums Fernando?
I remember long ago another starry night like this

There was something in the air that night
The stars were bright, Fernando

They were shining there for you and me
For liberty, Fernando


Menantang resiko. Saya memilih Fernando Gonzalez karena saya cenderung suka menjagoi para underdog. Justine Henin juga underdog dalam turnamen Australia Terbuka 2010 ini. Ia bisa ikut dengan fasilitas wild card, bukan ?

Pilihan semacam itu tentu mengundang resiko yang lebih besar. Kebetulan isu terkait resiko ini, dengan judul “Dipimpin Oleh Resiko,” pada malam yang sama menjadi topik acara Golden Ways-nya Mario Teguh di MetroTV.

Inti pesannya adalah, kalau Anda takut terhadap resiko atau menghindari resiko, Anda tidak akan pergi kemana-mana.

Pesan serupa juga muncul sebelumnya dalam artikel Rhenald Kasali di Kompas, terkait usrek pengusutan kasus Bank Century. Menurutnya, bangsa Indonesia kini cenderung bersikap fundamentalis (istilah dari saya), yang harus selalu benar seperti malaikat. Salah sedikit saja, dirinya harus memperoleh hukuman setimpal. Malah berlapis-lapis.

Pendekatan seperti ini, menurut saya, akan hanya menghasilkan kelompok insan-insan medioker, under taker dan juga care taker. Mereka itu bukan sebagai inventor atau inovator yang senantiasa berperangai sebagai risk taker.

Sayangnya, kualitas yang pertama itulah yang selama ini terjadi pada pendidikan kita.

Lembaga pendidikan kita senantiasa jauh lebih banyak melahirkan para bebek, yang suka status quo dan membebek, daripada melahirkan insan-insan yang mampu berpikir merdeka yang metaforanya selalu muncul dalam bagian akhir tulisan ilmuwan politik asal UGM, Riswandha Imawan almarhum : eagle flies alone.

Indonesia kita memiliki lambang garuda, tetapi justru bangsa ini sekarang banyak sekali melahirkan bebek-bebek yang suaranya riuh dan mengerubunginya. Lihat saja pemandangan dalam gedung DPR. Termasuk dalam rapat-rapat pansus kasus Bank Century. Utamanya kuak-kuak suara seekor bebek robot yang mengumpat sana-sini, ia semata berteriak untuk mengacaukan paparan lawan politiknya.

Jutaan calon bebek lainnya, kini sedang mengeram di kandang-kandang yang bernama lembaga pendidikan kita. Mereka tiap hari dilolohi doktrin, yang menurut konsultan kreativitas dari Lembah Silikon Roger von Oech dalam bukunya A Whack On The Side Of The Head : How To Unlock Your Mind For Innovation (1983), senantiasa berusaha mencari “satu jawaban yang benar.”


Pendekatan tunggal di atas boleh jadi tepat untuk situasi tertentu. Tetapi bahayanya, kebanyakan bertendensi menghentikan upaya untuk memperoleh jawaban alternatif benar lainnya, setelah jawaban pertama itu diperoleh.

Pendekatan seperti ini patut disayangkan. Karena seringkali jawaban benar yang kedua, ketiga atau yang kesepuluh, merupakan jawaban yang kita butuhkan untuk menyelesaikan masalah secara inovatif.

Terima kasih, Roger.

Buku merah itu saya beli tanggal 2 April 1997. Pas ada obralan di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta. Untuk sekadar tanda, saya tulis pada salah satu halaman depannya : “..buku ini sudah aku impikan untuk aku miliki, sekitar 5-10 tahun yang lalu…dibeli dari honor artikelku, Ambisi Microsoft di tahun 1997, di Media Indonesia, 23 Januari 1997.”

Konsultan kreatif untuk Apple, ARCO, Colgate-Palmolive, IBM, NASA sampai Xerox ini, dalam mengenalkan diri antara lain menulis, “Saya menulis disertasi tentang filsuf Jerman Abad 20, Ernst Cassirer, manusia serba bisa yang terakhir. Darinya, saya belajar bahwa menjadi seorang generalis merupakan hal yang baik, dengan melihat Gambar Besar mendorong kita mampu bersikap fleksibel.”

Sebagaimana penilaian komentator tenis favorit saya Vijay Amritaj yang penderita asma itu terhadap pertandingan Henin-Wickmeyer di Australia Terbuka 2010 di minggu malam itu, saya makmum sekali lagi dalam memberi komentar untuk pendapat Roger von Oech di atas :

“Itu pendapat bintang lima !”
Apa pendapat Anda ?


Wonogiri, 25 Januari 2010

Tuesday, January 12, 2010

Kontroversi Goblog Dalam Buku : Suharto versus Gus Dur

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Soeharto benar-benar gondok. Marah besar sama Gus Dur.

Karena menurutnya Gus Dur telah berbicara kepada wartawan asing, Adam Schwarz, yang menyatakan bahwa anak petani kelahiran Kemusuk, Godean, dan pernah tinggal di kota kelahiran ayah saya, Wuryantoro, serta bersekolahnya di kota saya Wonogiri, lalu menjadi diktator paling lama memerintah itu, disebut sebagai goblog.

Ungkitan cerita perseteruan dua mantan presiden kita itu saya baca dari artikel Siswono Yudo Husodo, berjudul “Gus Dur dan Pak Harto,” di Suara Merdeka, 4/1/2010 : 6. Saya membacanya di Perpustakaan Umum Wonogiri, 6/1/2010.

Menurut cerita Pak Siswono, suatu peristiwa Gus Dur titip pesan kepada beliau agar diteruskan kepada Pak Harto. Isinya, bahwa kyai petinggi NU ini ingin menghadap. Tetapi Pak Harto tak berkenan saat itu. Alasannya ?

Jenderal besar yang tinggal di jalan Cendana itu lalu merujuk kepada isi bukunya Adam Schwarz, A Nation In Waiting : Indonesia In The 1900s (1994).

Menurut paparan Pak Siswono, dalam buku karya wartawan majalah Far Eastern Economic Review yang berbasis di Hongkong itu tertulis kalimat, “That is the stupidity of Soeharto that he did not follow my advice.” Itulah kebodohan Soeharto yang tidak mengikuti nasehat saya.

Ketika kalimat ini dikonfirmasikan kepada Gus Dur, santri humoris ini berusaha menjelaskan bahwa sang pengarang bersangkutan salah kutip. Karena menurut Gus Dur, yang ia katakan selayaknya berbunyi : “That is my stupidity that I do not advice Soeharto.” Itulah kebodohan saya bahwa saya tidak memberi saran kepada Suharto.

Pak Siswono lalu mengutip kata Gus Dur saat itu, bahwa “Tentu saya mengerti kalau Pak Harto tersinggung berat atas kesalahan penulisan itu.”

Kedua mantan presiden kita itu telah berpulang.


Militan vs moderat. Tergerak isi artikel Pak Siswono itu, yang menulis judul bukunya Adam Schwarz itu dengan Nation In Waiting (tanpa “A”), saya mencoba membolak-balik buku hadiah dari Mas Bambang Setiawan, wong Wonogiri yang tinggal di Jakarta, yang ia berikan kepada saya 8 Januari 2006 itu.

Boleh jadi karena kegoblogan diri saya, saya hanya menemukan lema “stupid” yang relevan pada halaman 188. Lema itu termuat dalam konteks terjadinya perbenturan antara muslim militan yang disebut oleh Gus Dur diwakili oleh organisasi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) versus muslim moderat termasuk dirinya.

Menurut Gus Dur, proses demokratisasi harus dimulai dengan penguatan nilai-nilai demokrasi pada tingkat akar rumput, di mana nilai-nilai ini telah diperlemah selama tiga puluh tahun oleh hukum dari penguasa yang otoriter. Apa yang kita butuhkan, demikian keyakinan Gus Dur, adalah pendekatan demokratisasi bottom-up, bawah-atas, yang isinya diperdebatkan secara terbuka.

Bila nilai-nilai demokrasi itu hadir, ia percaya, perubahan politik secara gradual pun akan terjadi seiring terserapnya pandangan terhadap demokrasi yang meluas dan difahami. Pendekatan top-down, atas-bawah, melalui sesuatu kelompok tertentu dengan melimpahinya legitimasi dan pengaruh, sebagaimana Gus Dur melihat apa yang dilakukan Soeharto dengan menganakemaskan keberadaan ICMI, menurutnya hal itu justru berlawanan dengan asas-asas demokrasi yang sejati.

“Bagi Soeharto, ICMI merupakan bulan madu yang pendek. Ia berfikir bahwa dirinya mampu mengontrol (kaum modernis di ICMI) bila mereka bertindak terlalu jauh. Saya kuatir strategi ini akan gagal…Muslim moderat akan menang apabila sistemnya bebas tetapi problemnya Soeharto justru membantu muslim militan…Kita butuh waktu untuk mengembangkan toleransi beragama yang penuh berdasarkan kebebasan berkeyakinan. Sebaliknya Soeharto justru memberikan peluang kepada sekelompok muslim, terutama kelompok militan yang menganut faham bahwa Islam merupakan solusi untuk seluruh problem dalam modernisasi.”

Demikian tutur Gus Dur dalam wawancara 29 April 1992 dan 9 Juli 1992.

Adam Schwarz lalu meneruskan, bahwa dalam wawancaranya dengan Gus Dur di bulan Maret 1992 ia sempat menanyakan mengapa pandangannya itu tidak akan digubris oleh Soeharto.

“Ada dua hal,” sahut Gus Dur.

Lanjutannya akan saya kutip dalam bahasa aslinya buku ini seperti tertera di halaman 188 : “Stupidity, and because Soeharto doesn’t want to see anyone he doesn’t control grow strong.”

Kini keduanya sedang ramai menjadi wacana yang ramai di masyarakat saat diusulkan untuk menjadi pahlawan nasional.


Wonogiri, 13 Januari 2010


tmw

Sunday, December 27, 2009

The Little Pot of Gold : 100 Keys To Success and Wealth

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Magnet uang. “Apakah kita membaca buku yang sama ?”

Pertanyaan itu melintas ketika sebuah truk menyalip bis yang saya tumpangi. Hari itu Rabu pagi, 2 Desember 2009. Saya dalam perjalanan Wonogiri-Solo-Jogja. Di bak truk bersangkutan tertulis slogan menawan : I’m a money magnet. Saya bisa memotretnya.

Pertanyaan di atas tentu tak bisa saya ajukan kepada sopir truk bersangkutan. Kita sama-sama melaju di jalan raya. Tetapi slogan di bak truk itu mengingatkan akan isi sebuah buku karya Peter Spann, The Little Pot of Gold : 100 Keys To Success and Wealth (2003).

money magnet,money,magnit

Buku ini hadiah dari teman online saya, Lasma Siregar, yang tinggal di Melbourne, Australia. Buku ini saya terima tanggal 18 Maret 2005. Buku mini ini menghimpun 100 butir motivasi, ditulis pendek-pendek dan bernas.

Misalnya di halaman satu : “Kaya” adalah bila Anda memiliki banyak uang. “Sukses” adalah bila Anda mengerjakan apa yang Anda cintai dan mencintai apa yang Anda kerjakan, ketika Anda dikelilingi oleh mereka yang Anda cintai dan Anda memperoleh imbalan yang sesuai dengan diri Anda.

Terkait dengan slogan di truk tadi, pada halaman 30 Spann menulis : “Tahukah Anda bahwa uang itu selalu menempel ibarat magnet kepada seseorang yang tertentu ? Orang-orang tersebut mengetahui Tiga Rahasia Magnetisme Uang.”

Rahasia Pertama Magnetisme Uang (hal. 31) : “Keunikan. Temukan bakat, keterampilan atau produk yang benar-benar unik, sesuatu yang dibutuhkan orang, di mana mereka bersedia membayar dan hanya Anda satu-satunya yang mampu menyediakannya, dan itulah tiket Anda menuju kaya raya.”

Belum kaya raya. Terima kasih, Peter Spann. Saya setuju dengan formula Anda itu. Selain rada heran mengapa buku ini sering melintas di kepala saat saya melakukan perjalanan, termasuk ketika memperoleh MURI yang kedua (2005), saya berbangga diri karena telah menemukan keunikan pada diri saya sendiri. Sebagai seorang epistoholik, pemabuk penulisan surat-surat pembaca.

Apakah saya telah merasa sukses dengan keunikan itu ? Jawabnya : Yes !, sambil tetap menyadari bahwa keunikan itu bukan sesuatu yang eksklusif. Toh sebelum saya bergiat dalam aktivitas menulis surat pembaca, sudah banyak pendahulu yang melakukannya. Salah satu tokohnya adalah yang akan saya kenang nanti ketika saya menginjak Yogya kembali.

Tetapi jawabnya jelas No ! bila menulis surat pembaca, sekampiun apa pun dan bahkan tercatat di MURI pun, akan mampu membuat diri saya sebagai orang yang kaya raya.

Ah, apakah ini sikap yang pesimistis ? Atau realistis ? Begini sajalah : “kaya raya” ilmu, boleh jadi. Toh Internet telah menyediakannya. Yang juga terbuka bagi Anda semua. Tetapi kaya raya uang, tidak. Atau belum ? :-(

Saya ke Yogya untuk “menjual” keunikan saya. Sebagai penulis naskah pidato sekaligus untuk mengisi buku panduan dari kegiatan Gelar Expo UMKM Kota Yogyakarta dengan tema “Batik Jogja untuk Indonesia.” Lokasinya : Griya UMKM Jl. Taman Siswa No. 39 Yogyakarta. Tanggal 4-6 Desember 2009.

Jadi, wah, rada lucu juga, teks berisi visi saya seputar dunia batik Indonesia masa kini yang saya ketik di Wonogiri, bisa dipidatokan dan sekaligus menjadi bagian dari materi buku pengantar acara itu.


Rapor merah-merah. Begitulah, isi hati ini campur aduk. Antara rada merasa lucu, sekaligus senang, karena bisa menginjakkan kaki lagi di Yogya. Tentang lucu, hal itu bisa muncul bila membuka-buka album kenangan saat bersekolah di kota ini.

Selepas lulus di SMP Negeri 1 Wonogiri, saya bersekolah di STM Negeri 2 Yogyakarta Tahun 1970 sampai tahun 1972. Jurusan Mesin. Menengoki dokumen rapor saya, walau sudah dilaminasi plastik oleh ayah saya Kastanto Hendrowiharso toh bagian tengahnya sudah dimakan rayap. Di dokumen itu tercatat banyak sekali angka-angka merah saat saya bersekolah yang terletak di Jetis itu.

Saat duduk di kelas 1 Mesin C, pada semester satu, untuk pelajaran Mesin Uap saya mendapat nilai 4. Mohon maaf kepada James Watt, bapak penemu mesin uap. Mohon maaf pula kepada Bapak Sumarto, guru saya. Yang saya ingat dari beliau, selain sosok kurus dan berkacamata, adalah keusilannya untuk mau mengomentari judul lagu yang saya cantumkan di bagian bawah kertas ulangan.

Saat itu saya menggemari duo Simon & Garfunkel. Pada bagian akhir kertas ulangan mesin uap itu saya tulis judul lagunya, “The Only Living Boy in New York.” Ketika kertas ulangan dikembalikan, ada tulisan tambahan dari Pak Sumarto : “But, why do you live in Yogya ?”

Pelajaran Motor Bakar juga mendapat nilai 4. Saat itu, seingat saya, saya lebih mudah mengingat nama-nama “indah” para pembalap F-1 saat itu, seperti Clay Reggazoni atau Emerson Fittipaldi, daripada menghafal rumus-rumus pelajaran dari Pak Sardjiman itu.

Nilai 4 juga saya sandang untuk Ilmu Ukur Ruang & Proyeksi. Turbin Uap, 5. Peraturan Keselamatan Kerja, 5. Praktek Bengkel, 5. Aljabar dan Ilmu Ukur Analyt, 5. Di semester satu itu ada 7 angka merah. Syukurlah hanya ada dua merah di semester kedua : Motor Bakar dapat 5 dan Ilmu Gaya, yang sebelumnya dapat 6 kini merosot jadi 4.

Pelajaran favorit saya di sekolah itu justru Bahasa Indonesia yang diampu Ibu Mujimah (“yang seksi,” bisik-bisik teman saat itu), dan Bahasa Inggris dengan guru yang agak nyentrik, Pak Sukartolo.

Saat itu saya tinggal di Dagen, kebetulan ayah saya menjadi komandan Koramil Gedongtengen. Kalau berangkat sekolah bersepeda merek Fongres buatan Belanda, saya sering menyeberang ke timur, melewati Malioboro, lalu menerabasi kampung Sosrokusuman. Fokus perhatian : rumah di sisi timur laut, persis utaranya lapangan tenis.

Pamrihnya, siapa tahu, sambil deg-degan, dari rumah itu bisa saya pergoki siswi SMA Stella Duce yang cantik (sekali). Kalau tak salah ingat, namanya Dini, putri perwira AURI. Ia punya mata yang tajam, sekaligus kelam, seperti mata perempuan dalam lukisannya Jeihan.

Di Yogya ini saya meneruskan dalam memupuk kegemaran sebagai humoris. Dengan mengirimkan lelucon-lelucon pendek ke majalah Aktuil dan Varianada. Sekaligus bisa gratisan, tak perlu membeli majalah, untuk bisa mengikuti cerita Denny Sabri, wartawan topnya yang ia tulis dari Jerman.

Tentang kiprah terbaru Ian “Child in Time” Paice, Ritchie “Highway Star” Blackmore dan kawan-kawan dari Deep Purple, Ozzy Osborne dari Black “Paranoid” Sabbath atau pun Robert “Black Dog” Plant sampai Jimmy “You shook me” Page dari Led Zeppelin.

Petugas tata usaha sekolah saya mungkin menjadi heran karena saya, mungkin sebagai satu-satunya siswa, yang menerima kiriman weselpos yang bukan dari orang tua. Tetapi prestasi siswa STM yang mampu menulis lelucon hingga menembus majalah Bandung dan Jakarta itu sama sekali tidak terendus di kalangan guru-guru saya.

Pay it forward. Di Yogya pula, mungkin benih sebagai seorang epistoholik juga mulai bersemi pada diri saya. Ketika mengikuti koran Kedaulatan Rakyat saat itu, sering saya temui nama Ir. RM Pradiko Reksopranoto, dengan alamat Jalan Sultan Agung 65.

Suatu keajaiban sejarah terjadi pada tahun 2000. Atau sekitar 30 tahun kemudian. Di arena Festival Aeng-Aeng II Manahan Solo, saya bisa bertemu dengan tokoh unik dengan beragam minat yang kadang nampak esoterik ini. Dalam email yang beliau kirimkan tanggal 17 Oktober 2003, antara lain beliau pernah mengusulkan ide precision penalties dalam sepakbola, yaitu sebanyak 2 x 22 tendangan ke arah gawang yang dilakukan tanpa pemain kiper yang menjaganya !

Fast forward : 2009. Yogya dan surat pembaca kembali mengusik saya ketika menemukan harian Kedaulatan Rakyat (1/12/2009) memuat surat pembaca dengan judul “Trah Arung Binang.” Penulisnya adalah Drs. Tulus Widodo dari Suryowijayan (081328830681).

Beliau, yang saya baru tahu kemudian nampaknya juga seorang epistoholik, mengomentari surat pembaca sebelumnya, juga di KR (17/10/2009) yang ditulis Ir. Avianto Kabul Prayitno, MT (08122732549) yang tinggal di Sapen, Gondokusuman.

Inti isi surat pembaca mereka adalah, karena merasa sama-sama sebagai warga keturunan Trah Arung Binang (Djoko Sangkrib), yang dirunut ke hulu hingga ke Pangeran Puger Kartasura Hadiningrat, Pak Tulus dan Pak Avi itu berniat ingin mengumpulkan balung pisah, menghimpun tali silaturahmi antar sesama warga trahnya.

Pada tanggal 3 Desember 2009 pagi, saya segera mengirim SMS kepada Pak Tulus dan Pak Avi. Saya berjanji akan menghubungkan mereka dengan warga trahnya di Jakarta, yang kebetulan saya kenal. Yaitu Bambang Aroengbinang, asal Mersi, Purwokerto. Ia mengelola blog berbahasa Inggris yang menawan, The Aroengbinang Project [“aku sering kepikiran, ini blog tentang operasi pengeboran minyak lepas pantai”] dan suka dihiasi hasil pemotretan dirinya yang indah.

Melalui warnet Sorpokats, Jl. Taman Siswa, siangnya saya mengirimkan email tentang ide Pak Tulus dan Pak Avi itu ke Mas Bambang Aroengbinang. Beberapa hari kemudian, beliau membalas : “berharap bisa ingin segera mengontak Pak Tulus dan Pak Avi di Yogya itu.”

Salah satu “tugas” bonus sebagai seorang epistoholik, seorang blogger dan katalis, sekaligus “menteri komunikasi dan informasi” dari trah saya, Trah Martowirono, hari itu telah saya lakukan. Begitulah, di Yogya tersebut, selain bisa bernostalgia, ternyata saya juga bisa menyemaikan perkenalan dengan kerabat-kerabat baru pula.

Ketika tanggal 5 Desember 2009 saya meninggalkan Yogya, saya berharap truk yang bertuliskan mantra “I’m a money magnet” itu bisa melintas kembali. Baiklah, harapan itu sia-sia. Di bawah ini, untuk Anda semua, saya ingin melengkapi hukum kedua dan ketiga dari Peter Spann tentang rahasia seseorang untuk menjadi magnet uang itu.

Hukum yang kedua : memberikan nilai tambah. “Bila Anda menemukan cara yang mampu menambah kekayaan, kesehatan, kebahagiaan, cinta atau waktu bagi kehidupan orang lain, Anda akan memperoleh imbalannya.”

Hukum ketiganya adalah, leverage. Maksimalisasi. “Apabila Anda mampu memaksimalkan kualitas sesuatu produk atau jasa, yang meningkatkan hasil, maka imbalan juga akan melimpahi diri Anda.”

Terima kasih, Peter Spann. Beberapa hari di Yogya saya mencoba merealisasikan hukum-hukum itu. Sebisanya. Sepulangnya, pada jiwa ini, syukurlah, saya merasa sebagai orang yang kaya raya.


Wonogiri, 18-23 Desember 2009

ee

Tuesday, December 22, 2009

Flashbacks of a Fool

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com



Penulis lirik. Lagu “Penny Lane” ikut teronggok di pojokan. Lokasi : sisi barat daya (?) toko buku QB, Jalan Sunda, Jakarta.

Di dekatnya terdapat rak buku-buku hukum, berhimpun dengan buku-buku tip memelihara anjing. Bukunya Jay Sankey, Zen and the Art of Stand-Up Comedy (1988), juga berada di sana.

Kluster yang menggelitik : hukum, komedi dan anjing campur aduk jadi satu.

Lagu ciptaan Paul McCartney dari The Beatles tentang sebuah lorong kecil kota Liverpool itu pernah memicu kontroversi.

Sobat saya Ardiyani, yang tinggal di Liverpool, pernah mengirimkan berita dari The Sunday Times (16/7/2007) bahwa nama itu hendak dihapus.

Karena terkait nama James Penny, juragan budak belian masa kolonial. Ah, Inggris, rupanya juga ketularan budaya munafik, karena ingin mengubur masa lalunya yang kelam.

Lagu “Penny Lane” itu terhimpun dalam buku kumpulan lirik-lirik lagu. Sebelum Internet marak, buku kumpulan lirik lagu-lagu merupakan salah satu buku yang menarik untuk ditengok ketika jalan-jalan ke toko buku.

Saya tidak tahu persis apa daya tariknya. Saya toh tidak mampu memainkan alat musik satu pun. Tetapi selalu saja terlintas, juga selalu naik dan turun, niatan ingin menjadi penulis lirik lagu.

Niatan itu sempat naik tensinya ketika menonton film The Rocker (2008) dan menikmati lagu ciptaan anak muda Curtis (Teddy Geiger) yang liriknya mengiris. Mengikuti lagu “Tomorrow Never Comes” yang muncul di film itu, benar-benar bikin iri. Iri kagum, bukan iri dengki.

Pada film tentang kesempatan kedua bagi Robert 'Fish' Fishman (Rainn Wilson), si penabuh drum bugil (yang mendunia karena disiarkan di YouTube) dalam meraih karier, sungguh mengagumkan mendapati anak muda yang mampu menulis lagu yang memiliki daya magis sedemikian kuat mencengkam tersebut.

Lagu-lagu semacam itu, merujuk pengakuan anak muda jenius lainnya yang juga penyanyi dan pencipta lagu terkenal, Taylor Swift, tidak lain merupakan “musical diaries to record her feelings.”


The Butterfly Effect. Lagu menarik lainnya adalah “If There Is Something” dari Roxy Music dalam film Flashbacks of a Fool (2008). Daniel Craig, sang James Bond terbaru itu, menjadi bintang sekaligus produser film ini.

Film drama Inggris ini, disutradarai Baillie Walsh, berkisah tentang bintang film Hollywood yang berefleksi mengenai hidupnya setelah memperoleh kabar kematian sahabat karibnya di masa kecil.

Film ini antara lain menebar hikmah, bahwa kita pada umumnya tidak mau berubah kecuali bila dalam perjalanan hidup itu menabrak sesuatu yang keras, sesuatu yang mau tak mau harus membuat kita berubah. Pesan lainnya mungkin lajim dikenal dalam teori khaos dikenal sebagai efek kupu-kupu.

Adagiumnya yang terkenal, yang juga muncul dalam film The Jurassic Park (1997), bahwa “kepak sayap kupu-kupu di pelabuhan Sydney akan membuahkan badai di daratan China.” Merujuk fenomena itu, di era Internet ini, seorang blogger favorit saya, Jeff Jarvis, menulis bahwa “kecil sekarang adalah besar yang baru.”

Buktinya di Indonesia ada di depan mata kita semua. Gerakan menghimpun koin untuk mendukung Prita membuat lembaga pengadilan dan RS Omni Internasional yang menghukum Prita menjadi tidak ada artinya. Mereka kini berbalik status menjadi paria.

Gerakan sejuta Facebookers mendukung Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah juga telah membuat institusi hukum kita, termasuk wibawa Presiden SBY sendiri, tergerus habis citranya. Mereka kini juga pantas hanya berstatus sebagai paria.


Menabrak masa lalu. Efek kupu-kupu itu juga tergambar, walau tipis, dalam film Flashbacks of Fool. Yaitu saat sang tokoh Joe Scot (Daniel Craig) setelah gagal bunuh diri karena kariernya di Hollywood habis, kembali ke kampung halaman di desa kecil berpantai di Inggris.

Untuk menengok kuburan teman karibnya. Tetapi dirinya harus juga memergoki parade kenangan masa lalu, sekaligus mendapati konsekuensi atas perbuatan yang ia lakukan di masa lalu. Termasuk mendengar kematian Evelyn. “Tertabrak kereta api, dan kepalanya tidak ditemukan. Konon digondol oleh sekawanan anjing,” demikian kabar yang Joe terima.

Evelyn adalah ibu muda binal, tetangganya, suka selingkuh dan gemar daun muda. Ia pula yang menggoda Joe muda dalam petualangan seksnya yang pertama. Kesalahan yang harus ia bayar, yaitu putus cinta dengan Ruth, kekasihnya.

Ketika keduanya dibakar nafsu birahi, anak gadis Evelyn seumuran TK itu diusir dari rumah. Agar bermain-main sendiri di pantai. Ia pun bermain-main, termasuk asyik berayun-ayun di atas sebuah ranjau laut. Ranjau itu kemudian meledak. Kejadian itu pula yang membuat Joe muda kabur dari kampung halamannya.

Saat Joe mudik, ia juga menemui Ruth, gadis tercinta yang ia khianati, yang dulu pula ia tinggalkan. Masa lalu keduanya terukir indah dalam kilas kalik ketika berduet menyanyikan lagu “If There Is Something” dari Roxy Music dalam sebuah pesta.

Dalam kilas balik lainnya, pada percakapan keluarga Joe saat muda, sempat mencuat topik obrolan tentang masa lalu dan masa kini. “Ketika mendapati seseorang tua, yang terbaring lemah di ranjang mendekati kematian, dapatkah kita membayangkan apa saja yang ia jalani ketika pada masa mudanya ?”


Wanita indah. Umpama pertanyaan itu diajukan kepada saya, pada tanggal 20 Desember 2005, di sisi Widhiana Laneza, saya tidak tahu mau bilang apa.

Anez saat itu, tentu saja, bukan wanita tua. Saya tentu agak pangling, rambutnya saat itu menjadi pendek. Saya beruntung pada tahun 1980-an dikaruniai kesempatan untuk melihat saat rambutnya panjang tergerai.

Melengkapi sosok ningratnya yang membuat saya jatuh cinta.

Juga untuk tahu dirinya dalam sepenggal kehidupannya : ketika Anez menjadi mahasiswi Diploma 3 Bahasa Perancis dan sekaligus mahasiswi Jurusan Arkeologi Fakultas Satra Universitas Indonesia.

Mosaik yang bisa saya ingat, antara lain, ketika berkunjung ke rumahnya, ia nampak antusias bercerita tentang anjing-anjingnya. Ada yang bernama Grigri (jimat dalam bahasa Perancis), Pancho atau Cakil, Bobi sampai Minggo.

Pesona hubungan itu pula yang kemudian membuat saya bisa menulis buku (cinta) untuknya, Ledakan Tawa Dari Dunia Satwa (Andi, 1987).

Dalam kesempatan lain, 1 Februari 1987, ia bercerita tentang fenomena ahli bengkok sendok dengan kekuatan paranormal, yaitu Uri Geller. Ahli psychic asal Israel ini lahir tanggal 20 Desember 1946.

Tanggal yang sama pada tahun 2005, adalah tanggal saat Anez meninggal dunia. Ia dimakamkan di Taman Pemakaman Umum, Jeruk Purut, dekat rumah orang tuanya di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan. Lahir di Brussel, Belgia dan meninggal dunia di Denpasar. Tiga hari setelah hari pernikahannya.

Saya diberitahu berita pedih itu oleh kakaknya, Verdi Amaranto, 22 Desember 2005. Setelah ia melakukan googling di Internet. Ia juga memberi beberapa foto, termasuk foto Anez kecil (foto di bawah) dengan boneka anjingnya saat dijepret di Hanoi, 1969.


Kembalikan ke masa mudamu. Pada bagian akhir film Flashbacks of a Fool nampak Joe Scot memutar kembali piringan hitam lagu “If There Is Something.”

Lalu ia menuliskan sebagian liriknya dalam sebuah surat. Untuk Ruth.

“Shake your hair girl with your ponytail,
Takes me right back (when you were young)”

Ruth, gadis tercintanya masa dulu itu dan janda sahabat karibnya yang meninggal itu, nampak meledak dalam tangis.

Tayangan keduanya saat berduet di masa muda menutup film pedih sekaligus indah itu. Lirik “If There Is Something” menggema, dan saya berharap Anez juga mendengarnya :

Goyangkan rambutmu dengan ekor kudamu
Kembalikan diriku (ketika kau muda dulu)

Lemparkan hadiah-hadiah indahmu ke udara
Saksikan ia berjatuhan di bumi (ketika kau muda dulu)

Angkat kakimu dan hentakkan ke bumi
Di tempat biasa kau tapaki (ketika kau muda dulu)

Angkat kakimu dan hentakkan ke bumi
Ketika bukit-bukit semakin meninggi (ketika kita muda dulu)

Angkat kakimu dan hentakkan ke bumi
Ketika pepohonan semakin menjulang tinggi (ketika kau muda dulu)

Angkat kakimu dan hentakkan ke bumi
Ketika rerumputan semakin menghijau (ketika kau muda dulu)

Angkat kakimu dan hentakkan ke bumi
Di tempat biasa kau tapaki (ketika kau muda dulu)



Wonogiri, 20-22 Desember 2009

Monday, November 09, 2009

Terantuk Pintu Rumah Kayu : Interaksi Penulis, Blog dan Buku

Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Perang blogger. Anda mengenal B.L. Ochman, Warren Kinsella dan Jay Rosen? Dua nama pertama itu berbeda pendapat dengan nama ketiga mengenai ngeblog. Utamanya menyangkut masalah : tulisan di blog itu sebaiknya pendek atau panjang ?

B.L. Ochman, seorang corporate blog strategist dalam artikelnya yang berjudul menarik dan provokatif, How to Write Killer Blog Posts and More Compelling Comments menyarankan agar tulisan di blog itu pendek-pendek saja. Setiap posting sekitar 250 kata, paragrafnya pendek, dan jangan matikan selera humor Anda.

Sementara itu Jay Rosen, profesor jurnalistik Universitas New York dan pengelola blog PressThink.org berpendapat sebaliknya. Ketika tampil dalam konferensi Exploring the Fusion Power of Public and Participatory Journalism (2004), seperti dilaporkan Leonard Witt, pelopor gerakan representative journalism dengan judul Blogging Advice from Jay Rosen: Be Complex ia berpendapat, bahwa gaya ngeblognya komplek, panjang, dalam dan kaya nuansa.

David Akin, moderator konferensi itu, sebelumnya memberikan info menarik : gaya blog Jay Rosen yang panjang itu dikatakan menular. Karena para pembacanya kemudian menulis komentar yang juga panjang-panjang.

“Kunjungi blog dia dan dalam waktu satu setengah jam kemudian Anda masih saja terus membaca, dan berpikir, sehingga tidak salah bila Jay Rosen memberi nama blognya sebagai PressThink,” lanjut David Akin. Bahkan Jay Rosen berpendapat, ia menganggap para pembaca blognya menginginkan sesuatu yang dapat mengebor batok kepala mereka.

Saya, salah satunya. Isi kepala ini yang dibor oleh pemikiran-pemikiran Rosen mengenai kedahsyatan media-media baru, utamanya blog, sungguh mencerahkan. Memabukkan. Dalam artikel yang dimuat di situs organisasi Wartawan Tanpa Tapal Batas berjudul Now I can write what I think ia katakan bahwa anjuran menulis blog itu harus pendek-pendek karena orang tidak punya waktu, sebagai tidak beralasan.

“Saya tidak mempercayainya,” tegasnya. “Alasan dan nasehat itu semata-mata menghambat kebebasan saya untuk menulis segala apa yang saya pikirkan. Karena ide dasar meluncurkan blog PressThink saya adalah pembebasan. Wow, sekarang saya memiliki majalah saya sendiri. Saya mampu menulis segala apa saja yang saya fikirkan !,” seru Jay Rosen.

Tipikal postingan blog dia adalah esai yang panjangnya antara 1.500 sampai 2.500 kata. Kalau B.L. Ochman punya nasehat bagi para blogger agar dalam setiap posting menyertakan banyak sekali tautan, link like crazy, formula itu juga berlaku bagi Jay Rosen. Terdapat sekitar 20-30 hyperlink dalam tiap esainya.

Main sekop di kuburan. Obrolan tentang gaya ngeblog di atas menggoda saya untuk mengungkapnya kembali. Gara-garanya, saya terpicu saat membalik-balik buku berjudul Senandung Cinta dari Rumah Kayu : Catatan Inspiratif Tentang Keluarga, Persahabatan dan Cinta (Daun Ilalang, 2009). Penulisnya adalah Dee, seorang blogger dan Kuti, wartawan yang merangkap sebagai blogger.

Isi buku setebal 229 halaman ini pernah dimuat sebagai tulisan dalam blog rumahkayu.blogdetik.com. Karena sebagian isi buku tersebut mengacu kepada sumber dari blog lain, saya bayangkan formula link like crazy itu juga sudah diterapkan di blog itu pula. Sehingga buku ini mampu berfungsi bolak-balik secara optimal.

Pertama : mampu mem-bumi-kan, alias meng-kertas-kan isi blog mereka yang dari dunia digital. Kedua, juga berfungsi sebagai pintu gerbang bagi mereka yang membaca buku, tetapi belum mengenal blog bersangkutan, untuk kemudian tergoda melakukan petualangan di medan digital, di blog. Untuk membangun interaksi lebih lanjut dengan penulisnya.

Merujuk nasehat David Weinberger dan kawan-kawan bahwa pemasaran adalah percakapan, maka penerbitan isi apa pun sebenarnya bukan terminal akhir suatu perjalanan informasi bersangkutan. Tetapi justru suatu awal. Awal suatu percakapan, dialog.

Tetapi nampaknya, kesan saya, pemahaman konteks untuk membangun sinergi antara media atom yang berbasis kertas dengan media digital yang berbasis bit itu, belum muncul secara kuat dari penerbitan buku ini. Yang terjadi baru semata-mata, dugaan awal saya, adalah niatan polos : pengin punya buku. Salut untuk Dee dan Kuti untuk keberhasilannya untuk yang satu ini.

Tetapi keberhasilannya itu, saya kuatirkan, tidak mampu berlari lebih jauh. Jangan kecil hati, karena implementasi strategi serupa juga sering dilakukan media massa utama, mainstream media, ketika mereka berurusan dengan media digital. Pendekatan dengan trik shovelware ini mereka nilai sebagai hal nalar di mata kaum pengelola media berbasis atom, media kertas. Yaitu ketika isi yang semula terpajang di media cetak “disekop” kembali dari liang kuburnya itu untuk dipajang di media digitalnya.

Walau memang Dee dan Kuti melakukan hal yang sebaliknya. Mula-mula ia memajangnya di media digital, lalu ia pindah ke media kertas, tetapi trik shovelware itu tidak serta merta langsung menjadikan sajian karya bersangkutan selalu tampil serasi dalam media apa pun. Karena media-media itu memiliki karakter masing-masing yang tidak sama. Bahkan bertolak belakang.

Nabi media Marshall McLuhan punya adagium medium is the message, alias menyatakan bahwa bukan isi yang terpenting sebagai pesan, sehingga isi-isi tersebut mula-mula harus dieksekusi sesuai dengan karakter media yang memuatnya. Intinya, menulislah sebebas-bebasnya di blog.

Tetapi bila isi blog itu hendak dijadikan sebagai buku, pelajarilah seluk-beluk dunia penerbitan buku dari A sampai Z dulu. Saya yakin, Dee dan Kuti akan memperhatikan hal ini di masa datang. Tetapi, hemat saya, pelajari seluk-beluk dalam menulis blog dulu. Ini merupakan nasehat, meniru khatib dalam berkhotbah, utamanya dan pertama kali memang ditujukan untuk diri sendiri.

Jerangkong yang menari. Anda pernah menonton acara pamer cakapnya Oprah Winfrey ? Setiap tamunya yang hadir senantiasa membawa jerangkongnya sendiri. Mereka rela dan berani mengeluarkannya dari dalam peti atau almarinya pribadi, kemudian mereka ajak jerangkongnya itu untuk menari atau berdansa di muka dunia.

Tawa yang hadir dari sana, atau linangan air mata kita, semata membuat diri kita merasa sebagai manusia. Bukan sebagai robot atau useful idiot yang patuh terhadap komando untuk tertawa-tawa riuh, tetapi kosong dan hampa seperti dalam acara komedi atau talkshow dengan host orang-orang yang sok lucu di pelbagai televisi kita.

Metafora tentang jerangkong itu saya peroleh dari Susan Shaughnessy dalam Walking on Alligators : A Book of Meditations for Writers (1993). Edisi bahasa Indonesianya berjudul Berani Berekspresi : Buku Meditasi Untuk Para Penulis ( 2004).

Ia mengutip ucapan ucapan Carolyn MacKenzie yang berkata, bila Anda sebagai penulis dan kalau Anda punya jerangkong di dalam lemari Anda, keluarkanlah. Dan menarilah bersamanya. Jerangkong tersebut adalah hal yang paling Anda hindari untuk dituliskan atau diceritakan, seperti rasa malu yang membuat Anda bergidik dan menciut.

Tetapi pada akhirnya hal itu akan muncul juga dalam tulisan Anda. Mengapa ? Karena di sanalah energi jiwa Anda tertimbun. Dengan menuliskannya, Anda meratakannya. Energi itu akan mengalir dalam tulisan dan membuatnya hidup.

Louise L Hay, pengarang dan motivator, sekadar contoh. Dalam buklet Heal Your Body: The Mental Causes for Physical Illness and the Metaphysical Way to Overcome Them (1984), ia menceritakan saat terkena kanker vagina.

Sebagai anak yang pernah diperkosa saat berumur 5 tahun dan sebagai battered child, ia merasa tak aneh bila penyakit yang muncul menyerang vaginanya. Dalam statusnya sebagai guru pengobatan alternatif, ia akhirnya memutuskan untuk berjuang berlandaskan keyakinan metafisika untuk memperoleh kesembuhan. Ia berhasil.

Sosok lain yang menari bersama jerangkong adalah blogger dan content maven, Meryl K. Evans. Dalam tulisannya It’s a Big, Blog World Out There Five Quick Tips to Building a Better Blog (2006), ia mengisahkan salah satu blognya yang lahir ketika ia mengandung anak ketiganya. Blognya berfokus pada masalah kehamilan, tetapi lalu terhenti ketika anaknya lahir karena ia tidak berminat untuk menulis blog seputar topik pengasuhan anak.

Blognya yang lain hadir di dunia ketika ia mempersiapkan diri menerima pencangkokan cochlear implant, untuk merestorasi telinganya yang tuli. Blog tersebut disebut Bionic Ear Blog. Isi blognya yang satu ini meliput tentang proses cochlear implant dan bagaimana menjalani kehidupan bersama alat tersebut.

Dalam perkembangan selanjutnya blog ini diperkaya dengan tulisan tentang kehidupan Meryl K. Evans sebagai penyandang tuli dan pengalamannya menemukan hal-hal baru sebagai orang tuli pada sepanjang 30 tahun menjalani kehidupan.


Orang asing. Di dalam Rumah Kayu-nya Dee dan Kuti nampaknya tarian jerangkong itu tidak pernah terlihat jelas berkelebat di dalamnya.

Barangkali karena semua tokoh yang hadir dalam buku itu hanya nampak sebagai sosok-sosok bayangan di balik kabut, walau dari sana terdengar cinta dan cinta itu disenandungkan oleh mereka. Sementara jerangkongnya sudah digedong, dibungkus rapat seperti mumi, dan disimpan dalam kotak besi yang tersembunyi.

Dalam dialektika dunia komedi, Dee dan Kuti rupanya lebih memilih sebagai orang-orang normal belaka Artinya, selera humor orang-orang normal semacam ini diwujudkan dengan cara menghafalkan lelucon milik orang lain dan lalu menceritakannya kepada orang lain.

Bukan suatu kebetulan, sekadar ilustrasi, bila ia tiba-tiba tergoda menceritakan lelucon mengenai jenis kelamin komputer pada bagian awal bukunya itu. Padahal itu lelucon milik orang lain dan bukan bersumber dari wisdom kehidupan yang mereka jalani.

Padahal menurut saya, Dee dan Kuti harus menjadi komedian yang sejati. Yang orisinal. Yang harus mentransformasikan seluruh hidupnya menjadi komedi itu sendiri. Salah satu caranya : membangunkan jerangkong-jerangkongnya sendiri yang selama ini tersimpan rapat di lemari, dan lalu menarikannya di muka dunia.

Sayang, jerangkong itu sulit saya temukan di buku Rumah Kayu itu. Baru ketika mengakses blognya, saya terantuk pada posting berbunyi : “Pada buku pertama ini (oh ya, kami memang berencana menerbitkan buku rumahkayu dalam beberapa seri) kami juga menulis soal si kecil, bagaimana sampai dia bisa menjadi anak Dee dan Kuti (yang belum setahun menikah namun sudah punya anak berusia sekitar enam tahun).”

Pikir saya, mengapa Dee dan Kuti tidak memfokuskan isi blog dan atau bukunya itu pada topik tentang adopsi anak saja ? Bukankah blognya berpeluang menjadi lebih berhasil bila menggarap suatu ceruk, niche, yang benar-benar khusus dan spesifik ?

Bukankah topik adopsi anak itu dapat direntang perbincangannya dari masalah ginekologi, psikologi, bahkan sampai cerita tentang sosok tukang adopsi anak kelas dunia semacam Madonna hingga (foto) Angelina Jolie ?


Guru yang kejam. Sebagai pengelola blog kajian tentang print on demand, yang memajang manifesto bahwa setiap orang berhak menerbitkan bukunya sendiri, maka penerbitan buku Rumah Kayu itu pantas memperoleh acungan jempol.

Keberanian Dee dan Kuti untuk menerbitkan isi blognya menjadi buku, jelas menjadi inspirasi bagi para blogger lainnya.

Pengalaman ini, di hari-hari mendatang, akan sangat berharga sebagai batu pijak mereka berdua dalam melangkah. Apalagi pengalaman dikenal sebagai guru yang paling kejam, ia memberi dulu kita ujian dan sesudahnya baru memberi kita pelajaran.

Ada satu hal yang menggelitik saya.

Apakah pengelolaan blog sampai penerbitan isinya menjadi sebuah buku itu sudah masuk dalam strategi besar bagi Dee dan Kuti ke depan ? Karena terdapat sebagian orang yang berkeyakinan bahwa dengan menulis atau menerbitkan buku dengan mengira bahwa di luar sana terdapat pasar yang menantikannya. Pendapat itu jelas keliru.

Penerbitan buku tidak sesederhana, dengan pendekatan navel gazing semacam itu. Apalagi ketika setiap orang mampu mengelola blog, juga menerbitkan buku, persaingan menjadi riuh, seringkali membuat nilai ekonomi tidak melulu atau tidak lagi berada dalam ranah keduanya.

Tren yang ada di depan ini, buku-buku itu cenderung digunakan tak ubahnya sebagai bentuk canggih dari kartu nama. Diberikan secara gratis, guna mendongkrak reputasi penulisnya.

Informasi dalam blog dan buku disebarkan secara gratisan, free dengan tujuan membangun reputasi dan kepercayaan publik terhadap penulisnya guna meraih nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi. Alias freemium (terima kasih Chris Anderson atas istilah ini dalam bukunya berjudul Free), misalnya dengan tampil sebagai nara sumber media, konsultan dan pembicara.

Sebagai blogger, hal itu pula yang beberapa kali terjadi pada diri saya. Termasuk memperoleh hal yang surprise, yaitu ketika memperoleh kiriman buku dari Dee dan Kuti ini yang secara pribadi belum saya kenal, dan kemudian dipercaya untuk memberikan pendapat tentang buku tersebut.

Sebagai bacaan, kalau saja kita sudah mempercayai penulisnya sebagai orang yang kompeten untuk subjek yang ditulisnya, buku ini cukup menghibur. Tetapi saya agak terganggu membaca di halaman sampul belakang yang berbunyi, “sebuah buku yang berisi pesan-pesan cinta, persahabatan dan kehangatan sebuah keluarga.”

Saya pengin, kata “pesan-pesan” itu diganti menjadi “cerita-cerita.” Kata pesan berkonotasi menggurui, berada di atas, tetapi kata cerita nampak lebih egaliter.

Merujuk hal itu, seperti bunyi judul tulisan ini, saya merasa terantuk di “Pintu” alias pada bab pertama buku Rumah Kayu ini. Saya kejedot. Karena tulisan pertama, “Ada Apa Dengan Cinta ?,” yang menurut saya seharusnya ditulis sebagai cerita dan bukan paparan diskursif yang mirip materi diskusi yang kering itu.

Pada lembar sebelumnya saya berharap memperoleh data nama sebenarnya dari Dee dan Kuti, agar mudah ditemukan oleh mesin pencari. Saya tidak puas dengan biodata yang nampak justru banyak “menyembunyikan” dirinya di buku itu. Meminjam teknik penulisan buku drama, pada halaman awal sebaiknya dicantumkan data para pelaku cerita. Siapa Kuti, siapa Dee, Pradipta, sampai kakak berambut poni.

Kembali ke pemilihan judul artikel pertama itu, “Ada Apa Dengan Cinta ?” itu. Sayang, dalam isinya hanya merujuk keterangan singkat mengenai film yang berjudul sama itu sebatas sebagai tempelan. Saya mengharap sebetulnya, ada cerita bagaimana cinta dalam filmnya Dian Sastro (“saya merekam ucapan almarhum ayah Dian saat ia diwisuda 1985 sebagai sarjana sastra UI”-BH) itu hadir dan menari. Lalu misalnya merujuk cinta yang terjadi dalam film lain, Love Story misalnya, kemudian diramu sebagai jalinan cerita untuk mengupas topik pembuka itu.

Usulan saya : dengan menyebutkan pada tulisannya, misalnya judul, alur cerita, nama tokoh, penggambaran karaker sampai ucapan yang memorable dari sesuatu tokoh dalam novel terkenal atau film, Dee dan Kuti seolah mampu merengkuh pembacanya untuk hadir bersama tokoh-tokoh yang sama-sama kita kenal sebelumnya.

Tontonlah film Sleepless in Seattle (1993). Ada adegan mengharukan saat para pria bareng-bareng menangis ketika mengenang adegan dramatis dalam film perang The Dirty Dozen. Atau dalam film seri (kawak) Remington Steele, di mana aktornya Pierce Brosnan, selalu saja mengaitkan adegan yang ia alami sambil menyebut judul-judul film yang relevan.

Dee dan Kuti memang telah berusaha merangkul kita. Tetapi dengan Sun Tzu. John Gray. Sampai Viskram Seth. Terima kasih untuk ikhtiarnya itu.

Akhirnya, meminjam bahasa Jepang, untuk buku perdananya itu saya hanya bisa bilang tentang tulisan saya ini kepada Dee dan Kuti :

Isoku mung iki.
Mugi murakabi.


Wonogiri, 6-17/11/2009